
Hari terakhir di tahun 2014, desember tanggal 31. Penghujung tahun yang sibuk bagi hampir semua insan di dunia. Segala persiapan pesta akhir tahun serta nuansa pergantian tahun yang begitu kentara di sepanjang kota Jakarta. Dalam suka cita yang begitu kentara, masih ada luka yang terbalut lara. Sama halnya dengan Xiao Jun yang merasa begitu kesepian di kota besar ini. Kali pertama ia menyambut tahun baru di luar negri, jauh dari ibunya. Xiao
Jun tak mampu menafsirkan perasaan itu, entah kecewa, sedih, kesepian bercampur aduk.
“Selamat ulang tahun, Tuan Xiao Jun.” Lau masuk ke dalam kamar Xiao Jun dan berharap menjadi orang pertama yang mengucapkannya. Tepat pada pukul 00.00 WIB di tanggal 31, Lau sengaja menunggu detik menjelang
pertambahan usia sang majikan.
“Terimakasih, paman. Bolehkah aku meminta sesuatu?” pinta Xiao Jun.
“Apa permintaan ini bisa disebut kado?” Tanya Lau. Ia sungguh ingin memberikan sesuatu yang dapat membahagiakan Xiao Jun.
“Tuan dan nyonya besar pasti merayakan tahun baru di luar negri, seperti yang selalu mereka lakukan. Pulanglah ke Hongkong, pergi ke rumah ayahku dan temukan sebuah kitab kuno. Aku tidak tahu di mana buku itu disimpan. Geledah saja seisi rumah, bawa kemari segera. Waspadalah jangan sampai kepulanganmu diketahui mereka.”
“Saya mengerti tuan.” Lau menerima perintah itu, ia tahu bagaimana harus bertindak agar tidak mencelakakan Xiao Jun.
“Video call denganku ketika di sana. Aku ingin melihat kondisi rumahku. Sejak terakhir dipaksa keluar, aku tidak pernah diijinkan kembali.” Tatapan Xiao Jun tampak kosong, namun hatinya penuh kepedihan terbayang masa kelam.
“Saya mengerti tuan. Mohon jaga diri anda selama saya pergi. Anda sebaiknya mengajak seseorang untuk menikmati pesta pergantian tahun.” Lau berharap Xiao Jun menangkap isyaratnya. Seseorang yang dimaksud
tentu saja Weini, namun sayangnya Xiao Jun tidak menggubrisnya. Ia kembali menatap taburan bintang di hamparan langit malam.
***
Preeeet… preeeet… preeeeeet…
Bunyi terompet sangat nyaris hingga memekakkan kuping. Weini belum juga bosan meniupnya sejak pagi hingga menjelang siang. Haris bahkan berkali-kali menyuruhnya berhenti tetapi gadis itu kian menjadi-jadi. Suasana
hatinya sedang bagus karena ia menyukai keramaian, pesta serta suasana bahagia. Apalagi shooting diliburkan dua hari untuk menyambut tahun baru. Weini ditawari job yang disiarkan langsung di salah satu stasiun TV swasta. Sebesar apapun feenya, ia lebih memilih menghabiskan waktu dengan Haris di rumah.
“Kurasa umur terompet itu tidak sampai nanti malam kalau kau tak berhenti meniup sekarang!” gerutu Haris, telinganya nyaris tuli akibat konser terompet dari Weini.
Ancaman itu tidak diindahkan, Weini makin semangat meniup terompet seharga sepuluh ribu itu. Haris geram, ia harus memberi pelajaran pada anak gadis itu. Diam-diam ia menjentikkan sihir tendangan angin ke sumber kebisingan.
“Eh?” suara terompet ngadat, Weini mencoba meniup lebih kencang namun tidak menghasilkan suara apapun. Ia mulai lelah, mulutnya mungkin bisa kram kalau dipaksa meniup lagi.
“Ayah, kau mengeluarkan sihirmu kan? Aaaarrrrghhhh tegaaa! Kau harus menggantinya!” Weini merengek seperti bocah yang meratapi mainan kesayangannya rusak.
“Aku sudah memperingatkanmu. Tapi kau sepertinya suka menantangku kan.” Haris enggan kalah, ia teramat santai menjawab Weini. Terkadang gadis tegar itu menunjukkan sisi manja, Haris bahkan sudah lupa kapan
terakhir ia melihat tawa *r*elax Weini.
“Aku mau keluar, beli terompet baru!” Weini merajuk. Ia gagal meminta pertanggung jawaban.
“Sudahlah, nanti pasti kau dapat gantinya. Sekarang bantu aku menyiapkan bahan BBQ, kita akan kedatangan tamu.” Haris menunjuk kantong belanjaan yang diletakkan di atas kitchen set, ia butuh asisten untuk pesta
malam nanti.
“Siapa?” Tanya Weini cuek. Ia masih ngambek dan sengaja menunjukkannya pada Haris.
“Paman Felix dan tante Lina.”
