
Weini kembali ke rumah tepat ketika pergantian hari, waktu sudah menunjukkan pukul 00.15 WIB saat mobilnya berhenti di depan rumah. Tubuhnya masih terasa kuat meskipun kurang istirahat, semua berkat Stevan. Kendati
kemampuan sihir aneh yang mengerikan itu merugikan pihak lain, namun Weini sangat diuntungkan. Kondisinya yang drop mendadak pulih bahkan ia jauh lebih segar dan bersemangat.
“Non, langsung istirahat ya. Besok aku jemput lagi.” Dina memberi amanah seperti memperlakukan Weini sebagai anak kecil.
Weini mengangguk, “Hati-hati kak, see u tomorrow.”
Baru saja Dina hendak meraih tangan Weini, si artis itu langsung turun dari mobil. Dina kalah gesit lalu dengan mulut menganga menatap Weini yang sudah lolos dari jangkauan. Ia bahkan belum membalas ucapan Weini. “See u non.” Jawabnya terlambat dan lemas.
Dina masih sangat penasaran, ia ketinggalan info saat perbincangan seru Weini dan Stevan. Kepo yang tidak tersalurkan memang sangat menyiksa, ia harus mutar otak untuk mencari tahu sendiri jawaban dari kecurigaannya terhadap Weini. Dalam imajinasi Dina yang liar, Weini yang ia kenal selama ini memang terlalu sempurna untuk seorang gadis. Weini sangat cantik bahkan kecantikannya punya ciri khas yang sulit didapatkan dari artis lainnya, itulah yang membuat Weini dalam waktu singkat mencapai puncak popularitas. Weini juga jago kungfu, ini juga kepiawaian yang gadis itu sembunyikan dengan rapi, jika bukan Weini yang membocorkannya mungkin Dina
hingga saat ini tidak tahu. Kemudian Weini juga jago bahasa asing, padahal gadis itu tidak suka belajar namun bahasa Mandarinnya sangat fasih. Okelah Haris yang mengajarkan, namun semakin mengenal Weini, dengan minat yang sangat minim untuk belajar rasanya terlalu jenius untuknya menguasai bahasa asing kalau bukan karena kebiasaan sejak kecil. Dan yang paling janggal, mereka tidak pernah mengungkit tentang ibunya. Hanya ada ayah tanpa ibu, mereka mengabaikan sosok ibu meskipun sudah meninggal sekalipun, Weini dan Haris tak pernah menyinggung oal itu.
“Mereka memang terlalu aneh!” kilah Dina bak detektif gadungan.
Mobil belum beranjak dari depan rumah Weini, si supir malah mengintip Dina dari spion kecil di tengah. “Jalan sekarang neng?”
Dina terkesiap, ia melamun kelamaan sehingga lupa memerintahkan supir agar segera jalan. “Ya ya, jalan pak.”
***
“Ayah?” Hal pertama yang sangat dinantikan Weini setelah pulang adalah segera menemui Haris. Ia geletakkan begitu saja tasnya di atas sofa kemudian melenggang mencari ayahnya.
Haris menunggu Weini di ruang makan, lengkap dengan segelas susu hangat yang sudah ia siapkan menyambut gadis itu. Weini tersenyum mendapati orang yang ia cari duduk santai menunggunya. Dari raut wajah Haris, tampaknya pria itu sudah lumayan pulih.
“Sudah lama menungguku ya? Maaf ayah, ada kejadian luar biasa di studio, syuting juga ditunda.” Ujar Weini, ia langsung ambil posisi duduk dan menyeruput susu selagi hangat.
Haris menopang dagu sambil menyaksikan Weini yang berbinar hanya karena segelas susu. “Tidak masalah, yang penting kamu pulang dan sudah sehat sekarang.” Seru Haris masih dengan posisi yang sama, menopang dagu.
Weini mengangguk, gelas yang setengah isinya berpindah ke perutnya itu ia letakkan di atas meja. Kini saatnya memulai pembicaraan serius, sepanjang hari ia tersiksa menahan diri untuk segera mendapatkan jawaban dari Haris.
“Ayah, aku membuat Stevan pingsan. Energinya otomatis tersedot saat aku peluk dia. Dia dilarikan ke rumah sakit, kata dokter hanya anemia tapi sebenarnya aku jelas merasakan proses ketika energinya berpindah ke tubuhku.” Weini menatap Haris dengan serius.
Haris tertegun, “Menyedot hawa Yang? Hmm ….” Haris masih bingung, ia berpikir sejenak membiarkan suasana jadi hening.
“Apa itu salah satu sihir klan Wei? Tapi ayah belum mengajariku, bagaimana bisa?” Tanya Weini, pertanyaan yang sejak siang ia simpan sendiri.
