OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 359 KECUPAN PENGANTAR KEPERGIANMU



Percakapan menegangkan antara Haris dan Lau buyar ketika Xiao Jun menyusul mereka. Lau gugup melihat kedatangan tuannya, pasalnya ia terlambat menjemput hingga Xiao Jun berjalan kaki menghampiri mereka.


“Maaf tuan, saya lalai bertugas sehingga membuat anda susah.” Lau membungkuk penuh menandakan penyesalannya.


Xiao Jun tersenyum lalu menegakkan posisi tubuh Lau. “Tidak masalah paman, Weini tidak curiga karena aku sudah mengakalinya.”


Haris mengangkat satu alisnya, “Apa yang kau katakan padanya?”


“Paman Lau ada keperluan pribadi dan segan mengganggu waktu kami, jadi minta ijin keluar sebentar untuk mencari toilet.” Ujar Xiao Jun santai.


Lau menundukkan wajah, alasan Xiao Jun masuk akal namun tetap membuatnya merasa bersalah. “Sekali lagi maafkan saya, tuan. Saya permisi mengambil mobil dulu.” Ujar Lau kemudian berlalu meninggalkan ayah dan anak itu setelah permisi.


Gurat wajah Xiao Jun yang sedih tak luput dari pantauan Haris. Ia tahu cukup berat untuk berbohong sekalipun demi kebaikan. “Sabar sebentar lagi, pasti semua kembali normal.” Gumam Haris menyemangati putranya tanpa perlu mendengar langsung keluh kesahnya.


Xiao Jun mengangguk pelan, “Aku hanya tidak tega menambah luka di hatinya. Aku merasa belum becus karena tidak bisa melindunginya dengan dua tanganku ini.” Xiao Jun menatap sepasang tangan kekarnya yang terbuka lebar.


Haris menghela napas, “Kelak tugasmu lebih berat dari ayah, kau bisa ambil alih tugas ayah untuk melindungi dia seuur hidup. Plus mencintai dan membahagiakannya.” Ujar Haris tenang.


“Ya, ayah memang sudah waktunya pensiun.” Gumam Xiao Jun pelan.


Haris tersenyum getir, baginya pensiun seorang pengawal itu ketika tutup peti mati. Selagi ia masih hidup, statusnya sebagai pengawa pribadi tidak akan berhenti. Haris menatap lekat putranya kemudian menepuk pelan pundak kekar Xiao Jun seraya menyunggingkan senyuman.


“Jun, dengarkan dan pahami misi penting ini. Kita harus kerjasama dan cekatan, musuh kali ini belum tertebak kekuatannya jadi jangan sepelekan.” Gumam Haris dengan nada serius, tak perlu lagi basa-basi karena mereka berpacu dengan waktu.


Xiao Jun mengangguk paham, “Atas perintahmu, ayah.”


“Setelah sampai dan bertemu mereka, tegaskan pada mereka bahwa kalian akan menikah keesokan harinya. Jika mereka menolak dan memaksa sesuai hari cantik yang dipilih mereka, tetap tegaskan untuk tidak menunda lagi. Kalian harus menikah lusa, apa kamu mengerti?” Haris menekankan permintaannya yang membuat Xiao Jun tercengang mendengar itu.


“Harus secepat itukah ayah? Aku pikir kami tidak perlu sampai menikah. Aku pikir ayah punya rencana lain untuk menggagalkan pernikahan dan mendapatkan penawar. Kita ubah saja rencananya, aku yakin Grace juga tidak bersedia menikah mendadak begini.” Pinta Xiao Jun seraya menggelengkan kepala, menolak ide Haris yang berat dilaksanakan olehnya.


“Mereka tidak akan menyerahkan penawar itu jika tidak ditekan. Ini justru bentuk perlawanan kita, membalas ancaman dengan penekanan yang setimpal. Minta penawarnya lalu serahkan pada Lau secepatnya. Jika kamu mengikuti kehendak mereka menikah sesuai tanggalannya, ayah berani jamin penawar itu tidak akan pernah mereka serahkan.” Tegas Haris, raut wajah seriusnya menandakan ia telah memikirkan strategi dengan matang. Apa yang terdengar konyol itu justru jadi cara jitu bagi Haris.


Xiao Jun menghela napas berat, ia tak kuasa menyangkal permintaan ayahnya. “Baiklah, aku mengerti ayah.”


Suara mobil terdengar di belakang mereka, Lau sudah kembali membawa kendaraan itu. Haris mempersingkat pertemuan kali ini dengan penegasan terakhir. “Sebagai penerus klan Wei, jaga ibu dan kakakmu serta


berbahagialah.”


Xiao Jun mengernyit, permintaan Haris tadi terkesan seperti wasiat. Hatinya gundah dan sedih saat mendengar itu, seakan pertanda ada hal buruk yang tak ia ketahui. “Lalu apa yang akan ayah lakukan setelah aku pergi?” Tanya Xiao Jun heran.


