
Weini menatap lekat wajah Haris yang sesungguhnya, wajah pengawal setianya yang memang sudah berkeriput karena faktor usia. Jika dituruti kehendaknya, tak akan ada puasnya Weini memandangi pria tua itu. Ia sungguh ingin lebih lama lagi melihat Haris untuk yang terakhir kalinya, tetapi akan beresiko jika tiba-tiba Felix dan Lina pulang. Mereka akan shock mengetahui perubahan wajah dan fisik Haris yang menua drastis.
“Ayah, aku ingin lebih lama bersamamu tapi kalau terus memaksakan egoku… Aku khawatir ayah tidak tenang di sana. Aku mohon maaf tidak bisa menunggu Jun kembali untuk mengurus tempat terakhirmu, maafkan aku ayah. Jika memang ada kehidupan selanjutnya, aku sangat ingin berjodoh lagi denganmu. Aku ingin menjadi putrimu lagi ayah. Pergilah… Kelak jatah hidupku pun pasti habis, saat itu aku pasti akan mencarimu.” Weini merapalkan doanya, sebulir air mata kembali menetes, meskipun hatinya sudah lelah tersedu-sedan namun apalah daya bila itu terjadi dengan sendirinya.
Selepas doa dan harapan Weini terucapkan, ia meraih penutup peti kemudian menutupnya dengan tangan bergetar. Tatapannya terus tertuju pada wajah Haris, hingga semakin sulit dilihat dan akhirnya tak terlihat lagi.
Peti itu tertutup rapat, menutupi pandangan Weini pada sosok ayahnya. Seketika itu pula pertahanan diri Weini bobol, seiring lututnya yang terasa gemetaran dan kehilangan tenaga, ia terkulai jatuh memeluk peti ayahnya.
Isak tangisnya pecah lagi, sulit mengikhlaskan kepergian orang yang sangat baik dan berjasa padanya dalam kematian setragis ini. Lebih sulit lagi meyakinkan dirinya bahwa kematian Haris bukan salahnya melainkan takdir, Weini sungguh tak bisa menerima dan terus menyalahkan diri. Bagaimana ia harus menjelaskan pada Xiao Jun? Ia sudah merebut Haris sejak kecil, merebut kasih sayang dari Haris yang semestinya untuk putra kandungnya. Namun sampai sisa hidup Haris, semua perhatian bahkan nyawapun dicurahkan untuk Weini.
“Aku tidak tahu harus menebus kesalahanku dengan apa? Xiao Jun… Dia pasti sangat menderita begitu tahu kenyataan ini. Oh… Adakah sihir yang bisa membangkitkan orang mati? Atau adakah sihir yang bisa menukarkan nyawa orang hidup untuk orang mati? Aku bersedia menukarkan nyawaku, asal bisa menghidupkan ayahmu lagi Jun. Ayah kita….” Isak Weini, kemudian menjerit frustasi.
Di saat teriakan dan tangisannya yang mulai tak terkontrol, Felix dan istrinya datang pada waktu yang tepat. Lina segera berlari menghampiri Weini yang menjerit frustasi sambil memeluk peti Haris, sementara Felix cukup terkejut karena Weini sudah menutup peti tanpa menunggunya kembali. Namun ia memilih bungkam, adalah hak Weini juga untuk menutup peti ayahnya karena dialah satu-satunya keluarga intinya.
Aku ingin kau kembali, ingin kau hidup abadi….
Jangan pergi! Jangan mati!
Kau masih punya janji, kita akan bersama-sama kembali
Ke tempat di mana kita tersakiti
Kumohon, aku tak mau sendiri
_Quote of Weini_
***
Gerimis mengiringi suasana pemakaman Haris yang hanya dihadiri oleh Weini dan Felix beserta istrinya. Weini menatap dengan pandangan kosong mengawasi setiap bongkahan tanah yang menutupi peti ayahnya. Lina
dengan setia merengkuh pundak Weini, menguatkannya di detik-detik terakhir pemakaman yang sangat menyakitkan itu.
“Setelah ini kamu bisa tinggal sementara di rumah om, kalau kamu mau Weini. Om lebih tenang kalau kamu ada yang temani, kita bisa berbagi rasa dan saling menguatkan. Om juga sangat kehilangan sosok ayahmu, kalau saja om tahu hidup begitu singkat… Om menyesal jarang menyempatkan waktu untuk mengunjunginya.” Lirih Felix, ia mengusap bening basah di ujung matanya.
Weini menggeleng pelan, “Terima kasih om, aku baik-baik saja. Terima kasih juga sudah membantu pemakaman ayah, tenanglah semasa hidup ayah selalu cerita tentang kebaikan om dan tante. Jangan disesali lagi, ini bukan kehendak kita.” Desis Weini, ia pintar menenangkan orang namun tak bisa berlaku untuk dirinya sendiri.
“Aku akan kembali ke rumah, masih ada yang harus kubereskan. Tenang saja, setiap kali aku kesepian, aku pasti mencari om dan tante.” Ujar Weini meyakinkan kedua orang yang peduli padanya.
