
Pagi yang masih tenang dan penuh harapan baru untuk Xiao Jun, setelah hari kemarin yang melelahkan dan penuh masalah. Setidaknya hari ini punya cerita dan tantangan tersendiri. Wen Ting enggan menginap di hotel yang telah disediakan untuknya, ia justru meminta hak istimewa menginap di paviliun Xiao Jun. Sementara Li An masih berada di hotel yang dijadikan tempat tinggal sementara.
“Zao an (selamat pagi), tuan muda.” Lau datang menghadap tuannya setelah kemarin ditugaskan memantau kondisi perusahaan menggantikan Xiao Jun.
“Pagi paman, apa ada perkembangan positif yang bisa disampaikan?” tanya Xiao Jun langsung pada pokok
permasalahan.
“Mengenai kecurigaan kita terhadap penyelewengan dana, setelah saya dan tim profesional melakukan
pengecekan ulang, tidak ada bukti yang menjurus ke hal itu tuan.”
Xiao Jun manggut-manggut meskipun hatinya belum tenang. “Oya, baguslah. Hanya saja aku tetap belum tenang, sepertinya ada sesuatu yang luput dari pantauan kita paman. Ah, bagaimana dengan perusahaan di Jakarta?”
Bola mata Lau condong melirik ke kiri bawah sebelum mengeluarkan jawaban, antara bingung bagaimana harus menjelaskan. “Mengenai itu, saya sudah coba menghubungi orang-orang kepercayaan kita tetapi mereka telah dipecat dan posisinya digantikan oleh tim profesional yang diutus tuan Chen Kho. Mereka hanya bisa sampaikan bahwa ada beberapa pihak yang juga diputus hubungan kerja dari perusahaan kita, tetapi siapa saja pihak itu sudah di luar batas mereka untuk mencari tahu.”
Benar saja, berita yang Lau sampaikan membuat Xiao Jun geram. Ia menggoyangkan pulpennya saking gemas. “Memecat orang kepercayaan kita, memutus sepihak kerjasama dengan klien, orang-orang itu ingin memajukan perusahaan atau melampiaskan sentimen pribadi? Apa masih ada mata-mata yang bisa diandalkan, paman? Aku ingin tahu pihak luar mana yang kena imbasnya?”
Lau menghela napas lalu menggeleng, “Maafkan saya tuan, sementara kita belum bisa melakukan apa-apa, setelah kembali ke sana baru dapat dibereskan.”
Xiao Jun menimbang saran dari Lau, ada benarnya pendapat pengawal itu. Dalam keterbatasan gerak, mereka tidak sepenuhnya bisa mengandalkan alat komunikasi secanggih apapun pasti masih ada celah untuk mengakali. Chen Kho sengaja menghilangkan orang kepercayaannya demi mempersulit Xiao Jun mencari kebenaran, sekaligus memanfaatkan kesempatan di saat ia tengah lemah. Xiao Jun melakukan penelusuran via internet tentang status pemegang saham dan investor dalam perusahaannya, ia makin kesal karena pasword yang menjadi akses web juga diganti. Bahkan sebagai pemilik, ia pun tersingkirkan dari perusahaan yang ia bangun dengan susah payah.
“Kurang ajar! Banyak tingkah dia! Akan kuadukan pada ayah agar memberi sanksi tegas untuk dia.” Xiao Jun berkeras hati menemui Li San namun Lau malah mencegatnya.
“Sebaiknya ditunda sejenak tuan, dalam beberapa hari lagi kita pasti kembali ke Jakarta. Tunggu sampai di sana baru kita selesaikan, masalah sudah terlanjur terjadi, pembuat onar itu juga sudah dihukum, jika tuan masih mencari kesalahan masa lalunya, saya kuatir tuan besar akan berpandangan buruk pada anda. Usaha kita untuk
balas dendam dengan cara halus akan terlihat jelas jika tuan tidak menahan ambisi ini.”
Xiao Jun mengusap wajah, tersadarkan dari kekhilafan yang hampir terjadi. Seratus persen saran Lau itu tepat, Xiao Jun lah yang terlalu memakai emosi hingga tidak memperhitungkan langkah dengan kepala dingin. “Terima kasih, paman sudah mengingatkanku. Apa bisa diaturkan lebih cepat kita kembali? Lusa bagaimana?”