“Aku harap ayah tetap berhubungan denganku selama aku di sana, aku tetap perlu saran ayah.” Pinta Xiao Jun sungguh-sungguh.


“Baiklah, sekarang pulang dan istirahatlah. Aku harus kembali ke rumah sebelum nona curiga.” Ujar Haris lalu menepuk pundak Xiao Jun lagi. Kali ini lebih pelan dan agak lama tangan tuanya menempel di sana.


Haris membalikkan badan hendak meninggalkan Xiao Jun, tetapi langkahnya tersendat lantaran Xiao Jun memanggilnya dengan lantang.


“Ayah ….” Pekik Xiao Jun, ketika Haris berbalik menatapnya, ia segera menjatuhkan diri dan berlutut beralaskan aspal. Haris terkejut namun hanya bersikap diam melihat putranya menunjukkan bakti.


“Aku mohon ayah jaga diri baik-baik, aku mohon … Ayah tetap selamat. Tolong jangan korbankan dirimu lebih dalam lagi, kami masih sangat membutuhkanmu.” Ucap Xiao Jun dengan suara yang terdengar parau, ia mencoba tenang namun isak tangisnya tak terbendung lagi. Kondisi ini sangat rumit, sulit ia mengerti namun ia merasakan kesedihan yang sangat mendalam, tak dapat diungkapkan.


Lau mengikuti jejak Xiao Jun berlutut hormat yang dibiarkan begitu saja oleh Haris yang tak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya hancur detik itu juga.


***


Weini masih duduk melamun di sofa yang masih hangat bekas Xiao Jun bersandar. Ia enggan menangis namun tetes bening itu tetap lancang membasahi pipinya. Kenyataan bahwa ia harus berbesar hati melepas kepergian sang kekasih kali ini, belum sanggup ia terima. Bukan karena cemburu membakar hati, namun ada semacam rasa yang tak rela membiarkan Xiao Jun pergi. Bibir merah Weini terkontaminasi asinnya air mata yang berlinang. Bibir yang beberapa saat lalu dikecup lembut oleh kekasihnya, sebagai tanda perpisahan.


Flashback beberapa menit lalu di ruang tamu ini.


“Jun, apa aku boleh ikut pulang dengan kalian? Aku janji tidak akan merepotkanmu dan akan jaga jarak. Kita bisa bertingkah seolah tak saling mengenal, aku hanya ingin memastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk pada kalian.” Weini begitu mengiba pada Xiao Jun, dengan mata berkaca-kaca dan raut wajah yang membuat hati siapa saja sesak ketika melihatnya. Xiao Jun nyaris luluh karena tatapan sendu gadis itu.


Xiao Jun menghela napas berat, ia meraih jemari Weini untuk digenggam. “Sayang, aku ingin membawamu, ingin mengenalkanmu pada kedua orangtuaku. Tetapi ini bukan momen yang tepat, andai kamu pergi sebagai teman baik Grace sekalipun, mereka tidak akan percaya karena mereka sudah tahu wajahmu. Jadi kumohon, percaya padaku ya. Biarkan aku dan Grace meyakinkan keluarga kami secara kekeluargaan. Kehadiranmu hanya akan menimbulkan dugaan baru, mereka mungkin berpikir bahwa kamulah yang mendesak Grace untuk menyerah. Kumohon, percaya padaku Weini.” Xiao Jun mengharapkan pengertian Weini dengan tatapan sendunya. Binar matanya seolah menunjukkan betapa kuat tekad Xiao Jun saat ini.


Weini tak berkutik, apa yang Xiao Jun jelaskan ada benarnya. Kehadirannya bisa mengacaukan niat baik Grace dan Xiao Jun. Tugas Weini di sini adalah meyakinkan dirinya untuk percaya sepenuhnya pada mereka, dan ini sangat berat. Weini tak punya pilihan lain, ia terpaksa mengangguk setuju.


“Terima kasih atas pengertianmu.” Desis Xiao Jun yang seketika itu pula mendekap erat Weini.


Weini enggan merespon dengan kata-kata lagi, ada sikap yang jauh lebih mewakili perasaannya. Ia mengendorkan pelukan Xiao Jun, perlahan mendorong tubuh pria itu agar melepaskannya. Xiao Jun mengerutkan dahi mendapati penolakan halus Weini, namun kebingungan itu terjawab manakala Weini dengan penuh inisiatif memegang kedua pipi Xiao Jun kemudian mendaratkan ciuman tepat di bibir pria itu.


Napas Xiao Jun tersendat, bola matanya membesar dan debaran jantung yang seolah akan mencuat keluar. Ia terbelalak menatap Weini yang terpejam menciumnya. Gadis itu belum pernah berinisiatif memberikan sentuhan cinta itu, namun kini Weini yang memimpinnya. Perlahan Xiao Jun mengatupkan matanya, membiarkan bibir mereka saling berpagutan sejenak. Biarkan kecupan ini yang mewakili hati mereka, mengungkapkan betapa berartinya mereka satu sama lain.


Flashback off


***


Semoga kemesraan ini jangan cepat berlalu, hiks....