OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 415 JAWABAN



Sayup-sayup Grace mendengar suara seseorang di dekatnya. Ia mulai mengedipkan matanya yang masih terasa lengket karena ngantuk. Sejak tiba kembali di Jakarta, ia langsung menemani Stevan dan enggan beranjak dari samping ranjangnya. Ia pun tak menyangka bisa tertidur padahal ia berniat terjaga sampai Stevan siuman.


"Permisi Mbak, kami mau suntikkan obat dulu ke selang infusnya." Seorang suster dengan ramah meminta Grace menggeser posisi duduknya sebentar agar tidak menghalangi kerjaannya.


Grace mengangguk canggung, tubuhnya masih kaku untuk sekedar pindah tempat duduk. Selain masih ngantuk, kesadarannya juga belum sepenuhnya kembali. Ia sempat merasa linglung mengapa berada di sini, seingatnya ia masih di kediaman Li. Barulah setelah melihat Stevan, ia mengingat jelas apa yang dilakukannya.


Wajah tenang Stevan yang terpancar itu sedikit melegakan Grace. Ia memperhatikan suster yang memeriksa Stevan dengan teliti, dan saat pandangan mereka saling bertatapan, Grace tergoda untuk bertanya.


"Gimana keadaannya suster?"


Suster itu tersenyum, "Kondisinya sudah stabil, tinggal menunggu kapan dia sadar. Tenang saja ya mbak, Mas nya pasti kuat kok."


Grace tersipu malu mendengar panggilan dari suster itu, seakan hubungan di antara mereka tidak bisa ditutupi bahkan tidak bisa mengelabui mata yang menatap mereka.


"Terima kasih suster." Ujar Grace pelan.


"Sama-sama mbak, kalau boleh minta tolong ya mbak, saya mau minta tanda tangan kalau mas artisnya udah siuman." Pinta suster itu malu-malu.


Grace tersenyum namun menjawab suster itu dengan anggukan. Setelah suster itu berlalu, Grace berjalan kembali ke tempat duduknya. Ia menatap lembut wajah Stevan yang tampan meskipun agak pucat, senyumnya kembali mengembang.


"Ternyata kamu banyak fansnya juga." Gumam Grace pelan, tak disangka saja olehnya bahkan suster di rumah sakit saja begitu mengidolakannya.


Grace memiringkan kepalanya dan bersandar di samping tangan Stevan, ia ingin bertahan dalam posisi itu sejenak saja. Merasakan kedekatan dan ketenangan di samping pria kecintaannya.


"Ya... Dan kamu akan kerepotan kalau tidak segera menjawab cintaku."


Suara yang sangat dikenali itu seketika membuat mata Grace terbelalak. Aku tidak salah dengar kan? Itu suara Stev....


Lirih Grace dalam batin, namun belum sempat ia mendongak, sebuah sentuhan yang menyentuh rambutnya semakin meyakinkan bahwa apa yang didengarnya bukanlah halusinasi.


Mata Grace berkaca-kaca saat melihat pria yang ia nantikan telah sadarkan diri. "Kamu... Kamu bangun...." Lirih Grace mulai terisak, ia benar-benar bahagia.


Stevan masih lemah dan hanya bisa menarik sedikit senyuman untuk Grace, tetapi bibirnya sudah mampu berucap kata.


"Ya, ini aku...."


Grace terisak lagi, tubuhnya langsung mendarat di atas dada bidang Stevan. Gerakan spontanitas Grace mengejutkan serta mengguncang pria itu, walau masih berat harus tertindih, namun Stevan merasa sangat bahagia. Dibiarkannya Grace memperlakukannya sesuai yang ia suka.


"Aku sudah bilang kamu harus hati-hati, jaga diri, kenapa masih begini?" Ujar Grace sambil sesenggukan, ia masih berada di atas dada bidang Stevan.


Stevan tersenyum, akhirnya ia punya semangat untuk memaksakan bibirnya membentuk senyuman. Tangannya perlahan ia gerakkan untuk memeluk gadis itu.


"Kalau nggak gitu... Kamu nggak lekas pulang." Lirih Stevan. Dalam kondisi seperti ini pun, ia masih saja menggoda Grace.


Walau pelan nyaris seperti berbisik, Grace mendengar jelas apa yang dikatakan Stevan. Ia bergegas melepas pelukan Stevan lalu menatap pria itu dengan wajah cemberut.


"Kamu masih bisa ketawa...." Kesal Grace yang bibirnya mulai manyun, padahal beberapa menit lalu ia masih menangis tetapi sekarang sudah kembali jutek.


