
“Cepat katakan!” Desak Chen Kho tidak sabaran melihat gadis pelayan itu berdiri gelagapan.
Gadis pelayan itu terkesiap, kesadarannya seakan terkumpul lagi. “Di... Dia bilang nggak mau makan, lebih baik mati kelaparan. Dia hanya cocok makan masakan Jakarta, dan... dia minta aku membeli bumbu jadinya langsung dari sana.” Ujar gadis pelayan itu sedikit takut-takut.
Chen Kho mengepalkan tangannya, geram mendengar sikap manja Weini. “Sifat macam apa itu? Menjengkelkan
sekali dia, biarkan mati kelaparan saja. Kalau lapar juga bisa makan sendiri.” Gerutunya kesal, ia berkata tanpa berpikir ulang lagi.
Gadis pelayan itu mulai gusar, “Tapi tuan, kasihan dia. Nona itu terus mengamuk, dia kelihatannya sangat stress. Aku takut... Dia pingsan lagi karena kehabisan tenaga tuan.” Lirih gadis pelayan itu, tampangnya pun sangat menghayati peran yang didrmatisir itu.
Chen Kho terdiam, ia tampak berpikir sejenak. Emosinya mulai bisa terkontrol hingga ia merutuki dirinya yang gampang tersulut kemarahan. Jelas-jelas ia sangat berharap Weini segera sadarkan diri, ia sendiri yang merasa jenuh melihat gadis itu terus tertidur, bahkan rela memberikan energinya untuk disedot gadis itu. Tetapi ketika
Weini benar-benar siuman dan belum menerima kenyataan, mengapa Chen Kho malah yang tidak sabaran lagi? Jika ia bisa bersabar kemarin, semestinya ia bisa mempertahankan sebentar lagi kesabaran itu. Setidaknya sampai ia berhasil meyakinkan Weini agar tinggal di sisinya, sebagai pendampingnya dan hidup jauh dari kerumunan
dunia luar yang menyebalkan.
“Dia tidak boleh mati.” Lirih Chen Kho pelan.
Gadis pelayan serta pengawal yang masih berdiri di dekat Chen Kho memiringkan kepalanya, saking tidak mendengar jelas apa yang dikatakan. Chen Kho membalikkan badannya, menatap gadis pelayan itu dengan serius, ia sudah mengambil keputusan.
“Kau pergilah, belikan apa yang dia mau. Dan kau, antar dan kawal dia sebelum kembali ke Hongkong.” Perintah Chen Kho secara bergantian kepada pelayan serta pengawalnya.
“Baik, tuan.” Jawab dua pesuruh Chen Kho itu bersamaan, dan ada hal yang terlewatkan dari Chen Kho.
Sebuah senyuman licik yang disembunyikan dengan kepala yang menunduk.
Chen Kho tidak menggubris mereka, ia kembali melirik gadis pelayan. “Kamu beli stok yang banyak, tanyakan apa yang ia sukai dan beli sekalian. Kita tidak bisa sering bolak-balik ke dunia luar. Mengerti?” Tegas Chen Kho, sengaja membesarkan suaranya agar gadis itu merasa terintimidasi.
“Me... Mengerti tuan.” Jawab gadis itu dengan cepat sebelum ia mendapat bentakan susulan.
Chen Kho mengawasi kepergian dua anak buahnya dengan tatapan berarti, setelah gadis pelayan itu pergi, maka ia benar-benar hanya berdua di rumah ini bersama Weini. Ia bertaruh dalam waktu singkat itu, ia harus berhasil meyakinkan Weini agar bersedia menerima cintanya.
***
Weini berjalan mondar-mandir di kamarnya, semula ia cukup percaya diri bahwa rencananya akan berhasil, namun ia mulai tak yakin kalau gadis pelayan itu sanggup meyakinkan Chen Kho. Hingga akhirnya pintu kamarnya terbuka dan ia mendapati orang yang ditunggunya sejak tadi telah kembali. Weini segera berlari menghampiri gadis
pelayan itu.
“Gimana?” Tanya Weini singkat dan penasaran.
Pelayan itu menutup pintu lalu menguncinya, ia menarik tangan Weini agar sedikit menjauhi pintu. “Beres
nona, sesuai rencana.” Jawabnya sembari tersenyum girang.
Weini merasa plong seketika, dugaannya meleset lantaran gadis itu bisa diandalkan. “Syukurlah,
jadi kapan kau berangkat?”
“Sekarang!” Jawab gadis itu cepat.
“Sekarang?” Tanya Weini memastikan ulang.
Pelayan itu mengangguk membenarkan, “Dia ingin aku membeli sekalian keperluan yang nona inginkan. Jadi aku harus membawa catatan untuk diperiksa pengawalnya. Nona cepatlah, tuliskan keinginanmu.”
membacanya ulang, terdengar desahan napas Weini yang sarat akan kecemasan.
