OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 239 PERTEMUAN DUA RIVAL CINTA



Derap tiga pasang langkah saling berlomba mendahului, Weini berlari gesit menuju tempat parkir kemudian berhenti demi menunggu dua partnernya yang tertinggal jauh di belakang.


“Cepat amat non larinya.” Dina ngos-ngosan, ia kepayahan mengatur napas.


Weini memang cukup terlatih fisiknya hingga tidak merasakan lelah, ia tak menggubris keluhan Dina dan melirik Stevan yang menatapnya diam. “Kak, antar aku temui dia.” Pinta Weini tegas.


“Di mana dia?” Stevan terheran, Weini berbicara seakan ia sangat yakin bahwa Xiao Jun sudah berada di Jakarta. Tetapi aktor itu tetap bergegas membuka pintu mobil agar kedua penumpangnya segera masuk.


“Di kantornya, sekarang!” Jawab Weini mantap.


Dina melongo, “Yakin non? Dia udah pulang beneran? Lagian nyari dia juga buat apa non? Semua udah terlanjur terjadi.”


Weini menatap Dina tanpa berkedip, tatapannya dingin seolah tidak senang mendengar perkataan Dina. “Dia sudah pulang. Semua memang sudah terlanjur terjadi, tapi bukan berarti nggak bisa diperbaiki. Aku nggak masalah kehilangan kerjaan ini, jalanku masih panjang. Cuma kasian aja dengan yang lain, yang memang menggantungkan hidup dengan pekerjaan ini. Nggak mudah nyari kerjaan di luaran.”


Semua terdiam, pernyataan yang diutarakan Weini memang realistis. Dina kini mengerti jalan pikiran Weini dan alasan artis itu sangat berambisi bertemu Xiao Jun. Yang ia sesalkan, mengapa pertemuan mereka setelah sekian lama harus dibumbui intrik dan hawa pertengkaran sengit. *H*arusnya kalian ketemuan di momen romantis, Non. Aku paling nggak tahan dengan percintaan mainstream kayak gini, plis deh … segera membaik aja keadaan kalian.


Aku masih mau nagih janji tuan Xiao Jun untuk syukuran pertunangan kalian. Batin Dina, kesal dan sekaligus mewakili perasaan para pembaca.


***


Xiao Jun kembali ke ruang kerjanya, perasaannya berkecamuk lantaran kehadiran Grace di sesi rapat membuat suasana hatinya memburuk. Seharusnya ia mampu mendengarkan presentasi stafnya dengan semangat, namun ada saja tingkah Grace yang mencoba menarik perhatiannya. Dan itu sangat memuakkan. Gadis itu sungguh tidak cocok berada di lingkungan pekerjaan formal seperti ini.


“Paman, jauhkan dia dariku sebisa mungkin selama jam kerja. Aku nggak mau terulang lagi kejadian tadi.” Xiao Jun mengandalkan Lau sepenuhnya, banyak urusan penting yang harus ia luruskan di perusahaan namun Grace


dikirim kemari hanya bisa jadi pengacau.


Belum juga lau menyanggupi permintaan itu, pintu kembali terbuka dan menampilkan orang yang baru saja mereka bicarakan. Xiao Jun melengos menatap kenyataan itu, ia melirik tajam ke Lau agar pengawal itu membereskan pengacau itu.


“Xiao Jun, aku bawakan bekal makan siang. Kita makan bareng yuk!” Grace dengan lincah menghampiri Xiao Jun sembari menenteng rantang yang berisi masakan Fang Fang. Langkah lincahnya dihadang oleh Lau, ketika


Grace menampakkan raut tidak senang, Lau malah semakin melebarkan senyumannya.


“Pria tidak tahu malu, menyingkir dariku!” Bisik Grace kepada Lau, ia menggertakkan gigi saking menahan kesal pada Lau yang selalu muncul sebagai pengganggu.


Desisan Grace yang berisi umpatan itu terdengar oleh Xiao Jun, gadis itu sungguh menguji kesabaran. “Pergi, jangan ganggu aku! Ini bukan jam makan siang, tapi jam kerjaku!” Xiao Jun menegaskan pada Grace, suara


lantang serta bahasa tubuh yang menolaknya seharusnya bisa membuat Grace gentar atau bahkan berlari pergi sambil menangis. Jika itu terjadi, Xiao Jun pun tidak akan peduli. Gadis itu sudah cukup melampaui batasan dan harus diberi ketegasan.


menggunakan cara kekerasan untuk menyingkirkannya.


