OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 290 LI AN YANG TAK TERBANTAHKAN



Xiao Jun berlari kencang menuju pintu kedatangan bandara, pagi ini ketika ia selesai memimpin rapat kerja, ia nyaris dibuat terkejut pingsan karena telpon dadakan dari Li An.


“Jemput aku di bandara, aku barusan landing nih.”


Kata-kata itu menyulap Xiao Jun menjadi pemburu waktu, jarak tempuh ke bandara dari lokasi kantornya kurang lebih satu jam, itupun jika tidak macet di tol. Xiao Jun tak habis pikir, bagaimana Li An bisa datang mendadak. Tanpa pemberitahuan dan peringatan sebelumnya, kakaknya memang luar biasa mengejutkan. Matanya memandang liar ke sekeliling, mengamati setiap penumpang yang sibuk mengantri di depan pengambilan bagasi.


Senyumnya mereka saat melihat Li An yang berjalan menuju pintu keluar sambil menarik koper kecilnya. Koper sekecil itu tidak merepotkannya mengantri lama hanya demi menunggu barang. Li An sudah menemukan tempat Xiao Jun berdiri, ia melambai dan tersenyum girang.


“Jun, kamu tepat waktu.” Puji Li An sembari menggandeng lengan adiknya sebentar, kemudian melepas gandengan itu dan menyodorkan kopernya agar dibawakan.


“Kenapa datang tiba-tiba? Kakak bikin aku hampir jantungan.” Cecar Xiao Jun, ia menuntun Li An menuju tempat parkir.


Li An tertawa kecil lalu berkacak pinggang, “Kalau bilang dulu bukan kejutan namanya. Salahmu sendiri, kenapa tidak kabari aku perkembangan hubunganmu dengan dia.”


Xiao Jun langsung malas merespon Li An, begitu mereka sampai di depan mobil, ia menyuruh Li An masuk dulu sementara Xiao Jun memasukkan koper ke bagasi mobil. Ia segera masuk ke mobil, bersiap tancap gas dari sana. “Kakak lapar? Sekalian kita cari tempat makan saja.”


Li An menggeleng, “Belum, di pesawat udah makan. Jun, kamu belum menjawab pertanyaanku. Aku serius mikirin kamu sampai belain ke sini. Untung Wen Ting pengertian dan fasilitasi perjalananku, dia mau ikut tapi aku melarangnya. Kurasa kita perlu bicara dalam ranah keluarga.”


Xiao Jun fokus menyetir, ia berpikir sejenak sebelum menjawab desakan Li An. “Entahlah kak, kami sudah baikan tapi untuk saat ini sebaiknya kami menenangkan diri dulu.” Sejak kejadian kemarin, baik Xiao Jun dan Weini sama-sama menenggelamkan diri. Tidak ada yang saling mencari dan mereka merasa lebih damai dengan kondisi itu.


“Dasar tak becus. Kamu jangan hobi nyakitin wanita dong, aku berdiri di pihak wanita loh walaupun kamu adikku.” Sebuah jitakan yang melayang dari Li An mendarat di kepala Xiao Jun.


Xiao Jun tak siap diri dan hanya pasrah merasakan nyeri seperti digigit semut karena jitakan Li An. “Kenapa selalu aku yang disalahkan? Apa aku segitu nggak berguna?” Kesal Xiao Jun.


Li An terdiam melihat Xiao Jun serius kesal. “Dui bu qi (maaf), aku hanya bercanda. Kamu sedang sensi rupanya, aku tidak akan menggodamu lagi.”


“Apa aku memang pria tak berguna, baik kakak maupun ayahku meremehkanku. Kalian malah lebih sayang pada orang lain.” Orang lain yang dia maksud adalah Weini.


Li An mengangkat satu alis, “Ayah? Kamu sudah menemukan ayah? Di mana dia? Antar aku menemuinya.” Rengek Li An.


"Percuma, dia tidak akan mengakuimu. Dia terus berkelit meskipun aku terang-terangan menodongnya mengaku.” Ujar Xiao Jun kesal, ia menggertakkan gigi.


