OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 253 KECURIGAAN YANG KIAN TERTUJU PADAMU



Seharian tadi nona Weini hanya di rumah aja, nonton bareng trus dia latihan kungfu sama ayahnya. Oya, dia juga nanya pendapatku tentang pesanmu. Menurutnya, tuan sedang menyindir dia. Apa dia sudah balas pesanmu?


Pesan Dina sukses terkirim sebagai laporan harian  pada tuan Xiao Junnya. Ia kembali berbaring dan merentangkan kedua tangan dan kaki dengan leluasa, seharian hari bermain ke rumah Weini dan tidak melakukan apapun untuk Weini membuatnya agak tertekan. Beda dengan manager Stevan yang tak pandai diam dan mencarikan solusi


lain bagi aktornya, kabarnya pun Stevan tidak jadi menganggur lantaran ia mengambil tawaran iklan dan beberapa undangan reality show.


“Hmm, aku harus melakukan sesuatu buat Weini. Tak akan kubiarkan kariernya redup.”


Dina mengernyit saat merasakan ponsel di samping pinggangnya bergetar, setelah memeriksa notifikasi apa yang masuk, ia justru terbelalak dan segera duduk.


“Tumben orang ini nelpon?”


***


Xiao Jun tak bergeming sejak membaca pesan dari Dina, ia terus berpikir dan mencoba mencerna maksud pesan itu. Enggan berspekulasi terlalu lama dengan pikiran yang belum tentu benar, Xiao Jun akhirnya menghubungi si pengirim pesan itu.


“Dina, lagi apa? Apa aku mengganggu?” Xiao Jun bertanya setelah mendengar kata ‘halo’ dari gadis itu.


“Nggak kok, aku pas lagi santai. Ada apa tuan? Tumben banget telpon.”


Xiao Jun terdiam sesaat, ia perlu menata hatinya untuk melontarkan pertanyaan ini. “Kamu bilang mereka lagi latihan kungfu? Bisa kamu jelasin seperti apa yang kamu lihat?”


Dina di seberang sana ternganga, ia mengira Xiao Jun penasaran soal respon Weini tentang pesannya dan ingin kepo lebih lanjut, ternyata malah soal kungfu lebih menarik perhatiannya. “Emm … Kayak gimana ya?” Dina mengingat kembali reka adegan Weini dan Haris yang masih tercantol di benaknya.


“Ya mereka hajar-hajaran gitu, pake pedang, lompat-lompat trus kayak terbang saking ringan tuh badan. Emang kenapa, tuan? Non Weini kan memang jago kungfu, kok tuan terkejutnya baru sekarang?”


Dina benar, Xiao Jun memang sejak awal mengenal gadis itu sudah mengetahui bahwa dia punya kemampuan bela diri. Awalnya semua terlihat biasa, namun setelah rekaman CCTV itu terlihat, Xiao Jun sangat sulit menganggap apapun tentang Weini adalah biasa saja. Sinyal sihir klan Wei yang terdeteksi ketika ada gadis itu, lalu kemampuan kungfu antara ayah dan gadis itu, apa bisa semudah itu dianggap kebetulan?


“Seberapa banyak kamu tahu tentang Weini dan ayahnya? Kamu tahu mereka asli darimana? Di mana ibunya? Apa marga mereka?” Xiao Jun khilaf, ia makin tak sabaran dan menodong banyak pertanyaan yang membingungkan Dina.


Dina terpaku dan bingung, ia kewalahan harus mulai menjawab darimana lantaran nyaris semua pertanyaan itu tidak ia ketahui. Sembari menghela napas, Dina membeberkan jawabannya, “Tuan, aku juga belum lama kenal non Weini. Sejak dia jadi artis, aku baru kenal. Ya, kurang lebih sama kayak tuan, aku belum begitu tahu hal pribadi mereka. Sering nongkrong di rumahnya pun nggak pernah dengar mereka ngungkit soal ibu non Weini. Mereka sangat


mandiri, mungkin ibu non Weini udah lama meninggal dan mereka terbiasa melakukan apapun sendiri.”


Hening. Percakapan mereka terjeda sunyi dari dua pihak, Xiao Jun sungguh pusing dengan teka-teki ini. Antara cinta dan rasa penasaran pada Weini, kini nyaris seimbang dalam hatinya.


“Bukannya tuan pacar non Weini, harusnya kan lebih kenal mereka. Apa tuan juga nggak pernah tanyakan itu? Lah, kok bisa lamaran padahal belum kenal keluarganya?” Mulut Dina yang cerewet malah lepas kontrol, ia cerocos tanpa menyortir kata-kata dulu. Setelah itu, ia baru tersadar lalu menepuk mulutnya.


Xiao Jun masih bersabar dan tidak ambil hati dengan ucapan Dina, “Mulai sekarang, tolong selidiki asal usul mereka. Apa mereka pernah tinggal di luar negri? Apapun yang Weini lakukan, beritahu aku.” Perintah Xiao Jun tegas.


