
Sedih itu ketika … Aku tahu apa yang akan terjadi tanpa punya daya untuk mengatasi. Hanya diminta menjadi penonton sejati, tanpa diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuan diri.
Quoter Of Weini aka Yue Hwa
***
Weini memulai hari dengan suasana hati yang tidak membaik, pun dengan Haris yang tampaknya masih pada pendiriannya. Tak ada lagi sarapan bersama, yang ada pria itu seperti seorang pelayan. Ketika Weini keluar dari kamar pada jam yang menurutnya cukup pagi – pukul delapan pagi, beberapa menu masakan sudah terhidang di atas meja. Melihat itu membuat Weini sedikit girang, dikiranya Haris sudah membaik. Tetapi setelah mendapati perkataan Haris yang memperlakukannya dengan formal, senyum yang awalnya ia sunggingkan kembali hilang.
“Nona, silahkan menikmati sarapan anda. Jika tak ada kepentingan lagi, saya permisi.” Ujar haris kemudian berlalu membiarkan Weini makan dengan perasaan hampa.
Weini enggan berlama-lama di rumah, dan entah kebetulan atau sudah direncanakan, Dina datang di saat yang tepat. Mobil manager itu terparkir di halaman depan kemudian ia masuk ke dalam rumah dengan semangat.
“Kebetulan banget kak, aku udah mau jalan. Tumben mampir pagi, bukannya kita nggak ada job?” Tanya Weini menyambut Dina dengan senyum ramah.
Dina tersenyum sangat lebar, dirangkulnya lengan Weini kemudian menggiringnya keluar menuju mobil. “Ada kabar baik non, yuk ikut aku! Oh ya, om Haris di rumah nggak? Aku belum pamitan.” Ujar Dina yang langsung melepas gandengan tangan Weini lalu celingukan ke dalam.
“Ayah lagi istirahat, kita langsung saja kak.” Kilah Weini terpaksa berbohong. Ia tidak mau ketahuan lagi tak akur dengan Haris.
Dina mengangguk lalu penuh semangat mengajak Weini masuk ke mobilnya. Sedari tadi ia bersenandung riang dan air mukanya tampak ceria. Weini menebak bahwa managernya tengah jatuh cinta, namun tebakannya salah ketika mendengar yang disampaikan Dina.
“Non, mulai hari ini non sudah masuk dalam manageman artis loh. Aku sudah memilihkan yang terbaik buat non.” Seru Dina sambil sibuk dengan setirnya.
Weini menatap Dina dengan heran, “Secepat itu? Kok nggak diskusi dulu sama aku kak?”
“Sorry non, aku langsung ambil keputusan saat itu juga. Karena aku yakin non juga setuju dengan pilihanku. Percaya deh, non.” Yakin Dina.
Weini menghela napas, Dina yang biasanya selalu mempertimbangkan perasaannya, kini justru berani mengambil keputusan sepihak. “Kalau aku nggak suka, masih bisa batal kan?”
Dina mengalihkan fokus sebentar demi menatap keseriusan Weini, tampak gadis di sampingnya itu terlihat memasang wajah tegang, membuat Dina ikutan canggung. “Ya, ng … Itu bisa dibicarakan sih, tapi aku yakin banget non pasti cocok di sana. Kita otw ke kantor baru non, ntar lihat aja sendiri.” Ujar Dina.
Weini menggeleng pelan, “Bisa antarkan ke rumah sakit dulu? Aku mau menjenguk Grace sebelum ke sana.” Pinta Dina.
“Ya, okelah non.” Jawab Dina tanpa membantah, asalkan Weini tidak banyak protes tentang pengambilan keputusan sepihaknya.
***
Grace sudah bosan berada di rumah sakit, apalagi saat ini Stevan ijin keluar sebentar untuk urusan pekerjaan. Tinggallah ia terbaring ditemani Fang Fang yang nyaris tak pernah pergi dari sisinya, kecuali ada Stevan.
“Fang, bisa uruskan administrasiku? Aku ingin keluar rumah sakit hari ini.” Pinta Grace.
“Kondisi nona belum memungkinkan untuk menghentikan perawatan. Sebaiknya nona tetap dirawat di sini beberapa hari lagi.” Tolak Fang Fang.
Grace menghela napas sembari memutar bola matanya, ia jenuh hanya menjadi pesakitan. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar, hingga membuat ia dan Fang Fang menoleh ke arah pintu.
