
“Ayah, mereka datang. Cepat pakai topi dan matikan lampunya.” Li An tergesa-gesa menutup tirai dan berteriak menginstruksi Haris yang masih berada di dapur, menata posisi makanan yang sudah tersaji sejak tadi tetapi masih dirasa kurang sreg. Ia menuruti perintah Li An, mengenakan topi ulang tahun yang terbuat dari kertas dan berbentuk kerucut.
“Seperti anak kecil saja.” Haris melengos namun tetap pasrah memakainya.
Weini menatap teras rumah yang gelap, bukan hanya teras namun seisi rumah tak bercahaya sedikitpun. “Ayah nggak di rumah kayaknya.” Ujar Weini pelan, ia tetap berjalan bersama Xiao Jun di samping dan Dina di belakangnya.
“Kamu punya kunci kan?” Tanya Xiao Jun.
Weini mengangguk, ia meronggoh tas dan mengeluarkan kunci rumahnya. Dina tersenyum lebar di belakang, tak sabar ingin melihat reaksi Weini begitu pintu terbuka. Begitu papan yang menjadi penghubung antara dunia luar dan sebuah kehangatan rumah itu terbuka, sekeliling terlihat gelap. Weini masuk dulu dan meraba saklar lampu, ia tidak menyadari bahwa kedua tamunya masih tertinggal di luar, sengaja membiarkannya masuk sendiri.
Dorr! Bunyi letusan confetti pecah membahana dengan isinya berhamburan di tubuh Weini ketika ia menyalakan lampu. Gadis itu masih belum yakin apa yang sedang terjadi, ia tidak diberi kesempatan berpikir karena di hadapannya sudah ada Haris, Li An, pengawal Lau, Xiao Jun dan Dina yang bertepuk tangan dan bersorak kepadanya.
“Zhu ni sheng ri kuai le, Zhu ni sheng ri kuai le, Zhu ni sheng ri kuai le, Zhu ni sheng ri kuai le, Happy birthday to you, Happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, Happy birthday to you.”
Mereka menyanyikan lagu ulang tahun dengan kompak kecuali Dina, ia kebagian bertepuk tangan saat lirik yang mereka nyanyikan dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Namun suaranya berubah paling kencang pada lirik berbahasa Inggris, dengan lantang ia nyanyikan seolah balas dendam.
Weini terpaku seraya menutup mulut dengan kedua tangan, orang-orang di sekelilingnya membuat lingkaran dengan ia berdiri di tengah. Air matanya mulai menetes, setelah sekian lama ia kembali merasakan suasana pesta. Semenjak tinggal di Jakarta, melewati tahun demi tahun kesusahan bersama Haris, ia hanya merayakan dengan makan enak versi Haris yang biasanya diwakili dengan mie panjang umur dan telur. Tahun lalu Haris memberinya kejutan berupa masakan yang lebih dari sekedar telur dan mie, siapa sangka tahun ini perayaannya hampir bisa dikatakan sempurna. Sudah ada orang-orang selain Haris yang turut berbahagia untuknya. Air mata haru Weini mengucur deras, sungguh ia sangat bersyukur memiliki mereka yang begitu mencintainya. Tidak perlu banyak,
asalkan orang-orang istimewa itu tetap ada untuknya.
“Selamat bertambah usia, Weini.” Ucap Xiao Jun dengan senyum lebar, kedua tangannya terbuka menanti pelukan Weini.
Weini mengangguk lalu menghambur dalam pelukan Xiao Jun, tepuk tangan dan sorakan mulai menggoda mereka. Hingga Weini melepas pelukan lalu menghampiri Haris, “Ayah … Terima kasih, sungguh terima kasih.” Weini bersujud di depan Haris, yang dengan sigap dibatalkan pria itu. Secara status, sangat tabu bagi seorang nona untuk bersujud pada pengawalnya, tetapi secara moralitas adalah wajar jika Weini memberi penghormatan pada orang yang berjasa membesarkan dan sudah ia anggap sebagai ayah. Hanya saja, Haris tetap keberatan
menerima penghormatan setinggi itu.
“Kamu pantas bahagia, semoga semakin bertambah usia hidupmu akan semakin dekat dengan kebahagiaan sejatimu.” Haris masih memegang tangan Weini setelah menuntunnya bangun dari posisi sujud. Ia tersenyum, doa
yang ia lontarkan adalah ungkapan tulus.
