OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 286 PERASAAN YANG MEMBUATKU ENGGAN MENEMUIMU



Lau memencet bel berulang kali dan tetap tidak mendapat respon dari penghuni di dalam. Xiao Jun yang berdiri di samping pria itu melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia mulai curiga penghuninya belum mulai beraktivitas pagi.


“Telpon saja Fang Fang, apa mungkin mereka belum bangun?” Ujar Xiao Jun.


Lau meronggoh ponselnya lalu menghubungi gadis pelayan itu sesuai permintaan Xiao Jun. Cukup lama belum terhubung sampai ia saling bertatapan dengan tuannya, menduga apa ada hal darurat terjadi di dalam sana. Lau mengulang panggilan, wajah cemasnya berubah tenang ketika mendengar sapaan dari seberang.


“Fang, buka pintunya kami di luar.” Seru Lau. Setelah perintah itu dilontarkan, Lau terdiam sejenak mendapati jawaban yang tak sesuai harapan kemudian mengakhiri pembicaraan.


Xiao Jun menyoroti Lau, ia menunggu pria itu angkat bicara sembari memangku tangan.


“Mereka sudah berangkat kerja. Nona Grace bersikeras kondisinya kuat untuk syuting, tuan.” Ujar Lau dengan nada sedikit kecewa.


Xiao Jun berdecak kesal, ketika Grace membuatnya cemas justru gadis itu bertingkah jual mahal. Ia hanya ingin memastikan langsung bagaimana keadaannya, dan memastikan gadis itu belum mengadu pada keluarganya. “Apa


ini wajar? Seseorang dengan cidera kaki dapat sembuh total dalam satu malam. Betapa hebatnya Weini ….” Antara memuji atau tengah menyindir, Xiao Jun tak bisa membedakannya lagi.


Lau yang mendengar tuannya menggerutu hanya bisa diam, berbicara dalam kondisi seperti ini hanya memperkeruh suasana. Ia menundukkan kepala, menghindari tatapan mata dengan Xiao Jun.


“Paman, berangkatlah ke kantor dulu. Gantikan aku sementara untuk pimpin rapat kerja harian. Aku harus menyusul dia sekarang.” Perintah Xiao Jun, tangannya menjulur meminta kunci mobil pada Lau. Keputusannya sudah bulat, ia akan menyusul Grace meskipun tak bisa menghindari pertemuan dengan Weini yang belum ingin ditemuinya.


***


Studio sudah riuh dengan kru serta pemain yang bersiap memulai aktivitas. Sepanjang hari ini dijadwalkan syuting scene Weini dan Stevan sembari menunggu Grace pulih. Sutradara mengakalinya dan memberi kelonggaran waktu pada Grace selama beberapa hari, hingga artis itu kuat kembali bekerja.


“Non yakin sanggup ngebut adegan kelahinya sampe tujuh scene hari ini?” Dina memastikan lagi, ia takut Weini terlalu memforsir diri.


Weini mengangguk, “Kan ada selingan adegan romantisnya.”


Dina terpaksa percaya kemampuan Weini, mulutnya kembali manyun. “Tuh cewek apa kabar ya? Bakal berapa lama dia cuti?” Tanpa menyebut nama, mereka tahu siapa yang tengah dibicarakan.


Weini mengangkat bahu, “Biarin lah, kan masih tetap jalan kerjaan kita.”


Panjang umur bagi gadis yang dimaksud Weini, begitu dibicarakan tiba-tiba suara heelsnya mengetuk lantai dalam setiap langkahnya. Saking nyaring sehingga membuat beberapa orang yang dekat dengannya menengadah padanya dan terkejut. Grace berjalan dengan anggun menghampiri studio yang sudah siap tempur. Senyumnya merekah dan menawan bagi siapa saja yang memandangnya, termasuk Stevan yang lebih dulu sadar akan kedatangannya.


Dina terhentak, ia bergegas menepuk pundak Weini agar melihat sendiri orang yang mereka bicarakan justru hadir di depan mata. Weini sama terkejutnya dengan Dina, tetapi caranya lebih elegan ketimbang managernya yang


tak bisa mengontrol diri hingga ternganga lebar. Weini tetap kalem dan duduk dengan tenang, menatap Grace yang berjalan anggun melewati kursinya.


“Grace? Lu udah sehat? Kaki lu udah beneran sembuh nih” Sutradara yang disapa Grace malah sangat terkejut, ia tahu kondisi Grace yang mengalami pergeseran dan retak tulang kaki tetapi sekarang malah berdiri menebar senyuman.


