OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 247 SEGALANYA SAH DEMI CINTA



Hari yang melelahkan itu belum berakhir, Stevan baru saja menepikan mobilnya di samping pagar rumah Weini. Ia mematikan mesin mobil kemudian menoleh ke belakang, memastikan sekali lagi barangkali kedua gadis itu


berubah pikiran.


“Kalian yakin nggak mau balik ke kantor? Acaranya masih lanjut loh dan Bams minta kita gabung lagi.” Tanya Stevan, sorot matanya penuh harap agar ia tidak ke kantor sendirian.


Sayangnya Weini tetap memberi jawaban yang sama, menggelengkan kepala dengan pelan sebagai penolakan. “Sampaikan salamku pada kak Bams, aku sungguh minta maat tidak bisa lanjutin pesta.” Jawab Weini, disusul dengan anggukan kepala dari Dina yang artinya sependapat dengan Weini. Jika Weini enggan ke sana, Dina juga malas berada dalam keramaian.


“Kak Dina kalau mau ikut juga nggak apa-apa, biar kak Stev ada temannya.” Lanjut Weini yang berharap Dina tidak mengikutinya. Ia hanya akan istirahat di kamar dan tanpa berbuat apa-apa sampai malam tiba. Lebih tepatnya, Weini ingin menyendiri sejenak.


“NO NO … Aku udah capek non, numpang istirahat bentar ya. Habis itu aku pulang.” Tolak Dina dengan cepat sambil melirik Stevan yang rautnya kecewa.


“Salam buat ayah Haris ya.” Ujar Stevan kemudian tancap gas dari hadapan mereka.


Haris yang belum lama selesai mengajar kursus membukakan pintu untuk kedua gadis yang pulang. Dari jauh ia sudah tahu bahwa putrinya sebentar lagi tiba dan pasti akan mengurung diri sebentar, seperti biasa ketika ia terluka maka ia perlu waktu pribadi. Haris masih melihatnya sebagai hal yang biasa, jika tidak mengalami luka maka bukan anak muda namanya.


“Sore ayah, aku ke kamar dulu ya.” Sapa Weini yang langsung minta ijin masuk ke ruang priibadinya.


Haris hanya tersenyum, “Jangan lupa keluar waktu makan malam.”


Weini melambaikan tangan sembari menolehkan senyuman sebagai jawaban, ada ketegaran dalam senyumnya yang membuat Haris lega. Gadis itu semakin bertambah dewasa, dan ia bangga punya peran penting dalam tumbuh


kembang karakter nona muda yang kelak pasti menjadi menantunya.


Dina sedikit canggung bertemu Haris, perasaannya masih tak menentu seperti ada sesuatu yang hilang dari ingatannya dan itu berkaitan dengan ayah Weini. “Om, aku nyusul Weini ke kamar ya.” Dina langsung ngibrit menyusul Weini, meninggalkan Haris yang tersenyum diam. Gadis itu kabur sebelum Haris memberinya jawaban.


***


Berbekal ponsel pintarnya, Grace tak perlu lagi mengandalkan siapapun untuk mengenal Weini. Dalam waktu setengah jam, ia sudah membaca berbagai ulasan berita terkait artis itu, termasuk berapa usianya sekarang. Scroll di layar ponselnya terhenti, mata Grace membesar saat membaca artikan yang telah ia setting terjemahan ke dalam bahasa Inggris itu menuliskan hubungan misterius antara Weini dan pengusaha muda Li Xiao Jun. Ia mengeklik berita itu dan antusias membaca tanpa berkedip, perasaannya semakin berkecamuk perih. Xiao Jun dengan lantang mengaku di depan pers tentang perasaannya serta menjadi pasangan Weini di pesta dansa. Grace menutup ponselnya, menindih benda kecil itu dengan bantal. Cukup sudah! Ia muak melanjutkan pencarian berita, karena


semakin ia tahu semakin sakit terasa.


“Weini… Kamu sangat fasih bahasa Mandarin, kamu jago kungfu? Dan kamu artis penuh prestasi di usia muda. Apa ini modalmu menggoda Xiao Jun? Hanya itu saja? Kamu bukan siapa-siapa tanpa profesi ini, sedangkan aku tanpa susah payah bekerja pun statusku adalah wanita terhormat. Oke … Kalau itu maumu Xiao Jun, akupun bisa menjadi seperti dia. Bahkan lebih unggul disbanding dia!” Grace tertawa kecil, ia sudah memantapkan tekad. Segalanya


sah-sah saja untuk memperjuangkan cinta, ia hanya perlu melakukan cara yang berbeda untuk memenangkannya.


