
Cekcok antara Liang Jia dan kedua putrinya belum terleraikan. Pertanyaan Yue Xiao yang berani menyudutkan Liang Jia itu membuat naluri keibuaannya miris. Sikap tidak terpuji kedua gadisnya adalah kegagalan terbesarnya menjadi seorang ibu. Ia masih merasa beruntung lantaran dua anak gadis lainnya, Yue Yan dan Yue Fang
meskipun besar tanpa kasih sayangnya namun punya pendirian dan hati yang baik.
Liang Jia menghela nafas sejenak menenangkan diri, ia harus mampu mengontrol emosi agar apa yang diucapkannya bukan sekedar pelampiasan amarah. Mungkin ia diberi kesempatan untuk mendidik dua putrinya menjadi pribadi yang lebih baik.
“Putriku, beberapa hari lalu apa kalian mengambil alih tugas menyerahkan obat kepada pelayan Xin Er?” tanya Liang Jia lembut dan penuh senyum.
Sayangnya ketenangan Liang Jia membeberkan pertanyaan itu tidak sebanding dengan reaksi Yue Xin dan Yue Xiao, bak disambar petir siang bolong mereka gelagapan dan terkejut. Ibunya sudah mengetahui borok yang mereka perbuat dan sekarang tengah mencari kebenarannya.
Yue Xin menyahut dengan terburu, “Tidak. Aku bahkan tidak tahu apa yang ibu maksud. Mungkin ada yang mau memfitnah kami, atau … mungkin Yue Xiao yang melakukan itu.” Yue Xin menuduh adiknya dengan santai, ia enggan menjadi orang yang paling disalahkan meskipun memang itu kesalahannya.
Yue Xiao menggeleng kencang, tatapan bingung ia sorotkan pada si kakak. “Tidak, tidak bukan aku. Kenapa kakak main tuduh saja? Aku malah tidak mengerti obat apa yang ibu maksud. Ibu dengar dari siapa? Siapa tahu orang itu mau fitnah kami.” Kilah Yue Xiao agak belepotan, ia tak pandai bersandiwara.
“Siapa yang mengatakan itu bukan hal penting. Anakku … yang ibu ingin dengar hanya kejujuran kalian, apapun itu ibu tidak akan marah. Ibu janji tidak akan mengambil sikap atas kesalahan kalian dan bersedia menutup masalah ini asalkan kalian berani berkata yang sebenarnya.” Ujar Liang Jia penuh kesungguhan.
Kedua kakak beradik itu saling berpandangan, Yue Xiao malah mengisyaratkan kakaknya untuk mengaku. “Ng, itu … kami hanya iseng, bu. Selama ini ibu lebih peduli pada pembantu itu ketimbang kami. Kami ada atau tidak di sini, nggak ada pengaruh bagi ibu.”
Tudingan Yue Xin sukses menguraikan air mata Liang Jia, ia dikritik tajam oleh putrinya dan baru ia sadari penilaian anak-anak seperti itu padanya. Belum ada sepatah kata yang mampu terucap, Liang Jia mencoba introspeksi diri.
Yue Xiao panik melihat air mata Liang Jia yang berderai membahasi pipi, walau ibunya masih terlihat tenang tetapi tangisan dalam diam itu terlihat menyakitkan hati Yue Xiao.
“Ibu menangis! Kakak! Kau buat ibu menangis!” Tuding Yue Xiao, ia segera menghambur memeluk ibunya. Rasa bersalah itu membuat ia ikutan menangis sesengukan.
Yue Xin serba salah, ia tak mengira tindakannya akan sefatal ini. Ia lebih baik melihat ibunya marah daripada menangis dalam diam. Yue Xin menyusul adiknya yang mendekap erat Liang Jia, ia belum menemukan kata-kata yang pas dengan suara hatinya.
“Aku mohon pengampunanmu, bu. Tolong jangan menangis lagi, kami nggak bermaksud bikin ibu menangis.” Isak tangis Yue Xin pecah terbawa suasana.
Liang Jia membalas dekapan kedua putrinya, “Ibu yang seharusnya minta maaf, kalian seperti ini karena kesalahan ibu. Tidak berguna menjadi ibu kalian.”
Yue Xiao meraih tangan Liang Jia, menggenggamnya erat. “Tidak, jangan bicara begitu. Ibu nggak salah, kami yang jahat, ibu nggak pernah ajarkan kami jahat.”
"Beri kami kesempatan untuk berubah, kami bersungguh-sungguh ibu.” Ujar Yue Xin sesengukan.
