
Jakarta siang ini, di waktu yang bersamaan dengan ketegangan yang sedang berlangsung di aula utama kediaman Xiao Jun di Hongkong….
***
Weini selonjoran malas sembari menonton drama Korea di ruang tamu. Ia merasa kurang bersemangat untuk aktivitas di luar meskipun cuaca cukup cerah. Separuh jiwanya larut dalam rindu yang terus menyita pikirannya, terlebih belum ada kabar sama sekali dari Xiao Jun. Bermalas-malasan di rumah hanya bentuk pelariannya saja, setidaknya masih ada satu hal yang bisa menyemangatinya – berbaikan dengan Haris.
Haris keluar dari kamarnya lalu berjalan menghampiri Weini yang tampak asyik dengan tontonannya. Diliriknya jam yang menunjukkan hari mulai siang, Haris menghela napas berat sejenak lalu menarik senyum tipis seakan menyembunyikan maksud tertentu.
“Hari yang cerah tapi kamu malah sembunyi dalam rumah.” Ujar Haris lembut, pembawaannya cukup tenang apalagi melihat wajah tertekuk Weini karena merasa diusir keluar secara halus.
“Aku masih libur syuting ayah, bisa bersantai begini sangat langka bagiku. Ayolah, jangan memprovokasiku untuk keluar rumah, aku lagi malas.” Pinta Weini terdengar manja, senyumnya mengembang penuh kemudian ia memperbaiki posisi tubuhnya dan menepuk sofa di sampingnya seraya menatap penuh arti pada Haris.
“Ayah, ikut nonton saja. Seru kok, ini drama action.” Weini malah mengajak Haris ikut jejaknya menjadi pecandu drama dari negri ginseng itu.
Haris tersenyum simpul, ia menuruti permintaan Weini untuk duduk bersama. Sejenak adegan dalam TV itu dilihat Haris tanpa menikmatinya, pikiran dan hatinya sedang terpusat pada hal lain. “Oh, kamu lagi malas gerak, sayang sekali padahal aku baru saja mau minta tolong.” Ujar Haris pelan.
Weini melirik serius kepada Haris, tidak biasanya pria tua itu minta bantuan Weini. Segala hal nyaris bisa ditangani Haris tanpa campur tangan orang lain kecuali orang itu yang menawarkan diri untuk membantu. Meskipun terdengar aneh tetapi Weini tetap menanggapinya dengan tenang, seolah tidak penasaran dengan maksud Haris. “Tumben ayah bisa minta tolong. Hmm… Apa yang bisa saya bantu, tuan besar?” Canda Weini yang berbuntut tawa dari ia dan Haris.
“Barusan Lau menghubungiku, katanya ia lupa kalau punya satu botol arak yang akan kadaluwarsa. Daripada rusak, ia memberikan padaku dan memintaku untuk segera mengambilnya.” Seru Haris yang tampak bersemangat,
raut wajahnya memancing senyum nyengir dari Weini.
Weini menggeleng pelan, “Lau menghubungi ayah barusan? Hmm… Kenapa nggak ada yang hubungi aku?” Ujar Weini dengan nada lemas.
Haris tersenyum lebar, “Kamu rindu sama Jun kan? Ayah tahu kok, makanya ayah menugaskan padamu untuk pergi ambilkan arak itu. Ayah mau minum malam ini, ha ha ha….”
“Kalau urusan arak, ayah pasti paling cepat responnya.” Gerutu Weini. Lebih tepatnya ia menutupi rasa malu karena ketahuan memendam rindu pada Xiao Jun. Meskipun itu benar, tetapi Weini enggan mengakuinya. Ia menyudahi tontonannya yang tengah seru, lantas berdiri dengan gesit sebagai tanda ia menyetujui permintaan Haris.
Haris tersenyum girang, gadis baik itu menurutinya. “Araknya ada di lemari samping kulkas. Tidak perlu buru-buru pulang, kamu kangen-kangenan dulu di kamar Jun. Siapa tahu masih ada aroma tubuhnya yang tertinggal dan bisa mengobati kangenmu.” Goda Haris pada Weini yang beranjak dari tempatnya menuju kamar.
Mendengar candaan Haris membuat Weini nyengir, sejak dulu Haris memang senang menggodanya. Weini pura-pura ngambek dan berjalan cuek menuju kamar tanpa menggubris Haris lagi. Hanya mampir ke apartemen Xiao Jun
sebentar, Weini merasa tak perlu mengganti pakaian. Ia cukup merapikan rambut, menguncir dengan karet hitam, memakai topi agar tidak mencolok kemudian meraih tas slempang, topi serta ponselnya.
Haris masih duduk di sofa menatap Weini yang berjalan keluar seraya memasukkan ponsel ke dalam tasnya. “Password apartemennya masih tanggal lahirmu.” Seru Haris dengan tenang padahal Weini tidak bertanya.
