
Suara penyiar radio yang terdengar centil dan semangat begitu nyaris disetel dalam mobil Stevan. Pria itu sengaja menciptakan keramaian agar terhindar dari obrolan dengan teman Weini. Sebuah ketidak beruntungan karena lagi-lagi ia kecolongan orang lain. Dua kali meluangkan waktu dan mengambil resiko diketahui wartawan hanya demi menjemput Weini. Begitu sialnya kesempatan itu raib dengan alur yang sama.
Siapa pria tampan yang bersama Weini? Dia tampak sukses dan kaya. Semakin memikirkannya, otak Stevan makin terasa mengebul panas.
Cekrek! Cekrek! Sisi keasyikan berselfie tanpa seijin Stevan. Hanya dia yang sadar kamera sementara Stevan terpotret dengan wajah samping dan fokus menyetir. Aktor ganteng itu akhirnya menyadari pencurian potret dirinya.
“Lu ngapain foto-foto? Hapus buru!” Stevan berusaha merebut ponsel Sisi hingga menyetir dengan satu tangan. Sisi mengelak, ponselnya segera ia simpan ke dalam tas. Ia masih bisa tertawa girang melihat kecemasan Stevan.
Setir dibanting ke tepi jalan, mobil yang dikemudikan Stevan berhenti di samping trotoar. Ia perlu waktu untuk menangani gadis manja di sampingnya.
“Lu kalo mau ajak selfie liat sikon plis. Tolong hapus foto barusan, kita selfie ulang ntar kalo udah turun mobil.” Stevan memasang wajah melas, tidak sulit baginya berakting lembut kepada wanita.
“Tapi gue suka yang ini lebih natural.” Sisi menolak.Ia semakin memeluk erat tasnya, takut Stevan merebut paksa.
“Lu Sisi kan? Temen yang selalu Weini ceritain mau ketemu gue. Sekarang demi Weini, gue rela nganter lu balik. Ternyata gitu balasan lu ama gue? Lu tahu nggak konsekuensinya kalau lu salah gunakan foto barusan?” Stevan terpaksa harus menekan nada bicaranya. Sisi terlampau kekanakan untuk diperlakukan secara halus.
“Nggak. So What?” Jawab Sisi pasang wajah lempeng.
Stevan menghela napas dalam-dalam, berharap diberi kesabaran yang kuat. “Karier gue bakal hancur.”
“Lu cinta ama Weini kan?” Sisi berubah pasif. Ia tak lagi bercanda melainkan menunggu jawaban.
“Kok ngalihkan pembicaraan? Sini hp lu! Hapusin dulu foto itu.” Stevan bertindak kasar merebut tas dalam dekapan Sisi.
“Jawab dulu baru gue hapus!” bentak Sisi keras. Ia menepis tangan Stevan.
“Kalo ya kenapa? Kalau nggak kenapa? Ngapain harus nyentil urusan pribadi?” Stevan mulai marah. Batas kesabaran sudah menghampirinya. Ia tak habis pikir mengapa ada gadis seegois itu padahal mereka baru saja kenal.
“Gue cinta elu! Gue nggak rela lu naksir temen gue!”
Jerit Sisi sembari menangis. Tangannya membuka kunci mobil lalu bergegas menghambur keluar. Ia memilih meninggalkan Stevan ketimbang menghapus foto itu. Biarlah itu menjadi kenangan berharga bersama sang idola.
***
“Hei… Jangan ke rumahku!” Weini berteriak panik karena Xiao Jun tak menghiraukan permintaannya. Pria itu kini berada di luar lalu berjalan ke depan mobil. Saat Weini hendak menyusul keluar, Xiao Jun lebih dulu meraih gagang mobil dan membukakan pintu. Weini terbengong-bengong melihatnya namun ia segera menyusul turun.
“Masuklah. Aku lihatin dari sini.” Ujar Xiao Jun lembut, ia bahkan tidak mengeluarkan senyuman.
“Eh?” Sejenak Weini bingung, ia tetap menuruti perintah Xiao Jun dan mulai berjalan menuju pagar rumah. Saat menggeser pengatup pagar, Weini menoleh lagi mencari sosok pahlawannya hari ini. “Thanks udah nolong aku.”
Di luar dugaan, Xiao Jun melempar senyum dan lambaian tangan kepada Weini tanpa beranjak dari posisi berdirinya. Weini membalas senyum itu sebelum menutup pagar dan masuk ke dalam rumah.
“Kau sudah pulang. Loh? Pucat sekali wajahmu.” Haris berada di ruang tengah saat Weini melangkah masuk dengan gontai. Ia meraba kening Weini untuk memeriksa suhu tubuhnya. Keringat dingin sebesar bulir jagung tampak di sekitar dahi Weini. Haris bergegas membawa Weini masuk ke kamarnya.
“Ayah, kepalaku pusing banget.” Ujar Weini seraya berbaring di ranjang tanpa sanggup mengganti pakaian lagi. Sewaktu bersama Xiao Jun, ia sudah merasa baikan tetapi kini tubuhnya kembali merasa lemah.
