OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 190 TAK BISA MELEPASKAN



Seperti biasa, hidup terus berjalan semestinya. Ada atau tanpa dia sekalipun, waktu bergulir ke masa yang akan datang bukan ke belakang. Seperti biasa, Weini terbangun di pagi yang baru dengan hati yang tak bisa diungkapkan lagi perasaannya. Ia mulai terbiasa, memulai hari tanpa ucapan selamat pagi darinya. Terbiasa, tertidur tanpa membaca pesan mesra sebagai pengantar tidur. Pagi ini ia tergoda mengintip kontak Whatsapp Xiao Jun, tertera di status bahwa kekasihnya baru aktif lima menit lalu. Tiada kabar untuknya, meskipun alat komunikasi secanggih apapun tetapi pria itu tidak ada keinginan untuk saling terhubung.


“It’s Okay. Aku baik-baik saja!” ungkap Weini mengumpulkan semangat, ia tersenyum sendiri dan dengan mantap menyudahi harapan semunya. Dalam sekali klik, Weini menghapus kontak Xiao Jun beserta histori chat mereka yang sudah ia kumpulkan sejak masa pendekatan. Untuk apa menyimpan kenangan yang hanya tahu menyesakkan dan melemahkan diri. Ia lebih baik tidak perlu melihat kontak Xiao Jun karena setiap kali melihat itu, kesedihannya seketika kumat.


Kini Weini beralih pada sesuatu yang perlu disingkirkan selanjutnya. Ia mengangkat tangan lalu mengamati cincin di jari manisnya. Sebuah senyum tersungging, biarlah ia mengenang sekali lagi momen ketika cincin itu disematkan. Setidaknya ia pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Xiao Jun, meskipun sekarang ia sendiri ragu di mana posisinya dalam hati pria itu. Tanpa sedikitpun keraguan, berbekal keikhlasan selapang-lapangnya, Weini melepas cincin itu.


“Eh?” gumam Weini bingung. Ia mengira melepas sebuah cincin yang pas di jarinya itu semudah ketika dipakaikan. Ternyata ia dibuat bingung karena emas yang melingkari jari manisnya itu tidak bergeming walau ditarik. Weini mencoba lagi, diputarnya cincin itu dan ternyata cukup leluasa digerakkan namun pas hendak ditarik keluar justru diam seolah merekat permanen.


“Apa kau bercanda? Mau permainin aku?” Weini ngamuk pada cincin itu ketika ia mulai kesakitan menariknya lepas. Ia sungguh ingin melepaskannya dan menunggu kesempatan untuk mengembalikan pada si empu.


“Aku udah nggak pantas jadi pemilikmu, dia saja sudah tidak menginginkan hubungan ini. Lepas! Lepas dariku!” pekik Weini, ia memperlakukan cincin itu seperti manusia yang bisa diajak bicara dan mengerti perasaannya. Berbagai gaya ia keluarkan, mulai dari menarik sambil duduk di atas kasur, bersender pada pintu dan kini ia tergelepar di lantai sambil bergulat dengan benda mati.


“Arrrggghhh…” kesabaran Weini benar-benar diuji, sia-sia ia mencatok rambutnya karena sekarang rambut panjang yang tertata rapi itu awut-awutan setelah diajak tempur di lantai.


Pintu diketuk dari luar beberapa kali sebelum Haris masuk tanpa persetujuan Weini. Teriakan yang menggema sampai ke luar itu tentu saja mengejutkan Haris. Tanpa pikir panjang ia langsung masuk melihat apa yang terjadi pada anak gadisnya. Dan pemandangan yang ia dapatkan setelah pintu terbuka terasa menggelitik hingga ia tertawa kecil.


“Aku tahu masa kecilmu kurang bahagia, tapi kau tidak perlu melampiaskannya dengan bermain seperti itu.” goda Haris yang gagal menahan tawa, ia heran apa yang dilakukan Weini yang ngamuk tidak jelas.


“Nggak lucu ayah, aku kesal … tolong bantu aku lepaskan benda ini.” Weini berdiri dengan tampang kusut, sekusut rambutnya. Ia memperlihatkan sumber masalah yang membuatnya uring uringan.


Haris menatap benda yang ditunjuk Weini, cincin keramat warisan leluhurnya yang sudah menunjuk pemilik baru. Weini hendak melepaskan cincin itu dari jarinya, Haris hanya tersenyum karena ia tahu sekeras apapun Weini mencoba, ia tak akan pernah bisa.


