OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 434 MEYAKINKAN



Permintaan Chen Kho terdengar memberatkan hati Weini, meskipun iba dengan kondisi mereka yang sama-sama tidak beruntung di keluarga, namun Weini jelas satu siapa pemilik hatinya.


"Tidak bisa, aku tidak bisa terus di sini. Mereka pasti mencemaskanku. Kamu juga, sebaiknya kita kembali baik-baik dan menjelaskan pada mereka, tidak terlambat untuk memulai hidup baru."


Gumam Weini menampakkan raut seriusnya.


"Aku tidak bisa... Aku terlalu banyak dosa di sana." Lirih Chen Kho pesimis. Ia menundukkan pandangannya, menyembunyikan raut pesimisnya.


Weini mencoba mendekatinya, meskipun tak bisa memaksakan Chen Kho menatap balik padanya.


"Sepupu, percaya padaku... Dunia itu masih tempat yang baik untuk kita, tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni. Sebelumnya aku sangat berambisi balas dendam atas kematian ayahku, tapi sekarang aku sadar bahwa ini bukan maumu. Aku tidak naif menyalahkanmu."


Chen Kho masih diam, kata-kata Weini sangat menenangkan hatinya. Ia perlahan mengangkat kepala hingga bisa melihat senyuman Weini di hadapannya. Senyum Chen Kho ikut mengembang, ada rasa optimis untuk mempercayai Weini. Tetapi dalam sekejap senyum itu menghilang, bersamaan dengan gelengan kepala yang jelas.


"Tidak! Aku tidak bisa... Aku terlalu berbahaya, dia bisa datang kapan saja memanfaatkanku." Seru Chen Kho tampak gelisah.


Weini mulai bingung lagi dengan ucapan Chen Kho yang selalu menyebut inisial 'Dia'.


"Dia siapa? Kita kalahkan dia bersama-sama, asal kau percaya padaku."


"Tidak, Hwa... Kita bukan tandingannya. Aku tidak mau melukaimu, lebih baik aku mati daripada harus melukaimu." Seru Chen Kho gelisah, ia menarik diri agar menjauhi Weini. Refleknya seolah takut akan melukai gadis itu.


Weini menatapnya iba, tidak bisa berkata apa-apa lagi dalam keadaan grogi begini.


"Ah... Benar, aku sangat berbahaya, aku tidak boleh membahayakanmu. Lebih baik kamu menjauh dariku. Hwa, pergilah... Jangan dekati aku lagi." Chen Kho berteriak lagi, kali ini reaksinya terlalu berlebihan menjauhi Weini.


"Apa perlu segitunya? Aku tidak merasa kau berbahaya. Kau justru sudah menolongku dua kali, memberikan energimu padaku. Jika bukan karenamu, mungkin selamanya aku tidak punya keberanian membuka topengku." Ujar Weini mencoba meyakinkan, setelah bersama pria itu beberapa saat membuat Weini mulai mengenali Chen Kho walau tidak banyak.


Chen Kho tampak berpikir keras, tapi tetap tidak bisa memberi jawaban. Mereka terdiam dengan posisi berdiri yang menampakkan batas, hingga Chen Kho terkesiap merasakan kepekaannya.


"Ada yang datang...." Guman Chen Kho kemudian cepat berdiri di depan Weini, seakan hendak melindunginya.


Weini mengerutkan dahi, ia pun merasakan perasaan yang sama, sinyal sihir yang tak asing baginya. Mungkinkah mereka telah menemukan tempat ini? Batin Weini bertanya-tanya.


Seseorang tampak masuk dari koridor yang menghubungkan jalan keluar rumah ini, seorang pria yang tidak Weini kenali. Tetapi anehnya getaran sihir itu jelas ia kenali, tapi mengapa justru orang yang tidak dikenal yang datang dan bukannya Xiao Jun?


Chen Kho menatap tajam pada seorang pria yang ia tahu persis, selain karena atributnya tapi juga karena ada sesuatu yang janggal dari tamu tak diduga itu.


"Su Rong kembali menghadap tuan." Ucap Su Rong membungkuk hormat.


"Bukankah kamu sudah mati?" Tuding Chen Kho ketus.


Su Rong menelan ludah, ia kembali menundukkan kepalanya. "Ceritanya panjang tuan, hamba hanya mengelabui polisi. Hamba berhasil selamat dari incaran mereka." Jawab Su Rong dengan tatapan mata yang mencuri pandang kepada Weini.


Weini sadar sedang diperhatikan, pun sadar bahwa pria itu sedang berbohong. Tapi ia tetap diam, membiarkan pria itu menjalankan skenarionya.


Chen Kho menyeringai, tatapannya tajam menyoroti pria di hadapannya.


"Untuk apa kau kemari kalau hanya membawa kegagalan?" Bentak Chen Kho.


Su Rong tertunduk tanpa jawaban, ia kewalahan menahan rasa gugupnya agar tidak terbaca oleh Chen Kho.


Weini terus memperhatikan Su Rong, ia tak menemukan apa yang istimewa dari pria itu namun mengapa bisa getaran sihir klan Wei terasa jelas di dekatnya?


Su Rong tersentak kaget, ia tidak menyangka bahwa Chen Kho sepeka itu mengetahui motivasinya kemari, meskipun tidak sepenuhnya benar. "Hamba tidak membunuh siapapun, tuan." Jawab Su Rong membela dirinya.


