OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 509 DATANG



Haris, Xin Er dan juga Liang Jia berdiri di halaman yang begitu lapang, tempat berlandasnya jet pribadi mereka yang berjumlah tiga unit. Dua di antaranya hanya dibiarkan tak aktif lantaran yang suka berpergian hanya Xiao Jun, dan dia cukup setia dengan unit yang biasa ia tumpangi.


Liang Jia menggenggam tangan Weini, sebentar lagi akan melepas kepergian putrinya untuk ikut bersama Xiao Jun ke Jakarta. Meskipun hanya perpisahan beberapa hari namun berat rasanya bagi ibu itu melepas kepergian putri bungsunya.


“Jaga diri di sana Hwa, kalau ada apa apa kabari ibu.” Ujar Liang Jia memberi pesan, memperlakukan Weini layaknya anak kecil. Xiao Jun yang mendengarnya bahkan mengulum senyuman, takut jika kebablasan tertawa.


Weini tersenyum lebar kemudian mengangguk, “Ibu tenang saja, aku pasti baik baik saja selama ada Jun di dekatku.” Ujar Weini yang sengaja meledek Xiao Jun, ia tahu sejak tadi pria itu menahan tawa geli dan ini saatnya mengusilinya sesaat agar bola panas itu bergulir padanya.


“Ng?” Xiao Jun agak canggung begitu semua mata tertuju padanya, terlebih melihat kedipan usil Weini yang senang karena berhasil menggombalinya. Dari situ Xiao Jun tahu bahwa Weini tengah menguji ketahanannya.


“Ibu tenang saja, aku punya banyak pengawal di sana. Sehelai rambut pun tidak akan lepas dari Yue Hwa.” Gumam Xiao Jun membalas kegombalan Weini.


Para orang tua yang mendengar rayuan gombal anak muda itu hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum. Hingga tiba giliran Xiao Jun yang berpamitan kepada ayah dan ibunya. Haris menepuk bahu Xiao Jun yang kokoh itu, menitipkan banyak harapan pada prianya yang telah dewasa.


“Ingat pesan ayah ya, ditunggu kabar bahagianya.” Seru Haris usai menepuk pundak Xiao Jun.


“Baik ayah, tunggu saja kabar baiknya.” Jawab Xiao Jun mantap.


Lain hal dengan Xin Er yang langsung memeluk dan mengusap lembut punggung Xiao Jun, meskipun harus membuat pria muda itu membungkuk agar bisa dipeluk ibunya dengan leluasa. “Jaga diri baik baik di perantauan, dan jaga anak gadis orang, mengerti!” Pesan Xin Er.


Anggukan mantap sekali lagi diperlihatkan Xiao Jun, tidak perlu lagi jawaban yang sama dilontarkan. Xiao Jun hanya perlu memberikan pembuktian pada mereka yang menaruh harapan padanya. Dan dengan senyum lapang, ia menuntun Weini menaiki tangga jet sembari melambaikan tangan kepada mereka yang menatapnya dari bawah.


❤️❤️❤️


Bams duduk di kursi kebesarannya di ruang direktur kantor managemen artis milik Xiao Jun. Setelah kejadian kacau beberapa waktu lalu hingga kantor ini sempat dipasangi police line, akhirnya kegiatan di lokasi ini sudah mulai berjalan lagi. Semuanya akan kembali normal dan aktivitas Bams sebagai sutradara handal akan diuji lagi kebolehannya. Sudah banyak ide yang siap ia tuangkan dalam sinetron bahkan film layar lebar yang ciamik, pun sudah mengintai calon pemeran yang akan didapuknya sebagai bintang utama.


“Ah, andai saja Weini masih mau main film. Heumm....” Bams mengkhayal di siang bolong, di saat sendirian ia kerap melamun tentang wajah asli Weini yang sangat menakjubkan. Andai saja bisa melihatnya dari dekat, bertemu langsung dan bicara langsung dengannya pasti Bams menjadi pria paling bahagia di dunia.


“Weini... kapan kita bisa ketemu lagi?” Lirih Bams menimpali khayalan lanjutannya. Ia menggeleng lemah, berusaha menepis khayalan tingkat dewa yang tampaknya sulit menjadi kenyataan.


Bams menunduk, sengaja mendaratkan keningnya di atas meja dengan pelan. Ia merasa kesepian tanpa Dina, Weini, Stevan, dan Grace. Mereka kini sibuk dengan urusan masing-masing dan bukan tak mungkin jika jenjang kehidupan sudah berbeda, mereka akan lebih sulit bertemu lagi.


“Tinggal gue doang yang jomblo bapuk ini.” Keluh Bams merenungi nasibnya yang tak kunjung dipertemukan dengan gadis yang tepat, belum ada wanita yang bisa membuat hatinya bergetar. Sekalipun ia selalu menulis cerita tentang romansa percintaan, namun nyatanya ia belum juga merasakan percikan asmara dalam kehidupan nyata. Miris bukan?


