
Semua pekerja di kediaman Li disibukkan dengan persiapan pernikahan Yue Yan, meskipun masih dua minggu lagi menjelang hari H. Li San memberi kebebasan pada putrinya untuk memilih segala yang terbaik untuk pestanya, mulai dari dekorasi, tema, WO, make up artis terpopuler di Hongkong, catering serta bebas mengundang siapapun yang ia suka. Resepsinya diprediksi menjadi pernikahan termewah dan berpengaruh dalam negerinya.
“Jangan warna pink, aku tidak suka nuansa feminim. Ganti dengan warna cerah merah dan kuning.” Yue Yan mengomentari rancangan dekorasi yang dikonsultasikan dengannya. Ia memilih desain oriental modern yang lebih
kekinian.
“Nona, di luar ada beberapa wartawan yang menunggu anda untuk wawancara.” Seorang pengawal mendekati Yue Yan dan memberi laporan.
“Suruh mereka tunggu.” Yue Yan masih antusias membahas dekorasi serta souvenir pernikahan.
Pengawal itu undur diri darih hadapan Yue Yan lalu berpapasan dengan Yue Fang yang datang mencari kakaknya.
“Adik, kebetulan kau hadir. Bantu aku memilih souvenir yang terbagus.” Pinta Yue Yan saat melihat adik keduanya.
“Baik kak.” Yue Fang melihat dengan detail foto-foto sampel dari album yang disodorkan seorang kru WO.
Selang lima belas menit, urusan itu selesai diperbincangkan. Yue Yan menarik napas lega,
“Terima kasih Fang, kamu memang adikku yang paling mengenalku. Selera kita juga sama, aku sangat terbantu.”
Yue Fang berekspresi murung, “Itulah gunanya saudara. Sebentar lagi kakak akan diboyong keluar dari rumah ini. Aku pasti sangat kesepian nantinya.”
“Jangan begitu, masih ada Yue Xin dan Yue Xiao di sini. Kalian yang akur ya!” Yue Yan mengelus rambut Yue Fang penuh kasih. tumbuh besar bersama dan harus terpisah tentu sulit diterima bagi adiknya yang berperasaan halus itu.
“Kakak kan tahu aku kurang cocok dengan mereka. Kak, nanti bawa aku ke tempat kakak aja ya, aku janji nggak akan merepotkan keluarga Wang. Aku akan menemanimu di kediaman Wang. Atau… atau kak tolong bujuk ayah
untuk mengijinkanku kembali ke Amerika. Aku bisa gila mendekam di sini seperti tahanan rumah.” rengek Yue Fang manja.
“Membawamu ke tempat suami yang baru kunikahi akan terlihat tidak sopan, sedangkan membujuk ayah juga mustahil. Kamu kenal ayah kita yang hatinya sekeras batu. Tenanglah, kalau sudah giliranmu menikah, kamu
akan bebas dari kekangan ayah.” Yue Yan menghibur Yue Fang.
“Lebih baik temani aku menghadapi wartawan di luar. Kamu kan tahu aku tidak suka sorotan media.” Yue Yan menarik Yue Fang menemani sesi interviewnya.
Lampu flash dari kamera para reporter menyilaukan penglihatan, Yue Yan berusaha menebar senyum ramah. Sementara Yue Fang terlihat santai, ia memang suka menjadi pusat perhatian.
“Selamat siang rekan pers, terima kasih bersedia menunggu kesiapan nona Yue Yan. Sebelum sesi wawancara dimulai, kami minta kalian untuk tidak bertanya di luar topik pernikahan. Dikarenakan kesibukan nona Yue Yan maka kami hanya memberikan waktu 15 menit.” Ujar juru bicara keluarga Li kepada sekelompok wartawan yang sudah tak sabar menodong pertanyaan pada nona besar yang tersohor dari keluarga Li yang akan menikahi anak
konglomerat dari kota Shanghai.
“Selamat atas rencana pernikahan anda dengan tuan Wang. Bagaimana persiapan nona untuk pesta?” tanya seorang wartawan pria.
“Terima kasih. Persiapan kami sudah 90 persen, mohon doanya supaya lancar sampai hari H.” jawab Yue Yan ramah.
“Nona, bagaimana dengan rencana bulan madu?”
“Ah… kami rencananya akan keliling Negara Eropa hingga dua bulan.” Yue Yan malu-malu menjawabnya.
“Nona, apakah anda merasa sedih mengingat adik bungsu anda yang tidak melihat anda menikah?” tanya
seorang reporter wanita dengan berani.
