
Transaksi jasa yang disepakati Xiao Jun dan Chen Kho kemarin masih berbuntut hingga keesokan hari. Sebuket bunga dan satu kotak perhiasan di atas meja menanti pertanggung-jawabannya, ia harus memberikan hadiah itu kepada Grace. Setengah hati rasanya untuk menemui gadis itu, Xiao Jun tanpa pikir panjang memanggil
pengawalnya.
“Kirimkan hadiah ini untuk nona Grace!” perintah Xiao Jun yang langsung dipatuhi oleh seorang pengawal. Ia menyaksikan seikat bunga dan kotak merah itu berpindah tangan, siapapun yang mengantar tentu sama saja lantaran Grace pasti mengira hadiah itu darinya. Tetapi ketika melihat pengawal itu hendak keluar, hati kecil Xiao Jun justru gusar.
“Sebentar! Letakkan kembali ke meja dan keluarlah.” Xiao Jun mengurungkan niat semula, melempar tanggung jawab pada orang lain jelas bukan tipenya. Apa yang sudah ia katakan, harus ia laksanakan suka atau tidak. Diambilnya kedua barang itu dan menuju tempat di mana wanita itu berada.
***
Penglihatan Grace buram karena air mata yang menggantung, ia menahan tetes itu jatuh agar tak membasahi kertas yang tengah ditulisinya. Ia tak mengerti soal kaligrafi dan diharuskan belajar menulis aksara Mandarin dengan kuas, latihan yang dirasanya sebagai penyiksaan itu sudah berlangsung hampir dua jam dengan hasil
hampir ratusan lembar kertas berakhir di tong sampah. Ia bagaikan tawanan yang dikarantina, tanpa siapapun yang menyemangati dan seolah tak berpengharapan dengan orang yang disukai.
Aku ingin pulang saja, dia tidak menyukaiku untuk apa aku susah payah begini? Keluh Grace dalam batin, air mata yang ditahan pun jebol dan menodai tulisan yang sudah ia goreskan. Rembesan itu menghancurkan jerih payahnya, Bibi Gu sebentar lagi pasti kembali dan akan memarahinya lagi karena belum ada satupun yang
berhasil ia goreskan dengan becus.
Bukannya kembali menulis di kertas yang baru, Grace malah melempar kuas lalu membenamkan wajah pada kedua tangan yang tertekuk. Tangisannya kian menjadi, memabasahi kertas di bawah tangannya. Ia tak peduli isak tangisnya terdengar siapapun, yang ia tahu hanya ingin menumpahkan kelelahan hati lewat tangisan.
Keputus-asaan Grace tak luput dari pantauan Xiao Jun, setelah mengunjungi kediaman para nona Li, Xiao Jun baru tahu bahwa Grace sepanjang hari berada di rumah tamu dan hanya pulang ketika malam. Semula ia tak peduli apa yang dilakukan gadis itu, tetapi setelah melihat sikap pesimis dan air matanya membuat Xiao Jun tertegun.
Siapa yang mengira Li San dan Liang Jia sangat ketat aturan dalam memilihkan calon pasangannya, tak terkecuali dari kalangan keluarga pun masih harus menjalani masa belajar. Sekilas pandang saja, Xiao Jun tahu bahwa Grace sangat tertekan dengan semua aturan dan ia pasti kesulitan beradaptasi. Inilah resiko berkecimpung dalam keluarga sang dictator yang kebal hukum, semua yang masuk dalam keluarganya bahkan rumahnya harus mengikuti aturan kolotnya.
“Kayu meja itu sebentar lagi akan lapuk kalau kau masih membasahinya.” Sindir Xiao Jun sembari berjalan masuk. Hampir sepuluh menit ia berdiri mengintip di balik celah pintu dan tak tahan lagi mendengar isakan tangis seorang gadis.
Grace berhenti sesengukan namun masih menyembunyikan wajahnya di posisi semula. Suara itu meskipun baru beberapa kali singgah di pendengarannya, ia sangat yakin tahu siapa pemilik suara itu. Gimana ini? Wajahku pasti sembab, kenapa dia datang nggak bilang-bilang? Grace kelabakan, ia malu untuk mengangkat wajahnya dan
memperlihatkan sisi lemahnya.
Xiao Jun membiarkan Grace yang belum bereaksi apapun, ia tahu isi hati gadis itu dan memberinya kesempatan menjaga harga diri. Diletakkannya bunga dan kotak perhiasan itu di depan Grace, gerakan yang sangat pelan itu pasti tidak disadari si gadis. Xiao Jun berbalik dan hendak pergi, apa yang harus ia lakukan sudah diselesaikan.
