
Bel apartemen Grace berbunyi, dari dalam ada Fang Fang yang berlari menghampiri pintu.
"Mungkin Dina dan kekasihnya sudah sampai." Gumam Fang Fang sembari bersenandung ria dan meraih gagang pintu.
Klek... Pintu terbuka, memperlihatkan seorang tamu tak terduga yang memperlihatkan senyuman menawannya.
"Gong Zhu, anda kemari? Wah ini kejutan yang menyenangkan bagi nona dan kami." Seru Fang Fang yang menunduk hormat setelah tersenyum membalas Weini.
Weini menyentuh pundak Fang Fang, mengijinkannya untuk bersikap biasa lah. "Jangan formal, ini bukan kediamanku. Gimana kabarmu Fang?" Tanya Weini lembut.
Fang Fang baru sadar belum mempersilahkan tamu itu masuk, "Ya ampun saya kebangetan banget biarin nona berdir di depan. Mari silahkan masuk ke dalam." Fang menggeser tubuhnya, mempersilakan tamunya masuk.
"Hmm, lagi sepi ya Fang? Pada ke mana?" Tanya Weini setelah celingukan ke sekeliling dan terasa sepi.
"Iya, nona. Stevan mengajak nona Grace untuk menyiapkan keperluan pernikahan mereka. Sejak pagi mereka keluar sampai sekarang, ah berarti mereka belum tahu ya nona datang?" Tanya Fang Fang antusias.
Weini mengangguk mantap, "Ng aku sengaja nggak ngabarin mau kasih kejutan, eh ternyata sibuk banget mereka. Kamu sendirian Fang? kenapa nggak ikut?"
Fang Fang menggeleng, "Saya dengan tuan besar di rumah, tapi beliau sedang tidur siang. Tadinya sih sendirian, tapi sekarang ada nona, wah saya senang sekali nona kembali ke sini." Seru Fang Fang.
"Aku juga senang, ya walaupun tidak bisa lama tapi lumayan kan ngobatin kangen. Nanti malam aku nginap di sini kalau Grace tidak keberatan." Ujar Weini senang.
Fang Fang lebih senang lagi mendengarnya, ia sumingrah menampakkan ginsulnya lewat senyuman. "Tentu tidak keberatan, nona pasti sangat senang. Kami merindukan anda, nona."
"Aku pun demikian, ah kalau begitu aku akan kabari kak Dina. Dia juga belum tahu kalau aku datang." Seru Dina bersemangat.
Fang Fang tampak bingung namun akhirnya ia angkat bicara, "Ng sebenarnya Dina juga sedang asyik pacaran. Kekasihnya baru saja datang dari Beijing, mereka pasti baru bertemu. Nona datang di waktu yang tepat, nanti pasti ramai sekali berkumpul."
"Pacar kak Dina datang? Wah kebetulan sekali ya, aku belum kenalan dengan pacarnya. Tapi sepertinya kak Dina sangat menyukainya." Ungkap Weini.
Fang Fang mengiyakan dengan anggukan, memang benar yang Weini katakan namun masih ada yang kurang. "Bukan hanya kak Dina yang sangat menyukai, tapi pria itu juga tulus mencintai Dina. Mereka benar-benar beruntung karena saling menemukan." Gumam Fang Fang, senang.
❤️❤️❤️
"Gimana? Enakkan nasi padang?" Tanya Dina blak blakan setelah Ming Ming menghabiskan seporsi nasinya.
Ming Ming memberi anggukan serta acungan jempol. Dari senyumnya saja sudah ketahuan kalau dia puas dengan makanan itu.
"Kita harus sering-sering makan ini ya." Pinta Ming Ming ketagihan.
"Jangan, nanti kolestrol." Ujar Dina tanggap.
Ming Ming hanya mengerutkan keningnya tak mengerti apa itu kolesterol. Tidak semua bahasa Indonesia bisa dimengerti olehnya, apalagi kalau ada bahasa istilah.
"Pokoknya nggak baik sering makan yang bersantan. Okelah kita lanjut lagi yuk, tapi ke mana ya? langsung ke rumahku juga garing deh di rumah mulu. " Bingung Dina, memutar otak mencari tempat bersantai yang asyik sekaligus untuk memamerkan bahwa ia punya pacar tampan. Bila perlu ia akan suarakan pada media, bahwa inilah rupa pria calon pendamping hidupnya.