Seketika ruangan yang semula bersuasana hangat itu membisu hening. Yue Yan dan Yue Fang saling
berpandangan, mereka tidak tahu harus berkata apa.
“Nona, anda lancang! Kami sudah jelaskan di awal peraturan wawancara ini.” Pekik juru bicara keluarga Li
sembari menunjuk reporter bernyali besar itu.
“Ma maaf.” Reporter itu ketakutan.
hendak meninggalkan sejumlah wartawan yang belum puas. Penantian mereka yang sekian lama berakhir dengan dua pertanyaan saja.
Reporter wanita itu mendapat sorakan dari semua rekan seprofesinya. Ia terpukul dengan dampak sosial itu padahal ia berencana mendapat berita yang lebih ekslusif ketimbang hanya membahas persiapan pernikahan yang umum.
Sepasang mata tajam melototi reporter wanita itu seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. Si pemilik mata mengkode kepada beberapa pengawal dengan bahasa isyarat yang hanya dimengerti bawahan Li San. Habisi dia!
***
Seluruh karyawan PH Multi Utama luar biasa sibuk hingga melewatkan jam makan siang begitu saja. Semua
dikarenakan jadwal kedatangan bintang tamu spesial dalam proyek sinetron yang dibintangi Stevan dan Weini. Sang artis papan atas itu mempunyai banyak permintaan layaknya putri raja, dengan mengandalkan kekuatan orang belakang ia merasa yang paling penting dan harus dilayani dengan baik.
“Cepat, rapikan ruangan khusus untuk Lisa di room VVIP. Tempelkan wall sticker dusty pink polos di seluruh dinding.”
Beberapa kru berkejaran menyelesaikan request dadakan itu. banyak terdengar keluhan bahkan sumpah
serapah untuk Lisa yang membuat pekerjaan rutin mereka tertunda demi memuaskan kepentingan pribadinya.
“Rempongnya kayak pindah rumah.” komen Dina yang tugasnya hanya mengurus Weini sehingga ia tidak
perlu ikutan sibuk seperti dikejar hantu.
“Jangan keras-keras kak, bukan urusan kita juga kan.” Seru Dina.
Tanpa sepengetahuan Dina dan Weini, pembicaraan mereka didengar oleh Lisa dan Metta yang barusan
menginjakkan kaki di ruang yang sama.
“Urusan gue juga bakal jadi urusan lu selama gue di sini. Apa kabar anak baru? Kita kelarkan urusan yang belum tuntas di masa lalu!” Lisa dengan angkuh mengancam Weini.
“Kabar baik kak Lisa. Lama tidak jumpa, sebaiknya tidak membahas masalah dulu.” Ujar Weini yang bereaksi
santai. Ia sama sekali tak takut dengan gertakan Lisa.
“Selama gue di sini, nggak bakal mudah buat lu. Mau coba redupin popularitas gue? Lu kayaknya perlu belajar 50 tahun dulu itupun sebelum keburu keriputan hahaha.” Cecar Lisa dengan ketawa maksa, Metta yang berdiri di sampingnya juga ikut terbahak meski tidak merasa ada yang lucu.
Weini melihat Metta dengan heran, tampaknya ia menjadi kaki tangan Lisa atau mungkin asistennya. Gadis kaya dan angkuh itu kenapa mau menjadi pesuruh seorang artis?
“Ahahaha non Lisa pasti lelah, sepertinya ruangan non udah beres. Istirahat dulu deh, ntar syutingnya lama loh.” Ujar Dina mencairkan suasana.
“Siapa lu? Owh… jangan bilang lu asisten si anak baru! Mau banget ikut artis yang lagi manjat popularitas. Emang sanggup dia gaji lu? Mending ikut gue aja, 25 juta gue gaji perbulan.” Ujar Lisa, semua yang dimiliki Weini hendak ia rebut.
“Sebagai tuan rumah yang baik, kami menyambut tamu dengan segala tuntutannya. Dan sebagai tamu yang
baik juga sebaiknya perlihatkan sopan santun dan tidak terlampau lancang kak Lisa.” Sindir Weini dengan tenang.
“Lu berani ya ngatain gue gak sopan!” Lisa hendak menampar Weini tapi tangannya ditangkap oleh Weini.
cengkeraman Weini yang kuat itu membuat Lisa terpekik sakit.
“Tuan rumah yang baik tidak akan membiarkan tamunya menginjak kepalanya.” Weini menghempaskan tangan
Lisa, jika tidak ditahan Metta mungkin Lisa sudah tersungkur jatuh.
“Ke ruang make up yuk Kak Dina!” Weini dan Dina melenggang pergi dengan membawa kemenangan telak.
***