Weini mengernyitkan dahi, semula ia kira mendapatkan level baru sihir secara otomatis dan sihir itu pun dikenali Haris. Tetapi setelah mendengar pengakuan Haris, ia justru semakin bingung darimana mendapatkan sihir illegal ini? “Lalu, ini kekuatan darimana ayah? Tiba-tiba muncul dan aku sadari waktu pegang tangan kak Dina, ada sensasi hangat dan setrum ringan dari sentuhan itu. Ayah, apa ada cara mengendalikannya? Ini sangat berbahaya kalau diteruskan, aku nggak bisa kontak fisik sama siapapun.”
Haris mengusap kumis tipisnya yang baru tumbuh, ia pun berpikir keras mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Coba sentuh aku!” perintah Haris, ia perlu menguji sekuat apa kemampuan Weini sebelum memutuskan harus berbuat apa.
Walaupun agak ragu dan cemas, Weini menuruti perintah Haris. Ia menggenggam pergelangan tangan kiri Haris dengan ringan. Belum terjadi apa-apa di detik pertama, Haris menatap Weini lalu mengangguk, memberitahunya agar terus menggenggamnya. Beberapa menit kemudian, reaksi itu muncul, hangat menjalari tangan Weini pertanda energi dari Haris mulai berpindah. Weini segera melepaskan tangannya, Haris masih belum pulih jangan
sampai dikuras lagi tenaganya.
“Sihir menyedot hawa Yang, bukan milik klan Wei. Ini sepertinya berasal dari aliran sihir barat, tapi bagaimana bisa kamu memilikinya? Kekuatannya masih sangat lemah karena baru muncul, jika tidak segera disegel bisa sangat berbahaya bagi orang lain, bahkan bisa mencelakakanmu.” Ujar Haris, asumsi sementara dari hasil pemeriksaannya barusan. Pria tua itu pun heran bagaimana Weini mempunyai kemampuan sihir dari luar selain yang ia ajarkan. Celakanya, sifat sihir itu cenderung jahat dan berpotensi merugikan. Berbeda dengan sihir Klan Wei yang bersifat lembut serta lebih dipergunakan untuk kebaikan.
“Kalau begitu, segel segera ayah! Kau pasti bisa melakukannya kan?” Weini yakin kemampuan Haris yang berlevel tinggi itu pasti sanggup mengatasi gangguan ini.
Haris menunduk pesimis, melihat reaksi itu seketika meruntuhkan keyakinan Weini. “Aku perlu waktu mempelajarinya, sementara itu yang harus kamu lakukan adalah menghindari sentuhan dengan orang.”
Weini terkesiap, saran Haris membuatnya lemah. “Itu mustahil ayah, besok aku harus mengulang adegan yang gagal. Aduh, Stevan … masa dia harus jadi korban lagi?”
Kedua orang itu terdiam, sibuk memikirkan jalan keluar yang belum ditemukan solusinya. Weini tak pernah sepanik saat ini, perasaan yang lebih rumit ketimbang sekedar kehilangan cinta. Kekuatan asing yang tidak Haris kenali muncul darinya, dan ini menyangkut nyawa.
“Apa ada cara lain untuk meminimalkan dampaknya, ayah?” Weini kembali mendesak Haris melakukan sesuatu. Ia tetap yakin, Haris punya win win solusi sementara.
Saking rumitnya, Haris sampai memejamkan mata agar konsentrasi berpikir. Kondisinya sendiri belum begitu pulih, ia tidak mungkin mengeluarkan tenaga dalam masa pemulihan. Berbeda dengan Weini yang sudah sehat bugar dengan cara ekstrim. Mereka kembali membisu, membiarkan waktu terus menuju subuh. Mereka terbiasa tidur hanya beberapa jam sehari dan tetap segar beraktivitas, karena mereka memang punya keistimewaan.
“Sementara ini, hanya ada satu cara mengakalinya sampai aku berhasil menemukan cara menyegel kekuatan itu darimu. Itupun, jika kamu sanggup melakukannya.” Haris akhirnya bersuara, solusi yang baru terpikir olehnya untuk melawan sihir penyedot hawa Yang.
“Katakan saja ayah apa caranya, aku pasti sanggup!” seru Weini mantap. Dalam kondisi ini, tidak ada lagi kata tak sanggup! Ia harus bisa jika tidak mau ada korban lagi yang jatuh.
***
Hi readers, coba tebak yuk. Cara apa yang dianjurkan Haris untuk menolong Weini?
Coret di kolom komentar ya! Komentar dan like dari kalian adalah semangat bagi Thor ^^
***