
“Ibu, istirahatlah, biar aku yang gantian menjaga ayah.”
Yue Fang membujuk Liang Jia lagi untuk tidur, sudah beberapa kali ia mengulang permintaannya lantaran khawatir melihat Liang Jia yang terus melamun dan sesekali menangis di samping Li San.
Liang Jia menggeleng lemah, ia menatap Yue Fang dengan tak bersemangat. “Ibu tidak lelah, jangan khawatirlah. Kamu jaga kesehatanmu, tidurlah dulu.”
Yue Fang menggeleng tegas, ia meraih tangan ibunya lalu menggenggamnya. “Ibu... Aku jauh lebih kuat dari ibu kalau soal begadang, ibu tidurlah. Besok bisa dilanjutkan jaga ayah, Fang tidak akan ikut campur besok asalkan sekarang ibu istirahat.”
Liang Jia tersenyum tipis lalu mengangguk, ia menuruti permintaan Yue Fang yang menuntunnya ke sofa
dalam ruangan itu. “Ibu, besok kak Yue Xin dan adik Yue Xiao akan pulang. Mereka juga khawatir dengan ayah.” Lirih Yue Fang.
Tatapan Liang Jia berbinar saat mendengar nama dua putrinya. “Ah... aku sampai melupakan mereka. Besok
adalah hari kunjungan Yue Xin setelah menikah, tapi ibu malah belum mempersiapkan apa-apa. Fang, kau pulanglah ke rumah dan suruh para pelayan menghias aula utama. Awasi mereka untuk persiapan dan minta mereka memasak sepuluh macam lauk besok.” Pinta Liang Jia sedikit gelagapan, ia melupakan hal penting putrinya karena seluruh perhatiannya tersita untuk Li San.
Yue Fang tersenyum tipis lalu duduk mendekati Liang Jia, “Ibu... tenang ya... Kak Yue Xin dan suaminya tahu kondisi ayah. Mereka memintaku untuk menyampaikan agar ibu tidak perlu repot melakukan penyambutan. Kakak Yue Xin dan kakak ipar akan langsung ke rumah sakit menemui ayah dan ibu.” Lirih Yue Fang.
Liang Jia terdiam, antara sedih, kecewa dan merasa lega, ekspresi wajah dan senyumnya sulit diartikan. “Ibu tidak tahu harus berbuat apa lagi, semua terjadi begitu mendadak. Rasanya seperti jatuh secara beruntun. Terus terang ibu tidak siap kehilangan ayahmu, tapi lihat keadaannya sekarang... Fang, beritahu kakak pertamamu agar segera pulang. Kita sebaiknya bersiap untuk kemungkinan terburuk.” Lirih Liang Jia pelan, ia menyeka air mata di ujung kelopak matanya.
Yue Fang memucat mendengar sikap pesimis Liang Jia, sebenarnya jika mau realistis, kondisi Li San memang jauh dari harapan sembuh. Dokter bahkan tidak bisa menjamin kapan ia akan sadar dari komanya, hidupnya hanya dibantu setumpuk alat, hanya ada dua kemungkinan antara ia bisa terbangun lagi atau tertidur selamanya.
“Baik ibu, aku akan hubungi kak Yue Yan.” Jawab Yue Fang lemah.
Liang jia perlahan berdiri, Yue Fang menuntunnya meskipun sebenarnya wanita tua itu masih cukup kuat. Ia hanya khawatir dengan mental Liang Jia yang sangat tertekan. Dua wanita itu menuju jendela kamar lalu Yue Fang menyibak tirai putih di hadapannya. Langit gelap malam ini menandakan mendung yang tidak berarti hujan. Liang Jia menatap ke atas gumpalan awan hitam di langit tanpa bintang itu.
“Ibu harap di manapun kamu berada, kamu selalu dilindungi, kamu harus selamat dan kembali pada kami, Yue Hwa.” Lirih Liang Jia memanjatkan doanya kepada langit, berharap doa tulus dari seorang ibu dapat terkabulkan.
***
Li An kembali tidur sekamar dengan suaminya, setelah diusir secara halus oleh Xin Er agar tidak bergumul dalam satu kamar dengannya. Cukup Li Mei dan bayinya yang menemani Xin Er hingga Haris kembali. Sepasang suami istri itu berbaring santai di ranjang, Li An menekan remote TV, mengganti channel yang menurutnya sangat membosankan.
“Huft... Tidak ada yang menyenangkan!” Gerutu Li An.
Wen Ting mengangkat satu alisnya, sedari tadi ia berusaha menghubungi co pilot yang berada dalam jet yang mengikuti Xiao Jun. Perhatiannya teralihkan sejenak oleh gerutuan Li An yang tampak bosan. “Bukan channelnya yang membosankan, tapi kamu yang tidak tenang. Apa yang membebanimu lagi sayang?” Tanya Wen Ting penuh perhatian.
Li An melirik suaminya, ia terkejut karena Wen Ting seperti bisa membaca isi hatinya. Sejak tadi ia gelisah karena tidak bisa menyembunyikan perasaan gundahnya. Ia mencemaskan Haris, Xiao Jun dan juga Weini, entah apa yang terjadi pada mereka. Entah berhasil atau tidak misi ayah dan adiknya. “Aku mencemaskan mereka, apa belum ada kabar sampai sekarang?” Tanya Li An menatap suaminya dengan mimik serius.