***


Dina duduk termenung menatap Weini yang baru selesai mandi dan tengah menyisir rambutnya. Andai Dina berada di posisi artis itu, apa ia akan sekuat sekarang? Weini sudah berubah, yang Dina takutkan malah tidak terjadi. Ia tak lagi menangis, tak lagi mengurung diri seperti beberapa waktu lalu yang membuat Dina begitu cemas. Sekarang Wein justru sangat tenang dan terus bersenandung kecil sembari mengurus dirinya. Dina tak perlu berlebihan


mengkhawatirkannya lagi. Sekarang hanya perlu memikirkan kelanjutan kariernya setelah managemen mereka bubar.


Weini menoleh pada Dina yang duduk di belakangnya, ia tersenyum lebar sembari memberi jawaban. “Tidak perlu dulu kak, aku ingin menikmati quality time. Aku ingin bangun siang, nonton drakor, dan menjalani kehidupan layaknya anak remaja normal.”


Jawaban itu membuat Dina sedih, seolah Weini secara halus menyatakan akan mundur dari dunia keartisan dan kembali jadi orang biasa. “Sampai kapan kayak gitu non?” Tanya Dina serius, ia tidak akan membiarkan


Weini sembunyi terlalu lama.


Kecemasan Dina begitu mudah terbaca, Weini bahkan tahu isi hati managernya hanya dengan pertanyaan itu. “Sampai gelap tergantikan oleh terang … Sampai ia datang mencariku, bukan dicari.” Weini malah memberikan


jawaban yang terdengar seperti teka-teki, Dina sampai manyun dibuatnya.


“Sampai tuan Xiao Jun datang, gitu?” Tanya Dina blak-blakan dan jelas salah. Ia hanya asal menebak saking kesalnya.


Weini berdecak, lagi-lagi nama itu yang tercetus. Nama Li Xiao Jun pasti akan selalu mewarnai hari-harinya, suka atau tidak Weinipun tak bisa menghindarinya. “Bukan kak, biarkan saja dulu, ada waktunya tampil dan ada waktunya turun panggung. Nanti pasti comeback lagi kok, kak.”


Dina menyerah, ia memilih diam saja. Weini tampaknya belum bisa diajak berdiskusi serius, namun sebagai managernya, Dina tidak akan tinggal diam membiarkan Weini tergantung lama tanpa berpayung pada managemen. Di saat ia asyik dalam pikiran, ponselnya bergetar dan Dina bergegas mengecek notifikasinya.


Om Lau memanggil …


Setelah sekian lama, nama itu masuk lagi dalam daftar panggilannya. Dina mengulum senyum, ia menutupi layar ponselnya dan gerak-geriknya mulai tidak tenang. “Ng, non aku terima panggilan masuk bentar ya.” Dina


bergegas kabur dari hadapan Weini. Hanya demi sebuah panggilan, ia rela berlari keluar dari rumah dan berjemur di tepi jalan supaya aman. Weini tidak boleh tahu ada skandal di belakangnya, artis itu tidak akan senang andai tahu bahwa Dina sekongkol dengan Xiao Jun.


“Halo om!”


Dina mengangguk senang mendengar jawaban dari seberang, tanpa banyak kata, ia pasang telinga dengan baik mendengar arahan orang kepercayaan Xiao Jun itu.


“Oke, aku ke sana segera.” Ucap Dina penuh semangat. Ia tak perlu merasa bingung terlalu lama, panggilan dari Xiao Jun adalah sinar keberkahannya yang akan dicipratkan pada Weini tentunya.


Dina berlari kembali ke kamar Weini dengan tampang sangat meyakinkan. “Non, barusan Bams nelpon suruh kita nyusul ke kantor. Gimana non?” Dina penuh percaya diri memilih alasan itu untuk kabur, sambil uji kemujuran bahwa prediksinya tepat – Weini pasti menolak lalu menyuruhnya datang sendiri.


“Aku di rumah aja, kak Dina pergi sendiri aja gimana? Buat hargai kak Bams yang udah ingat kita.” Jawab Weini yang sudah terbaring di atas kasurnya sembari memainkan ponsel.


Dina terbahak dalam hati, ada sorak pesta di sana atas kecerdikannya. “Kalau gitu aku duluan ya non. Jangan lupa makan!” Dina dengan girang meraih tasnya dan menyusul ke belakang untuk berpamitan dengan Haris.


Aku datang, tuan Xiao Jun!


***