OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 124 CINTA SANG KEKASIH ATAU NYAWA IBU



Dalam ruangan besar yang bisa menampung ratusan orang, hanya ada tiga orang penghuninya. Kesunyian di sana bahkan dapat memantulkan gema suara sepatu yang menginjak karpet merah. Hening menegangkan, sang penguasa duduk dengan wajah murka membidiknya lewat tatatap setajam mata elang. Tidak hanya dia, ada sepasang mata licik yang mengawasinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


“Xiao Jun memberi hormat pada ayah, semoga ayah panjang umur. Panjang umur…” Xiao Jun berlutut hormat, ia kembali pada istana yang dipenuhi aturan.


“Bangun dan berdiri di situ.” Perintah Li San tegas.


Xiao Jun berdiri tegak di tempatnya yang berjarak enam meter dari tempat duduk Li San. Ingin rasanya ia melampiaskan amarah pada Li San yang keterlaluan pada kedua ibunya. Untungnya ia berupaya menahan diri lebih sabar lagi dan melihat alur permainan sang penguasa.


“Jadi apa alasanmu sekarang? Mau mengelak bahwa kamu sudah sering berbohong?” Li San menyindir Xiao Jun, tanpa perlu kata pembuka ia langsung masuk ke inti permasalahan.


Xiao Jun setengah menunduk, aturan mengharuskan ia tidak boleh menatap tuan besar saat bicara serius apalagi menyangkut masalah besar. “Xiao Jun kurang mengerti maksud ayah, mohon dijelaskan kebohongan mana yang ayah maksud.”


Li San seketika itu juga melemparkan puluhan foto yang sejak kemarin membuatnya marah membabi buta. Hal itu juga yang ia lakukan saat membongkar kedok Liang Jia dan Xin Er. Foto-foto yang melayang jatuh berhamburan itu dipunguti Xiao Jun. Ia sungguh menyadari ada penyusup di sekitarnya hingga bisa memotret momen seprivasi itu.


“Kau masih mau berbohong? Waktu itu klien yang kamu bilang sakit hingga membatalkan pulang ke acara kakakmu adalah gadis itu kan? Dia bukan klien tapi teman dekatmu kan!” bentak Li San hingga beberapa kali terbatuk. Chen Kho dengan inisiatif tinggi langsung menuangkan air kepada pamannya.


Xiao Jun mengamati sikap Chen Kho, meskipun baru pertama kali bertemu tapi ia yakin pria ini adalah orang yang diceritakan oleh dua penjaga. Sekilas melihatnya saja Xiao Jun sudah bisa menebak ada sesuatu yang tidak baik yang disembunyikan dibalik sikap perhatian dari pria itu.


“Maaf ayah, saya tidak berani berbohong. Dia kekasihku, maaf belum mengenalkan padamu.” Akhirnya ia memilih menjawab apa adanya, cepat atau lambat pasti akan ketahuan jadi untuk apa ditutupi lagi.


“Lancang! Kau bukan tidak tahu aturan kita, siapapun yang menjadi pasangan keturunan Li bukan orang sembarangan. Apalagi kamu anak lelakiku satu-satunya, mana boleh wanita asing menjadi istrimu! Kalau kau memang sudah ingin menikah, aku akan mencarikan wanita yang pantas untukmu.”


Xiao Jun terkejut, mencarikan wanita berarti menjodohkannya secara paksa. “Ayah, tanpa bermaksud lancang. Saya mohon untuk urusan perasaan, biarkan saya yang menentukan. Selain itu saya bersedia patuh pada aturanmu.” Xiao Jun berlutut memohon pada Li San. Urusan ini akan panjang jika Li San bersikukuh pada


rencananya.


Chen Kho ikut tegang, kesan pertama yang ia dapatkan dari Xiao Jun adalah musuh yang tak bisa diremehkan, berkharisma dan paras yang rupawan, meskipun ia seorang pria namun Chen Kho tidak memungkirinya. Kecakapan Xiao Jun bertutur kata dan tindakan bisa mengambil simpati Li San, tidak heran jika pria pemarah itu bisa menyayanginya. Kini Xiao Jun mencoba negosiasi, Chen Kho serius menatap ekspresi Li San. Jangan sampai pamannya luluh dan memberi restu maka ia akan putar otak lagi memikirkan strategi lain.


“Sekarang katakan apa istimewanya gadis itu sampai layak mendapat pengakuanku?” tanya Li San, nada bicaranya mulai menurun.


Xiao Jun berpikir sejenak, ia belum begitu mengenal seluk beluk Weini selain marganya yang sama. Namun lebih baik ia coba katakan apa adanya ketimbang membumbui secara berlebihan hingga suatu saat kedoknya terbongkar dan menimbulkan masalah baru.


“Dia cantik, gadis yang mandiri, tegas, lincah, mahir kungfu. Dia berprofesi sebagai selebriti dan sangat terkenal di negaranya.” Xiao Jun berhenti mendeskripsikan Weini, ia berpikir hal positif apalagi yang belum diungkapkan.


