
Punggung tegap Li San yang semakin menjauh meninggalkan keputusan sepihak yang menyakitkan banyak hati. Xiao Jun mengepalkan kedua tangan, saking kencangnya hingga kedua tangan gemetar. Andai menuruti kata hati dengan mengesampingkan tata krama, ingin rasanya Xiao Jun melayangkan baku hantam pada pria yang sudah
memecah belah keluarganya serta hendak memisahkannya dengan orang yang ia cintai.
“Tunggu! Kalau mau mengekangku, lebih baik jebloskan aku ke penjara bersama ibuku!”
Teriak Xiao Jun menghentikan langkah Li San.
Pria tua itu membalikkan badan, tatapan nanarnya tajam melototi Xiao Jun. Bukannya takut, Xiao Jun justru membalas tatapan itu sehingga Li San bertambah kecewa atas kelancangan putra kesayangannya.
“Lancang! Apa hakmu mengaturku. Pengawal, kurung tuan muda di paviliunnya. Sita semua alat komunikasinya, Jangan ijinkan siapapun menemuinya tanpa seijinku!” Pekik Li San memerintah empat pengawal dalam aula agar segera bertindak.
“Ayah, kau sita ponselku sama saja menghancurkan bisnismu. Aku harus menghubungi Lau untuk mengontrol perusahaan.” Cecar Xiao Jun, Li San semakin keterlaluan. ia bukan saja tidak bisa menghubungi Lau, namun Weini pun akan sulit berkomunikasi apabila ponselnya jatuh ke tangan Li San.
Tanpa Xiao Jun sadari, ia mengingatkan Li San pada Lau yang terlewatkan. Semua ulah Xiao Jun tentu berkat dukungan pengawal setianya. “Oh… Aku hampir melupakan pengawal tak berguna itu. Dia membantumu urus bisnis atau urus wanita? Pengawal, utus beberapa orang ke Jakarta, tangkap Lau dan jebloskan ke penjara. Chen Kho, kirimkan beberapa stafmu ke sana biar mereka yang handel perusahaan mulai sekarang.”
Chen Kho tersenyum puas, “Baik paman.”
Kesabaran Xiao Jun habis, ia tersulut emosi karena keputusan Li San. “Kau sungguh tak punya hati. Bunuh saja aku, jangan sakiti Lau.”
Li San tak peduli, diangkatnya satu tangan sebagai isyarat agar pengawal menjalankan tugasnya.
“Jangan ada yang mendekat, aku tak segan melawan kalian!” Ancam Xiao Jun, ia bersiaga melakukan perlawanan ketika ke-empat pria berotot kekar itu hendak membawanya.
Chen Kho kecewa dengan sikap murah hati Li San, sudah jelas Xiao Jun terus mengekang namun pamannya tetap memberi pengampunan. “Paman, dia perlu diberi pelajaran. Lihat betapa lancangnya dia berani mengancammu.”
Li San terdiam, perkataan Chen Kho sangat provokatif namun realistis. Li San masih berusaha mengabaikannya, hati kecilnya masih berusaha mengampuni Xiao Jun.
Dua orang pengawal memegang lengan Xiao Jun namun saat itupula Xiao Jun mengelak. Ia pasang badan siap menyerang empat pria kekar itu sekaligus hingga membuat anak buah Li San itu bingung. Tanpa komando dari pemimpin, mereka tidak berani bertindak lebih lanjut dan takut melukai tuan muda.
“Tangkap dia!” Li San mengeluarkan ultimatum hingga semua pengawal langsung menyerbu Xiao Jun.
Xiao Jun menangkis setiap jurus serangan para body guard terlatih itu. Gerak lincahnya mengguncang Li San, setahunya Xiao Jun tidak fasih bela diri tetapi nyatanya begitu lihay melawan pengawal terlatih. Sejak kapan anak lelakinya belajar kungfu? Apa mungkin Lau yang mengajari tanpa seijinnya?
“Berhenti! Jangan salahkan aku jika kalian mati!” bentak Xiao Jun, ia tidak bersungguh-sungguh menyerang agar tidak melukai lawan namun jika masih diteruskan maka ia tidak menjamin akan terus mengalah.
Dua pengawal tumbang tak sadarkan diri ketika Xiao Jun melumpuhkan saraf kesadarannya. Melihat rekannya terkalahkan justru memicu kegeraman dua pengawal lainnya, pertikaian sengit itu terjadi di depan mata Li San. Betapa terkejutnya ia telah meremehkan kemampuan Xiao Jun selama ini, jika dua pengawalnya terkalahkan juga maka tidak menutup kemungkinan Xiao Jun akan menyerangnya bahkan mungkin akan membawa ibunya kabur.
Seorang pengawal terpicu kemarahan lalu melayangkan golok ke arah Xiao Jun, spontan Li San terkejut hingga terduduk di tempatnya berdiri. Chen Kho menyanggah tubuh Li San sembari mengamati gerak gerik Xiao Jun yang kian liar menyerang. Kini tersisa satu pengawal, perkelahian yang seimbang satu lawan satu. Xiao Jun meraih golok
milik salah satu pengawal yang ia kalahkan dari lantai lalu mengayunkannya untuk menangkis serangan. Kekuatan musuhnya cukup kuat dan tak bisa diremehkan Xiao Jun.
