
Weini tak habis pikir, setelah semalaman ia menunggu kabar dari Xiao Jun namun hingga detik ini ponselnya masih sunyi senyap. Bahkan berpamitan saja tidak bisa pria itu lakukan. Weini tidak tahu jam berapa pesawat Xiao Jun, atau mungkinkah sudah terlambat mencari tahu sekarang? Ditatapnya ponsel yang disilent, antara bimbang dan nekad untuk menghubunginya.
“Non, habis ini giliranmu masuk. Bersiaplah di sana.” Dina menghampiri lalu memberi instruksi di mana Weini harus berada saat ini.
Weini menyimpan kembali ponsel di dalam tas lalu berusaha melupakan niat tak tersampaikannya. Susah payah ia mengontrol suasana hati saat terpuruk begini demi profesionalitas. Ia mulai terbiasa mengesampingkan antara urusan pribadi dan pekerjaan seiring padatnya jam terbang.
“Wait! Gue mau improve buat scene ini!” seru Lisa lantang. Tak biasanya ia campur tangan dengan urusan naskah.
Semua mata langsung tertuju pada Lisa, terutama Bams yang mulai mengernyitkan dahi. Apalagi ulah si pengacau itu? Lisa justru santai mendapatkan sorotan heran, sorotan sinis bahkan sorotan kebencian yang seolah
menghunus tepat di jantungnya. Ia menyilangkan kaki lalu menyandarkan punggung pada kursi plastik yang didudukinya.
“Lu pada nggak ngerasa ya kalo adegan pelakor dilabrak pacar sah itu udah basi banget. Alurnya mudah ditebak gitu gimana mau mancing penasaran penonton?” Lisa mulai meyakinkan semuanya, bila perlu otak semua orang yang ada di sini bisa tercuci.
“Maksud lo naskah gue garing gitu? Kalo mau protes ngapain harus nunggu sampe menit terakhir take?” Bams mulai sewot, harga dirinya tercabik dikritik di muka umum.
“Sorry pak sutradara. Siapa juga yang berani melawan sutradara kondang seperti anda. Ini hanya masukan, mau ya silahkan nggak juga bodo amat. Lagian sekali rating sinet ini anjlok, siap-siap bungkus lah lu pada.” Lisa nyengir. Keangkuhannya kian membumbung tinggi, secara tak langsung ia menyindir Bams yang bergantung pada relasi Lisa.
“So, lu maunya gimana?” tantang Bams.
“Tambahin adegan ketika gue didampar oleh Weini, gue juga menampar balik sebagai perlawanan. Lalu terjadilah adu fisik jambak rambut kek. Gitu kan lebih dramatisir daripada cuman dilabrak dan dimaki doang.” Lisa
menjabarkannya dengan apik hingga beberapa kru mengangguk setuju dengan usulannya.
“Tapi terserah pak sutradara aja, gue kan cuman kasih saran.” Lisa memasang tampang polos andalannya.
Bams Nampak berpikir keras, tidak mudah mengambil keputusan tanpa pemikiran matang terlebih melakukan perubahan adegan dengan persiapan minim. Namun ia kenal betul sifat Lisa, jika artis licik itu tidak senang sama saja mendorong perusahaan yang di ujung tanduk itu langsung masuk jurang.
“Buat adegan kekerasan, kita nggak punya persiapan keamanan. Kalo mau rubah set juga makan waktu, kita ini stripping loh.” Bams memberi alasan penolakan yang masuk akal.
“Halah cuman pura-pura berantem aja masa harus ijin keamana kayak film laga?” Lisa nggak mau kalah argumentasi, bagaimanapun ia harus memenangkan debat ini.
“Hemm… okelah. Kalo Weini oke, maka kita lakukan.” Bams meminta persetujuan Weini, ia menatap pemeran utamanya penuh harap. Mereka tidak bisa terang-terangan menentang Lisa, setidaknya ia scene terakhir Lisa
dalam sinetron ini.
“Aku oke oke aja kak.” Jawab Weini tenang. hatinya belum sepenuhnya di sini, sebagian masih nyangkut memikirkan Xiao Jun jadi apapun yang terjadi di sini sama sekali tidak menarik perhatiannya. Ia berharap
segera menyelesaikan kerjaan lalu pulang mengurung diri di kamar.
“Sip. Kita atur set bentar. Teman-teman, ayo bergegas!” Bams menepuk tangan memberi semangat pada timnya yang harus kerja dua kali.
“Eit, satu lagi pak sutradara. Gue mau pake peran pengganti buat adegan itu. So, lu nggak usah bingung cari orang. Gue punya satu talent yang cocok.” Lisa menunjuk Metta yang berdiri di sampingnya.