Chen Kho berdecak dengan tatapan tajam yang menyoroti. "Masih berani menyangkal? Seragam siapa yang kau pakai kemari? Itu atribut khas tangan kananku, kenapa bisa jadi milikmu?"


Su Rong memucat seketika, ia tak menyangka pria itu sangat teliti hingga tahu perbedaan dari seragam yang tampaknya sama. Ia tak bisa menyangkal lagi, pun ketika Chen Kho melayangkan sebuah pisau yang muncul tiba-tiba dari saku celana dan diarahkan pada lehernya, Su Rong tak siap dengan serangan dadakan itu.


"Awaaas!" Pekik Weini reflek saat melihat pisau itu terbang hendak menggorok leher Su Rong.


Su Rong tersentak, ia mematung saking paniknya lalu memejamkan mata dengan pasrah membiarkan benda tajam itu melukainya. Tetapi pisau itu justru terhenti tepat di depan jakun Su Rong, tak lama kemudian pisau itu jatuh.


Weini tersentak melihat itu, sekarang terjawab sudah rasa penasarannya. Ia tahu persis bahwa ada seseorang yang hadir tak terlihat, itulah sebabnya ia merasakan getaran sihir yang dikenalinya.


"Xiao Jun?" Desis Weini penuh harap, ia lupa bahwa Chen Kho bisa mendengar dan mencurigainya.


"Keluar! Aku tidak suka berhadapan dengan pengecut!" Pekik Chen Kho berang, apalagi melihat senyuman Weini saat menyebut sebuah nama. Hati Chen Kho serasa panas terbakar amarah.


Permintaan itu disetujui dengan cepat, tubuh yang tersembunyi dalam dimensi lain itu beransur tampak di hadapan Weini dan Chen Kho. Yang membuat mereka tersentak, rupanya tidak hanya satu orang yang hadir, tapi ada dua orang yang menyusup kemari bersama pengawalnya.


Weini terkesiap, ia nyaris tak percaya apa yang dilihatnya. Sosok pria tua yang sedang tersenyum padanya, dan orang itu benar-benar sangat Weini kenali. "Ayaaaah...." Pekik Weini bahagia, ia bergegas menghampiri Haris yang juga menatapnya. Perhatian Weini sepenuhnya tersita pada Haris, meskipun ia tahu ada Xiao Jun yang juga terpana menatap wajah asli Weini.


Tangan Weini ditarik Chen Kho saat hendak menghampiri Haris, ia menggenggam erat hingga membuat Weini kesakitan.


"Lepaskan aku, biarkan aku bicara dengan ayahku dulu." Pinta Weini meyakinkan Chen Kho. Sayangnya Chen Kho tak mengindahkan permintaan Weini yang lembut memohon padanya.


Xiao Jun pasang badan di depan, ia bergegas menghampiri Weini yang meronta. "Lepaskan dia! Hadapi aku saja!"


Chen Kho menyeringai, tatapannya nanar memelototi Xiao Jun. "Baik, seperti yang kau minta."


Weini menggeleng cepat, ia menatap Xiao Jun untuk mengiba padanya. "Hentikan! Jangan ada perkelahian, kita bisa bicarakan baik-baik."


Xiao Jun menurunkan tangannya yang hendak menyerang, ia heran dengan sikap Weini yang justru terkesan melindungi Chen Kho. Pikiran buruk serta cemburu pun menjalari hatinya, Xiao Jun mengira Weini telah terpengaruh oleh si licik Chen Kho hingga berpihak padanya.


"Sepupu, hentikan kekonyolan ini. Berhenti saling menyakiti, kita keluar sama-sama dari sini." Bujuk Weini yang menatap serius pada Chen Kho.


Xiao Jun hendak angkat bicara, tetapi Haris melarangnya dengan isyarat tangan yang dibentangkan di hadapannya. Haris mencoba memahami apa yang sedang terjadi sebelum menyerang, Weini pasti punya maksud lain yang harus mereka pahami.


Chen Kho menatap Weini, sorot mata gadis itu yang begitu lembut dan menenangkan itu mampu meyakinkan Chen Kho untuk menurut. Weini menangkap isyarat baik itu, ia yakin Chen Kho mendengarkannya. Tatapan mereka cukup lekat dan Weini mengangguk dengan senyuman, sungguh pemandangan yang menjengkelkan bagi Xiao Jun, melihat langsung wanitanya tersenyum untuk pria lain.


"Kita keluar dari sini sama-sama." Gumam Weini yang kini menggandeng tangan Chen Kho, menuntunnya mendekati Xiao Jun dan Haris berada.


Chen Kho menurut dengan tatapan kosong, sekosong pikirannya yang tak mampu lagi berpikir jernih. Dan dalam seketika, ia bukan lagi dirinya.


Dia yang selalu menerornya kembali merasuki, menguasai dirinya.


🌹🌹🌹


Hi, edisi 17 Agustus nih. MERDEKA!!! 🇮🇩


Setelah mencari visual yang cocok sekian lama, akhirnya pilihan Thor jatuh pada aktor ganteng dari Tiongkok. Dan inilah Yang Yang, si ganteng Li Xiao Jun.