
Perjalanan kurang lebih empat jam yang ditempuh Weini beserta rombongan keluarganya akhirnya berhenti dengan pendaratan sempurna jet Xiao Jun di atap apartemen. Semua penumpang terlihat bersemangat, terutama Dina, Liang Jia dan Fang Fang. Sudah jelas kalau Dina akan bersemangat karena ia tak sabar lagi merecoki sepasang calon pengantin, sedangkan Liang Jia dan Fang Fang jelas karena mereka baru pertama kali datang ke negara ini.
“Ibu, kita sudah bisa turun sekarang.” Ajak Weini kepada Liang Jia yang menatap ke luar jendela dengan senyuman lebar. Ia memandangi Weini dan menyuguhkan senyuman yang sama. Laing Jia berdiri dari kursinya, disusul Yue Fang yang duduk di kursi belakang.
Dina mengambil barisan pertama bersama Ming Ming, ia harus turun dulu dan memberi jalan pada tuan dan nonanya. Kesempatan itulah yang ia gunakan untuk menebar senyum lebar pada Grace dan Fang Fang yang menjemput mereka. Grace masih dalam masa pingit dan ia tidak bisa bertemu calon pengantin prianya sampai hari pernikahan. Nanti malam ada syukuran kecil-kecilan yang Grace lakukan untuk malam melepas lajang. Dan ia sangat bahagia karena ada Weini dan Dina yang melengkapi kebahagiaannya.
Dina melambaikan tangan sembari memainkan alisnya naik turun, senyumnya tak lepas mengukir lekuk bibirnya dan ia langsung menghentikan sikap jaimnya saat sampai di hadapan Grace dan Fang Fang. Sepasang tangannya langsung mendekap erat dua gadis itu. “Aku kangen guys, kalian kangen nggak sama aku?” Tanya Dina penuh harap mendapatkan balasan perasaan yang sama.
“Nggak.” Jawab Grace dan Fang Fang dengan kompak, sontak membuat senyum Dina menciut total. Fang Fang dan Grace menahan tawa geli mereka saat melihat ekspresi kesal Dina.
“Serius kalian nggak kangen? Huh... ya sudah, nggak jadi kasih oleh oleh.” Gerutu Dina sembari melirik dua gadis itu dengan bibir monyongnya.
Grace terkekeh, tak tahan lagi meneruskan candaannya. “Tentu saja aku kangen, jangan lupa oleh olehnya nanti. Tapi sekarang lebih baik kamu bersiap menyambut Yue Hwa. Lihat mereka sudah mulai turun.” Ujar Grace mengingatkan Dina pada tugasnya.
Dina terkesiap, baru tersadarkan bahwa kedatangannya kali ini bersama nyonya besar dan ia tidak bisa seenaknya walau di negara asalnya. Dina kembali berlari menghampiri Ming Ming yang berdiri setengah membungkuk, bersiap menyambut Liang Jia dan Weini turun. Ia pun langsung berposisi seperti kekasihnya dari barisan di sisinya.
Tak jauh dari sana, ada Kao Jing yang juga turut hadir menyambut kedatangan adik iparnya. Sejak pemakaman Li San, itulah terakhir Kao Jing melihat Liang Jia. Wanita itu tidak muncul saat kepergian Kao Jing ke Jakarta, dan Kao Jing yakin adik iparnya masih menyimpan kemarahan terhadapnya. Kini ia melihat Liang Jia turun dari jet, beberapa lama tidak bertemu, Kao Jing bisa melihat wanita itu bertambah segar dan raut wajahnya terlihat bahagia. Tanpa Kao Jing sadari, ia pun tersenyum melihat kondisi Liang Jia yang saat ini.
“Selamat datang di Jakarta, ibu... kakak.” Gumam Weini girang, akhirnya bisa memboyong dua orang tercintanya untuk merasakan udara di ibukota tempat ia dibesarkan.
“Aku tidak sabar jalan-jalan Hwa, kalau sduah ada waktu, kita keliling kota ya.” Pinta Yue Fang yang tak kalah antusias.
Liang Jia hanya senyum saja menanggapi obrolan kedua putrinya, fokusnya lebih tertuju pada tangga yang diinjaknya hingga di tangga terakhir, sepasang kakinya sudah menapak di daratan. Liang Jia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tak menggubris Haris, Xin Er yang ada di jet yang satunya dan belum mendarat. Pasangan suami istri itu memilih satu pesawat dengan Li An, dan Liang Jia jelas tidak keberatan.
