
Flash back beberapa jam lalu...
Haris tetap dipersilahkan masuk dan sekarang iaduduk dengan santai di atas kasur Xiao Jun sementara Xiao Jun memilih duduk di kursi.
“Weini sepertinya sangat kecapekan. Bukan perjalanan yang menguras tenaga tapi ia terlalu banyak pikiran. Dia pasti ketiduran sekarang, aku tahu ini momen penting buat kalian hanya saja biarkan Weini istirahat yang cukup dan dia pasti jauh lebih tenang nanti.”
Sekarang Xiao Jun mengerti maksud kedatangan Haris, pria itu sangat perhatian pada putrinya. Itulah mengapa ia ingin meminta pengertian Xiao Jun agar memaklumi kondisi Weini. “Baiklah paman, aku tidak akan mengganggu jam istirahatnya.”
“Bagus, kamu memang sangat pengertian. Aku sudah lebih siap dibandingkan kalian, Weini pasti perlu waktu berdandan dan kamu pasti menunggunya. Jadi sebaiknya aku berangkat dulu menemani ibumu, biarkan kami para orangtua saling mengenal dulu.” Seru Haris santai dan terdengar masuk akal.
Xiao Jun menerima usulan Haris, akan lebih baik jika ibunya punya teman setelah sekian lama ia terkungkung di kediaman Li. Memberinya seorang teman bicara yang sebaya tentu menyenangkan, entah mengapa ia mempunyai firasat Haris cocok menjadi teman bicara ibunya.
“Ide bagus paman, aku minta supir mengantar paman ke sana sekarang. Menurut sifat ibuku yang sangat menghargai waktu, ia pasti sampai lebih awal dan menunggu. Aku titip ibuku bersama paman sampai kami
menyusul.” Xiao Jun bersemangat penuh. Sejak ayahnya menghilang, ia belum pernah merasakan itu lagi, namun saat tahu ibunya akan memiliki Haris sebagai teman bicara itu sangat membahagiakannya.
“Oke. Jangan lupa bangunkan Weini jika dua jam lagi ia masih belum menghubungimu.” Pesan Haris sebelum ia beranjak dari hadapan Xiao Jun. Senyum misteriusnya terkulum, hanya ia yang tahu scenario yang sedang
dimainkannya.
***
Sepasang suami istri yang tengah reuni itu masih terhanyut pikiran, terutama Xin Er. Banyak pertanyaan yang ingin disuarakan namun tak kuasa dilontarkan, ia menatap lekat pada sosok suami berwajah baru itu.
“Aku tahu kamu penasaran, ceritanya sangat panjang. Aku juga ingin tahu kehidupanmu setelah kejadian itu, tapi kita tidak bisa duduk lama di sini. Li Jun sebentar lagi sampai, kita cari tempat lain untuk bicara.”
Haris inisiatif mengamankan situasi, segalanya akan berantakan jika Xiao Jun dan Weini menyadari kebenarannya sekarang. Untungnya Xin Er menurut diajak kemanapun walaupun hatinya masih gusar. Mereka merapatkan
diri di atas loteng restoran, menikmati semilir angin malam yang sejuk. Xin Er melipat kedua tangan ketika hembusan angin menerpanya tetapi Haris dengan sigap melepas jasnya dan memakaikan pada istrinya.
“Jadi Li Jun sudah mengenalimu? Ini kejutan dari kalian?” Xin Er mulai bertanya, ada banyak pertanyaan yang masih mengganjal.
“Tidak. Ia belum tahu. Sama sepertimu, dia belum menyadarinya. Aku sudah mengenali dia sejak pertama bertemu, hanya saja mendengar namanya berubah membuatku tidak ingin dia tahu.” Haris mengutarakan isi hatinya, sekian lama ia memendam perasaan sakit ketika mendengar nama dan marga putranya berubah.
“Itu karena dia ingin melindungi kita. Tuan besar menyukainya dan mengangkatnya sebagai anak, nama itu pemberian tuan Li San. Mereka membawa penggalan kepalamu, kami kira kau berakhir tragis dan kami akan
“Aku minta maaf membuat hidup kalian menderita. Di masa depan aku akan menebus kesalahanku, mohon bersabarlah sebentar lagi.” Pinta Haris, ia meraih kedua tangan Xin Er untuk digenggam.