Wen Ting tersenyum tipis, ia pun mengelus pelan rambut Li An. “Aku tahu pikiranmu tidak tenang karena itu, aku sejak tadi berusaha menghubungi co pilotku. Sabarlah, aku pasti menghubungi mereka, bagaimanapun caranya.” Ujar Wen Ting kemudian kembali mengutak atik ponsel khusus untuk berkomunikasi dengan anak buahnya.
Wajah Wen Ting mengkerut, Li An yang melihat itupun bisa mengambil kesimpulan bahwa usaha suaminya belum berbuah hasil. Tetapi tidak lama kemudian, wajah Wen Ting berubah ekspresi, menyusul sebuah senyuman yang Li An hapal jika suaminya sedang senang.
“Halo... Bagaimana misinya?” Tanya Wen Ting penasaran.
“Bagus! Berapa lama lagi kira-kira kalian sampai?” Tanya Wen Ting lagi, pancaran wajahnya menandakan optimis yang besar. Li An cukup lega melihat raut wajah suaminya. Wen Ting mengangguk beberapa kali kemudian panggilan itu berakhir.
Li An menatap penuh binar, tanpa perlu berkata-kata ia yakin Wen Ting pasti akan menceritakan padanya. Dan benar, kini pria itu menatapnya lekat lalu tersenyum girang. Ia meraih kedua tangan Li An untuk digenggam.
“Mereka berhasil. Nona Li itu sudah diselamatkan!” Seru Wen Ting bahagia.
Li An begitu takjub hingga memamerkan sederet gigi putihnya, “Syukurlah, ini kabar yang ditunggu-tunggu. Kita harus segera memberi tahu ibu, ayo sayang!” Gumam Li An tak sabaran dan berdiri, ia menarik tangan Wen Ting yang menurut saja.
Sepasang suami istri itu berlari antusias di saat Lau yang sedang bersantai di ruang tengah menyaksikannya. Lau sedikit cemas dengan Li An yang hamil muda, namun sebelum ia menegur, untung saja Wen Ting sudah meminta istrinya agar berjalan pelan saja. Li An tertohok, ia memang belum terbiasa dengan kehamilan mudanya. Ia mendengarkan suaminya dan berjalan pelan menuju kamar Xin Er.
Li mei membukakan pintu setelah mendengar ketukan pelan, ia dan Xin Er memang belum tidur sejak tadi. “Adik, kamu belum tidur?”
Li An melewatkan basa-basi itu, dengan girang ia meraih tangan Li Mei lalu mengajaknya masuk. “Ada kabar baik yang tidak bisa aku tunda lagi, kakak... Ibu... akhirnya ayah berhasil. Ayah dan Jun berhasil menolong nona Li.” Seru Li An bahagia.
Xin Er beranjak dari ranjang lalu mendekati Li An, kabar seperti itulah yang ia nantikan. “Akhirnya... Syukurlah, kita bisa lega sedikit. Jadi kapan mereka sampai?” tanya Xin Er antusias.
“Anak buahku mengatakan kisaran dua jam lagi mereka akan sampai di sini, ibu.” Jawab Wen Ting senang.
Xin Er mengangguk, senyumnya begitu lepas dan bahagia. “Baiklah, kita harus menyiapkan sesuatu untuk menyambut mereka. Ah... Li Mei, bantu ibu untuk masak, mereka pasti lapar setelah perjalanan jauh.” Ajak Xin Er yang memerhatikan betul urusan perut.
Li Mei mengangguk patuh, lagipula anaknya sudah tertidur pulas.
“Aku bantuin juga, Bu.” Ujar Li An yang meminta jatah kerjaan.
Xin Er menggeleng pelan, tolakan halus itu dilayangkan untuk putrinya. “Kau harus banyak istirahat, sebaiknya kau kembali berbaring di kamarmu. Ibu dan Li Mei saja sudah cukup.”
“Tapi aku kuat, Bu. Aku tidak capek.” Tolak Li An yang masih berusaha ngeyel.
Tidak ada yang meladeni kemanjaan Li An lagi, Wen Ting segera ambil alih dengan menggandeng istrinya kembali ke kamar. Sementara itu Xin Er dan Li Mei melanjutkan rencana mereka menyiapkan masakan untuk menyambut orang-orang yang mereka cintai itu pulang.
***
Jet yang ditumpangi Xiao Jun dan yang lainnya tampak menurunkan ketinggian secara perlahan. Setelah berjam-jam terbang di atas lautan yang tak dikenali, akhirnya mereka melihat secercah harapan dengan terangnya lampu kota yang kerlap kerlip tampak seperti bintang dari atas udara.
Weini tertidur karena lelah, namun Xiao Jun terus terjaga di sampingnya. Ia melihat dari luar jendela, tempat yang semestinya mereka berada telah dekat. Xiao Jun pun kembali menatap wajah Weini yang cantik saat tertidur, perlahan ia membelai lembut rambutnya.
“Kita sudah kembali, sayang. Kali ini aku tidak akan pernah membiarkanmu tersakiti lagi.” Bisik Xiao Jun pelan di dekat telinga Weini.
***