Stevan tersenyum lebar, melihat sifat Grace yang membuatnya jatuh hati itu kembali. Stevan sendiri tak yakin alasan apa yang membuatnya jatuh cinta, mungkin dimulai dari simpati, kasihan, lalu lama kelamaan sungguhan tertarik. Yang pasti ia bertekad harus memilikinya.


"Grace, aku masih menunggu jawabanmu. Sebelum kamu makin kerepotan karena cemburu pada fansku."


Grace sempat deg-degan mendengar Stevan meminta kepastiannya, namun kata-kata terakhir yang terdengar bercanda itu kembali merusak suasana hati. Ia berubah manyun lalu melirik Stevan dengan jutek.


Stevan mengernyitkan dahi keheranan, "Kapan? Barusan?" Tanya Stevan tak percaya, perasaan ia tidak mendengar apapun.


Grace mengangguk mantap, "Iya, barusan."


"Barusannnya tuh baru berapa lama?" Tanya Stevan lagi, ia yakin tidak mendapatkan jawaban Grace.


"Pokoknya barusan, siapa suruh kamu tidur terus." Celetuk Grace, sifat manjanya mulai keluar.


Stevan ternganga, ia bisa menebak bahwa Grace banyak bicara padanya pada saat ia belum sadarkan diri.


"Hei, mana bisa begitu? Kamu bicara sama orang yang belum bangun, gimana aku bisa ngerti. Ayolah ulangi lagi, kamu sudah menjawab cintaku?" Rengek Stevan memelas gadis yang mulai jual mahal.


Grace nyengir, ia terlalu malu untuk mengungkapkan cinta langsung di hadapan pria itu. Berbeda dengan saat ia yang agresif mengejar Xiao Jun, ia bisa tanpa malu mengejar cinta pria. Namun pada Stevan, rasa malu dan degup jantungnya lebih dominan menguasai hatinya sehingga sulit untuk mengakui perasaannya.


"Grace, i love you... Do you wanna be with me?" Lirih Stevan, tatapannya penuh arti memohon hati Grace. Walaupun harus mengulang pernyataan itu, walau terdengar gombal tapi itulah sebenarnya isi hatinya.


Grace membalikkan badannya, menyembunyikan senyuman lebar serta hati yang berbunga-bunga. Ia malah membiarkan Stevan penasaran hingga berteriak saat melihat langkah kakinya menuju pintu.


"Kamu mau kemana?" Pekik Stevan.


"Menjenguk Fang Fang." Jawab Grace tanpa menoleh.


Stevan tertunduk kecewa, padahal ia masih ingin bersama Grace lebih lama lagi. Rindunya belum tersalurkan seutuhnya, masih banyak hal yang ingin ia sampaikan.


Di luar perkiraan, Grace justru berhenti lau berbalik saat sampai depan pintu. Ia menatap lembut pada Stevan yang masih menunduk.


"I love you too...." Serunya penuh semangat, lalu bergegas berbalik badan dan kabur dari pandangan Stevan.


Stevan terkesiap, ia mendengar jelas jawaban Grace. Gadis itu menyuarakan dengan lantang, kali ini Stevan mendapatkan jawaban sesuai yang ia harapkan. Ia menatap antusias pada Grace yang berlalu begitu saja setelah menyerukan cinta padanya.


"Ah... I love you Grace, love you so much...."


Teriak Stevan girang, ia tak peduli Grace mendengarnya atau tidak, yang pasti hatinya seakan bersayap dan terbang saking bahagianya.


Cinta yang akhirnya tersampaikan, cinta yang belum kenalan itu akhirnya ia dapatkan.


"Ayah Haris, aku sudah mengenal jodohku. Kelak aku kenalkan dia padamu, terima kasih ayah." Seru Stevan seolah telepati pada Haris.


Ia memang tidak tahu kabar bahwa Haris sempat meninggal, dan belum ada satupun yang sempat menjelaskan rutunan kejadian yang sebenarnya kepadanya.


Sementara itu dari balik pintu, masih ada Grace yang berdiri menguping dengan senyuman lebar. Ia tahu reaksi Stevan, ia hanya terlalu malu untuk menampakkan perasaannya. Biarlah ia menikmati benih-benih cinta yang baru itu.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Hi guys, makasih ya sudah nungguin update cerita ini. Pasti banyak yang udah kangen dengan Weini, ditunggu ya kejutannya besok.


Mohon dukungan Like, komen dan follow akun Author ya. makasih makasih


sukses selalu untuk kita semua.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–