“Mungkin kamu salah mengenali orang, Jun. Jangan terlalu terobsesilah, aku lebih takut kamu stress.” Li An prihatin melihat kondisi adiknya, dari tampilan fisik memang Xiao Jun tidak ada kurangnya namun batinnya gersang, kesepian dan haus kasih sayang. Li An peka tentang rasa itu, walau tak terungkap, ia tahu betul karena iapun merasakannya. Kalau bukan karena Wen Ting yang tulus mencintainya, mungkin ia juga bernasib sama dengan


“Wajahnya memang berubah, tapi perasaanku mengatakan dia memang ayah kita. Dia hanya berbohong padaku selama ini, dia menutupi semuanya!” Kesal Xiao Jun, terbayang wajah tenang Haris yang pandai mengelak.


Li An menghela napas, “Kalau begitu, aku juga perlu membuktikan dugaanmu. Antarkan aku ke sana sekarang, aku mau lihat apa benar dia ayah kita.”


***


Xiao Jun menurunkan Li An di tepi jalan, sesuai permintaannya Xiao Jun tidak diijinkan bergabung. Li An meminta Xiao Jun meninggalkannya begitu saja dan tidak boleh muncul sebelum ia menghubungi dulu. Setelah mobil sport hitam itu berlalu, Li An menatap halaman sebuah rumah yang tidak bisa disebut mewah, pun tidak masuk dalam kategori sederhana. Ia tersenyum tipis, rumah di hadapannya terlihat nyaman dan penuh kehangatan. Membuat Li An terkenang masa kecil saat menempati rumah orangtuanya, meskipun dengan tampilan yang berbeda tetapi atmosfirnya terasa sama, berasal dari pemilik yang sama.


Suara sepatu heels Li An mengetuk lantai keramik di halaman, semakin nyaring hingga ia menginjakkan kaki di teras. Kondisi rumah dan sekitarnya cukup sepi, tapi Li An yakin ada penghuni di dalamnya. Ia memencet bel satu kali lalu terkejut ketika pintu terbuka dengan cepat di luar prediksi. Seorang pria menongolkan wajah dari balik pintu, menyuguhkan senyuman ramah dan sorot mata yang begitu familiar bagi Li An. Untuk sesaat, Li An terbuai olehnya


hingga tak berkedip.


“Nona, anda mencari siapa?” Tanya Haris dengan sopan.


Li An terpaku diam dengan lidah terasa kelu, jawabannya dari bibirnya kalah cepat dibandingkan gerakan tubuhnya yang sigap menghambur memeluk Haris. “Ayah” Isakan tangisnya tak tertahankan lagi, ia tak peduli terjadi di depan pintu yang beresiko dilihat orang yang lalu lalang. Rindu yang mendalam ini menuntunnya untuk segera melampiaskan pada orang di hadapannya.


Haris tertegun, ia menelan ludah hingga jakunnya bergerak naik turun. Bukan karena ia shock mendapati seorang gadis cantik nan muda yang memeluk dan memanggilnya ayah, tak perlu dijelaskan saja ia sudah tahu bahwa itu adalah putrinya, Wei Li An. Haris melonggarkan pelukan gadis yang masih terisak itu lalu menuntunnya masuk ke dalam rumah. Li An menurut saja sembari menatap punggung kekar ayahnya yang mulai menua. Melihat kenyataan


itu saja sudah membuatnya tersedu sedan, betapa waktu telah merenggut segalanya. Wei Ming Fung yang gagah perkasa kini mempunyai tampilan tua yang berkharisma namun fisiknya tak lagi sekekar dulu.


“Nona, kamu salah orang.” Ujar Haris, namun belum selesai berucap, Li An memotong pembicaraannya.


“Cukup ayah, berhenti pura-pura. Aku bukan Jun yang telat menyadarimu. Suasana rumah ini, sorot mata yang menatapku tadi, dan senyuman ramahmu itu, walau dengan wajah yang berbeda tapi tidak bisa membohongiku. Kamu ayahku, ayah kami!” Isak Li An, nadanya melengking. Hanya dengan cara itu ia bisa mengalahkan suara bariton ayahnya.


Haris tertawa kecil, kontras dengan gadisnya yang masih sesengukan. Haris menarik Li An dalam pelukannya, “Putriku ini memang yang paling tidak peka sihir, tapi punya hati yang bening untuk mengenali orangtuanya.”


Li An ikut tertawa walau bercampur tangisan, ia membalas pelukan Haris dengan hangat.


***