“Lu bisa nggak sih professional dikit. Peran gitu doang perlu pengganti?” cecar Bams emosi.
“Pak sutradara lupa siapa gue? Sedikit aja wajah gue lecet, lu yang gue tuntut! Gue masih brand ambassador produk kecantikan, muka gue asset!”
Bams mulai cenat cenut dipermainkan, Lisa begitu banyak tingkah layaknya putri raja. “Terserah elu! Kalo rating kali ini anjlok, lu yang sepenuhnya bertanggung jawab ya!”
“Oke deal!” ujar Lisa. Senyum kemenangan mengambang dari lekuk bibirnya. Ia melirik Metta yang tak kalah berseri mendapat kesempatan tampil di adegan yang di luar perkiraannya bakal seseru ini, menggampar Weini.
Bulu kuduk Dina berdiri saat melihat senyum sinis kedua gadis itu, ia berbisik pada Weini. “Non, hati-hati. Feelingku kok nggak enak nih.”
Dina melongo sejenak kemudian otaknya bisa menerna perkataan Weini. “Ciaaaat!” ia malah berlagak bisa kungfu sambil tertawa.
“Hajar non!” Dina mendukung maksimal pada nonanya.
Bams mengomando seluruh cast yang terlibat dalam scene selanjutnya agar mengambil posisi. Metta kita berhadapan dengan Weini secara langsung, sorot kebenciannya terlihat jelas. Weini enggan menggubrisnya
bahkan ia tak sudi menatap balik rivalnya.
“Ingat ya fokus sorot Weini buat nutupin peran pengganti itu.” seru Bams pada cameramen di beberapa sudut.
“Camera rolling… and ACTION!”
Weini berlari mengejar Metta yang berusaha kabur hingga sampai pada adegan Metta tersandung dan jatuh.
“Hei pelakor, nyali lu gede ya berani merayu tunangan gue!” Weini mengguncang pundak Metta yang masih tersungkur. Metta memberi perlawanan dan berusaha berdiri, sekuat tenaga ia mendorong Weini namun
sia-sia. Weini malah memberinya sebuah tamparan.
Plak! Tamparan ringan mendarat di pipi Metta, ia mendramatisir adegan itu dengan terjatuh dalam posisi rambut panjang menutupi wajahnya.
“Siapa yang rebut laki lu! Dia yang nyari gue!” Metta memberi serangan balasan saat Weini lengah, dua buah tamparan bersusulan diterima Weini.
Bams mulai tak senang melihat acting Metta yang keluar dari naskah. Tamparan yang dilakukan itu sangat keras dan nyata. Mereka berdua kini tengah berjambakan sesuai alur, namun Bams tak tenang melihatnya. “CUT!”
“Cewek keparat! Gue hancurin muka lu sekalian hahaha.” Metta bersiap memberi tamparan susulan namun tangannya ditahan Weini.
“Woi ini nggak termasuk adegan naskah. Kita lagi syuting, bukan lagi berantem di sekolah.” Weini mengingatkan Metta yang mulai menggila. Ia menarik tangan Metta dan berjalan meninggalkan sorot kamera.
“CUUUUTTTTT” Bams habis kesabaran.
“Persetan! Gue benci banget lo. Ke neraka sono!” Metta melawan sekuat tenaga, ia mencoba mendorong Weini jatuh tapi tidak menyadari bahwa kakinya tersangkut kabel hingga ia jatuh tersandung dan menimpa Weini.
Stevan dan Dina yang melihat kejadian itu terpekik, “Weini awaaass!”
Tiang pencahayaan yang besar dan berat tiba-tiba ambruk ke arah dua gadis yang belum berhasil berdiri. Stevan dan beberapa kru sekuat tenaga berlari menahan tiang yang sedikit lagi roboh.
“Weiniiiiii”
Pekik histeris seluruh pemilik mata yang menyaksikan kecelakaan tragis yang terjadi secepat kilat. Tubuh Bams terhuyung tak sadarkan diri melihat darah berceceran di lantai dan dua gadis itu tidak bergeming.
Stevan menangis sejadinya sembari memeluk tubuh Weini, ia mengguncang beberapa kali namun tidak ada reaksi. Dina panik luar biasa hingga tak tahu harus berbuat apa.
“Ambulance, telpon ambulance!” teriak seorang kru yang langsung berinisiatif memberikan pertolongan pertama.
Hanya satu orang yang masih konsisten tenang seakan dirinya tidak punya hati nurani. Alih-alih menolong, ia justru duduk menyilangkan kaki menikmati jus dingin serasa dunia miliknya.
Goodbye pengacau kecil.
***