
Xiao Jun baru saja mengakhiri rapat kerjanya siang ini, ia melangkah mantap menuju ruangannya. Tak sedikit karyawan wanita yang membicarakannya hari ini, selain terlihat lebih tampan dan bersinar, bos muda itu memikat hampir semua hati wanita di sana. Kala ia berjalan melewati stafnya, para wanita itu berbisik sembari tersenyum bahagia menatap aura tampan sang bos. Xiao Jun sadar akan hal itu, ia hanya pura-pura tidak tahu dan
bersikap biasa.
“Tuan muda, anda sudah kembali.” Lau yang sedari tadi membereskan kerjaan lain di ruangan Xiao Jun, berdiri menyambut kedatangan tuannya.
Xiao Jun mengangguk pelan sebagai isyarat jawaban, ia bergegas duduk ke kursi empuknya. Tumpukan pekerjaan hari ini terasa ringan jika dikerjakan dalam kondisi hati yang senang, ia harus menyelesaikannya lebih cepat agar bisa meluangkan waktu mengunjungi Weini lagi malam ini. Lau datang menghampiri dengan wajah yang terlihat cemas, sejak tadi ia menunggu kedatangan tuannya untuk membahas hal penting ini.
“Tuan, anda tahu nona Weini dijadwalkan kerja lagi mulai hari ini. Dina menyampaikan informasinya barusan.” Lau masih mencoba basa-basi, ia sungkan untuk langsung membahas ke inti permasalahan. Suasana hati Xiao Jun yang baik belum bertahan dua puluh empat jam, sangat disayangkan jika harus melihat raut sedihnya lagi.
Xiao Jun menaruh Ipadnya kemudian melirik Lau, “Ya, dia cerita tadi sebelum berangkat. Ada apa paman? Wajahmu nggak bisa menutupinya, apa yang disampaikan Dina?”
Lau setengah membungkuk sebelum melanjutkan ceritanya. “Dina bilang awalnya semua berjalan lancar, sampai di pertengahan mereka baru sadar kalau nona Grace termasuk salah satu pemeran dalam film itu.”
Xiao Jun reflek menepuk meja dengan keras, kelakuan Grace sangat membuatnya geram. “Paman, sepertinya kita terlalu meremehkan dia. Bagaimana bisa dia tahu begitu banyak tentang peluang di kota besar ini? Dia pasti
sengaja masuk ke ranah itu agar bisa mengganggu Weini.” Xiao Jun menopang dagu, satu tangannya menutupi bibirnya.
Lau sependapat dengan tuan muda itu, ia juga tak habis pikir bahwa Grace punya kegesitan yang luar biasa. “Dia mampu menguasai bahasa Indonesia dalam waktu singkat, saya rasa dia sudah merencanakan ini sejak awal. Itulah sebabnya, dia bersikeras resign dari sini dan bekerja keras mengejar hal lain di luar. Tuan, apa rencana anda selanjutnya?” Lau menunggu aba-aba dari Xiao Jun, ia bisa saja bergerak sendiri namun selama Xiao Jun masih punya kesanggupan mengambil keputusan, Lau tetap akan mengutamakan instruksi darinya.
Xiao Jun terdiam sejenak, ia serius memikirkan apa yang harus ia perbuat pada Grace dan pada Weini. Ternyata kebahagiaan masih terlalu dini untuk ia kecap, satu hambatan dilewati lalu muncul lagi hambatan selanjutnya. Baru semalam ia mendapatkan kepercayaan Weini lagi, namun kehadiran Grace yang tak terduga dan mengusik kehidupan Weini mungkin akan menimbulkan salah paham season kedua bagi mereka.
“Pelayannya … Gadis pelayan itu, interograsi dia!” Seru Xiao Jun tegas, ia melepaskan jasnya kemudian meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
***
Dina menyeret langkahnya dengan gesit menghampiri Weini, tanpa harus seperti itupun Weini pasti akan sampai di hadapannya namun ia memilih menjemput bola saking tidak tenang.
“Kenapa lu? Mondar-mandir kayak satpam.” Goda Stevan, ia tak peka dengan ekspresi tegang Dina yang sungguh-sungguh.
Dina mengacuhkan Stevan, ia meraih tangan Weini dan menggenggamnya. Sayangnya genggaman itu mengejutkan Weini lantaran ia lagi-lagi merasakan setruman ringan yang menyedot hawa dari Dina. Masalah itu hilang timbul, datang tanpa terduga. Meskipun Weini tahu cara mengakalinya, namun tetap saja sihir dadakannya itu sering membuatnya kaget. Weini dengan halus melepaskan genggaman tangan Dina agar tak menyinggung perasaannya.
“Non, nggak usah ke dalam ya. Aku lagi minta pindah ruangan sama pihak managemen. Apa-apaan ini, kantor segede ini masih harus kongsi ruangan bertiga.” Gerutu Dina.
“Bertiga? Ama siapa?” Stevan lebih cepat merespon ketimbang Weini. Pria itu bahkan langsung berjalan mendekati ruangan, ia perlu memastikan langsung daripada mati penasaran.
