OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 414 MERUBAH TAKDIR



Aku tak pernah menghargai cinta dan ikatan perasaan, sebelumnya...


Tak terhitung jumlah luka dan air mata yang kau torehkan untukku


Dan aku menyesalinya sekarang...


Menyesal karena baru sadar bahwa kau terlalu lama menderita karenaku


Menyesal karena membiarkanmu kesepian sekian lama


Lalu kesadaran menamparku setelah umur sudah di penghujung maut.


_Quote of Li San_


💖💖


"Terimakasih telah kembali menjadi suamiku aseutuhnya...." Lirih Liang Jia, perhatian kecil dari suaminya terasa begitu menyentuh perasaannya. Belum pernah ia merasakan ketulusan pria yang telah memberikannya kehidupan pernikahan sekian lama itu.


Li San terhanyut suasana, melihat air mata istrinya yang terlalu sering menetes karenanya, membuat hatinya tak tahan lagi. Ia meraih dua tangan Liang Jia untuk digenggam.


"Harusnya aku yang terima kasih, atas kesabaran dan kesetiaanmu menghadapi sikapku. Aku terlalu banyak melukai perasaanmu, dan juga perasaan anak-anak."


Li San menghela napas kasar, hati kecilnya menyuarakan penyesalan, perasaan bersalah dan bayang-bayang dosa menghantui pikirannya. Di sisinya masih ada Liang Jia yang bersedia menguatkan dengan gestur tubuh yang seolah menyangkal pengakuan dosanya barusan.


"Belum terlambat untuk memperbaiki, aku yakin kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul lagi. Wei ternyata masih hidup, dia bangkit dari kematian, dia pasti bisa menyelamatkan Yue Hwa." Lirih Liang Jia, ia masih berbelas kasih pada suaminya tanpa menyalahkan tindakan pria tua itu yang benar-benar salah.


Li San menggeleng pelan, wajahnya tampak pesimis. "Kau tak perlu menghiburku dengan kata-kata itu, aku tahu dosaku terlalu besar, bahkan langit mungkin tak memberi pengampunan padaku. Wei ternyata sempat mati lalu hidup lagi?" Li San jelas terkejut, ia belum mendengar kabar kematian Haris tetapi langsung mendengar pria itu hidup kembali.


Liang Jia mengangguk mantap, senyumannya seolah mewakili betapa optimisnya ia pada Haris.


"Ah, dia punya banyak cadangan nyawa. Bahkan dia mengelabui kematiannya pada kita sampai puluhan tahun. Jika aku tidak menyuruh penasihat He membongkar makamnya, sampai detik ini mungkin aku tidak tahu bahwa yang dikuburkan di sana hanya sebongkah pohon pisang yang tak bisa lapuk." Ujar Li San, hebatnya lagi ia bisa menyampaikan tanpa melibatkan emosi, seperti yang sering terjadi sebelumnya, ia pasti akan marah dulu sebelum bicara.


Liang Jia mengerutkan dahi, "Jadi Wei memakai pohon pisang sebagai media sihirnya? Kita tak bisa meragukannya, sihir klan Wei memang sakti." Gumam Liang Jia agak tenang.


Li San tak berkomentar, ia menikmati raut wajah Liang Jia yang terlihat lebih tenang. Tangannya meremas perlahan tangan Liang Jia sehingga wanita itu menatap padanya.


"Jia, maafkan aku yang sekian lama menjadi suami tak baik untukmu. Bukan hanya suami tak baik, aku juga gagal jadi seorang ayah. Aku lebih percaya hasutan saudaraku daripada mempercayai mu dan melindungi anak-anak."


"Ke lima putri kita, tidak ada yang nasibnya benar-benar beruntung. Status kita memang keluarga terhormat, tapi para putri kita hidup dalam kungkunganku. Aku merasa sangat bersalah pada mereka, terutama Yue Hwa. Mengapa dulu aku begitu keji mengharapkan kematiannya?" Sesal Li San, ia terisak, ia menangis dalam wajah yang tertutupi telapak tangannya.


Liang Jia terkesiap melihat tangisan Li San yang sesenggukan, tak pernah pria itu sesedih ini bahkan ketika pemakaman orangtuanya saja Li San tak menangis seserius ini. Lantaran tak tega, Liang Jia menarik Li San dalam pelukannya, menepuk pelan punggungnya untuk menenangkan.


