
Fang Fang menatap kosong langit-langit kamarnya yang serba putih. Suara langkah sepatu yang masuk ke dalam ruangannya pun diacuhkan, tak akan ada yang datang menengok dirinya selain suster atau dokter yang datang memeriksa. Namun dugaannya terbukti meleset manakala sebuah tangan hangat menyentuh tangannya.
"Fang...." Desia sebuah suara yang ia kenali memanggil namanya.
Fang Fang menoleh ke arah suara itu, matanya berkaca-kaca ketika melihat orang yang ada di sampingnya.
"Nona, aku...."
"Sssttt... Jangan bilang maaf padaku, kamu tidak bersalah. Justru aku yang harus berterima kasih padamu. Kamu melakukan tugasmu dengan sangat baik." Lirih Grace, ia ikutan menangis begitu melihat mata Fang Fang sudah basah.
"Stevan, dia...." Lirih Fang Fang, namun belum selesai bicara, Grace sudah mengerti apa yang ingin ia tanyakan.
"Dia baik-baik saja, dia sudah sadar. Kamu jangan cemaskan mereka ya, fokus untuk kesembuhanmu saja." Pinta Grace, ia menggenggam tangan Fang Fang demi meyakinkannya.
Fang Fang mengangguk senang, kemudian terbersit satu beban yang ia khawatirkan.
"Nona, aku belum bisa menjagamu di sini. Mintalah bantuan paman Lau. Aku takut mata-mata itu masih mengincarmu setelah pengakuanmu kemarin."
Grace terkesiap, ia menatap serius pada gadis pelayannya. "Bagaimana kau bisa tahu? Secepat itukah berita itu tersebar di sini?"
Fang Fang tersenyum lirih, "Aku selalu memantau berita di sana, aku mengkhawatirkan nona."
Grace terkesima, ia nyaris tak bisa berkata-kata saking terharunya. "Kamu sangat memperdulikanku, terima kasih Fang Fang. Jangan cemaskan aku, selama ada Xiao Jun di sini, kita pasti aman." Ucap Grace penuh keyakinan, setelah melihat keberanian Xiao Jun di Hongkong, tak ada lagi yang perlu ia ragukan.
Fang Fang mengangguk patuh, melihat keoptimisan Grace membuatnya ikut merasa bersemangat.
Grace menatap serius pada Fang Fang, dari sorot matanya seakan ada keraguan yang sulit diungkapkan. "Fang, aku sudah tidak diterima di keluargaku. Sejak aku memutuskan membela pamanku, ini konsekuensinya. Ng... Aku harus berjuang keras menata hidup dari awal. Segala yang kumiliki sekarang tak lain adalah milik ayahku. Aku tak berhak menerima milk dia lagi, jadi... Mungkin aku tidak sanggup membayarmu." Keluh Grace, ia menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Kamu berhak mendapatkan majikan yang lebih baik dari aku, atau kembali ke kediaman pamanku. Tugasmu melindungiku cukup sampai di sini saja, aku sangat berterimakasih atas kesetiaanmu." Timpal Grace, ia tak melihat ekspresi terkejut Fang Fang yang tidak bisa menerima kenyataan.
Grace merasakan tangannya digenggam hingga ia menoleh ke Fang Fang. Gadis pelayan itu tersenyum tulus padanya.
"Nona, pengawal seperti aku hanya bisa mempunyai satu majikan. Aku sudah bersumpah untuk setia melindungimu, kamu adalah majikan yang aku pillih. Dibayar atau tidak, aku tidak peduli asal nona masih bersedia menerima pengabdianku."
Jawaban Fang Fang sukses menggetarkan hati Grace, dalam sekejap Grace membaur memeluk gadis yang begitu baik dan setia itu. Gadis baik yang hanya Grace temukan dari diri Fang Fang.
⏳⏳
"Jun... Wei Li Jun...."
Suara wanita memanggil nama asli Xiao Jun terdengar menyayat hati. Xiao Jun bisa melihat gadis itu, berambut panjang, berwajah cantik dan tak pernah dilihat Xiao Jun sebelumnya. Tetapi darimana gadis itu mengenal Xiao Jun hingga tahu nama aslinya.
"Tolong aku...." Teriak wanita itu yang terdengar memekakkan telinga hingga Xiao Jun tidak tahan lalu reflek menutup telinganya.
"Aaarrhhhh!" Pekikan Xiao Jun terdengar nyata hingga membangunkan Haris yang tidur di sebelahnya.
"Jun, sadar." Haris menepuk pelan pundak putranya hingga Xiao Jun berhasil mengontrol diri meskipun dengan napas tersengal-sengal.
Xiao Jun setengah panik menatap ayahnya, "Ayah... Mimpiku aneh. Ada wanita cantik yang tidak aku kenal terus meneriakkan namaku. Dia tahu nama asliku, dia meminta tolong padaku." Ujar Xiao Jun sedikit terbata-bata.
Haris mengangguk pelan, "Dia nona Yue Hwa, dia pasti mengirim pesan sihir padamu lewat mimpi." Gumam Haris, ia masih bisa setenang itu padahal Xiao Jun masih terengah-engah.
