
H-3 resepsi pernikahan Li An.
Xin Er mengemasi barang keperluan yang akan ia bawa ke Beijing besok. Liang Jia memintanya menyiapkan segala sesuatu mulai dari pakaian, perhiasan yang akan ia kenakan di hari H, serta hal kecil lainnya dari kediamannya saja. Nyonya besar itu ingin turun tangan menyortir barang yang akan dibawa Xin Er.
“Menantumu orang terkemuka, sangat bijak jika kita bisa menjaga wajahnya di mata para tamu. Kamu harus tampil sepadan, itulah sebabnya aku tidak mengijinkanmu tampil polos saat acara. Kalung berlian ini akan menambah kecantikanmu ketika memakai gaun maron itu.” Gumam Liang Jia, ia menyerahkan kotak merah yang berisi perhiasannya.
Xin Er mengangguk, matanya menyorotkan rasa kagum dan haru atas perlakuan baik Liang Jia. “Terima kasih banyak, nyonya. Aku akan menjaga perhiasanmu dengan baik, pasti kembalikan dengan utuh sekembali dari sana.”
Liang Jia tertawa kecil melihat kepolosan Xin Er, “Aku tidak berkata meminjamkan padamu, barang yang sudah diberikan tidak boleh diminta kembali. Ini untukmu, Xin Er.”
Xin Er tertegun, “Ah, sungguh terima kasih banyak nyonya.” Xin Er membungkuk hormat. Setelah memasang tampang penuh haru dan bahagia, ekspresi wajah Xin Er kembali berubah setelah ia teringat sesuatu yang belum ada kepastian dari nyonyanya.
“Nyonya, apa anda positif tidak bisa ikut?” Tanya Xin Er penuh harap.
Liang Jia terlihat menghela napas berat kemudian menggelengkan kepala, “Sepertinya tidak ada harapan, sampai sekarang Li San tidak memberi keputusan. Lebih baik aku diam, daripada nanti imbasnya kamu pun tidak diijinkan pergi.”
Xin Er dan Liang Jia saling bertatapan sejenak, kedua wanita itu bersedih. Seandainya saja Liang Jia bisa hadir, kemungkinan besar Weini akan datang bersama Xiao Jun pula. Harusnya mereka punya kesempatan bertemu dan saling terbuka saat itu, tetapi tampaknya Liang Jia harus sedikit bersabar lagi.
“Jangan sedih, kita masih punya kesempatan lain. Sampaikan salamku untuk Li An dan Wen Ting, ini ada sedikit hadiah untuk putrimu. Katakan padanya kalau aku turut berbahagia untuknya.” Liang Jia menyodorkan sebuah angpao merah yang besar dan tebal, kemudian satu kotak perhiasan besar kepada Xin Er.
Xin Er dengan tangan bergetar menerima pemberian majikannya, betapa tulus dan baik majikan itu pada keluarganya. “Saya mewakili Li An mengucapkan terima kasih untuk nyonya.”
Adegan haru dua wanita tua itu terpotong, ketika suara ketukan pintu terdengar intens. Suara seorang pelayan berteriak menyampaikan kedatangan dua nona yang merupakan putri Liang Jia. Nyonya besar itu mengerutkan dahi, kebetulan yang tak tepat waktu karena kunjungan putrinya mengusik pembicaraan serius mereka. Liang Jia mengijinkan mereka masuk bergabung dalam kamarnya.
Yue Xin dan Yue Xin masuk tergesa, air muka dua nona itu berubah saat menatap Xin Er berdiri di samping ibunya. Tetapi pandangan mereka langsung terpaku pada ibunya, dan Yue Xin langsung mendekap ibunya.
“Salam hormat untuk ibu.” Ujar Yue Xiao yang berdiri lalu sedikit membungkuk untuk memberi hormat, sementara Liang Jia masih kebingungan dengan sikap putri keduanya.
“Ibu, aku ingin bicara penting denganmu. Bisakah kita bertiga saja?” Yue Xin mengatakan itu seraya melirik Xi Er, ia ingin pelayan tua itu sadar diri dan mundur dari hadapan mereka.
Xin Er tentu tahu batasannya, ia segera membungkuk pada Liang Jia untuk ijin berlalu dari sana.
“Bicara saja, dia tidak mengganggu kita. Ada apa putriku? Kenapa wajahmu sembab? Kamu kurang tidur?” Liang Jia menahan Xin Er tetap berada di sana. Hanya urusan dengan dua putri manja tidak perlu sampai menggusur pelayan itu. Xin Er menurut, ia berdiri dengan pandangan sedikit menunduk.
Gagal meminta ibunya mengungsikan Xin Er keluar, akhirnya Yue Xin tidak punya pilihan. Gadis itu menunduk dalam, ia perlu menghela napas sejenak sebelum mengutarakan maksudnya. “Ibu, tolong bantu aku … Tolong bujuk ayah agar membatalkan perjodohanku, aku belum siap menikah.” Yue Xin menggenggam erat jemari tangan ibunya, matanya mulai berkaca-kaca.