Disentil pertanyaan nakal dari pengawal kesayangannya malah membuat Xiao Jun melirik tajam pada si penanya. “Paman masih bisa bercanda saat kondisi begini?”
“Ya, hidup jangan dibuat terlalu serius tuan. Masalah tetap selalu ada selama kita hidup, yang penting gimana cara menikmati dan menyelesaikannya. Tuan, menurut saya yang pertama harus dilakukan sekembali ke sana adalah bertemu nona Weini. Masalah itu lebih darurat daripada urusan pekerjaan.” Tutur Lau serius dan terdengar bijak.
Xiao Jun terdiam, ia memutar kursi membelakangi Lau. Fokus pandangannya ke arah taman bunga di halaman rumahnya. “Menurutmu apa aku masih punya muka ketemu dia? Paman jangan lupa, kita kembali bertiga. Wanita itu pasti menyusahkanku selama di sana dan aku tidak ingin wanita itu mengetahui tentang Weini lalu menyakitinya.”
“Kurasa itu bukan penghalang utama, yang jadi masalah adalah tuan kurang yakin pada diri sendiri. Bersembunyi terlalu lama juga tidak baik tuan. Kita tidak tahu apa yang sudah nona Weini alami selama tuan menghilang.” Di posisi ini, Lau lebih menjaga perasaan Weini. Ia yang paling tidak tega melihat gadis itu dikorbankan.
Xiao Jun semakin merasa bersalah, ia jelas bukan tidak tahu sepenuhnya tentang Weini. Ia justru tidak mau tahu dan memilih mengabaikan telpon serta chat gadis itu. “Paman benar, yang bermasalah adalah hatiku. Aku tidak tegas menentukan sikap, tidak sekuat Wen Ting yang penuh percaya diri memperjuangkan kak Li An.”
Sentilan soal kedua nama itu baru mengingatkan Lau tentang informasi penting lain yang harus ia sampaikan pada tuannya. “Ah, mendengar nama nona Li An baru mengingatkan saya masalah ini tuan. Saya dapat bocoran dari pengawal tuan besar bahwa kemarin pengusaha muda itu mengancam tuan besar hingga bungkam. Bos itu melamar Li An pada tuan besar dengan mahar seratus persen keuntungan dari kerjasama yang anda tawarkan, tapi tuan besar mempersulit dan mengenalkan dengan kedua putrinya.”
“Teruskan!” Xiao Jun mulai tegang melihat Lau terjeda sejenak, ia tidak menyangka keseriusan Wen Ting pada kakaknya hingga harus bertaruh dengan Li San. Melihat potensi yang bagus dari bos itu tentu saja Li San tidak akan membiarkan Li An yang dinikahi, sekelas pengusaha sukses adalah incaran Li San untuk putri-putrinya.
“Tuan Wen Ting tidak menunjukkan sikap tertarik pada kedua nona Li, malahan ia sempat mengancam tuan besar jika tidak merestui hubungannya dengan nona Li An. Tapi ancaman itu tidak jelas, pengawal di luar tidak berani menguping terlalu dekat.” Lau mengakhir laporannya, intinya kabar yang ia sampaikan bukanlah kabar buruk. Bagi pengawal itu, justru tanda-tanda keberuntungan mulai berpihak pada Xiao Jun dan keluarganya.
“Langit punya mata, jaring-jaring langit walaupun tak kasat mata tapi tidak akan meloloskan yang bersalah. Saya turut bahagia untuk nona Li An, akhirnya ia mendapatkan cinta terbaik dan kehidupan yang sangat baik.” Lau terharu, ia mengusap titik air dari ujung mata.
Xiao Jun masih terdiam, rasanya masih tidak percaya jodoh kakaknya datang secepat dan semudah itu. Ia tidak perlu menghabiskan waktu untuk mencari pria yang terbaik, malahan jodoh itu datang dengan sendirinya. Ia lah yang membawa calon suami kakaknya kemari dan perkenalan mereka pun baru terjadi kemarin. Setelah mendengar perjuangan Wen Ting menggoyahkan keegoisan Li San, Xiao Jun merasa telah bertindak benar membiarkan Wen Ting menginap di rumahnya.
“Kau benar paman, langit punya mata. Baiklah siapkan mobilku, aku akan membawa calon kakak ipar menjemput tuan putrinya.”
Xiao Jun bangkit dari tempat duduk lalu berjalan menuju salh satu ruangan dalam rumahnya, menemui calon kakak ipar.
***