Eh tapi nggak lucu juga sih, aku kan bukan artis, emangnya penting gitu berita aku dimuat? Dina terkekeh sendiri membayangkan khayalan. Tawa yang lagi lagi membuat alis Ming Ming mengkerut karena tidak tahu apa yang lucu bagi gadis itu.
"Nggak apa apa, yuk cabut." Seru Dina yang duluan berdiri dari tempat duduknya. Ia merasakan dering serta getar ponsel dalam sakunya, Dina pun segera merogoh benda itu keluar dari celananya.
"Hah?" Dina sumingrah melihat siapa yang memanggilnya, ia tak jadi melangkah tapi malah kembali duduk setelah Ming Ming berdiri.
"Non Weini? Tumben banget, ngerti aja lagi dikangenin." Seru Dina dengan senyum lebar, ia mengangguk berkali-kali saat mendengar apa yang dikatakan lawan bicaranya, sampai saat ada kata yang luar biasa mengejutkan baginya, di situ lah Dina berteriak lagi.
"Serius non? Ya, oke tunggu aku ya di sana. Nggak pakai lama pokoknya."
Pembicaraan berakhir, Dina terlihat semangat banget dan langsung menarik tangan Ming Ming tanpa menjelaskan apa pun.
"Eits tunggu! Ada apa sih Din, kok kamu senang banget?" Tanya Ming Ming nekad.
Dina sudah duduk di kursi kemudinya lalu menyalakan mesin mobil. "Non Weini datang!?" Serunya meletup-letup.
Kini Ming Ming mengerti dan manggut-manggut, diam pasrah mengikuti ke mana Dina membawanya.
❤️❤️❤️
Sesi pemesanan gaun pengantin berjalan lancar, Stevan boleh bangga dengan Grace yang akhirnya tidak banyak tuntutan. Ia benar-benar punya konsep wedding dress impian dan beruntung karena Stevan bisa mewujudkannya.
"Capek ya sayang?" Tanya Stevan perhatian. Melihat wajah Grace yang tampak lelah setelah seharian ke beberapa tempat.
Grace membantah dengan gelengan, "Capek Nggak, senang iya." serunya tersenyum tipis.
Stevan ikut senang, "Cari makan yuk, jangan diet lagi lah kamu sudah cukup ceking ini."
"Ceking apanya? Perutku masih gendut gini, lihat!" Ujar Grace menunjukkan perut ratanya yang sedikit membuncit dan sangat biasa.
Stevan tertawa, ketakutan yang berlebihan dan tak berarti bagi pria tapi sangat menyebalkan bagi wanita.
"Itu kan buat nampung lemak, gak apa apa lah, nggak ada ngaruhnya. Ayo cari makan!" Stevan menggandeng Grace melangkah keluar dari pintu butik, dan ketika terbuka mereka tak menyangka akan disambut dengan sorotan kamera wartawan yang mulai ramai mengerubungi mereka. Entah dari siapa, kabar keberadaan Stevan sampai di telinga para pemburu berita.
"Stev, lagi ngapain nih ke butik? Cerita dikit dong, apa kalian ada hubungan khusus ya?" Tanya seorang wartawan.
"Stev, kabarnya kemarin sempat menghilang bahkan dilaporkan ke polisi sebagai orang hilang, tapi kok tiba-tiba muncul lagi nih, apa ada kaitannya dengan pamor yang lagi sepi ya?"
"Grace, sedikit dong infonya, ke sini buat fitting gaun pengantin ya? Cerita dong gimana awalnya bisa jadian sama Stevan? Kalian kan belum lama kenal."
Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang menodong mereka berdua. Stevan memilih bungkam dan menggandeng Grace Kembali masuk ke dalam mobil. Bukan tempat dan waktu yang pas untuk menjawab semua itu, Stevan paling tidak suka privasinya diutak atik oleh media. Andai memang perlu membuka pada media, ia pun ingin melakukannya dengan cara yang lebih elegan. Menyampaikan pada mereka bahwa ia telah menemukan tambatan hati yang pas untuk dibawa ke pelaminan.
Grace hanya membisu, mengikuti apa yang dilakukan Stevan terhadap wartawan. Baginya pengakuan di depan publik belumlah sepenting itu, asalkan ia sudah mendapatkan pengakuan dari hati Stevan dan keluarganya. Itu sudah jauh dari cukup!
❤️❤️❤️