Para kru yang mendengar itu ikut berbisik di belakang, sebagian dari mereka takjub pada Weini yang punya peran penting dalam kesembuhan Grace dan mereka saksi hidupnya. Stevan menggelengkan kepala, ia tak tahan mendengar orang-orang menyoroti Weini. Beberapa kru yang bergunjing di dekatnya pun diusirnya.


“Aku senang dengar itu, Grace. Tapi aku tetap khawatir kondisimu belum fit, dan lagi hari ini kami sudah setting untuk adegan dua pemeran utama. Kamu bisa lanjutkan istirahatmu dan kembali lagi besok.” Sutradara itu menolak Grace secara halus, ia tak mau resiko pemainnya kecapean lalu jatuh sakit lagi.


Grace mengangguk seraya tersenyum, “Baiklah kalau begitu, terima kasih pak. Mumpung saya sudah sampai di sini, saya jadi penonton saja sekalian bisa belajar dari pemain lain.” Pinta Grace, yang aslinya ia bosan mendekap di rumah tanpa kegiatan. Sutradara itupun tidak keberatan, dan Grace bersiap mencari tempat agar leluasa menonton.


Grace berjalan melewati tempat duduk Weini lagi, mereka sempat beradu tatapan meskipun dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Saat jarak kedua gadis itu sangat dekat, Grace berkata dengan pelan tanpa menoleh namun


terdengar jelas oleh Weini. “Thanks”


Weini menarik seulas senyum, “It’s okay.” Jawab Weini segera, sebelum Grace semakin jauh berlalu. Grace tersenyum tipis mendengar jawaban manis dari Weini.


***


Beberapa scene laga cukup menguras tenaga Weini, ditambah dengan kurang tidur akibat terbangun gara-gara mimpi buruk. Sesekali cuplikan mimpi itu masih menghantui Weini, membuatnya reflek menggelengkan kepala agar bayangan buruk itu tertepiskan. Untungnya di saat ia mulai lelah beradegan fisik, sutradara menyelipkan adegan romantis sebagai jeda agar Weini bisa menghela napas.


Sepasang pemeran utama sudah mengambil posisi, adegannya cukup simpel, mereka hanya perlu duduk bersandar dan berdialog mesra. Sebelum aba-aba diteriakkan, Stevan melirik Weini yang tampak sedikit pucat. Meskipun


tertutup makeup dan kecantikan Weini tak berkurang, namun mata Stevan cukup jeli melihat kekurangan Weini saat ini.


“Lagi nggak sehat?” Stevan bertanya seraya berbisik, orang sekitar mereka bahkan tak mengira kalau keduanya sedang bicara.


Weini menggeleng lemah, “Cuman kurang tidur.” Jawabnya singkat.


“Nggak ada masalah kan sama dia?” Tanya Stevan.


“Nggak, kami baik-baik aja.” Jawab Weini.


Perbincangan berhenti sampai di situ, suara teriakan sutradara mengembalikan mood dan fokus mereka pada kerjaan. “ACTION!”


Weini menyandarkan kepala di pundak kokoh Stevan, mereka sesekali tertawa bersama selayaknya pasangan yang baru dimabuk cinta. Grace yang duduk di kejauhan terus menatap mereka, bergantian memandang antara Weini dan Stevan. Kendati ini hanya sandiwara di depan layar, tetapi chemistry dua orang itu sangat memukau. Grace menggertakkan gigi, entah mengapa ia merasa tak senang melihat kedekatan itu hingga ia memalingkan wajah ketika Stevan merangkul pinggul Weini.


Bruk! Tubuh Stevan seketika ambruk ke depan hingga tersungkur ke lantai, padahal sebelumnya ia masih tertawa lepas mengimbangi acting Weini. Sutradara bangkit dari kursinya lalu berlari menghampiri Stevan yang sudah dikerumuni yang lain. Kepanikan itu memancing Grace mendongak, melihat keributan apa yang terjadi. Matanya langsung membesar saat melihat Stevan terkulai di lantai, dan Weini pun tampak cemas di sampingnya.


Grace beranjak hendak menghampiri, namun ia mengurungkan niatnya. “Untuk apa peduli?” Desisnya pelan, namun terdengar oleh Fang Fang yang sedari tadi hanya diam menemaninya. Grace kembali duduk menjadi penonton, melihat beberapa kru yang menggotong tubuh Stevan keluar dari studio.


***