Liang Jia tersentak, kabar yang baru saja ia dengar begitu mengejutkan, seperti gelegar petir di siang yang cerah. “Kamu dijodohkan? Ayahmu tidak mengatakan apapun padaku. Darimana kamu dengar kabar itu?” Liang Jia balik bertanya pada putrinya, ia benar-benar bingung sekarang.
Yue Xin dan Yue Xiao menatap ibunya dengan raut bingung, kemudian beralih menatap Liang Jia. “Tadi pagi ajudan ayah datang padaku dan menyampaikan dekrit ayah. Ia memintaku bersiap karena beberapa hari lagi seorang pria dari Makau akan datang melamarku.”
Mereka yang ada dalam ruangan itu larut dalam keheningan. Hingga Yue Xin kembali membujuk ibunya, “Ibu, tolong bicarakan dengan ayah, aku belum siap terpisah lagi dengan kalian. Aku belum mau menikah.” Yue Xin mulai terisak.
Di saat Liang Jia belum menemukan cara menolong putrinya, suara seorang ajudan yang berteriak meminta akses masuk mengejutkan mereka. Setelah menghampiri Yue Xin dengan kabar mengejutkan, sekarang giliran Liang Jia mendapatkan kejutan dari utusan suaminya.
“Salam hormat untuk nyonya besar, hamba membawa dekrit tuan besar yang menyatakan bahwa nyonya tidak diperkenankan menghadari resepsi pernikahan di Beijing. Sementara bagi pelayan Xin Er tetap diijinkan berangkat
sendiri. Demikian yang hamba sampaikan, hamba mohon pamit.”
“Tunggu!” Liang Jia menahan ajudan pria itu berlalu, teriakannya cukup efektif, pria itu berhenti kemudian menunduk pada Liang Jia.
Liang Jia menghampirinya sembari mengeluarkan sebatang emas murni yang ia ambil dari lemarinya. Ia menyodorkan pada pria itu, namun si ajudan terlihat takut menerimanya. Liang Jia tersenyum dan terus memaksa agar pria itu menerima. Usahanya berhasil, pria itu hanya jual mahal namun matanya tetap hijau pada harta.
“Katakan padaku, kenapa tuan besar tiba-tiba menjodohkan nona kedua?” Liang Jia bertanya sambil berbisik. Semua yang ada di ruangan itu mendengarkan namun tidak ada satupun yang berani turut campur.
Ajudan itu tampak berpikir sejenak kemudian dengan wajah menunduk memberi jawaban. “Ampun nyonya, menurut yang saya dengar dari pembicaraan tuan besar dengan penasehatnya, mereka ingin mempercepat pernikahan
tuan muda. Agar tidak banyak prosesi langkahan maka nona kedua diharuskan menikah lebih cepat. Hanya itu yang hamba ketahui, nyonya.”
Semua yang mendengar itu tersentak, termasuk Xin Er. Liang Jia belum sanggup berkomentar, ia hanya menyuruh ajudan itu segera berlalu dari hadapannya. Tatapan Liang Jia masih kosong, firasat buruk mulai merajai pikirannya.
Yue Xin dan Yue Xiao mengelilingi ibunya, “Ibu, apa yang harus kita lakukan?” Tanya Yue Xin cemas.
Liang Jia menatap lembut pada kedua putrinya secara bergantian. “Kalian kembali dulu ke pavilion, jangan terlalu dipikirkan. Nanti pasti ibu bicarakan dengan ayahmu, tenang ya.” Liang Jia meyakinkan kedua putrinya.
Yue Xin dan Yue Xiao menurut, mereka mengangguk dan pamit dari hadapan ibunya. “Kami tunggu kabar baik dari ibu. Kami mohon pamit, ibu.”
Setelah kedua putri itu pergi, Liang Jia mengalihkan pandangan pada pintu lalu menatap cemas pada Xin Er. Seolah hendak berbagi kecemasan pada wanita tua itu.
“Nyonya, selanjutnya bagaimana? Tuan besar sepertinya punya rencana terselubung. Aku takut kita tidak bisa menggagalkan pertunangan Xiao Jun dan nona Li itu.” Ungkap Xin Er, ia pun mulai gusar memikirkan nasib
putranya.
Liang Jia meraih tangan Xin Er, “Kamu tetap di Beijing saja, jangan terburu pulang. Firasatku tak enak, Li San mungkin punya siasat busuk. Minta perlindungan pada menantumu, dia anak muda yang bisa diandalkan.” Ujar Liang Jia berusaha meyakinkan Xin Er.
“Tapi bagaimana denganmu, nyonya?” Xin Er pun mencemaskan Liang Jia jika ia meninggalkannya cukup lama.
Liang Jia menggelengkan kepala, “Jangan pedulikan aku, dia tidak mungkin melukaiku. Tapi kamu, ini kesempatan satu-satunya untuk lepas dari dia. Jangan kembali ke sini, sembunyilah di tempat anakmu. Ah, kalian harus hati-hati, bisa saja Li San mengawasi kalian di sana.”
Li San tak pernah berubah, diam tak berarti tidak bertindak. Ini hanya seperti bom waktu dan sang penguasa mulai menyulut bom itu.
***