Weini menatap bingung pada Dina, raut tegang manager itu menularinya. Tanpa perlu buka suara bertanya, Dina langsung membeberkan kelanjutan cerita yang terpotong itu.
“Grace di dalam. Aku nggak mau non satu ruang sama dia. Tunggu bentar lagi ya, sampai staf pindahin kita ke ruang lain.” Ungkap Dina, bola matanya bergerak menatap Weini dengan gusar.
Di luar prediksi, Weini malah tersenyum. “Nggak apa-apa, kak. Jangan minta perlakuan istimewalah, aku nggak keberatan sih bareng dia.” Jawab Weini dengan kalem, ia menuntun Dina untuk kembali masuk dalam ruangan itu.
Saat pintu terbuka, mereka melihat Fang Fang yang sedang memijit pundak Grace. Begitu nyamannya sampai Grace mengabaikan penghuni ruangan lain yang baru bergabung. Fang Fang yang seorang pelayan pun tak
mengindahkan tiga personal yang juga mempunyai hak yang sama dengan majikannya.
Dina berdecak, namun Weini menoleh padanya untuk memintanya menahan diri. Sampai saat Dina sadar ada yang tidak beres dengan kursi yang diduduki Grace, ia berteriak sekencangnya. “Hei, kau nggak sadar lagi dudukin tas segede itu?”
Dina enggan tinggal diam lagi, ia dengan lantang mengusik posisi Grace yang terlanjur enak itu. Tangannya siap mendorong tubuh tinggi langsing itu agar segera angkat pantat dari kursi. Namun saat nyaris meraih lengan Grace, justru lengan Dina yang dicekal oleh Fang Fang hingga manager itu menjerit kesakitan. Stevan sontak maju, bersamaan dengan Weini yang tidak tinggal diam melihat managernya disakiti. Fang Fang masih mencengkeram
lengan Dina, sementara Grace mempertahankan ketenangan seolah ia ketiduran dan tak tahu keributan di sampingnya, matanya terpejam santai.
“Nona, sebaiknya jangan pakai kekerasan di sini.” Weini memberi ultimatum, namun Fang Fang mengacuhkannya.
Stevan enggan bernegosiasi, ia langsung menyerang tangan Fang Fang agar melepaskan Dina. Pria itupun ditepis dengan sangat kasar, kini giliran Weini yang hendak turun tangan tetapi digagalkan oleh Grace yang kini sudah membuka mata. Dalam bahasa isyarat, ia meminta Fang Fang melepaskan orang kepercayaan Weini.
“Aku nggak tahu kalau ada tas di belakangku, sorry.” Seru Grace dengan nada yang lebih terkesan menyindir. Ia menggeser sedikit posisi duduknya dan menarik tas Weini keluar. Dina yang masih mengayunkan tangannya yang pegal itu langsung merebut tas jinjing itu.
“Wanita songong! Belum apa-apa sudah banyak tingkah, lu kudu rendahin hati dan respek ama senior kalau mau karier lu panjang.” Cecar Stevan kesal, kesan pertamanya pada gadis itu malah sangat mengesalkan. Stevan melabeli artis pendatang baru itu dengan grade D karena tak punya attitude.
Grace melirik kesal pada pria yang mengguruinya, wajah tampan aktor itu memang ia akui sangat menawan. Sepanjang proses baca naskah, ia kerap memperhatikan pria itu begitu akrab dengan Weini. Semakin melihatnya, rasa kesal makin membuncah, mengapa Weini digandrungi pria-pria tampan?
“Aku nggak butuh ceramah, ini bukan kelas religi.” Seru Grace yang sinis membalas Stevan.
Weini mulai muak, ia berjalan mendekati Grace yang duduk tenang bak seorang ratu. Kian dekat langkahnya, kian sigap pula Fang Fang berjaga-jaga. Melihat sikap berlebihan pengawal wanita itu membuat Weini nyengir, tidak ada yang perlu ia takutkan. Kalau hanya soal bela diri, Weini akan maju di garda terdepan.
“Aku bersedia menganggap masalah ini nggak pernah terjadi, anggap saja ini hadiah perkenalan darimu untuk kami. Tapi, kamu harus ingat jangan lagi menginjak ekor macan! Aku nggak bisa jamin sampai kapan ia mengatup mulutnya.” Peringatan secara halus namun nyelekit itu berhasil merubah mimik wajah Grace yang tenang menjadi blingsatan.
“Kamu ngancam aku?” Tuding Grace ketus.
Weini malah tersenyum santai sembari mengangkat bahu. “Karena kamu sudah terlibat dalam film ini, bekerjasamalah dengan baik. Satu bintang tidak akan bersinar paling terang tanpa sinar lain di sampingnya.”
Weini membalikkan badan, mencari tempat duduk lain untuk menyandarkan diri dari kepenatan. Hanya karena seorang pengacau kecil, ia tak akan menundukkan kepala lalu pergi seperti seorang pecundang apalagi hanya
karena masalah cinta.
Sikapku tergantung bagaimana sikapmu memperlakukanku!
***