“Sudah berapa lama seperti ini?” Haris mengambil segelas air hangat dan meminumkan pada Weini.
“Sejak tadi pagi di sekolah. A… aku pulang dianter temanku jadi janga kuatir.”
“Dimana dia? Kenapa tak kau ajak masuk? Aku harus mengucapkan terima kasih.” Haris berbalik badan dan berjalan keluar tanpa menghiraukan Weini yang mencegatnya.
Haris duduk bersila di hadapan Weini yang tiduran, ia merapalkan mantera lalu mentrasferkan energi pada Weini. Hawa dingin di tubuh anak gadisnya dikarenakan energi ‘Yang’ terserap lebih dari separuh oleh hawa ‘Yin’.
Jika dibiarkan akan megancam nyawa si pemilik tubuh.
“Apa kamu menguasai sihir yang ku suruh pelajari itu?” Haris mengkode Weini agar duduk bersila membelakanginya.
“Sudah.” Jawab Weini singkat. Proses perpindahan energi ini terasa seperti disetrum.
“Kau harus segera memusnahkan kertas itu. Dan jangan rapalkan mantera itu lagi kecuali situasi mendesak.” Perintah Haris. Ia tahu sebab Weini kehabisan energi lantaran terus berlatih mantera itu.
“Baik Ayah.”
***
Keesokan hari, tubuh Weini pulih seperti sedia kala. Kemarin terasa mengerikan, ia tak menyangka konsekuensinya begitu besar dari mempelajari ilmu itu. Tetapi Weini tak habis pikir mengapa Haris menyuruhnya belajar jika resikonya bisa kehilangan nyawa. Haris bahkan merahasiakan nama jurus itu serta kapan boleh menggunakannya.
“Weini! Stevan! Ke ruangan gue sekarang!” Bams berteriak dari depan pintu. Tatapannya ganas, seolah bisa menerkam siapapun yang melawannya.
Stevan melewati Weini begitu saja, sedari tadi pria itu tidak antusias seperti biasanya. Weini merasa terabaikan kekasih dalam sinetronnya itu.
“Pemirsa, berita terhangat kali ini datang dari artis yang tengah naik daun. Bintang muda yang masih duduk di bangku SMA itu kepergok oleh media saat sedang bersama seorang aktor papan atas. Ya… anda pasti kenal
siapa sosok gadis cantik ini. Weini yang ditenggarai sebagai ratu sinetron itu sepertinya cinlok dengan lawan mainnya, Si tampan Stevan. Berikut ini cuplikan kedekatan mereka yang secara diam-diam diabadikan pers. Akankah jalinan kasih mereka adalah settingan untuk mendongkrak rating sinetron?”
Bams melempar remote TV. Air mukanya sangat tidak bersahabat. Weini tak kalah kaget menonton tayangan infotainment itu. Betapa kejam narasi yang dituduhkan padanya. Jelas-jelas kemarin ia tidak berduaan dengan
Stevan, masih ada Sisi dan Xiao Jun, tapi berita yang disiarkan justru sudah dipelintir.
“Bisa lu pada jelasin maksudnya apa!?” Bams geram. Ia paling benci artisnya terlibat skandal atau cinta lokasi.
“Gosip murahan. Cuekin aja!” Ujar Stevan santai. Ia malah menyilangkan kaki saat duduk di sofa.
“Selow amat lu ngomong. Eh gue gak peduli urusan hati orang. Lu mau cinlok, mau cilok kek, merid kek. Yang pasti jangan pernah bikin ulah sebelum proyek bungkus!” Bams mengecam Stevan sekaligus ditujukan pada Weini.
“Kak, aku bisa jelasin. Kemarin memang kak Stev ke sekolahku, tapi aku nggak berduaan. Ada dua temenku di sana.” Weini sangat antusias membela diri. Ia baru merasakan difitnah itu sangat menyebalkan.
“Whatever! Pemburu berita gossip itu nggak peduli fakta. Tujuan mereka mau mancing target. Coba liat habis ini, lu mau preskon? Lu mau diuber wartawan minta klarifikasi? Semua akan jadi berita. Ya terserah sih kalo lu emang demen melejit karena gossip ketimbang prestasi.” Bams angkat bahu, ia tak bisa cuek namun terlalu gengsi untuk menampakkan kepedulian.
“Nggak ah! Jadi aku harus gimana?” Weini mulai ngeri membayangkan situasi yang diceritakan Bams. Ia tak menyangka akan berbuntut panjang.
“Diamin aja. Ntar juga anyep.” Ujar Stevan kalem.
“Mulai sekarang lu harus pake menejer. Urusan kemana, antar jemput dan schedule syuting bakal diurus. Gue nggak mau denger penolakan lagi. Makin tenar lu, makin butuh lu bantuan meneger.” Bams angkat pantat dari
hadapan kedua talentnya.
Weini tak bisa berkata lagi. Ia kalah telak kali ini, apalagi yang bisa dilakukan selain mengikuti aturan main.
***