OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 149 PERSETERUAN LIANG JIA DAN SANG PUTRI



Chen Kho melempar anak panah dengan emosi maksimal. Ia melampiaskan kekesalan dengan bermain darts seorang diri, bagaimana bisa ia gagal memengaruhi Xiao Jun? yang sangat ia tidak terima adalah terlihat bodoh di hadapan tuan muda itu. Chen Kho sudah mengerahkan kemampuannya agar Xiao Jun menuruti kehendaknya namun ia malah dipelototi dengan angkuh.


“Aku terlalu meremehkan dia, jangan-jangan dia mewarisi bakat penerus klan Wei. Tidak seperti Li An yang awam, Xiao Jun pasti punya perlindungan dari leluhurnya.” Gumam Chen Kho seorang diri. Dilemparnya tiga anak panah sekaligus yang menancap tepat di tengah papan. Akan sulit baginya untuk mengatur Xiao Jun jika ia tidak


bisa dipengaruhi secara magic, apalagi Chen Kho yakin tipikal pria seperti Xiao Jun sulit berpaling hati hingga ia pesimis pesona Grace yang secantik apapun bisa memikatnya.


Ponsel Chen Kho berdering, ia membidak dua anak panah sisa yang ada di tangannya tanpa peduli mengenai sasaran di mana. Percakapannya terhubung dengan pengawal di Jakarta, sepagi ini entah kabar baik atau buruk yang akan ia dengar.


“Jadi sudah dapat informasi gadis itu?” todong Chen Kho sebagai kalimat pembuka, ia enggan mendengar basa-basi lagi.


Pengawal yang pernah ditumbangkan Weini itu melaporkan segala hal yang telah ia selidiki termasuk siapa keluarga dan profesinya.


Chen Kho manggut-manggut, “Dia hanya seorang artis dengan latar belakang keluarga biasa. Tapi kenapa bisa menguasai kungfu aliran klan Wei? Kau yakin sudah benar menyelidiki? Siapa tahu mereka orang luar yang pindah ke sana?” Chen Kho masih berusaha menyangkal yang ia dengar, segalanya terasa janggal dengan kebetulan


yang tak masuk akal itu.


“Mereka orang lokal, tuan. Sejak lahir gadis itu dan orangtuanya sudah tinggal di sini. Sekarang ia tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai guru privat.” Ungkap pengawal Chen Kho dengan detail.


Penuturan yang begitu meyakinkan itu membuat Chen Kho tidak punya pilihan lain, sementara ia mencoba menerima namun tak sepenuhnya percaya. Hati kecilnya tetap merasa ada yang aneh dengan latar belakang gadis itu. “Namanya Weini? Nama latin atau mandarin? Kirimkan fotonya sekarang juga dan tetap awasi dia walaupun tidak ada yang mencurigakan.”


Chen Kho mencoba melakukan penelusuran dari internet tentang artis Indonesia bernama Weini sembari menantikan kiriman foto dari pengawalnya untuk pencocokan. Dari hasil pencarian itu banyak artikel dan foto-foto Weini dari berbagai angle terposting dengan jelas termasuk berita kemunculan Xiao Jun di pesta dansa yang menyatakan pengakuan cinta di hadapan public pada artis itu.


“Boleh juga gadismu, anak pungut.” Chen Kho mengagumi wajah Weini yang cantik natural dan terlihat memiliki aura yang menarik. Sekarang ia mengerti kenapa Xiao Jun sangat menggilai gadis itu.


“Wei ni … gadis mawar? Gadis milik Wei? Hmmm ….” Ujar Chen Kho menebak arti nama Weini dalam aksara mandarin. Sulit untuk mempercayai bahwa gadis ini hanya orang biasa yang kebetulan bisa kungfu klan misterius di dunia itu. Chen Kho memikirkan alasan logikanya, kecuali jika gadis itu belajar kungfu dari seorang guru dan kemungkinan jika diselidiki dari mana ia berlatih, siapa tahu sosok Wei yang selama ini dikira mati dapat terbukti masih hidup.