Kao Jing tidak mengalihkan pandangannya hingga bersitatap dengan Liang Jia yang terkejut mendapati keberadaannya. Ia melihat jelas bagaimana Liang Jia kehilangan senyuman dan gurat wajahnya berubah serius saat mengetahui kehadiran Kao Jing. Pria tua itu menawarkan senyuman hangat yang langsung dibalas dengan buang muka oleh Liang Jiang.
“Hwa, ibu lupa memberitahumu kalau ibu tidak mau dijemput oleh orang itu.” sergah Liang Jia yang setengah berbisik kepada dua putrinya.
Weini langsung tanggap dan merasa serba salah, ia memandangi sejenak pada Xiao Jun yang berdiri di sampingnya. Tak mengira situasinya jadi serunyam ini. Xiao Jun mengangguk pada Weini, memberitahunya bahwa ia akan mencoba mengendalikan situasi. Ia berjalan lebih dulu menghampiri Kao Jing dan mengajak pria tua itu masuk bersama.
“Ibu, maafkan Hwa, kita bisa lanjut masuk sekarang. Sebaiknya kita istirahat dulu di apartemen.” Ajak Weini lembut sambil melirik ke arah Yue Fang, berharap kakaknya membantu membujuk ibu mereka.
“Iya ibu, mari sama Fang juga.” Ujar Yue Fang.
Liang Jia belum berkenan meneruskan langkah kakinya, ia tidak mengira moodnya akan rusak hanya melihat Kao Jing. Tak menyangka bahwa hati yang sudah ia siapkan untuk bertemu pria itu ternyata belum bisa dipaksakan. Waktu belum cukup menyembuhkan luka hatinya atas kehilangan Li San yang disebabkan olehnya. Liang Jia jelas tahu bahwa pertemuan ini tidak terhindarkan, apalagi ia hadir khusus untuk menghadiri pernikahan Grace. Meskipun tidak memendam perasaan apapun pada Garce, tetap saja ia merasa belum siap berhadapan langsung dengan pria yang telah membuat petaka dalam keluarganya.
“Ibu tidak mau serumah dengan dia, Hwa.” Tegas Liang Jia yang suaranya terdengar oleh Grace pula. Membuat gadis itu semakin serba salah dan hendak menangis rasanya.
Weini menghela napas, ia harus menguasai masalah ini secepatnya, apalagi saat melihat sikap Grace yang tertekan, membuat Weini semakin tak tenang. “Kita tinggal di unit yang berbeda, Hwa pastikan ibu tidak akan bertemu dengannya. Mari, kita masuk dulu.” Ajak Weini, Liang Jia pun bersedia ikut setelah mendengar jawaban Weini.
Saat berpapasan, Weini melirik sejenak pada Grace yang juga meliriknya. Dari sorot matanya, tampak bahwa Weini berusaha menenangkan sepupunya. Meminta Grace untuk sabar dan tidak mengambil hati atas sikap ibunya. Weini, Liang Jia dan Yue Fag pun berlalu dari sana.
“Non Weini bilang tenang saja, ia pasti bisa mengatasinya. Beri ia waktu.” Ujar Dina yang berlaku sebagai juru bicara nonanya. Ia mengatar kepergian Weini dengan ekro matanya, sedangkan Ming Ming sungguh mengawalnya.
“Dari mana kamu tahu Din?” tanya Garce terheran karena sepengatahuannya, Weini sama sekali tidak bersuara pada Dina.
Dina nyengir sambil memamerkan kesombongannya, “Jelas tahu lah, aku kan tangan kanan non Weini. Ini pelajaran dari bibi Gu loh, bagaimana membaca situasi dan keinginan majikan dengan bahasa isyarat. Kamu pasti nggak dapat pelajaran itu kan? Kamu tukang bolos sih waktu diajarin bibi Gu.” Celoteh Dina menggoda Grace. Sontak raut tegang Grace berubah keki, melihat Dina yang sudah berani pamer kemampuan dan tengah meledeknya.
“Yang benar saja ada pelajaran seperti itu? Ah tentu saja aku tidak diajari, aku kan dididik jadi nona terhormat. Dan kamu... jadi pelayan yang baik ha ha ha... aku menang status darimu, Din.” Kilah Grace terkekeh, sekejab rasa sedih dan serba salahnya lenyap berkat Dina.
Dina bersyukur dalam hatinya, bisa mengalihkan pikiran Grace dengan candaannya. “Enak saja, itu juga dipelajari para nona. Kamu saja yang tukang bolos, dasar nggak niat belajar!”
Dan ketiga gadis itu terkekeh, berjalan sambil merangkul satu sama lain meninggalkan atap.
❤️❤️❤️