“Dia wanita penghibur?” Li San salah tangkap, ia paling anti dengan orang dari yang berprofesi di dunia hiburan dan celakanya Xiao Jun terlibat dengan wanita seperti itu. Dalam pikiran Li San, wanita itu pasti hanya mengincar uang dan kekuasaan Xiao Jun serta memanfaatkan Xiao Jun untuk mendongkrak pamornya.


“Apapun itu, dia tetap berurusan dengan dunia hiburan. Lalu siapa orangtuanya? Apa profesinya?” Li San masih ingin tahu seperti apa wanita yang berhasil mendapatkan tempat spesial di hati Xiao Jun.


Pertanyaan yang semakin berat, andai Xiao Jun lebih mengenal Haris dan Weini mungkin tidak ada kesulitan untuk menjawab itu. “Ayahnya… dia guru kursus bahasa Mandarin, tapi dia sangat berwibawa dan baik. Aku belum tahu nama lengkapnya, tapi kekasihku bernama Li Wei Ni. Marganya sama denganku ayah.”


Chen Kho merasakan debaran yang mengejutkan lagi, Xiao Jun betul betul penuh kejutan. Seorang anak klan Li palsu menemukan calon pendamping dari klan Li lainnya, seperti sebuah alur yang sudah diatur. Ini bukan lagi disebut kebetulan, Xiao Jun benar-benar dilimpahi keberuntungan andai ia bisa meyakinkan Li San.


“Putri dari Klan Li negara Indonesia. Hmm… seperti bertemu saudara di belahan dunia lain.” Li San tampak berpikir dan disalah artikan oleh Xiao Jun. Dikiranya sang ayah akan menyetujui hubungan ini dan masalah ini dianggap kesalahpahaman saja.


“Benar ayah.” Ujar Xiao Jun singkat.


“Tapi itu tidak cukup untuk menyandingi martabat kita. Kamu harus punya pasangan yang sepadan dan pantas menjadi nyonya penerus klan Li.” Lanjut Li San kembali tegas.


Dunia seakan runtuh kala mendengar pernyataan itu, Xiao Jun mengira respon baik Li San akan berujung pada penolakan tegas. “Maaf ayah, saya menolak dijodohkan. Mohon jangan mempersulit posisi saya sebagai anak. Bukan bermaksud durhaka, tapi urusan perasaan mohon ayah tidak paksakan.”


“Tapi kamu tidak punya hak menolak. Setiap anakku sudah diaturkan jodohnya. Suka tidak suka, itu urusanmu. Kau akan kujodohkan dengan Grace Li, dia putri terhormat keturunan Li. Tetap tinggal di sini sampai urusan perjodohan selesai.” Li San bersiap bangkit meninggalkan aula, ia enggan melihat raut pemberontakan dari Xiao Jun.


Chen Kho tersenyum puas, tanpa perlu campur tangannya pun Li San sudah mengambil keputusan sesuai kehendaknya. Ia masih betah duduk melihat mimik kehancuran Xiao Jun.


“Apa ayah pantas mengancamku? Jika aku menolak lantas ayah mau apa? Membunuhku? Membunuh ibuku?” Xiao Jun melontarkan perlawanan, teriakan lantangnya membuat Li San membalikkan badan dan turun menghampirinya.


Li San mengangkat tangannya, nyaris menampar wajah Xiao Jun. Beruntung gerakan kasar itu berhenti saat sejengkal lagi mendarat di pipi. “Lancang! Aku tidak pernah mengajarkanmu membangkang. Kau menyalahkanku atau balik mengancamku? Nyawa kalian sejak dulu ada dalam genggamanku, jangan buat aku mencekik kalian dengan kedua tanganku.”


Xiao Jun tidak gentar, ia dengan lantang beradu tatap dengan Li San. “Kenapa tidak sejak dulu menghabisi kami? Aku selalu menurutimu, tapi pernahkan kau pikirkan aku? ku patuhi segala aturanmu dengan harapan kau memperlakukan ibuku lebih baik dari sekedar pembantu, tapi justru kau menghukumnya dengan keji. Ibuku sudah


tua, ia tidak akan bertahan lama jika kau terus mengurungnya. Lalu untuk apa aku menuruti seorang pemimpin yang tidak memegang janjinya?”


Li San tertawa, gertakan Xiao Jun terdengar konyol. Anak kemarin sore yang ia pungut dan jadikan putra mahkota kini berbalik menggertaknya. Ternyata Kao Jing benar, sebaik apapun ia memperlakukannya, di mata Xiao Jun ia tetap tidak sebanding dengan orangtua kandungnya.


“Jika kau sadar ibumu sudah tua dan mungkin akan mati dalam penjara, maka menurut saja. Kau bisa memilih, antara cinta kekasihmu atau nyawa ibumu.”


Li San enggan memperpanjang perdebatan, ditinggalkannya Xiao Jun yang masih berdiri tegang. Sementara itu Chen Kho tak ingin ketinggalan, ia mengekori Li San dan lewat dengan senyum puas saat berpapasan dengan Xiao Jun.


***