Sebelum pembicaraan digiring menuju ending, Dina buru-buru merubah topik. “Baik tuan. Oya, apa kau bisa membantu non Weini untuk mendapatkan job baru? Kasian dia, belum ada tawaran lagi. Film yang sudah tanda


tangan kontrak juga belum siap syuting.”


Bos muda itu tengah berpikir, ia turut iba mendengar nasib karier Weini pasca managemen itu beralih ke tangan rival bisnis Xiao Jun. “Dia sangat terkenal kan sekarang, kenapa bisa sepi tawaran?” Xiao Jun malah balik bertanya. Ia kurang paham tentang aturan main di dunia entertainment namun secara logika publik figur yang sedang naik daun pasti tidak kesulitan pekerjaan. Tawaran akan menghampiri tanpa perlu susah payah mencari, justru ia


“Ya sih, tapi nggak tahu juga ya kok bisa sepi gitu.” Dina ikutan bingung, ia baru kepikiran tentang kejanggalan ini. Weini bukan artis sensasional yang panjat sosial lewat settingan, ia sungguh membangun karier dengan prestasinya.


“Sejak tuan mencabut kontraknya, dia mulai redup loh.” Timpal Dina.


Xiao Jun merasa dipojokkan, padahal itu bukan salahnya. “Itu bukan keputusanku, agak rumit diceritakan. Yang terjadi saat aku tidak di sini, sepenuhnya bukan atas kemauanku.”


***


Begitu banyak pertanyaan yang butuh jawaban, perlu pertanggung-jawaban agar batin yang penasaran ini kembali lega. Tetapi pada siapa harus dipertanyakan? Xiao Jun sendiri masih tak punya nyali menampakkan diri di hadapan Weini. Nyalinya ciut lagi ketika sampai di muka rumah kekasihnya. Keberanian yang ia kumpulkan untuk datang tengah malam kemari, ciut seketika dan membuatnya menjelma sebagai pengecut. Ia harus puas diri dengan


bersembunyi di dalam mobil, menatapi rumah yang hanya bermodal pencahayaan lampu di teras.


Tanpa ia sadari, si pemilik rumah sadar akan kedatangannya. Gadis yang ingin ia temui, mengintip lewat jendela di ruang tamu dengan gorden yang sedikit disibak sebagai celah. Kini Weini tahu mengapa Haris waktu itu hanya mematung sebagai pengintai, Weini mencontoh apa yang ayahnya lakukan.


“Dia datang lagi.” Haris muncul dari belakang, ia ikut menyadari tanda kehadiran putranya. Ternyata Weini lebih peka dan lebih dulu berdiri di sana.


“Ng ….” Jawab Weini singkat, matanya masih sibuk mengintip.


“Nggak kamu samperin?” Goda Haris.


Weini mencibir, senyumnya terdengar seperti menyindir. “Dia tidak mengetuk pintu, bagaimana aku bisa menyambutnya?”


“Bagus! Kamu sekarang jago meniru perkataanku.” Gumam Haris seraya tertawa kecil.


“Murid selalu mencontoh gurunya, apa yang salah?” Jawab Weini penuh percaya diri.


Haris menatap gadis itu, tampangnya yang sudah membersihkan make up serta rambut yang dibiarkan tergerai, menandakan ia baru terjaga dari tidur gara-gara kehadiran Xiao Jun. Haris tak boleh lagi meragukan kemampuan Weini yang semakin hari semakin kuat, bahkan duel pedang sore tadipun dimenangkan gadis itu.


“Kamu serius mencintai dia dengan segala kekurangan bahkan kepengecutannya?” Haris mengorek soal perasaan, ia dihadapkan dengan dua orang yang saling mencintai dan bingung mencari cari untuk kembali.


“Ya.” Weini menjawab mantap dan singkat. Ia tak perlu menatap Haris untuk menunjukkan keseriusannya, Haris pasti tahu tanpa perlu diyakinkan.


“Kalau begitu, jangan lama marahannya. Cepat baikan lagi!” Pinta Haris, melihat sikap putranya dan Weini malah membuat gejolak mudanya terkenang kembali. Teringat waktu ia remaja dan memperjuangkan Xin Er.


“Tergantung gimana niat dia memperbaiki, ayah sendiri yang bilang aku hanya perlu diam dan menunggu. Sekarang aku praktekkan, dalam diam aku menunggu ia bertindak serius. Gadis lain itu juga korban, aku nggak tega dia terlalu lama korban perasaan. Xiao Jun harus punya ketegasan!”


Haris menghela napas panjang, “Mulai sekarang aku harus hati-hati bicara sama kamu. Ingatanmu mengerikan, wanita memang sangat menakutkan! Semua bisa diungkit kembali lalu dilempar balik jadi senjata.” Gumam Haris, tentu saja hanya candaan. Ia sangat senang mendengar keputusan Weini, memang seharusnya begitulah Xiao Jun dididik untuk jadi pria sejati.


Terima kasih, Weini. Kamu membantuku mengajari putraku.


***