Langkah pelan Xiao Jun dapat disadari oleh Grace, ia langsung menengadah dan mendapati hadiah kejutan di depan mata. Senyumnya mengembang, ternyata pria itu masih ada hati memperhatikannya. “Jangan pergi, plis. Aku belum bilang makasih.” Grace menahan Xiao Jun semakin menjauh. Perintahnya cukup efektif mencegat orang yang ia harapkan kedatangannya agar bertahan lebih lama. Xiao Jun membalikkan badan dan terdiam,
“Thanks, aku suka hadiahnya.” Grace mencium buket bunga itu dan tersenyum sangat puas. Ia belum membuka kotak perhiasan itu, baginya bunga saja sudah lebih dari cukup.
“No problem.” Jawab Xiao Jun singkat.
Grace menyeka air mata di ujung matanya, kali ini air mata haru yang luruh. Ia belum pernah jatuh cinta, ternyata inilah rasanya terjatuh dalam hati seseorang. Sakit, kecewa, bingung tapi masih bisa merasakan bahagia yang tak bisa dijelaskan.
“Apa yang kau tulis?” Xiao Jun enggan melihat air mata, ia mulai heran dengan gadis itu yang mudah menangis. Saat sedih dan senang, air matanya tetap diikutsertakan.
Grace berusaha menutupi kertas coretannya, sebuah usaha yang sia-sia lantaran tatapan Xiao Jun sudah tertuju pada objek yang ditutupi itu. Aksara yang mulai mengabur goresannya karena basah itu masih terbaca, Xiao Jun menarik pelan kertas itu dan mulai memberi penilaian.
“Kamu menulis nama Mandarinmu?” kertas itu diangkat seperti pose membaca buku. Xiao Jun tahu di mana kelemahan Grace dari cara ia menulis.
“Ng, tapi jelek hasilnya.” Seru Grace menahan malu. Impiannya memamerkan hasil belajar yang bagus malah terjadi kebalikannya. Tulisan berupa cakar ayam sedang dipelototi oleh pria incarannya.
“Nggak juga, untuk awal sudah cukup bagus. Kamu hanya kurang perasaan, untuk menulis tekanan halus di beberapa titik jangan gunakan sekuat tenaga. Mainkan feelingmu dan relax seperti ini.” Xiao Jun mengambil kuas lain dan memberi contoh cara penulisan yang tepat.
Pose Xiao Jun yang sedang mengajar dengan senyuman dan tatapan lembut saat menulis, membuat Grace gagal fokus. Bukannya memperhatikan apa yang dijelaskan Xiao Jun, ia malah terpesona menatap pria itu secara dekat. Wajah Xiao Jun bak ukiran yang sempurna, sepasang alis hitam lebat dan rapi, mata setajam mata elang, hidung bangir dan bibir yang menggoda untuk dikecup. Grace sukses terbuai, ia berharap waktu berhenti sejenak pada bagian ini.
***
Hampir dua minggu berlalu, Weini menanti dengan kehampaan tanpa kepastian kapan badai masalahnya berlalu. Ia tak dapat membohongi hati nurani, kala malam menanti waktu terlelap maka kerinduan itu menyesakkan hati dan pikirannya. Weini melirik Dina yang sudah tidur nyenyak, heningnya malam menambah rasa sepi. Ia membuka
galeri ponsel, mencari jejak kenangan antara dirinya dan Xiao Jun. Dari sekian ratus koleksi foto dalam ponsel, Weini baru menyadari ia tak punya satupun foto bersama Xiao Jun. Tiba-tiba ia merasa iba pada diri sendiri, selama ini terlalu menyepelekan rekam jejak digital. Terlalu yakin kebersamaan dengan Xiao Jun akan mulus dan tak terpisahkan, nyatanya kini ia menyesali pikiran yang terlampau optimis itu.
“Miss you.” Desis Weini lirih, ia tak kehabisan akal mencari cara menemukan potret wajah Xiao Jun. Tayangan infotainment dari saluran Youtube pun ditelusuri, Weini teringat momen ketika Xiao Jun berdansa dengannya di bawah sorotan kamera para pencari berita. Selama ini selalu menghindari pers, sekarang Weini justru
berterima kasih pada mereka yang telah mengabadikan kenangannya.
Untuk kamu yang di sana, cepat kembalilah … Aku rindu! Lirih batin Weini, tanpa ia sadari besok kekasih yang ia nanti akan diikat dengan wanita lain di sana.
***