
Grace terlihat sangat cantik dengan riasan wajah natural hasil karya Weini. Demi menyambut Grace yang kembali menghirup udara segar di luar, Weini meminta Fang Fang menyiapkan pakaian terbaik serta alat makeup nonanya dibawa ke rumah sakit. Ia yang turun tangan menjadi MUA dadakan dan menyulap Grace terlihat segar dan cantik.
“Wah, nona memang punya bakat jadi perias.” Celetuk Fang Fang yang terpukau melihat hasil sapuan makeup Weini di wajah majikannya.
“Kamu mau didandani juga? Kemarilah, aku bikin kamu semakin cantik.” Pinta Weini yag mengkode Fang Fang agar mengambil tempat di bangku yang ditepuk Weini.
“Tidak perlu nona, saya tidak terbiasa.” Tolak Fang Fang canggung.
Dina dengan gesit mendorong tubuh Fang Fang dari belakang lalu menuntunnya duduk. “Udah, nggak usah malu-malu. Semua cewek itu cantik kok, Stevan aja cantik padahal cowok.” Canda Dina yang langsung mendapat
pelototan dari Stevan. Dina cuek saja malah menjulurkan lidah mengejek Stevan.
Grace mengangguk pada Fang Fang, memintanya menuruti permintaan Weini. Gadis pelayan itu tentu lebih mendengarkan perintah nonanya, ia membiarkan Weini menyoleknya agar tambah cantik. Sementara itu Stevan sibuk menyiapkan keperluan Grace untuk keluar dari rumah sakit.
“Kita langsung ke kantor ya, pak sutradara itu paling anti sama orang telat loh.” Seru Stevan mengingatkan waktu mereka tak banyak lagi.
Weini mengangguk, toh ia sudah menyelesaikan kerjaannya. “Sip. Sempurna cantiknya.” Gumam Weini puas dan menyodorkan cermin kecil dari bedak agar Fang Fang melihat sendiri hasilnya.
“Wah, kamu tambah manis Fang. Mulai sekarang aku perintahkan kamu untuk berdandan simpel seperti ini ya. Sayang kulitmu dibiarkan polos terus, bisa cepat tua loh.” Ujar Grace, ia semakin pulih dan punya tenaga untuk banyak bicara seperti biasanya.
Fang Fang tersenyum malu, ia tak punya alasan membantah perintah nonanya. Mereka berlima berangkat ke kantor dengan satu mobil, Stevan menyetir mobil Dina sedangkan mobilnya dibawa managernya.
***
“Kalian hampir saja telat, dua menit lagi kalau belum sampai hampir mau gue teror.” Celetuk Bams yang duduk melipat tangan di ruang rapat. Mereka sudah janjian reading jam satu siang dan ia sudah menunggu nyaris satu jam. Kebiasaannya yang selalu datang lebih awal lalu menunggu dengan bosan melihati satu persatu talent yang datang pada waktu mepet.
“Yang penting nggak telat kan. Kenalin bos, ini loh yang namanya Grace.” Ujar Stevan sok formal pada Bams.
Grace menundukkan kepala pelan sebagai bentuk hormat, kebiasaan yang belum hilang bekas didikan di rumah pamannya. “Halo pak, saya Grace Li mohon bimbingannya.”
Bams mengangguk pelan, dari penilaian sekilas saja ia dapat memberi nilai plus pada Grace. “Oke, sudah tahukan lu yang jadi peran utamanya. Kerja keras ya dan jangan pernah telat.”
Weini tersenyum puas, dukungan dalam bentuk inilah yang ia berikan untuk membantu karier Grace. Weini sudah cukup puas menikmati panggung, kini saatnya sedikit melonggarkan sabuk pinggang dan bersantai menikmati peran lain demi memberi kesempatan pada bintang baru.
***
Jadwal kerja hari ini cukup singkat, hanya dua jam pertemuan dan berjalan lancar. Bams meminta semua talentnya pulang lebih awal untuk istirahat lantaran syuting akan dimulai besok. Stevan mengantarkan Grace pulang ke apartemennya, namun Grace meminta Weini ikut dan mampir sebentar ke tempat tinggalnya. Weini tak kuasa menolak, meskipun agak canggung mampir ke sana. Semenjak kejadian tak mengenakkan di apartemen Xiao Jun, ia belum pernah menginjakkan kaki ke kawasan itu lagi.
“Masih seperti dulu ya, nggak ada perubahan. Ha ha ha, aku ingat betul pernah nyeret Stevan ke lift di lantai ini.” Tawa Dina lepas begitu kenangan serangan yang membuat Stevan pingsan, itulah terakhir kali mereka datang kemari.
Grace yang mendengar itu tampak heran, “Kenapa diseret?”
Stevan segera membungkan mulut Dina yang hendak membocorkan aib masa lalunya. Dina tak bisa berkata-kata dengan jelas, hingga ia berhasil menyingkirkan tangan Stevan dengan menggigitnya. “Dia pernah pingsan trus kita seret dia turun. Ha ha ha ….” Kenang Dina sambil tertawa puas.
“Tunggu pembalasan gue!” Ancam Stevan yang tentu saja tak serius, wajahnya merah padam menahan malu. Pria sekeren dia bisa pingsan dan diseret wanita, sungguh kejadian yang konyol.
Weini menggeleng kepala, pasrah melihat tingkah dua sahabatnya yang jarang akur itu. Begitupun dengan Grace yang hanya tertawa lalu merangkul manja pada Stevan untuk menenangkan pria itu. Weini menatap unit apartemen yang pernah ia tempati, saling berhadapan dengan unit Xiao Jun dan punya banyak kenangan manis di sana. Langkahnya tergerak ke sana, menyusul jemarinya yang lincah memencet password yang masih lekat dalam ingatan. Ia perlu memastikan sesuatu walaupun terkesan tak sopan.