"Yue Hwa? Wanita dalam mimpiku itu Yue Hwa? Apa itu wajah asli Weini? Tapi aku merasa tidak asing dengan mimpi ini. Dulu aku sering memimpikan wanita misterius itu, tapi baru kali ini aku melihat wajahnya ayah." Seru Xiao Jun, mimpi buruk yang sering menghantuinya dulu kembali terulang dan sekarang ayahnya menjelaskan bahwa itu adalah kiriman sihir dari Weini.
"Tapi kenapa sejak dulu aku sudah memimpikannya ayah?" Tanya Xiao Jun terheran-heran.
Xiao Jun mengerti maksud ayahnya hanya saja itu tidak cukup membuatnya tenang. "Kita harus bagaimana lagi ayah? Aku tidak tenang membiarkan Weini terlalu lama di tangan orang jahat itu. Mimpiku buruk, mungkin ini pertanda keadaan Weini di sana sangat buruk. Ayah... Kita tidak bisa diam lebih lama lagi." Desak Xiao Jun, dua hari mereka mencari akal namun belum ada progres.
Haris menghela napas, "tenagaku belum sepenuhnya pulih, baru lima puluh persen. Jika kita pergi tanpa persiapan, sama saja kita datang mengantarkan nyawa." Sesal Haris, ia pun sangat ingin menolong Weini, tetapi kondisi belum berpihak padanya.
Xiao Jun menundukkan kepalanya, ia baru tersadar telah memaksa ayahnya bertindak nekad tanpa mempertimbangkan keselamatannya.
"Maafkan aku ayah." Lirik Xiao Jun menyesal.
Haris tampak berpikir keras, hingga mengabaikan permintaan maaf Xiao Jun.
"Kecuali...." Guman Haris, ia. terpikir sesuatu.
Xiao Jun mengernyit, "Kecuali apa ayah?" Desak Xiao Jun tak sabaran. Ia menatap lekat ayahnya.
Haris menatap balik Xiao Jun dengan pancaran mata yang penuh optimis. Tangannya terangkat satu ke atas lalu ia merapalkan mantera. Sesaat setelah itu, sebuah benda yang berwarna emas berkilauan berada dalam genggamannya.
Xiao Jun tahu benda itu tapi tidak tahu apa yang direncanakan ayahnya. "Apa maksud ayah?" Tanya Xiao Jun menyudahi bungkamnya Haris.
Haris menunjukkan plakat pemberian leluhur mereka kepada Xiao Jun. "Kamu tahu maksud kakek buyutmu memberikan benda berharga ini padamu?"
Xiao Jun menggeleng tak mengerti.
"Karena mereka tahu akan terjadi masalah ini dan kita tidak bisa menghadapinya dengan kemampuan sendiri. Mereka ingin kamu memilikinya, dan mereka menyertaimu dalam benda ini. Cepat bangun dan kemari lah."
Haris memberi perintah, dan Xiao Jun begitu semangat menurutinya.
Xiao Ju berdiri berhadapan dengan ayahnya, plakat emas itu terlihat melayang di tengah mereka berdiri. Xiao Jun terlihat takjub, sebuah keajaiban tengah diperjuangkan ayahnya.
"Pejamkan matamu dan ikuti kata-kataku." Perintah Haris.
Xiao Jun mengangguk sebagai respon, kemudian ia memejamkan mata. Dalam kondisi terpejam pun ia masih bisa melihat pantulan sinar keemasan di hadapannya.
"Wahai penguasa sihir terang, penuntun dalam kegelapan, pembasmi kejahatan sihir kegelapan..."
Haris memulai manteranya dan Xiao Jun mengikuti setiap kata-kata itu.
"Atas ijin dan kuasamu, serta berkat dari para leluhur, bersatulah dalam ragaku. Berikan kekuatanmu dalam tubuhku dan jadilah kekuatanku. Aku...." Haris berhenti, ia membiarkan Xiao Jun mengucapkan namanya
"Aku Wei Li Jun." Seru Xiao Jun mantap.
"Memberi titah padamu!" Pekik Haris diikuti suara Xiao Jun yang menirunya.
Kilauan plakat itu melepaskan partikelnya, beterbangan masuk ke dalam tubuh Xiao Jun hingga habis tak bersisa. Benda sihir itu telah menyatu dalam tubuh Xiao Jun, memberikannya kekuatan baru.
Xiao Jun sedikit menggelinjang kala ia merasakan kekuatan besar merasuki dirinya. Tetapi setelah itu, tubuhnya betul-betul merasa kuat. Haris tersenyum seraya manggut-manggut.
"Kita berhasil, leluhur merestui kita. Kini ada harapan untuk kita menyelamatkan nona Yue Hwa. Ayah bergantung padamu, nak." Ujar Haris penuh optimis kepada putranya.
Begitupun Xiao Jun yang tak sabar lagi bertindak, "Besok kita selamatkan dia, ayah!"
⏳⏳⏳