Weini berhenti tepat di hadapan Haris lalu menatapnya heran. “Ayah ikut sekalian deh, jarang-jarang kita pergi bersama. Aku tunggu kalau mau siap-siap dulu.” Pinta Weini yang tiba-tiba dapat usul seperti itu.
Haris tak kuasa menatap mata Weini yang penuh harap, ia menggeleng pelan selagi tekadnya masih bulat untuk bertahan di rumah. “Pergilah sendiri, kali ini ayah tidak bisa. Ada yang sedang aku tunggu.” Ungkap Haris serius.
“Kurir ekspedisi ha ha ha….” Jawab Haris dengan cepat kemudian tertawa lebar.
Weini memutar bola matanya, ia terlalu berlebihan mengira akan ada tamu spesial yang ditunggu Haris. Rupanya kenyataan jauh dari ekspektasi dan Weini hanya bisa nyengir pada dirinya. “Ayah belanja online? Kok tumben bisa? Bukannya ayah gaptek?” Tanya Weini dengan todongan pertanyaan.
“Ah, sudahlah buruan pergi. Ayah tak sabar lagi mau minum.” Jawab Haris yang mulai kehabisan stok sabar. Ia berdiri demi mendorong tubuh Weini agar segera keluar dari rumah.
Weini tak berdaya didesak Haris hingga nekad mendorongnya. Walau masih tersisa tanda tanya besar dengan sikap Haris tetapi Weini berpikir akan menanyakan setelah ia kembali saja. Mungkin ketika melihat arak, mood Haris akan jauh lebih baik.
“Weini….” Teriak Haris saat melihat Weini sudah menyalakan mesin mobilnya.
Weini menongolkan kepala dari kaca mobil, perhatiannya penuh menatap Haris yang berjalan menghampirinya. Sekilas Weini melihat raut wajah pria itu tampak sedih, namun ketika benar-benar menatap dari dekat, gurat sedih itu hilang berganti wajah tenang Haris seperti biasaa.
“Ada yang mau diambil lagi ayah?” Tanya Weini bingung, dikiranya masih ada titipan dari Haris.
“Tidak ada. Hati-hati menyetir jangan ngebut, ayah tidak menyuruhmu buru-buru pulang. Santailah di sana sebentar, siapa tahu apartemen Jun perlu dibersihkan.” Gumam Haris.
Weini awalnya mendengar dengan serius pesan ayahnya tiba-tiba cemberut. “Aku pikir penting gitu yang mau disampaikan. Ya sudah, aku berangkat dulu ayah.” Pamit Weini pada ayahnya.
Kepergian Weini diantar dengan lambaian tangan dari Haris, senyuman yang disunggingkan dengan manis itu seketika lenyap seiring mobil Weini yang tak lagi tampak. “Pergilah nona! pergi sejauh mungkin!” Desis Haris, air mukanya berubah sedih.
Setelah memastikan Weini berlalu lumayan jauh, Haris membalikkan badan hendak masuk kembali ke rumah. Beberapa langkah saja kakinya bergerak, ia berhenti berjalan saat suara mobil terdengar berhenti di depan pagar rumahnya. Haris mengulum senyum, tanpa perlu menoleh ia sudah tahu siapa yang datang.
“Syukurlah tepat waktu.” Desis Haris pelan, mensyukuri telah berhasil mengecohkan Weini pergi sebelum tamu tak diundang itu tiba.
Haris belum membalikkan badan, dibiarkannya pria muda bersepatu pantofel hitam itu turun dari mobil. Adegan yang sudah terbaca dalam mimpi buruknya, hari ini pasti tiba meski sekuat apapun Haris menghindarinya. Namun setidaknya Haris berhasil meminimalisir dampak buruk yang lebih mengerikan. Alasan mengapa Haris tegas menyuruh Xiao Jun mempercepat pernikahanpun terjawab. Dalam mimpi Haris, tidak ada kepastian waktu kejadian
dan Haris tak punya persiapan untuk serangan mendadak. Namun jika Xiao Jun berhasil menekan pihak lawan hingga disepakati hari ini, maka Haris masih punya sedikit harapan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.
“Akhirnya kita bertemu, pewaris sihir timur klan Wei.” Seringai Chen Kho sembari menyapa pria tua yang enggan menyambut kedatangannya.
Haris tersenyum sinis kemudian membalikkan badannya menghadap Chen Kho, senyum sinisnya berubah menjadi senyum yang tenang. “Ya, senang bertemu denganmu penyihir penguasa kegelapan.”
***
Bersambung ....
Ya, akhirnya dua penyihir hebat itu bertemu. Kira-kira apa yang terjadi pada Haris? Bagaimana pula dengan Weini, Xiao Jun dan Lau?