“Terima kasih, ayah.” Weini mengangguk, kemudian beralih pada Li An yang langsung mendekapnya dengan erat.
“Adikku cantik, terus berbahagia ya. Jangan ada air mata lagi, nggak boleh nangis loh lagi senang begini.” Li An mengusap bekas linangan air mata yang sembab di pipi Weini. Li An mengasihinya, memperlakukan Weini seakan adiknya sendiri. Ia senang memiliki adik perempuan meskipun Weini adalah kekasih adiknya.
Weini mengangguk berterima kasih pada Li An. Ia kini beralih pada Lau yang turut hadir memberi selamat. Weini membungkuk hormat pada Lau seraya berterima kasih. Lau mengangguk pelan sebagai balasannya.
“Nonaa ….” Dina menghambur memeluk Weini, kegesitannya membuat Weini tersenyum dan membalas pelukan itu.
Li An berdehem, pesta harus identik dengan tawa dan bahagia. Ia segera mengambil alih acara dan menghidupkan suasana. “Weini, masih ada kejutan lain nih.” Li An menarik tangan Weini, membawanya menuju panggung mini yang sudah didesainnya.
Weini terpukau melihat cake tiga tingkat itu, begitu manis dan memikat hatinya. Bola matanya membesar saat membaca tulisan Mandarin yang berisi ucapan, namun yang menarik perhatian adalah aksara namanya. Ia baru
tahu bahwa nama Mandarin yang diberikan Haris itu penulisannya seperti itu.
“Ini namaku, ayah?” Tanya Weini takjub, ia mendapat anggukan dari Haris.
Gadis berharga. Ah, betapa baiknya ayah Haris padaku. Nama yang sangat indah maknanya. Gumam Weini dalam hati yang langsung terdengar oleh Haris, pria itu hanya tersenyum menanggapinya.
“Ayo, Weini make a wish dulu dan tiup lilinnya.” Pinta Li An, ia kebagian jadi host dadakan dalam acara ini.
Weini menuruti, segalanya berlangsung meriah namun Weini merasa sayang ketika harus memotong kuenya. Terlalu cantik untuk dipotong menurutnya.
“Ah, hadiahku belum dibuka.” Pekik Li An. Ia hampir melewatkan hal penting yang sudah ia rancang khusus untuk Weini.
“Weini, coba tarik hiasan itu, di sana ada hadiah dariku loh.” Pinta Li An sembari menunjuk hiasan di atas kue.
Weini menurut saja meskipun bingung, semua mata tertuju padanya menantikan momen itu. Semula yang keluar hanya plastik transparan saja, itupun cukup membuat Weini takjub karena ada barang yang bisa tersimpan di dalam kue. Selembar kertas yang dibungkus plastik bening mulai muncul, Weini mengernyitkan dahi sejenak hingga ia paham apa isi kertas itu, wajah bingungnya berubah menjadi senyum.
“Ini?” Weini kagam sekaligus haru, betapa manis kado yang diberikan Li An walau terlihat sederhana, jauh dari kata mahal dan mewah.
Li An mengangguk lalu mulai manyun, “Ya, itu udah yang paling maksimal. Tukang editnya lumayan kan, bisa satukan foto kalian. Habis kayaknya kalian nggak pernah foto bareng, sesuatu yang repot kah buat selfie?”
“Iya loh, mereka berdua pasangan aneh. Nggak pernah foto bareng padahal udah tunangan. Sekarang mumpung momennya pas, buruan foto!” Dina mendorong Weini ke tengah panggung, sementara Li An menarik Xiao Jun agar
berjajar dengan Weini. Pasangan itu akhirnya punya kesempatan foto bersama, dengan Dina sebagai fotografernya dan Li An sebagai penata gayanya.
Stevan masuk di saat mereka masih tertawa lepas, ia melihat Weini dan Xiao Jun yang begitu bahagia. Stevan ikut senang melihatnya, bagaimanapun ia juga sedang merasa berbunga-bunga setelah mendapatkan respon baik dari Grace.
“Gue telat banget kayaknya.” Ujar Stevan yang langsung menghentikan sejenak acara foto-foto.
“Kamu tepat waktu, masuklah.” Haris tersenyum ramah menyambut satu anak angkatnya yang bergabung. Malam ini memang dirancang khusus untuk Weini, dialah sang putri.
***