“Coba lihat siapa yang datang?” Perintah Grace, ia yakin bukan Stevan yang menjenguknya karena pria itu tak pernah basa basi mengetuk pintu. Ia masuk seenaknya setiap kali datang.
“Apa boleh masuk?” Tanya Weini ramah.
Fang Fang mengangguk dengan antusias, “Tentu, silahkan nona.” Siapa yang berani menolak kedatangan Weini? Sejak kemarin gadis itu sudah dinantikan oleh Grace, dan Fang Fang yakin majikannya tak akan mengeluh bosan lagi jika tahu siapa yang datang menjenguknya.
“Siapa itu?” Tanya Grace penasaran, dan seketika terjawab saat mendapati Weini berjalan menghampirinya sembari menjinjing sesuatu.
Senyum Grace mengembang penuh, terlebih bulir bening di kelopak matanya mendesak ingin keluar saking senangnya. Akhirnya sepupu yang baru ia kenali itu menemuinya.
“Hai, gimana kabarmu? Sudah enakan sekarang?” Tanya Weini penuh perhatian, ia meletakkan bingkisan di atas meja kemudian menorehkan senyuman manisnya pada Grace.
Tangan Grace bergerak ingin meraih tangan Weini, jarak mereka membuat keinginannya tak tercapai, namun Weini menyadari dan segera menggenggam tangan Grace sebagai respon. Bukan main girangnya Grace diperlakukan semanis itu oleh Weini.
“Kau datang juga ….” Lirih Grace tersenyum bahagia. Bibir Grace masih pecah-pecah dan pucat, namun saat ia menorehkan senyuman membuat ia terlihat sangat cantik.
“Maaf baru datang sekarang, apa kamu masih merasa sakit? Mana yang sakit?” Tanya Weini.
Grace menatap ke arah Fang Fang, mengkodenya agar memberikan kesempatan pada mereka untuk bicara empat mata. Pelayan itu mengerti kemudian membungkukkan tubuh untuk meminta ijin keluar.
“Permisi nona, silahkan bicara dengan tamu anda.” Ucap Fang Fang yang sekaligus ingin menyentil Dina agar bertindak sama sepertinya.
Weini mengerti maksud Grace, ia pun melirik kepada Dina lalu meminta pengertiannya lewat sorot mata. Dina menarik senyumnya dengan paksa, kemudian mengikuti jejak Fang Fang. Tinggallah kedua gadis itu di dalam
ruangan, Grace menggerakkan tubuhnya, ia ingin di posisi duduk. Weini segera membantunya hingga Grace bisa menyandarkan tubuh pada ranjang yang sudah ditinggikan.
Tanpa diduga Grace memeluk Weini dengan erat, tak peduli selang infusnya sedikit terganggu karena itu. Weini jelas terkejut, sesaat ia belum mengerti maksud Grace namun ia pun membalas pelukan Grace dengan hangat sembari tersenyum.
“Aku tahu kamu yang menolongku, terima kasih.” Lirih Grace, kini ia tak bisa menahan tangisnya. Ia tak peduli air matanya membasahi pundak Weini, yang penting ia puas sudah jujur pada perasaannya. Bukan hanya sekedar terima kasih, namun rasa bahagia yang belum bisa ia ungkapkan karena akhirnya tahu bahwa Weini punya ikatan darah dengannya.
Weini tak bisa menjawab apa apa, ia hanya merespon dengan anggukan pelan hingga dagunya mengetuk pelan pundak Grace.
“Dan maafkan aku, selama ini tidak menyukaimu.” Lanjut Grace setelah isakannya sedikit mereda.
“Sudahlah, aku tidak pernah mempermasalahkan sikapmu. Syukurlah kamu selamat, dan aku harap apapun masalahmu jangan pernah ulangi hal yang merugikan dirimu lagi ya. Kamu punya teman untuk berbagi, kamu
punya aku ….” Lirih Weini.
“Weini, maukah kita berteman mulai sekarang? Aku ingin menjadi temanmu, saudaramu, apapun itu aku ingin punya hubungan baik denganmu.” Pinta Grace, kali ini ia melepaskan diri dari pelukan demi bisa melihat respon Weini secara langsung.
Senyum Grace mengembang penuh kala melihat Weini menjawabnya lewat anggukan dan senyuman lebar. Mereka kembali berpelukan, dan adegan mengharukan itu tak luput dari pantauan Dina yang sedari tadi mengintip dari kaca pintu.
“Aku terharu ….” Isak Dina sambil mengusap air matanya.
***