
Li An melambaikan tangannya ketika melihat kedatangan kakak pertamanya yang keluar dari pintu kedatangan. Begitupun Li Mei yang merespon lambaian adiknya dengan senyuman lebar.
“Itu kak Li Mei, ibu.” Seru Li An menunjuk pada Xin Er.
Xin Er melihat dengan sepasang mata yang membesar ditambah senyum bahagianya yang begitu lebar. “Benar, itu dia. Ah, dia datang membawa anak.”
Li An mengangguk, tidak ada satupun dari mereka yang tahu kabar Li Mei. Jika bukan karena Wen Ting, mungkin mereka sekeluarga akan mustahil harapan untuk berkumpul kembali. “Selamat ibu, akhirnya jadi nenek. Ah
senangnya aku jadi tante.” Ujar Li An yang memang girang tak sabar ingin menggendong bayi yang diperkirakan belum berusia satu tahun.
Ibu dan kedua putrinya pun bertemu, mereka terharu sesaat lalu saling berpelukan yang dimulai dari Li Mei memeluk Xin Er.
“Sini keponakanku biar aku yang gendong.” Pinta Li An. Ia dengan senang hati memberikan lebih banyak waktu untuk kakak dan ibunya melepas rindu. Perhatian Li An sepenuhnya sudah tersita oleh bayi mungil nan imut itu.
“Mei… Putriku, kamu semakin cantik. Selamat ya, akhirnya kamu jadi seorang ibu.” Ungkap Xin Er, ia sungguh terkejut dengan kenyataan bahwa ia sudah memiliki cucu. Namun keterkejutan itu lebih pada rasa bersyukur yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Li Mei mengangguk, kedua matanya berkaca-kaca sekarang. “Ibu… Aku sangat merindukanmu, maafkan aku yang tidak bisa mengabarimu saat aku melahirkan.”
Xin Er meraih tangan Li Mei lalu menepuknya pelan, senyumnya yang sangat menenangkan itu terpancar saat ia melekukkan bibirnya. “Ibu mengerti, kita tidak punya akses komunikasi. Bukan kehendakmu juga tidak berkabar, keadaan yang membuat kita seperti ini.”
Li Mei mulai sesengukan, bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan akhirnya ia bisa membawa anaknya kepada sang ibu. Xin Er mengambil alih bayi yang berada dalam gendongan Li An, terlihat jelas betapa bahagianya Xin Er yang berbicara dengan cucunya.
“Dia cantik dan mirip sepertimu, Mei.” Ujar Xin Er, tanpa perlu dipertanyakan, Xin Er dan Li An langsung tahu jenis kelamin bayi itu begitu melihat sepasang tindik di telinganya.
Li Mei tertawa kecil mendengar pujian ibunya, “Tapi aku merasa sepertinya dia lebih mirip ayah.”
Xin Er mengernyit kemudian memperhatikan lebih jelas lagi, komentar Li Mei pun mengundang rasa penasaran Li An yang akhirnya ikutan melihat si bayi.
“Eh, benar juga ya sekilas memang mirip ekspresi ayah kalau lagi diam. Ha ha ha ….” Ujar Li An sembari tertawa membayangkan wajah ayahnya.
Xin Er ikut tertawa, setelah memperhatikan lagi ternyata Li Mei memang benar. Raut wajah kalem saat si bayi tertidur itu begitu mengingatkan Xin Er pada suaminya. Sejenak ia merasakan kerinduan tak tertahan pada Wei, tak sabar rasanya Xin Er ingin segera bertemu.
“Ayo kita pulang, masih ada kejutan lain menunggu di rumah. Oh ya kakak, nanti lansung fitting gaun untukmu ya. Aku sudah memesan beberapa model, tinggal kakak pilih mana yang paling kamu sukai. Mereka akan membawakan ke rumah untuk kamu coba.” Seru Li An, ia begitu bersemangat merayakan pernikahannya besok. Bukan karena ingin tampil cantik sebagai ratu yang paling berbahagia di hari itu, namun karena ada hal yang lebih dari itu yang patut dirayakan. Berkumpulnya sebuah keluarga yang terpecah belah sekian puluh tahun, dan akhirnya dipersatukan dalam acara sakralnya besok.
Li Mei takjub mendengar rencana adiknya, sungguh tidak terduga bahwa Li An mendapatkan jodoh yang nyaris sempurna. “An, aku turut bahagia untukmu. Syukurlah kamu tidak bernasib seperti aku.” Ujar Li Mei lirih.
anak yang menggemaskan, hidup kita yang tadinya suram akhirnya punya masa depan kak.”