Suara ponsel yang bergetar membuyarkan renungan menyedihkan Bams, ia pun meraih ponselnya lalu membaca notifikasi yang masuk. “Eh?”


Sebuah chat dari managemen yang pernah terlibat kerjasama dengan artis di bawah naungan Bams, tak disangka muncul memberikan surat peringatan. Hal yang menjadi masalah bagi Bams dan artis lainnya yang terlibat, mungkin saja ada seseorang yang masuk dalam pengecualian, dan itu hanyalah Weini.


“Kenapa sih selalu ada aja masalah? Nggak bisakah biarkan tenang dulu, huft!” Keluh Bams, kini kepalanya terasa berputar lantaran teror somasi yang akan dilayangkan pihak managemen luar itu. Dan ini bukan masalah sepele, ada banyak karier orang yang dipertaruhkan termasuk nasib kantor yang baru dibuka ini. Bams tahu kepada siapa harus melaporkannya, ia pun segera mendial sebuah nomor yang akan menjadi penyelamatnya.


❤️❤️❤️


“Ming Ming!” pekik Dina berlari sembari melambaikan tangannya ketika matanya menangkap sosok pria yang ia tunggu selama tiga puluh menit.


Pria yang dipanggil namanya itu langsung tanggap dan menemukan dari mana sumber suara itu. Dengan satu tangan yang menarik koper, langkah kaki jenjang pria itu berlari menyusul Dina yang tersenyum sumingrah. Dua orang yang dimabuk cinta itu tidak peduli menjadi tontonan publik lantaran adegan lari-lari mereka mirip adegan film Bollywood. Sepasang kekasih yang tak sabar untuk menumpahkan rasa rindu setelah beberapa minggu tidak bertemu. Tangan Dina terbuka lebar, siap menyambut Ming Ming dalam dekapannya.


Pluk! Dua tubuh itu akhirnya bertemu dalam dekapan erat, saking eratnya sampai sama sama terpejam dan tak ada yang enggan melepas duluan.


“Dina....” Lirih Ming Ming yang akhirnya tak betah dibekap lama-lama, ia tak menyangka Dina cukup kuat sehingga ia kesulitan bernapas saat dipeluk.


“Ming Ming....” Balas Dina yang menatap tanpa berkedip, seakan terhipnotis wajah tampan itu sampai enggan melepas tatapan.


“I miss you.” Lirih Ming Ming tersenyum tipis.


Jantung Dina berdegup kencang hanya mendengar ucapan itu, terdengar dalam dan tulus. “Aku nggak cuman miss you, tapi love you.” Pekik Dina girang, kemudian tersenyum lebar. Pandangannya beralih pada koper Ming Ming yang besar, ia mengerutkan dahi lantaran tak habis pikir apa saja yang dibawa pria itu?


“Ng, kamu mau camping di sini berapa lama? Kopermu sampe segede itu, apa saja isinya?” Tanya Dina kepo, ia mencari jawaban serius dari tatapan lekat pria itu.


Ming Ming tersenyum, melirik barang bawaannya kemudian memberi jawaban yang mengejutkan Dina. “Sebenarnya masih banyak sih tapi aku kirim saja, yang mampu aku bawa hanya ini.”


Dina ternganga plus dengan ceplas ceplos mengucapkan dua kata. “Kamu pindah?”


Ming Ming senyam senyum, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia pun mengangguk pelan. “Ng, aku dipecat bosku lalu disuruh jadi pengawal bos Xiao Jun. Bolehkan kalau aku pindah ke tempatmu dulu? Untuk sementara sampai bos Jun pulang dan menerimaku.”


Dina terdiam dengan posisi mulut masih ternganga, matanya melihat Ming Ming tanpa berkedip. Beberapa detik terus bertahan di posisi itu, namun setelah sekian lama Ming Ming merasa aneh kemudian menepuk pelan pundaknya. “Dina? Kamu kenapa? Nggak boleh ya? Kalau nggak boleh nggak apa apa kok, aku bakal cari tempat tinggal lain.”


Cup!


Ming Ming terbelalak, Dina tak perlu menjawabnya dengan kata-kata, cukup dengan sebuah kecupan manis di pipinya, Ming Ming sudah tahu arti isyarat itu. Dina tersenyum girang melihatnya, memperlihatkan sederet gigi putih. “Makasih ya, boleh banget!” seru Dina kemudian menggandeng tangan Ming Ming dan menyeretnya pergi dari sana padahal belum sepenuhnya pria itu sadar dari rasa terkejut serta senangnya.


❤️❤️❤️


Hi guys, sejauh ini kalian masih suka kan sama cerita ini? Tenang ya, karena tanggal 30 oktober nanti adalah hari terakhir OPEN YOUR MASK, PRINCESS! Tayang. Semoga tetap semangat membaca di detik-detik episode terakhir ya, makasih. Salam sayang buat semuanya.


❤️❤️❤️