***


Stevan awalnya agak ragu ikut turun dari mobil, namun karena tidak tega melihat Weini tanpa pengawalan, ia pun mengabaikan konsekuensi kehadiran mereka yang pasti akan menimbulkan keramaian. Dua bintang sinetron


papan atas datang menyodorkan diri di pusat keramaian, mereka pasti menjadi mangsa media ataupun fans ketika melangkah keluar.


“Gue nggak bawa persiapan, nggak ada topi, masker, siap-siap aja langkah seribu.” Stevan melengos menatap kedua gadis di belakang. Resiko jadi orang terkenal kadang menguntungkan, kadang menyusahkan diri


sendiri.


Weini tidak ambil pusing, ia segera keluar dari mobil sembari meraih tasnya di jok. Dina bergegas mengikuti langkah gadis itu, seraya menghalangi Weini agar tidak mencolok di muka umum. Stevan tertinggal, ia tak menyangka Weini tak sabaran dan sangat gegabah. Ia mengejar mereka yang sudah duluan masuk ke gedung perkantoran yang menyatu dengan pusat perbelanjaan paling ramai di kawasan Barat.


Weini mempercepat langkah menuju lift, ia mengabaikan segala sapaan serta permintaan Fans yang mengajaknya foto bersama. Ia tak peduli lagi dengan image yang harus dijaga, ia bukan artis yang tenar karena pencitraan dan kali ini kedatangannya untuk urusan pribadi, Weini masih manusia biasa yang punya masalah dan perlu waktu pribadi. Dina kerepotan meminta maaf pada mereka yang diacuhkan Weini, dalam persepsi Dina kali ini karier keartisan Weini sedang dipertaruhkan. Ia berani taruhan sesaat lagi media online akan memuat berita yang menyudutkan, bahwa Weini bukan artis ramah seperti yang dilihat di layar kaca.


“Lantai 23.” Ujar Weini ketika Dina dan Stevan berhasil menyusup ke dalam lift bersamaan. Peluh dan lelah batin menggerogoti keduanya, Stevan kelabakan dikejar sekelompok fans remaja hingga berhasil kabur ke dalam lift. Ini bukan waktunya senang-senang, ia tak punya waktu meladeni mereka.


Pintu lift terbuka, Weini melangkah lebih dulu ketimbang penumpang lainnya. Sepanjang kebersamaan di dalam, beberapa orang diam terkagum menatap kecantikan Weini yang seakan memantulkan sinar, saking bening dan mulusnya. Weini masuk dengan penuh percaya diri, kakinya telah menapaki tempat sang kekasih. Sorotan mata penuh takjub dari puluhan pasang mata yang berada di kantor itu, terasa panas menyoroti punggung Weini. Ia


dengan tenang melangkah ke resepsionis untuk meminta waktu bertemu dengan pemilik perusahaan itu.


“Maaf nona, apa anda punya janji sebelumnya?” Resepsionis itu hanya menjalankan formalitas, dalam hatinya ia begitu terpesona dengan kedatangan Weini yang tak terduga.


“Sudah. Saya sudah buat janji lewat tuan Lau.” Seru Dina yang menyelamatkan Weini tepat waktu.


Urusan formalitas itu berjalan mulus, Weini diantarkan oleh sekretaris menuju ruangan Xiao Jun. Harus Weini akui, ia canggung dengan situasi ini. Mengapa setelah mereka sudah sedekat ini, perasaan Weini semakin tidak karuan? Weini menekan dadanya, ada sesak dan debaran kencang yang terasa. Di sisi lain, ia sangat rindu … Ia ingin bertemu.


Setelah jarak yang hanya dibatasi dinding itu ditembus, Weini kembali menatap kekasihnya. Senyuman Weini seketika menyungging, hanya dengan menatap perawakan pria di depan itu. Senyum yang berjangka pendek, dan meredup ketika Weini menyaksikan dengan mata kepala, seorang wanita yang ia ingat wajahnya menghampiri Xiao Jun dengan centil. Weini nyaris goyah, lututnya terasa bergetar, mimpi itu terngiang lagi. Mimpi tentang Xiao Jun dan wanita itu yang pergi meninggalkannya.


Ia mendengar suara sekretaris itu mempersilahkannya masuk. Terlambat untuk mundur, siap tak siap Weini harus tetap maju. Ia melangkah perlahan, berusaha tetap terlihat tenang meskipun hati tidak sesuai kenyataan.


***