Ternyata Chen Kho tak sepenuhnya kalah dalam taruhan ini, satu lawan belum bisa ditakhlukkan tapi ia masih bisa mencari peluang kemenangan dari titik lemah lawannya. Tawa puasnya membahana seiring dengan masuknya kiriman foto Weini di ponselnya.


***


Yue Xin dan adiknya Yue Xiao baru saja mengantongi ijin membesuk Liang Jia dari ayahnya. Mereka belum sekalipun bertemu ibunya semenjak menjalani masa tahanan di kamar.


“Aku kira sejak Yue Fang kembali ke Amerika, kita berdua bisa menguasai paviliun. Nggak disangka, satu kucing betina pergi malah muncul serangga lain yang mengganggu.” Yue Xiao tampak tidak bahagia, impiannya menjadi nona yang paling disegani di paviliunnya buyar ketika Li San menyampaikan titah tadi pagi.


“Sabar dulu adik, kita lihat seberapa betah serangga itu bertahan. Semua tidak akan mudah kalau kita tidak memberi kemudahan itu. Aku kira mimpi buruk selama di Amrik sudah lenyap, kita tak perlu satu atap dengan dia lagi. Eh, malah ayah mengirim dia ke rumah kita.” Yue Xin mencoba menguatkan adiknya, meskipun hatinya saja belum sanggup tenang.


Serangga yang mereka bahas tak lain adalah Grace Li yang akan menjadi penghuni rumah Li San mulai kedatangannya nanti. Hubungan persaudaraan nyatanya tak jadi jaminan keakraban, mereka selalu bersaing ketika bersama. Grace bisa saja mengalami kesulitan lantaran berada dalam kandang macan mereka, terlebih tanpa


perlindungan dari sang ayah.


"Semua ini gara-gara anak pungut, coba dia nggak usah belagu pacaran sama orang biasa. Ayah nggak mungkin terburu-buru mencarikannya jodoh. Malah si Grace yang jadi calonnya, huft ... apa benar pepatah yang bilang dunia nggak selebar daun kelor? Banyak gadis terhormat lain, ngapain dijodohin ama Grace?" keluh Yue Xiao sewot.


“Kita bahas nanti, jangan sampai ibu curiga niat buruk kita sama tuh serangga.” Lanjut Yue Xin memotong jawaban yang hampir dilontarkan Yue Xiao.


“Ibu, kami rindu padamu.” Seru Yue Xiao bergegas menghampiri Liang Jia dan larut dalam pelukan. Yue Xin ikut merasakan kehangatan ibunya meskipun tanpa mengungkapkan kata-kata.


Liang Jia membalas dekapan kedua putrinya dengan erat, matanya terpejam merasakan kehangatan kasih sayang untuk mereka. “Kalian baik-baik saja?” tanya Liang Jia polos, yang seharusnya pertanyaan itu lebih tepat diucapkan oleh kedua putrinya untuk dirinya.


Yue Xin dan Yue Xiao jelas terlihat sangat baik, hari-hari yang mereka lalui begitu indah tanpa cobaan berat. Jauh berbeda dengan Liang Jia yang mengalami tekanan batin dalam keterbatasan gerak ini.


“Ibu, kami berdua bisa jaga diri dengan baik. Ibu tak perlu cemas. Ah, kami bawakan ibu kue kering untuk cemilan di sini.” Yue Xin meletakkan bingkisan yang ia jinjing sejak tadi ke atas meja rias.


Yue Xiao lebih kepo terhadap apa yang ibunya lakukan untuk menghabiskan waktu yang membosankan, matanya tertuju pada sapu tangan yang belum selesai disulam Liang Jia. Sekilas terlihat model wajah seorang gadis yang tengah dikerjakan ibunya. Yue Xiao merasa senang, mengira Liang Jia tengah merajut wajah salah satu dari ia


dan saudarinya.