Felix mengangguk, “Pintu rumah om selalu terbuka untukmu. Mari kita pulang, kamu perlu istirahat juga.” Ajak Felix, terlebih rinai hujan sudah semakin deras. Mereka pasti basah kuyup jika tidak segera beranjak.
“Om dan tante pulang dululah, aku masih ingin sebentar lagi di sini. Aku akan pamitan secara pribadi pada ayah.” Pinta Weini, dengan halus ia meminta privasi.
Felix dan istrinya mengerti, mereka pun bergegas pamit dari hadapan Weini demi memberinya kesempatan berpamitan seperti yang gadis itu inginkan. Selepas kepergian mereka, hujan benar-benar seolah mengamuk. Begitu deras dan kencang angin yang bertiup, berkolaburasi dengan tetasan air dari langit. Nyatanya Weini tidak berpamitan, pun tidak juga melontarkan sepatah katapun. Ia hanya berdiri diam membiarkan hujan
mempermainkannya, mengguyurnya basah. Berharap semua kesedihannya luntur dibasuh air hujan itu, dalam rintik yang kian deras itu, Weini menyembunyikan air matanya.
***
Weini akhirnya pulang ke rumah lalu menempati kamar Haris. Ruangan yang tak terlalu besar dan terlihat lapang saking sedikitnya perabot yang dimiliki dalam kamar itu. Tuan rumah yang sesungguhnya telah tiada, kini yang tersisa hanyalah barang peninggalannya. Dan Weini tahu betul bahwa Haris lebih senang menyimpan barang pentingnya dalam dimensi lain ketimbang memenuhi kamarnya. Itulah sebabnya Weini masuk ke kamar ini untuk
membuka barang-barang peninggalan Haris yang lainnya, termasuk mengambil barang yang ia titipkan sebelum berangkat ke pemakaman.
Dua bait matera sihir dilafalkan Weini dalam hati, mantera pembuka segel kotak dimensi tempat Haris menyimpan barang berharganya. Ada beberapa pucuk surat, untuk Xiao Jun, Xin Er serta plakat penerus klan Wei yang ditujukan untuk keturunan murninya. Namun yang diambil Weini hanya jatah untuk dirinya, yang lain biarkan disimpan sampai waktunya nanti diberikan langsung pada si penerima. Weini membuka lipatan kertas surat yang ditujukan atas namanya.
Teruntuk nonaku, Yue Hwa.
Selamat ulang tahun, nona. Senang rasanya melihatmu tumbuh besar dan dewasa setiap tahunnya. Tak terasa kamu semakin besar dan cantik, namun aku tentu semakin tua dan keriputan. Ketika kamu membaca suratku
ini, aku pasti sudah tidak lagi di sisimu. Maafkan ketidak-berdayaanku tak sanggup mengelak dari takdir. Nona, jangan menyalahkan diri atas apa yang terjadi padaku. Dan terima kasih telah membuka topengku, aku sudah tahu bahwa kamu yang sanggup melakukan itu. Tetapi untuk membuka topengmu sendiri, kamu harus tahu konsekuensi besarnya. Kamu berhasil membuka topengku karena ragaku sudah mati, tetapi jika kamu lakukan pada dirimu sendiri, resikonya antara hidup dan mati. Satu hal lagi nona, sihir yang kamu kuasai adalah perpaduan antara dua sihir, kegelapan dan sihir putih. Jika kamu bisa menyeimbangkan itu layaknya Yin Yang (hitam putih) maka kamu akan keluar sebagai pemenangnya. Sekali lagi jangan terlalu bersedih, jalanmu masih panjang dan aku selalu mengawasimu meski di alam yang berbeda.
Hormatku, Wei Ming Fung.
Mata Weini terasa panas, meskipun pernyataan Haris dalam surat itu terdengar ikhlas, tetap saja Weini belum sanggup menerima kenyataan pahit ini. Ia lipat lagi kertas itu kemudian menyimpannya ke dalam kotak dimensi. Yang ia perlukan hanyalah satu benda ini, chip magic yang menyimpan kekuatan besar yang ia keluarkan dari tubuh Haris. Tanpa mengulur waktu lebih lama, Weini beranjak dari kamar Haris. Hatinya masih sakit berada di rumah ini, terlebih ia tidak ingin rumah yang penuh kenangan itu rusak ketika ia mengambil tindakan. Tidak boleh ada seorangpun yang merusak rumah kenangannya, kecuali melangkahi mayatnya.
***
Kita mewek dulu ya untuk beberapa episode ke depan, sabar-sabar dulu ya. Simpan dulu rasa kecewa kalian yang merasa author sangat kejam pada Haris, sekali lagi ini bukan bagian akhir. Kita hanya mendekati akhir dan ini hanya alur yang harus terjadi. Okay kalau gitu, mohon berikan dukungan berupa vote, like dan komentarnya. Terima kasih banyak kepada pembaca setia novel ini, kalian sangat berarti bagiku.