Li Mei mengangguk setuju, ia membalas genggaman tangan adiknya. “Kamu benar, dan semoga Jun juga mendapat akhir yang bahagia seperti kita.” Li Mei tidak tahu perkembangan tentang orangtua dan adiknya, ia pun tidak tahu kejutan yang dimaksud Li An untuknya adalah kedatangan ayah dan adik laki-laki mereka.
***
Wen Ting berdiri di atas atap rumahnya yang begitu luas dan terbuka. Rumah mewahnya yang begitu multi fungsi serta dilengkapi kecanggihan yang modern. Pengusaha muda itu menunggu jet pribadi milik Xiao Jun mendarat di sana, seperti yang dikabarkan adik iparnya itu akan tiba kisaran waktu sekarang. Dan benar saja, suara mesin serta hembusan angin yang kencang menandakan sebuah helikopter akan mendarat.
Setelah jet pribadi itu mendarat sempurna, Wen Ting berjalan mendekati pintu keluar lalu menyunggingkan senyumnya untuk menyambut penumpang pertama yang turun, siapapun itu. “Hei adik ipar, lama tak bertemu.” Sapa Wen Ting akrab ketika Xiao Jun turun membawa tas kerjanya.
Xiao Jun tersenyum tipis, sekarang ia mengerti mengapa Wen Ting cocok dengan kakaknya. Itu karena keduanya punya sedikit kemiripan sifat, seperti yang barusan dipertanyakan Wen Ting, padahal baru beberapa bulan pertemuan terakhir mereka di Hongkong. “Seperti yang kamu lihat, kakak ipar. Lebih baik kamu menyambut ayah mertuamu, daripada mengusiliku.” Ujar Xiao Jun.
Wen Ting tertawa kecil, ia mengalihkan pandangan pada sepasang kaki panjang yang menuruni tangga. Wajah pemilik kaki itu belum tampak, namun semakin mendekati tangga terakhir, Wen Ting akhirnya bisa melihat sosok kharismatik dari sang ayah mertua. Ia bergegas menghampirinya, memberikan penghormatan pertama sebagai seorang menantu.
“Salam hormat untuk ayah, saya Lo Wen Ting, suami Li An.” Sapa Wen Ting kaku, sikap santainya yang barusan di pertunjukkan pada Xiao Jun berubah drastis. Xiao Jun yang melihat di belakang tersenyum menggoda, rupanya pria sekelas Wen Ting bisa grogi juga di hadapan mertua.
Haris tersenyum ramah, kesan pertama yang ia dapatkan saat melihat Wen Ting adalah sikap bertanggung jawab dan cinta yang luar biasa untuk putrinya. Pria sebaik itu tentu harus diperlakukan dengan baik pula. “Menantuku,
tidak perlu sungkan. Aku Wei Ming Fung, ayah Li An.” Ujar Haris yang meniru gaya kaku Wen Ting saat menyebutkan nama. Spontan sikap Haris yang terkesan bercanda itu mendapat sambutan tawa dari Wen Ting dan Xiao Jun.
Di saat bersamaan Li An beserta ibu dan kakaknya pun sampai di tempat tertinggi di rumahnya. Bagi Li An yang sudah mengetahui rencana itu jelas tidak merasa terkejut lagi melihat kedatangan ayah dan adiknya. Namun bagi Li Mei, ini seperti sebuah hadiah yang jatuh dari langit. “An, apa itu adik kita Jun? Lalu yang satunya lagi siapa?” Li Mei bisa menebak pria muda itu adalah Li Jun, namun untuk seorang pria tua yang datang bersama adiknya itu yang membuatnya sedikit ragu.
“Dia ayahmu.” Jawab Xin Er singkat, ia tersenyum menatap suaminya yang sudah menyadari kehadirannya. Haris berjalan mendekati Xin Er yang tampak memukau, Haris bahkan tidak menyangka penampilan istrinya begitu
memesona dan terlihat lebih muda.
Li Mei terkejut, bayi dalam gendongannya pun ikut bereaksi mengentakkan kaki hingga Li Mei perlu sedikit menggoyangnya agar tenang. “Dia ayah? Kenapa sangat berubah sampai aku tidak bisa mengenalinya? An, kamu benar … Ayah memang masih hidup.” Ungkapnya senang, meskipun sedikit canggung dengan wajah ayahnya yang asing namun fakta bahwa ayahnya masih hidup jauh lebih membahagiakan Li Mei.
Li An tersenyum dan menoleh pada kakaknya, “Ceritanya panjang, yang jelas ini saatnya kita bahagia kak.” Lirih Li An, ia dan kakaknya sepakat bersorak saat melihat kedua orangtuanya berpelukan penuh haru. Ya … Ini memang saatnya mereka berbahagia, semoga selamanya.
***