“Maksudmu lepasin cincin itu?” tanya Haris pura-pura tidak mengerti.


Weini mengangguk mantap, “Emosi aku dibuatnya. Kenapa susah sekali lepas, ini hanya cincin emas biasa kan ayah?”


Usai tertawa, sekarang giliran Haris yang bingung menjawab Weini. Harus ada alasan masuk akal untuk meyakinkannya. Ia meraih jemari Weini yang bermasalah seolah mengecek lebih detail. “Ng, coba aku lihat. Nggak ada yang aneh ini cincin biasa.” Kilah Haris yang masih menatap cincin itu.


Banyak kenangan yang terukir dari sebuah cincin berusia ratusan tahun itu, ia pernah mengikat wanita yang dicintai dan akhirnya dia pula yang bisa melepaskannya untuk diteruskan pada generasi baru.


“Sudahlah, bisa mengelupas telapak tanganmu nanti.” Seru Haris yang enggan membiarkan Weini bertindak bodoh. Sayangnya Weini seolah tuli, ia tak menggubris perintah Haris dan masih mengusapkan sabun cair.


“Kau tahu kenapa tidak bisa lepas?” tanya Haris serius, ia harus bertindak menghentikan Weini.


Weini berhenti menarik jarinya yang penuh busa, ia menatap Haris dengan antusias. “Kenapa ayah?”


Haris tersenyum, saatnya mengarang cerita indah, seindah dongeng Cinderella. “Itu karena masih ada hati yang belum ikhlas dihempaskan. Kamu terlalu sembrono mengambil tindakan, bahkan cincinnya saja tidak rela berpisah denganmu. Biarkan saja tetap di situ, belum tentu juga pemiliknya sudah melupakanmu.”


Nasehat Haris cukup masuk akal, Weini bisa menerimanya tanpa bantahan. Ia segera membersihkan busa di tangannya, usaha keras ini harus dihentikan atau ia harus terima resiko kehilangan kelembutan tangan. “Aku biarkan karena belum ada pilihan lain ayah, anggap saja ayah benar … aku yang sembrono, aku yang terlalu banyak mikir. Ya sudahlah, biarkan dulu toh ini cuman sebuah cincin. Apa gunanya juga diikat oleh simbolis sementara kenyataannya sudah berubah?”


Haris mengangkat bahu, “Lalu untuk apa juga ayah memberimu saran kalau kau tidak percaya. Kan sudah pernah ayah bilang, diam dan tunggu orangnya kembali baru kau pertanyakan.”


“Aku mengerti ayah. Maaf … tapi ayah, apa ada sihir yang bisa dipakai melepaskan ini? Buat jaga-jaga kalau yang punya meminta balik buat dikasih orang lain. Hehehe …” Weini masih getol dengan keras kepalanya hingga Haris geleng kepala.


“Ada. Jangankan cincin, jarimu saja bisa ikut hilang. Pakai saja sihir menghilangkan tubuh seperti yang dulu kamu pakai buat kabur dari kerumuman wartawan.” Canda Haris, tawanya kembali pecah.


Mendengar candaan itu membuat Weini geli sendiri, ia dapat melihat sikap Haris yang kontra terhadap keputusan move on dininya. Apa terlalu dini memutuskan berlalu dari kehidupan seseorang yang sengaja menghilangkan kabar? Sebagai pemilik hati, Weini hanya berusaha keras melindungi hati dari kerapuhan hanya gara-gara


seorang pria.


Haris membaca seluruh pikiran Weini, selama ia masih menjadi pengawalnya, masih dianggap sebagai sosok pengganti ayah, Haris tidak akan membiarkan Xiao Jun dan Weini berpisah. Sesulit apapun masa depan yang tak bisa diprediksi, serunyam apapun tantangan mereka untuk bersatu, Haris akan pasang badan untuk mereka.


Tunggu waktunya tiba, kamu harus membuka jati diri yang sesungguhnya. Saat itu terjadi, kita boleh bertaruh, apakah ayahmu masih berani mengincar kepala kita. Aku yakin nona Yue Hwa, sekejam-kejamnya tuan Li San di masa lalu, dia pasti menyisakan rasa sayang untukmu. Ketika kau buka topengmu, semesta akan berpihak


pada kebenaran yang kita pendam. Akan kutemukan cara yang paling aman agar kau kembali hidup dengan wajah aslimu.


***