Mendengar nama kedua orang itu langsung melebarkan senyum Weini. Pasangan suami istri itu adalah satu-satunya orang terdekat mereka. Haris tidak mudah bergaul dengan orang dan hanya pasutri itu yang membuatnya merasa klop seperti keluarga.
“SUNGGUH?” mata Weini berbinar. Ia ketiban beruntung hari ini.
Ponsel Weini berdering di atas meja makan. Haris mengambilkannya dan menyuruh Weini segera menerimanya. Weini melihat nama yang tertera di layar. Stevan.
“Halo Weini. Nanti malam lu ada acara? Ikut gue midnight party yuk.” Stevan langsung menyampaikan maksudnya saat telpon tersambung.
“Siapa yang mengajakmu keluar?” Tanya Haris penasaran.
“Kak Stevan.” Weini menempelkan ponsel di mulut. Seketika ia menyesali ceplas-ceplosnya, bagaimana jika Haris makin kepo atau memarahinya dekat dengan laki-laki.
“Oh… apa dia yang mengantarmu pulang waktu sakit?”
“Bukan… bukan! Itu lain orang lagi. Ups!” Weini membungkam mulutnya, lagi-lagi keceplosan.
“Hmmm… sepertinya orang ini special ya sampai harus dirahasiakan.” Haris asal tebak, aslinya ia senang menggoda Weini.
Weini mengalihkan pembicaraan, diraihnya dua kantong hitam besar berisi jagung dan bahan lain. “Sebaiknya kita segera siap-siap ayah.”
***
Aku benci keramaian, itu makin mengingatkanku pada kepedihan dalam kesendirian.
Aku benci kesendirian, itu makin mengingatkanku pada mereka yang ku sayang.
Aku benci mereka yang ku sayang, karena terlalu mencintai namun mereka tak kunjung kudapatkan.
__ Quote of Xiao Jun__
***
“Apa-apaan ini! Kenapa aku ke sini!?” Xiao Jun memukul setir ketika ia tersadar sudah berada di depan rumah Weini. Semula ia berencana mensurvei keramaian kota dan aktivitas yang dilakukan orang-orang menjelang tahun baru. Yang terjadi malah ia terjebak kemacetan berjam-jam dari arah Slipi ke Grogol lalu entah apa yang ia pikirkan sampai berakhir seperti ini.
Xiao Jun mematikan mesin, pandangannya tak terelakkan dari beranda rumah Weini. Walau enggan mengakui, ia berharap gadis itu menampakkan diri sekejab saja. Diraihnya ponsel di atas dasbor, mencoba lebih baik daripada hanya duduk berharap.
“Weini… ponselmu berbunyi.” Haris mendengar nada dering khas ponsel Weini, tetapi gadis itu terlalu asyik mengobrol dengan Felix dan Lina. Terpaksa Haris mengambil dan berniat membawakannya. Matanya mengernyit
melihat nama kontak yang memanggil. Pria arogan.
Weini bergegas menghambur ke Haris saat sadar mendapat panggilan masuk. Haris menyodorkannya tanpa berkomentar apapun.
“Halo…” sapa Weini sopan.
“Hei, nona galak. Masih ingat janji traktiran makanmu? Aku ingin menagihnya sekarang!”
Weini menghela napas, pria ini tak tepat waktu. Jelas ia akan menolaknya lagi kecuali ia sepakat diganti lain kesempatan.
“Tuan arogan. Aku masih ingat janjiku, tapi maaf belum bisa malam ini. Gimana kalau jumat depan?” say yes! Say yes! Weini memotivasi diri agar mendapat jawaban positif.
“Apa kau masih mengelak jika aku tetap menagihnya sekarang. Bahkan aku sudah di depan rumahmu.” Xiao Jun merasakan hawa kemenangan di pihaknya. Ia tertawa kecil saat mendengar kehebohan Weini.
“Serius? Ah kau pasti bohongkan.” Weini berlari keluar rumah, memastikan kebenaran dengan mata kepala sendiri. Haris melihat tingkah gugup Weini, tetapi ia sungkan meninggalkan tamu untuk menyusul keluar.
Xiao Jun tersenyum puas, akhirnya ia berhasil melihat Weini dari kejauhan. Gadis itu kelabakan saat melihat mobil mewah yang ia kenal itu terparkir di belakang mobil Felix.
“Kenapa senekad itu kemari tanpa ijin dulu?” suara gelagapan dari seberang, ia berdesis saat mengucapkannya agar tidak memancing perhatian orang rumah.
“Apa menagih janji harus ijin dulu?” Xiao Jun balik bertanya.
“Sudah terlanjur kemari, aku ijin mampir bentar ya.” Lanjut Xiao Jun. Tanpa menunggu persetujuan, ia sudah turun dari mobil.
“Weini… kamu ngapain di situ? Ada yang kau tunggu?” Haris berjalan mendekati Weini yang masih mematung di teras. Ia benar-benar seperti patung hidup yang hanya bisa diam bernapas saat Xiao Jun dan Haris melangkah mendekatinya.
***