OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 179 RASA SEBATAS PERSAHABATAN



Dina menerima telpon penting dari pihak klien yang mengontrak Weini sebagai brand ambassador sejak tadi. Ketika ia tengah berbincang hangat dari hati ke hati dengan Weini, telpon tak terduga itu masuk dan menyampaikan kabar yang mengguncang. Dina sengaja menerima panggilan masuk itu di belakang rumah demi mencari tempat yang lebih privat. Kini setelah pembicaraan itu berakhir, ia yang mulai kebingungan mencari cara menyampaikan berita ini pada Weini.


“Ada apa, Dina kok murung?” tanya Haris yang belum selesai mengaduk kopi di dapur.


Dina menatap Haris lalu tersenyum, ia mendapatkan malaikat yang dapat memberinya kekuatan untuk menyampaikan kenyataan. Dina mendekati Haris agar dapat mengecilkan suaranya, “Om, barusan aku dapat telpon dari pihak pemasaran perusahaan Xiao Jun. Mereka bilang mulai besok kontrak dengan Weini diputuskan


sepihak dan kompensasinya akan dibayarkan besok.”


“Oh, ya sudah kalau gitu.” Jawab Haris kalem dan mulai menyeruput kopi panas.


Mendapat jawaban setenang dan secuek itu setelah menyampaikan berita tidak menyenangkan, malah membuat Dina melongo tak percaya. Level ketenangan Haris lumayan juga, ia tak kelihatan terguncang sama sekali padahal kerugian besar di depan mata.


“Om, kok tenang banget sih. Aku bingung nih gimana jelasin ke non.” Tanya Dina lupa menjaga kekencangan suara.


Haris memberi senyum terindahnya, “Lah mau gimana? Yang udah kejadian ya sudah kan. Bilang aja ke Weini, dia bisa ngerti dan nggak masalah. Om jamin!”


“Yakin nih om?” Dina bertanya sekali lagi, masih tak percaya keoptimisan Haris.


“Iya kak Dina. Biarin aja!” Weini muncul tiba-tiba memberikan jawaban. Ia melemparkan senyum pada Haris, sebuah ungkapan terima kasih tanpa kata-kata. Senyum yang menandakan ia kembali kuat menghadapi kenyataan dan terima kasih atas kesabaran Haris selama keterpurukannya.


Dina yang seketika shock pembicaraan yang sengaja ia rahasiakan malah didengar Weini, tetapi ia sekaligus lega karena tidak perlu bingung memikirkan cara menjaga perasaan artisnya. “Okelah non, sip!”


“Satu lagi kak, nggak perlu terima kompensasinya.” Seru Weini tegas. Ia mengalihkan fokus pada segelas air mineral yang diminum habis beberapa tegukan.


Dina mangap lebar, uang sebanyak itu ditolak dengan santai. Apa tidak mubajir namanya? Dina membayangkan uang bernilai fantastis itu minimal bisa untuk membeli sebuah apartemen di kawasan selatan.


“Yakin tuh non? Itukan hak non, mereka yang mangkir perjanjian sebelum kontrak habis. Mutusin kontraknya tanpa alasan pula, main putus aja.” Seru Dina rada geram teringat perbincangan di telpon tadi.


“Yakin kak. Aku nggak akan menyesal.”


“Wah, kalo aku jadi non sih ku ambil tuh duit lalu nikmati hidup non. Tapi ya mangkel juga sih, ah serah non aja deh. Aku ngikut apapun keputusanmu.” Ujar Dina yang lebih pro ke Weini apapun yang terjadi.


Diskusi ketiga orang itu terjeda saat mendengar suara mesin mobil yang berhenti di halaman rumah. Dina duluan yang berjalan antusias menyelidiki siapa tamu yang datang, sebuah kejutan lagi melihat mobil yang ia hapal siapa pemiliknya.


“Tumben lu datang?” ujar Dina, pertanyaan todongan yang sebenarnya kurang layak sebagai kata sambutan pada orang luar terlebih Dina bukanlah tuan rumah. Tetapi ia tidak ambil pusing, apalagi yang jadi tamu adalah Stevan.


“Nggak ada larangan ke sini kan? Gue mau ketemu om Haris ama Weini.” jawab Stevan santai. Ia berdiri di depan teras menunggu penghuni rumah keluar mengijinkannya masuk.


Haris dan Weini keluar bersamaan mendapati Stevan yang menyunggingkan senyum ramah. Pria itu tampil rapi layaknya hendak syuting sinetron religi, sangat jauh dari penampilan kesehariannya yang gaul.


“Eh, nak Stevan. Lama baru kelihatan, yuk masuk.” Sambut Haris hangat seperti biasa yang ia lakukan pada Stevan.


Stevan melihat Weini sejenak lalu melempar senyum, sementara Weini terheran dengan sikap bunglon Stevan yang sebentar baik sebentar kumat. “Siang Om, maaf lama nggak datang mengunjungimu. Ini ada sedikit cemilan, dan terima kasih buat obat yang om kasih waktu itu sangat manjur.”