Selalu ada kesempatan dari orangtua untuk anaknya, kasih yang tak pernah terbatas, cinta yang murni sejak dalam kandungan. Tiada yang bisa menandingi kasih ibu, andai Liang Jia adalah seorang ibu biasa yang tak terbelenggu tahta dan kepentingan politik suaminya, ia pasti mampu mengayomi kelima anak gadisnya. Memberinya kasih dan perlindungan agar tidak tercerai berai. Sayangnya, tak semua harapan dapat terkabulkan, yang ingin dimiliki namun tangan tak sanggup meraih.
***
Flash back kenangan Xiao Jun dengan Lau masih berlanjut, ia masih terkenang raut tenang dan senyum yang begitu bahagia dari pria tua yang menemaninya belasan tahun itu. Silih berganti wajah Xin Er, Lau, Weini, Liang Jia memenuhi memori pikiran Xiao Jun.
“Tuan, tidak ada yang bisa aku suguhkan atas kedatanganmu.” Lau yang terbiasa melayani Xiao Jun merasa belum terbiasa dengan kondisi serba terbatas di penjara. Ia rindu menyiapkan teh, roti untuk sarapan dan masak makan malam untuk tuan mudanya.
yang ia kenal senang menjaga kebersihan tubuh pasti merasa risih dengan kumis dan jenggot yang amburadul. Hanya saja, apa daya ia terkungkung hingga tak punya kesempatan membersihkan diri.
“Jangan, tuan. Nanti tuan besar tahu, dia bisa menyulitkanmu. Mohon tuan jaga diri baik-baik, jangan buat hal yang memicu kemarahan Tuan besar lagi. Aku sungguh kuatir dia melukaimu.” Seru Lau dengan tulus, ia sungguh mencemaskan majikannya.
Xiao Jun terharu akan perhatian Lau yang sebegitu dalam terhadap dirinya. “Paman, kau masih saja memikirkanku di saat kondisimu jauh lebih memprihatinkan.”
Lau tersenyum, tatapannya penuh binar yang menyejukkan. “Tuan, kebahagiaan seorang pengawal seperti aku hanya ketika aku berguna bagi majikanku.
“Terima kasih paman, aku pastikan paman akan kembali melayaniku lagi.” Ucap Xiao Jun penuh keseriusan, betapa kesetiaan seorang pengawal seperti Lau begitu membuatnya trenyuh.
“Tuan, aku sungguh berharap demikian. Andai ada kesempatan kedua dari tuan besar. Dia mungkin tak akan berbesar hati mengampuniku lagi setelah kejadian ini. Waktu kejadian pertama, nyawaku juga hampir melayang jika saja nyonya besar tak berhasil meyakinkannya. Posisi sekarang kurang menguntungkan kita, yang penting tuan dan kakak Xin Er selamat, itu saja sudah cukup.” Lau berlapang hati bila hanya ia yang dikorbankan, jangan ada nyawa lain lagi.
“Paman, percayalah padaku. Tidak akan ada yang dikorbankan, aku tak akan pernah mengijinkan itu terjadi.” Ucap Xiao Jun mantap. Ia selalu mampu merealisasikan apa yang telah ia lontarkan.
Lau tersenyum dan mengangguk, ia harus memberikan spirit bagi tuannya. Urusan hasil biarlah belakangan, selagi semangat masih membara untuk mencoba. “Ah, tuan … aku hampir lupa memberitahumu tentang nona Weini.”
Mata Xiao Jun berbinar saat nama kekasihnya disebut, “Ada apa dengannya?”
“Di hari itu, nona Weini dan Dina terus menghubungiku. Maaf aku lalai merespon ketika mengurus rapat produksi, tapi aku masih sempat menghubungi non Weini dan berbicara sebentar sebelum diciduk.”
Xiao Jun mengangguk, “Teruskan paman.”
“Dia terdengar sangat sedih, dikiranya terjadi sesuatu yang buruk pada tuan. Aku berusaha menutupi kenyataan agar ia tak banyak pikiran, tapi ia meyakinkanku untuk berterus terang. Jadi, aku menceritakan yang sebenarnya dan ia bersedia mengerti. Non Weini sangat pengertian, tuan juga sebaiknya tenang sambil cari jalan keluar.” Ujar Lau, inti dari berita yang ia sampaikan adalah untuk menguatkan hati Xiao Jun, bukan malah menambah
beban pikiran.
Xiao Jun tersenyum sebagai reaksi pengakuan Lau. “Aku yakin dia pasti sanggup dan mengerti. Aku sempat mengirim pesan ke dia, setelah ponselku kembali biar kujelaskan padanya. Aku harus mengambil keputusan ini, demi kebaikan semuanya.”
***
HI READER, TEBAK YUK: “KEPUTUSAN APA YANG XIAO JUN MAKSUD DEMI KEBAIKAN SEMUA?”
Terima kasih telah mensuport cerita ini ya, semoga dapat mengambil hikmah dari kisah fiktif ini. Love you all …
Sincerely,
Author
Chantie Lee ^^