“Tapi mengapa wajahmu berubah total? Apa rohmu masuk ke tubuh baru?” tanya Xin Er penasaran.
Haris tersenyum lalu menggelengkan kepala, “Tidak ini hanya topeng. Aku memakainya untuk kabur, nona muda juga memakainya.”
Xin Er terkejut, ia baru ingat tentang Yue Hwa. “Nona muda? Dia juga masih hidup? Ah di mana dia sekarang? Dia pasti sudah besar.”
“Apa kamu belum sadar kenapa aku bisa kemari menemuimu? Sebenarnya bukan hanya aku yang direncanakan bertemu denganmu, putra kita lah yang hendak memperkenalkan calon istrinya.”
Xin Er terkesiap, Ia tidak menyangka bahwa tamu spesial yang akan diperkenalkan padanya adalah nona bungsu keluarga Li. “Li Jun punya hubungan dengan nona Yue Hwa? Astaga takdir macam apa ini?”
Haris merangkul Xin Er dalam pelukan, ia tidak boleh kehilangan kesempatan untuk melepas kerinduan. Waktu mereka tidak banyak, mereka harus merana sekali lagi sampai Haris menemukan solusi yang lebih baik untuk berkumpul kembali.
“Manusia punya keterbatasan tapi langit mengatur segalanya, bahkan kita tidak pernah mengira putra kita dibesarkan keluarga Li sedangkan putri keluarga Li dibesarkan olehku. Ketika mereka dewasa, takdir mengikat mereka dan mengirim Li Jun menemukanku.” Ujar Haris dengan tenang, matanya terpejam merasakan pelukan hangat istrinya.
“Tuan besar walaupun kejam tapi masih punya hati, Li Mei sudah menikah dengan pria yan baik berkat perjodohan dari Li San, namun Li An belum beruntung dan dikirim pulang ke rumah lama kita. Ia hidup sebatang kara dan mengandalkan kemampuan sendiri untuk hidup, tapi kudengar dari nyonya bahwa Li An baik-baik saja. Li Jun selalu disayang dan dispesialkan hingga sekarang, ia banyak belajar bisnis dan mendapat kepercayaan penuh dari Li San. Tapi kasihan, hidupnya terkekang aturan dan ia tidak punya banyak pilihan selain menurut karena Li San sering mengancamnya dengan jaminan keselamatanku.” Xin Er mulai membuka diri tentang apa yang terjadi pasca kepergian kepala keluarga.
“Baguslah. Aku juga menjaga putri mereka dengan baik. Ia tumbuh menjadi gadis cantik, ceria, mandiri dan bisa diandalkan. Walaupun harus hidup di balik topeng, kami bahkan tidak tahu bagaimana wajah aslinya sekarang. Aku merubah namanya, memberinya kehidupan baru dan ia sudah bekerja dengan sukses sebagai artis. Dia dan Li Jun sangat serasi, aku akan berupaya agar hubungan mereka mulus jika memang mereka berjodoh.” Ujar Haris.
“Ah, aku penasaran seperti apa wajah nona muda. Apa kau punya fotonya?” pinta Xin Er.
Haris mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto-foto Weini di dalam galerinya. Xin Er terkesima dengan wajah Weini, walaupun hanya sebuah topeng namun gadis itu tumbuh sangat cantik dan terpancar kebaikan dari
raut wajahnya.
“Sampai kapan kalian hidup dengan topeng? Apa tidak bisa dilepas” tanya Xin Er serius, sebagus apapun rupanya topeng tetaplah topeng. Akan lebih menyenangkan jika hidup dengan keaslian meskipun tidak secantik topengnya.
Haris bingung menjawabnya, “Itu… aku belum bisa memastikan. Resikonya sangat besar, tidak ada jaminan keberhasilan.” Haris tertunduk sedih. Selalu ada resiko di balik setiap keputusan, tapi ia tidak siap jika suatu saat Weini nekad mau melepas topengnya.
“Sebaiknya jangan. Tidak ada salahnya juga hidup di balik topeng, daripada harus mengambil resiko. Nyawa lebih berharga untuk diperjuangkan.” Xin Er bisa menebak resiko terburuknya, ia tidak mau kehilangan suaminya lagi, pun tidak rela kehilangan nona muda yang telah menjadi orang spesial di hati putranya.
***