"Tenanglah, lebih baik sedikit terlambat menyadari daripada tidak sama sekali. Kita berdua hanya orangtua yang makin melemah fisiknya, saat inipun anak-anak kita tak bisa menemani. Suka atau tidak, kita harus saling mengandalkan, saling berbagi. Orangtua, saudara bahkan anak-anak tidak bisa seterusnya di sisi kita, yang tersisa hanya kau dan aku. Aku harap kamu mengerti maksudku." Lirih Liang Jia dengan mata yang terpejam dan masih dalam pelukan Li San.


"Kebahagiaan wanita yang sebenarnya tergantung pada pria yang dinikahinya. Aku menyesal terlambat menjadi pria yang tepat bagimu, aku tak memberimu kebahagiaan tapi malah membuatmu memikul beban dan menangis hingga tua. Jia, aku sungguh menyesal." Lirih Li San.


Liang Jia mengangguk, ia melepaskan diri dari pelukan demi menatap serius pada Li San. "Maka tebuslah kesalahan itu dengan menjadi ayah yang baik untuk putri kita."


Raut Li San kembali sedih, dari helaan napasnya tersirat kekecewaan yang berat dijelaskan.


"Kita sama-sama tahu bahwa Xiao Jun mencintai putri kita, Yue Hwa. Kamu pasti sudah tahu identitasnya kan? Aku tahu kau diam-diam menyelidikinya. Jika mereka kembali, aku harap kau memberi restu pada mereka. Kau tahu jelas bahwa kebahagiaan wanita separuhnya tergantung pada pria yang ia nikahi. Tolong biarkan mereka mengikuti takdirnya." Pinta Liang Jia lirih, itulah yang ia harapkan dari suaminya.


Li San tampak berpikir, selama ini ia mempertahankan aturan ketat leluhurnya dengan perjodohan yang saling menguntungkan. "Ini... Apakah menurutmu jodoh yang kupilihkan untuk Yue Yan dan Yue Xin kurang tepat? Apa mereka tidak bahagia?"


Liang Jia menatap ke arah lain, pikirannya menerawang sebelum menjawab. "Aku yakin kamu pasti menyeleksi pria yang tepat untuk mereka, tapi kita tidak pernah menanyakan kesediaan mereka. Yue Yan memang anak yang patuh, tetapi Yue Xin... Di hari pernikahannya dia bahkan tak henti menangis di kamar pengantinnya. Dia belum siap untuk menikah, dia masih ingin merasakan kasih sayang kita. Aku merasa prihatin padanya yang harus menikah tanpa dihadiri olehmu."


Li San tertunduk, "Maaf, aku memang tergesa-gesa untuk menikahkan Yue Xin. Aku harap pernikahannya bahagia."


"Jadi... Kumohon pertimbangkan lagi tentang nasib putrimu yang lainnya. Kita masih punya 3 putri, biarkan mereka menikahi orang yang dicintai, atau setidaknya hargai keputusan mereka saat menolak dijodohkan dengan pilihanmu. Terutama Yue Hwa, kau menaruh harapan pada Xiao Jun sebagai penerusmu, daripada menikahkan dengan Grace, lebih baik biarkan dia bersama putri kandungmu. Maka dia tetap layak menjadi penerusmu." Pinta Liang Jia penuh kesungguhan.


Li San terdiam, ia punya sesuatu yang memang belum diceritakan. Ketika ia merasa tak ada harapan untuk keluar dari kurungan Kao Jing, di saat itulah ia sudah membuat keputusannya.


"Sebenarnya aku sudah memikirkan ini... Jia, aku tidak tahu apakah dosaku masih bisa dimaafkan, tetapi sebagai penebus rasa bersalahku pada Yue Hwa, sudah kuputuskan bahwa aku membatalkan Xiao Jun sebagai pewaris. Seluruh kelangsungan klan Li, kekuasaan serta kekayaan peninggalan leluhur sepenuhnya aku serahkan pada Yue Hwa."


Pernyataan Li San sungguh mengejutkan Liang Jia, hatinya bergerumuh, bergetar kencang mendengar keputusan yang tak terduga dari suaminya. Ia telah mengubah takdir klan Li turun temurun dengan menunjuk Yue Hwa sebagai penerus klannya.


Dialah wanita pertama yang dipercayakan naik tahta setinggi itu, dan Liang Jia tak bisa membendung tangisan harunya saat itu juga.


💖💖💖


Hi all, mohon dukungan like, komen dan votenya ya. makasih