“Kemarilah!” Perintah Weini, pelayan itu segera mendekati Weini.
Dua carik kertas disodorkan pada pelayan itu, tulisan Mandarin yang memang menjadi komunikasi mereka tertulis di sana. Pelayan itu membaca sekilas lalu ternganga heran, ia menunjukkan kertas itu pada Weini.
“Ini maksudnya apa nona?”
“Sssttt!” Weini berisyarat menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Suara pelayan itu terlalu keras, ia cemas ada yang menguping mereka di luar. Weini menarik tangan gadis itu lalu membisiki sesuatu di telinganya. Gadis itu terlihat paham dan mengangguk berulang kali.
“Baik nona, percayakan padaku.” Jawab pelayan itu patuh.
Weini tersenyum tulus, kali ini ia mengandalkan kemampuan pelayan itu untuk membantunya. Dan ia harus bertaruh dengan resiko apapun itu. “Terima kasih, pergilah! Jangan sampai mereka mencurigaimu.” Seru Weini pada gadis itu.
Tak lama kemudian, Weini kembali sendirian di kamarnya. Sunyi, hening, tanpa ada tanda kehidupan lantaran saat ia membuka jendela kamarnya, yang terlihat hanyalah ikan dan binatang laut lainnya yang seolah menertawakan ketidak-berdayaannya.
***
“Ayah mertua, aku sudah menemukan lapangan pendaratan yang dimaksud Su Rong.” Seru Wen Ting yang
telah mendapatkan titik terang berkat koneksinya yang luas.
Haris manggut-manggut, “Baguslah, persiapan kita semakin matang. Li Jun dan aku juga sudah menyiapkan
diri untuk bertempur. Kita akan beraksi hari ini, apa kalian siap?” Ujar Haris mempertanyakan kesiapan menantunya, Lau serta Su Rong.
Haris mendapatkan jawaban yang senada dari ketiga orang tersebut, ada yang lewat anggukan dan ada pula yang dengan lantang menyerukan. “Aku siap tuan.”
Haris tersenyum senang, “Bagus... Bagus, kita harus bersatu dan saling melindungi. Lawan yang kita hadapi ini penuh dengan trik licik dan kekuatan yang tidak bisa kita sepelekan. Jangan paksakan diri jika merasa tidak ada harapan, kalian boleh mundur dan mencari tempat perlindungan yang aman. Dan jangan hiraukan aku dan Jun, karena sampai pertempuran akhir, kami akan lanjut bertarung.” Tegas Haris.
Wen Ting dan Lau terlihat keberatan, Wen Ting bahkan berdiri dari posisi duduknya yang sudah nyaman. “Kenapa begitu ayah? Kita maju sama-sama, mundurpun harus sama-sama.”
“Saya sependapat dengan tuan Wen Ting, saya akan tetap di sisi anda dan tuan muda sampai pertarungan berakhir. Mohon ijinkan saya menjalankan tugas saya melindungi anda, Tuan Xiao Jun.” Pinta Lau sambil menundukkan badannya.
Xiao Jun menatap Haris sejenak lalu menjawab pengawal setianya. “Paman, kita sama-sama tahu siapa Chen Kho. Dia tidak hanya jago siasat tapi kemampuan sihirnya cukup tinggi. Bahkan ayahku pernah terluka olehnya, kami tidak ingin kalian yang awam dengan sihir menjadi korbannya. Atau bahkan mereka mungkin akan memanfaatkan
kelemahan kalian untuk mengancam aku dan ayah. Untuk itu, aku mohon kerjasama dari kalian sesuai porsi masing-masing. Percayalah, aku dan ayah sangat menghargai bantuan kalian. Kita harus selamat dan bertanggung jawab atas keselamatan kita masing-masing.” Tegas Xiao Jun, ia sama dengan Haris yang tak bisa diganggu gugat keputusannya.
Wen Ting mengangguk pasrah, “Baiklah aku mengerti dan menurut, bukan karena aku takut. Aku hanya tidak mau
menjadi beban bagi kalian, jangan sampai dia memanfaatkanku seperti yang kamu khawatirkan, Jun.”
Lau pun memberi respon yang sama, ia membungkuk hormat secara bergantian pada Xiao Jun dan Haris. Begitupula dengan Su Rong yang memang lebih pasif di antara yang lainnya.
Pembagian peran mereka sudah cukup jelas, dan merekapun bersiap untuk menjalankan aksinya. Namun suara bel rumah malah membuyarkan konsentrasi mereka sejenak. Xiao Jun menatap Lau, lewat tatapan itulah ia memberi perintah agar Lau mengecek siapa tamu yang datang sepagi ini.
“Baik tuan.” Jawab Lau, meskipun perintah Xiao Jun tidak disampaikan lisan.
Mereka berkumpul di ruang tengah, Xiao Jun tetap mengekori langkah Lau dengan seksama. Berjaga-jaga jika anak buah Chen Kho yang datang menyerang mereka.
***