“Wah, ibu tetap aktif merajut. Ibu pasti sangat merindukan kami sampai harus menjadikan kami sebagai model. Ini wajah siapa yang lagi ibu rajut?” tanya Yue Xiao sambil menggelar hasil tangan ibunya untuk dipertunjukkan pada Yue Xin.


Liang Jia serba salah dan seketika itu juga merebut sapu tangan itu, gerakan spontannya yang terkesan tidak senang barangnya diutak-atik pun menimbulkan kesalah pahaman bagi Yue Xiao.


“Ibu kenapa sekasar itu? aku hanya melihat barangmu, nggak merusaknya. Apa segitu berharganya itu sapu tangan bahkan lebih berharga dari kami?” keluh Yue Xiao mulai menampakkan wajah kesal.


Yue Xin yang sejak tadi diam menduduki kasur tiba-tiba melihat selipan kertas di balik selimut, karena penasaran ia menarik keluar benda tersembunyi itu. betapa terkejutnya ia saat melihat selembar foto seorang gadis yang sedang tersenyum manis dengan potongan foto close up, wajah itu tidak mirip dengan mereka empat bersaudara.


“Ibu, foto siapa ini? Kenapa ibu sembunyikan dari kami?” tanya Yue Xin mulai menginterogasi ibunya.


Yue Xiao langsung merebut foto ini dan membuka mata lebar melihatnya. Wajahnya mengkerut seketika, ia tahu siapa gadis itu. “Oh, jadi ini model sapu tangan yang lagi ibu rajut? Siapa dia bu? Kami yang anak ibu saja nggak pernah diperlakukan spesial kayak ini, kok dia yang nggak jelas siapa bisa dapat perhatian ibu?”


Yue Xin ikut panas mendengar perkataan adiknya, “Apa benar yang adik katakan, bu? Bilang kalau itu bohong. Siapa dia?”


Liang Jia pusing ditodong dari dua arah, ia menggelengkan kepala dengan mata terpejam saking penatnya. “Ibu nggak kenal, apa tidak boleh sembarang memakai siapapun jadi model, itu hanya belajar merajut. Buat apa kalian permasalahkan!” Ujar Liang Jia yang mulai tak berdaya pada anaknya.


“Tapi aku nggak yakin kalau ibu nggak kenal dia, kami sudah kenal ibu jadi tahu pasti ada sesuatu yang ibu rahasiakan. Siapa dia bu!” pekik Yue Xiao egois.


“Cukup! Jangan bicara seolah kalian sangat mengenal ibu. Sebaliknya, ibu yang melahirkan kalian saja tidak sanggup mengenal kalian. Ibu kira kalian putri yang polos, baik hati dan berbakti, nyatanya di belakang ibu kalian justru bertindak brutal.” Pekik Liang Jia agar semua perdebatan mereka berhenti sekian. Ia perlu ketenangan, dijenguk dua putrinya semula sangat menyenangkan. Ia bersedia memaafkan kejadian kemarin ketika kedua anaknya dengan sengaja merebut obat XIin Er, namun Liang Jia sadar anaknya tidak bisa diberi hati.


“Maksud ibu? Kami seperti monster? Nggak punya hati? emang perbuatan keji apa yang udah kami perbuat ke ibu?” Yue Xiao dengan percaya diri menantang ibunya menyebutkan kejelekannya.


Liang Jia tersenyum miris, sekebal itukah urat malu anak gadisnya yang tidak merasa bersalah sedikitpun setelah melakukan sesuat di belakangnya. Mereka kira bisa seenaknya cuci tangan dari kotornya perbuatan yang merugikan Xin Er. Jika mereka tidak diberi pelajaran sebelum meninggalkan kamarnya, Liang Jia bertekad


tak akan menyebut mereka sebagai anak jika ia tak sanggup memberi teguran itu.


***