OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 543 PELUKAN HARU



“Wah, Gong Zhu... anda benar benar wanita paling cantik yang pernah hamba lihat.” Dina terpekik saking histerisnya melihat wajah Weini yang sudah dipolesi makeup. Hampir tak bisa mengenali paras cantik gadis itu saking tebalnya makeup, namun tetap saja dalam dandanan yang sesuai adat pun Weini terlihat sangat cocok. Hanya saja memang ia terlihat lain dari biasanya, yang selama ini gemar merias wajah dengan sapuan makeup natural. Tapi tidak dengan hari ini, lain ceritanya ketika Weini akan menghadapi hari pertunangannya secara ritual dan sah di mata tetua serta kedua pihak keluarga.


Weini tak bisa memberikan tanggapan langsung atas pujian Dina yang blak-blakan. Wajahnya tengah sibuk dirias dan sebuah kuas lipstick tengah memolesi bibirnya menjadi merah menyala. Weini mematut pantulan wajahnya di cermin, ia bahkan perlu beberapa detik untuk mengenali dirinya saking sangat berbeda dari biasanya.


“Astaga, jadi tidak mirip aku.” Celetuk Weini saat penata rias menjauhkan kuas dari bibirnya.


Penata rias itu melihat Weini kemudian membungkuk hormat, “Anda terlihat sangat cantik Gong Zhu, pancaran kecantikan dalam diri anda terpancar jelas. Selamat untuk Gong Zhu yang akan menempuh hidup baru.” Gumam penata rias itu memberikan ucapan tulusnya.


Ucapan selamat itupun menyebar kepada yang lainnya, mereka mengikuti si penata rias dengan mencondongkan tubuh ke bawah serta mengucapkan selamat pada Weini. Balasannya hanya berupa anggukan pelan dan mantap dari Weini, bagaimanapun rupanya sekarang, asalkan hatinya senang saja sudah cukup.


Tim perias itu kembali menyelesaikan sedikit lagi campur tangan mereka untuk menyempurnakan penampilan Weini. Membubarkan diri dari hadapan Weini dan membentuk dua barisan di sisi kiri dan kanan sang nona penguasa. Semua pelayan bahkan Dina yang ada di sana tidak berani menatap langsung kepada Weini, saat gadis itu berdiri. Aturan yang mengharuskan mereka untuk tahu diri di saat-saat tertentu. Kini Weini berdiri penuh percaya diri, dengan setelan busana hanfu merahnya, berdiri dengan tangan yang berpose anggun dan saling mengatup bak seorang putri di jaman kuno. Ia menunggu dengan sabar kedatangan Liang Jia yang akan menjemputnya menemui Xiao Jun, jika rombongan pria itu telah tiba.


***


“Sudah... sudah, kalian sudah tampan, ayo waktunya hampir tiba. Kita harus berangkat dari sekarang.” Xin Er mengingatkan waktu kepada ayah dan anak yang masih sibuk membenarkan pakaian baru mereka. Wanita tua itu tidak habis pikir, justru di hari sepenting ini, Xiao Jun dan Haris malah lebih repot daripada kaum wanita. Terutama Xiao Jun yang tak henti berkaca sambil tersenyum dan Haris malah menanggapinya.


“Tuh dengar, ibumu sudah protes. Berhentilah bercermin atau ku retakkan cermin itu.” Ancam Haris sembari terkekeh melihat putranya yang masih belum percaya bahwa hari bahagianya sudah tiba. Sungguh-sungguh tiba untuknya, meskipun ini kali kedua Xiao Jun mengenakan pakaian adat pengantin ini, namun kejadian di masa lalu tidak bisa dianggap sebagai sebuah masa indah yang patut dibanggakan seperti sekarang. Akhinya Xiao Jun bisa mengeratkan hubungannya dengan Weini, mengenakan hanfu merah ini untuk gadis itu. Membayangkannya saja membuat Xiao Jun tidak henti tersenyum puas di depan cermin, terlihat imut dan menggemaskan.


“Jangan sembrono, ini hari baik, tidak boleh ada yang pecah. Semua kaca dan barang pecah belah bahkan sudah aku singkirkan. Aku harap akan pertanda baik di hari baikmu, nak. Maka itu, jangan terus berdiri di sini, sudah saatnya kamu menghampiri gadismu.” Ujar Xin Er penuh semangat, sebagai ibunya tentu Xin Er paham apa yang dirasakan Xiao Jun saat ini. Begitupun dengan dirinya yang sangat bersyukur dan bahagia bisa melihat Xiao Jun, putra satu satunya menikahi gadis yang ia cintai. Bersyukur karena pada akhirnya, setelah melewati banyaknya rintangan berliku, cinta Xiao Jun dan Weini lebih kuat dari perjodohan paksa di masa lalu.