Suara kunci terbuka, Weini tercengang seketika hingga menarik perhatian yang lainnya. “Eh? Dia sungguh tidak menggantinya?” Weini bertanya pada dirinya sendiri.
Weini menggeleng pelan, “Ini milik Xiao Jun, aku hanya tinggal sebentar di sini.”
Grace tersenyum tipis, dengan lincah ia membuka pintu yang memang sudah terakses itu. “Udah kebuka ya sekalian aja masuk.” Ujarnya menjawab tatapan bingung Weini dan kawan-kawan. Tanpa segan, Grace melangkah masuk paling pertama dan melihat desain interior di sana.
Weini serasa bernostalgia, segalanya tampak sama dan tiap sudut ruangan itu mempunyai kenangan manis tersendiri baginya.
“Dia betul-betul mencintaimu, jangankan hatinya, tempat tinggal ini saja tidak boleh disentuh orang lain. Aku iri padamu, Weini.” Gumam Grace yang langsung mendapatkan respon deheman dari Stevan.
Semuanya menatap kaget pada Grace gara-gara pernyataannya barusan, hingga Grace tertawa terbahak dan makin membingungkan. “Aku hanya iri, bukan cemburu. Plis deh, aku sudah menghapus Xiao Jun dari hatiku.”
Weini tersenyum tulus, sekalipun Grace masih punya perasaan pada Xiao Jun, ia tak bisa membenci Grace ataupun menganggapnya sebagai saingan. Semakin mengenal Grace, ia semakin menyayanginya. Aneh, tapi ini nyata dirasakan oleh Weini.
***
Grace kembali merebahkan tubuh di kamarnya, berhari-hari meninggalkan tempat ternyamannya yang nyaris saja menjadi tempatnya meregangkan nyawa. Besok ia akan mengganti desain serta segala furniture yang ada di kamar,
melenyapkan sisa kenangan yang bisa mengingatkannya pada kenangan buruk itu.
Stevan dan yang lainnya sudah pamit pulang, Grace bebas bersantai dalam kamarnya. Ia meraih ponselnya yang sepi sepanjang hari, ada sedikit rasa sedih namun juga ada senang. Lebih baik seperti ini, tenang tanpa bunyi pesan yang menerornya.
“Nona, bolehkah aku masuk? Ada paket untukmu.” Fang Fang mengetuk pintu dari luar kamar.
“Masuklah.” Teriak Grace. Hatinya bertanya-tanya, siapa lagi yang mengiriminya paket di malam hari.
Fang Fang masuk membawakan sebuah kotak yang ukurannya setara kotak sepatu. Diserahkannya pada Grace yang duduk bersandar di ranjang.
“Dari siapa?” Tanya Grace singkat.
“Tidak ada nama pengirimnya nona, tadi ada kurir yang mengantar kemari.”
Grace mengernyit heran, dilihatnya tampilan kotak itu yang cukup simpel dan polos. Hanya tertera nama penerima dan alamat penerima saja di secarik kertas yang tertempel di kotak. Enggan penasaran, Grace pun membuka paket itu dengan menarik lakbannya. Fang Fang menatap was-was, ia punya firasat buruk sejak menerima paket itu, apalagi tidak tercantum nama pengirim serta cara pengemasan yang tampak ala kadarnya.
“Aaarrrghhh!” Pekik Grace langsung membuang kotak itu begitu melihat isinya. Ia menjerit lalu menangis sejadi-jadinya.
“Nona?” Fang Fang berlari menghampiri Grace, ia pun menoleh penasaran pada kotak yang terpental dan jatuh dekat jendela itu. Dan betapa terguncangnya Fang Fang melihat isi kotak itu adalah foto-foto Stevan yang dilumuri darah segar.
Tangisan Grace kian menjadi, ia berteriak ketakutan dan tak menghiraukan apapun yang dikatakan Fang Fang. Ketenangan itu mungkin hanya sebatas mimpi, ia tak diijinkan bahagia semudah itu dan kini si peneror pasti tengah membuat perhitungan padanya.
***
Coretan author :
Tarik napas bentar ya, huft. Sebenarnya author ingin bikin adegan yang lebih tegang lagi di episode ini. Tetapi nggak tega dan takut kena protes kalian hihihi. Ya, author kasih sedikit pemanisnya dulu biar nggak melulu konflik ya guys. Ini bukan bertele-tele loh, namun alurnya memang harus demikian. Weini perlu ditempa masalah yang akan memotivasinya untuk menemukan cara membuka topengnya. Nggak mungkin juga tiba-tiba dia buka topeng dengan
alur yang datar begini kan? Hilang deh serunya, hihihi… mohon bersabar ya guys, author juga udah pengen kok nulis sampai bagian Weini buka topeng. Segalanya sudah terkonsep rapi hingga ending, tapi batas kemampuan author untuk mengolahnya menjadi kata-kata dan perlu menjaga kualitas tulisan juga tentunya. Author hanya bisa update maksimal dua episode ya perhari. Mohon dukungan dari teman-teman pembaca, please sumbang jejak jempolnya ya. Pendapat dari kalian pun selalu author dengan dan pertimbangkan, itulah kenapa banyak adegan yang semestinya terjadi namun author hilangkan karena nggak mau kecewakan kalian juga. Yup, sampai jumpa di episode selanjutnya.