Gerakan melompat dan berlari dari setiap jurus serangan mengakibatkan banyak property dalam aula hancur berantakan. Xiao Jun masih menangkis golok yang siap menghantam tubuhnya bila ia lengah, pengawal itu terlalu ganas hingga perkelahian kian memanas. Tiada ampun yang diberikan untuknya, Xiao Jun kecewa pada Li San yang tega membiarkan pengawal menghabisinya. Kekecewaan itu meluap menjadi energi ekstra untuk menyerang lawan, ketika Xiao Jun tersungkur jatuh, musuh melihatnya sebagai peluang besar dan langsung mengayunkan golok ke arah dada Xiao Jun.
“Tidaakkk!” teriak Li San histeris, ia tidak mau pertumpahan darah putranya terjadi di depan mata kepalanya.
Pengawal itu menghentikan aksinya saat mendengar perintah Li San dan saat lengah itulah digunakan Xiao Jun untuk menumbangkannya dalam sekali tendangan. Pria malang itu meronta sembari memegang perutnya yang kesakitan. Xiao Jun berdiri menatap Li San yang masih terduduk shock, “Ini yang ayah mau? Menyelesaikan semua yang bertentangan denganmu dengan kekerasan?”
“Kau…” Li San tak sanggup meneruskan, telunjuknya masih tertuju pada Xiao Jun yang berdiri mematung.
Li San kian Shock, semua anak muda yang ia kira polos akan ilmu kungfu rupanya menyembunyikan kemampuan. Ia tak menyangka Chen Kho berani menghajar Xiao Jun tanpa persetujuannya. “Hentikan! Jangan pukul dia lagi!” teriak Li San melerai perkelahian dua pemuda yang tak lagi bersedia mendengar perintahnya.
Xiao Jun melompat dari belakang Chen Kho, berusaha menyerang titik kesadarannya namun ia salah perhitungan lantaran Chen Kho lebih gesit berbalik badan lalu menotok dada Xiao Jun. Kekasih Weini itu terkejut dan memegang dadanya yang bekas ditikam jari musuh, dalam hitungan detik Xiao Jun terhuyung dan jatuh tak
sadarkan diri. Ia menyodorkan diri untuk dikalahkan dengan mudahnya, segala perlawanannya berujung sia-sia.
“Xiao Junku…” Li San berlari mendekati Xiao Jun yang lunglai, dipeluknya tubuh tak berdaya itu dengan pekikan yang melengking.
“Kau! Kurang ajar! Kau apa kan anakku!” bentak Li San pada Chen Kho yang berkacak pinggang tanpa rasa bersalah.
“Paman tidak perlu cemas, aku hanya membantumu menaklukkannya. Dia hanya kubuat pingsan, satu jam lagi juga siuman.” Ujar Chen Kho kalem.
Li San mulai tenang setidaknya Xiao Jun tidak kehilangan nyawa. Ditatapnya wajah teduh Xiao Jun yang terpejam dalam pelukannya, anak lelaki yang dulu ia kenal saat berusia tujuh tahun, bocah pemberani yang meluluhkan hatinya, Li San sungguh menyayanginya.
“Sebelum dia sadarkan diri lebih baik paman mengamankan dia. Aku pamit dulu.” Chen Kho berusaha cuci tangan atas tindakan semena-mena yang ia lakukan.
Li San menatap gerak gerik Chen Kho yang tergesa-gesa, “Tunggu! Aku tidak membenarkan tindakanmu meskipun niatmu membantuku.”
Chen Kho tertahan melangkah, ia mengambil sikap hormat seakan tunduk pada pamannya. “Chen Kho mohon maaf kepada paman. Chen Kho bersedia dihukum atas kesalahan ini.” Ucapan yang tidak sesuai dengan kata hati, ia mengumpat Li San dalam hati. Tidak tahu terima kasih, paman tua itu malah mau menyalahkanku. Berani memberiku hukuman maka kulaporkan pada ayah. Tunggu pembalasanku Xiao Jun, ini semua karena kamu.
Li San mengurungkan niatnya untuk marah, ini bukan waktu yang tepat memperpanjang masalah. “Sudahlah, kali ini aku maafkan. Jangan ulangi lagi, kau tidak boleh bertindak sesukamu tanpa ijinku!”
Chen Kho menunduk berterima kasih atas pengampunan itu, dalam sikap hormat yang ia berikan nyatanya hanya kedok untuk menutupi senyum sinisnya. “Aku undur diri dulu paman, ada rapat yang harus kuhadiri pagi ini.”
Ia berlalu penuh kemenangan, semua berjalan sesuai skenarionya. Naga yang ditakutkan sudah berhasil dikandang, Xiao Jun memang beruntung namun Chen Kho merasa ia jauh lebih beruntung terlebih ketika perjodohan itu berhasil. Saat itu terjadi, ia akan menjadi sang pengendali naga dan seluruh kekuasaan ada pada
genggamannya.
Li San menatap Xiao Jun dengan cemas, Chen Kho sempat menciderai kepalanya sebelum ia dibuat pingsan. Apa ia bisa percaya begitu saja bahwa Xiao Jun baik-baik saja?
“Pengawal, bawa tuan muda istirahat ke kamarnya dan panggilkan dokter Chen untuk memeriksanya.” Teriak Li San memanggil para pengawal yang sudah memadati aula pasca Xiao Jun dikalahkan.
***
PERTANYAAN UNTUK PEMBACA SETIA OPEN YOUR MASK, PRINCES!
Jika kamu menjadi Xiao Jun, apa yang akan kamu lakukan ketika hubungan tidak direstui Li San?
A. Mengajak Weini nikah lari dan melepaskan diri dari klan Li.
B. Mengancam Li San dengan alasan akan menghancurkan bisnisnya sebagai barter agar direstui.
C. Menuruti perjodohan dan meminta pengertian Weini agar ikhlas melepasnya.
***