Tampang Weini simpel tanpa make up, ia tak berencana menerima tamu atau diusik hal lain. Sayangnya me time yang ia rencanakan gagal total, yang ada ia masih merasa seperti suasana kerja dengan orang-orang yang sama.


“So? Mau ngapain kita?” tanya Dina mencairkan suasana.


“Nonton yuk, gue bisa pesanin di bioskop privat buat kita bertiga.” Stevan mengajukan ide menghabiskan masa libur sehari mereka.


Dina yang jingkrak kegirangan, “Ayo cuss! Lu yang traktir semuanya ya!” todong Dina selow tanpa mendengar persetujuan Weini. Namun mau menolak pun percuma, Dina sudah menggeret Weini ke kamar untuk berganti rupa. Sesantainya di kala break syuting, ia tetap public figure yang harus jaga penampilan saat muncul di muka umum.


***


Sepanjang film diputar selama dua jam, Dina duduk di tengah sebagai pembatas Stevan dan Weini. Ia pun dengan jeli menghitung berapa kali Stevan ketahuan melirik lama ke Weini. Hanya Weini yang serius menyimak alur cerita dari awal hingga selesai, sementara Dina merangkap satpam yang memergoki Stevan.


“Aku ke toilet dulu, kak Dina mau ikut?” Weini menoleh ke samping menatap dua rekannya yang kebetulan saling memandang.


“Nggak deh, non sendiri gak papa kan?” ujar Dina, ini kesempatan bagus membiarkan dia berduaan dengan Stevan.


Sesaat Weini menghilang dari studio mini yang maksimal berisi 6 orang penonton itu. Temperatur udara yang dingin di dalam cukup membuat Dina kewalahan menahan hasrat ke belakang, ia terpaksa menolak ajakan Weini meskipun sangat ingin ke toilet demi kesempatan bicara empat mata.


“Lu nggak belajar ya dari pengalaman, heran deh … keledai aja ogah jatuh di lubang yang sama, lah kok lu mau-maunya jatuh pada hati yang sama?” cecar Dina blak-blakan, ia tahu Stevan juga merasa sebel terus dihalangi menatap Weini.


“Apa hak lu ngelarang gue? Suka-suka gue mau jatuh berapa kali, yang sakit gue kok lu yang sewot!” jawab Stevan kesal.


“Ya sih, itu hati elu, jiwa elu, cinta elu, hidup elu! Tapi sebagai teman, gue nggak bisa diam gitu aja ngelihat dua teman gue saling menyakiti. Nggak enak tahu rasanya jadi gue! Trus lu pasti mau bilang, ‘ngapain sok peduli, urus diri lu aja!’ Helooo … gue gak bisa apatis gitu kecuali lu berdua bukan siapa-siapa gue!”


Stevan diam, alibi Dina menggetarkan perasaannya. Ia tak mengira Dina punya pemikiran setulus itu dan memandang kedekatan mereka sebagai sebuah persahabatan. Sejak berkecimpung di dunia hiburan, Stevan hampir melupakan adanya persahabatan sejati, selama ini hanya ada persahabatan yang berdasarkan asas manfaat. Nyaris punah orang seperti Dina yang masih memikirkan kebaikan teman tanpa embel-embel pansos.


Stevan menghela napas berat dan panjang, “Lu tahu nggak, buat lupain seseorang yang terlanjur nyantol, harus ada yang menggesernya dan gue belum menemukan orang itu. Selama orang itu nggak muncul, hati gue tetap hanya ada Weini.”


Pengakuan konyol itu membuat Dina ngakak. “Lu anggap hati lu kayak sarang burung chukoo? Harus ada yang nendang telur keluar sarang dulu biar bisa netasin di sono? Haha… konyol lu! Hei bocah, harusnya lu duluan move on. Singkirkan perasaan tak berbalas itu dulu ntar ada hati baru yang bakal nempatin.”


Stevan menjitak kepala Dina, pelan tapi sangat mengesalkan bagi si pemilik kepala. “Berani manggil gue bocah. Sok tua lu!”


Dina mengelus bekas jitakan itu sambil meringis, betapa ia ingin membalas keisengan Stevan namun ia tahan daripada merusak momen serius yang sudah dibangun.“Tapi serius, lu harus segera move on. Buka hati lu dan beri kesempatan yang lain buat nempatin. Makin lama lu nggak nerima kenyataan, makin dalam lu nyakitin diri sendiri. Jangan bohongi diri, lu tahu Weini tetap kasih lampu merah. Dia nutup hati buat cinta tapi selalu terbuka buat persahabatan. So, plis jangan rusak persahabatan gara-gara cinta.”


“Persahabatan yang kadung jadi cinta, terlanjur retak, nggak bakal balik kayak biasanya. Gue nggak bisa!” ujar Stevan pelan.


Dina meraih tangan Stevan, menepuk telapak tangannya seolah mentransfer semangat. Ia tersenyum sembari memandang hangat ke pria yang sangat terkasihani itu. “Bisa! Tergantung elu, mau kehilangan total karena harapan yang mustahil atau tetap bersama sebagai sahabat. Trust me lah, lu bisa!”


***