Puas bercermin, Xiao Jun pun berbalik menghadap ibunya. Memberikan wanita yang telah melahirkannya itu senyuman terbaiknya hari ini. “Aku mengerti ibu, terima kasih sudah mengingatkanku. Semuanya sudah siap kan? Ayah, apa sudah boleh kita berangkat?”


Haris mengangguk mantap, “Sudah siap, kecuali kamu masih mau berkaca lagi.” Ledek Haris yang mendapat delikan dari istrinya.


“Ibu, terima kasih....” Hanya itu yang sanggup Xiao Jun katakan, tenggorokannya terasa serak, jika ia teruskan maka bisa dipastikan air mata akan turut mengambil porsi dalam suasana mengharukan ini.


Xin Er yang lebih perasa jelas sudah menitikkan air matanya, dengan lembut ia mengelus punggung kekar Xiao Jun, putranya yang semasa kecil tidak bisa ia dekap sedekat ini, kini telah menjadi pria dewasa yang akan mengemban tanggung jawab baru sebagai seorang suami. Kebanggaan yang luar biasa dirasakan oleh seorang ibu, namun ia segera mengusap air matanya, di hari baik ini Xin Er sudah bertekad untuk menyimpan air mata dan hanya ada tawa dan senyum yang melekat di wajahnya, tapi belum apa-apa ia sudah melanggar tekadnya.


“Sudah... jangan bikin riasan wajah ibu luntur, jarang-jarang loh ibu berdandan secantik itu.” Ujar Xin Er sambil menepuk agak kencang punggung putranya.


Haris yang melihat pelukan ibu dan anak itu pun terenyuh perasaannya, keluarga mereka yang sempat tercerai berai, haus kasih sayang, pada akhirnya bisa memenangkan kebahagiaan akhir ini. “Ibumu benar, dia tampil sangat cantik demi kamu. Bahkan rela bangun lebih awal agar bisa maksimal berdandan.” Ujar Haris sengaja membuat istri dan anaknya melirik ke arahnya. Ia tidak menduga bahwa Xiao Jun akan melirik serta berpaling padanya. Memberikan pelukan yang sangat erat, yang jarang dilakukan oleh seorang anak laki laki kepada ayahnya. Mereka menepiskan gengsi ataupun harga diri bahwa pria harus lebih meredam perasaan, karena mereka memang pantas menunjukkan betapa dalamnya kasih sayang satu sama lain.


“Ayah... terima kasih... sungguh terima kasih.” Lirih Xiao Jun, tangisnya malah luruh seketika dan terdengar nyata dari suara seraknya saat mengutarakan terima kasihnya. Pria tua yang sejak kecil ia cari, mengumpulkan segenap keberanian dan strateginya untuk mencari keberadaan ayahnya, hingga saat bertemupun belum bisa mengenalinya, sungguh Xiao Jun sudah mengalami rintangan panjang demi menemukan pria tua itu. Dan saat ini, ia berterima kasih kepadanya atas segala yang Haris berikan meskipun tidak tumbuh bersama.


Haris tak sanggup menahan diri, ternyata ia tidak sekokoh hati Xin Er yang masih kuat membatasi diri agar tidak menangis. Ia seorang pria tua yang selalu tenang, namun kali ini ia menitikkan air matanya. “Jun, ayah bangga padamu! Kamu... lebih hebat daripada ayah. Berbahagialah nak, bahagiakan wanita yang kamu cintai. Ayah dan ibu akan turut merasakan kebahagiaanmu.” Lirih Haris, perkataannya yang tulus menggetarkan hati Xiao Jun dan Xin Er, dengan satu tangannya, ia meraih Xin Er, membimbing wanita itu agar bersatu dalam pelukan erat mereka. Bertiga dalam sejenak, meleburkan rasa haru karena masing saling memiliki satu sama lain.


❤️❤️❤️


Akan tiba waktunya badai kehidupan berlalu


Akan datang masanya kuncup kebahagiaan bermekaran, menebarkan kelopak kebahagiaan yang abadi sepanjang masa


Dan itulah bunga kebahagiaan mereka yang mampu bertahan hingga di akhir perjuangan hidup