OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 420 RENCANA TERSELUBUNG



“Ibu, apa ibu yakin?” Li An menatap Xin Er begitu lekat, mencari sebuah kepastian atas keputusan yang


wanita itu lontarkan.


Xin Er tersenyum lembut kemudian mengangguk, tangannya mengelus rambut Li An dan Li Mei secara bergantian. Semenjak Wen Ting pergi dan tak kunjung pulang, ibu dan anak itu tidur sekamar agar bisa saling menjaga. Li An dan Li Mei menikmati sentuhan penuh kasih sayang dari ibunya, usia bukanlah penghalang bagi mereka untuk


merasakan kasih ibu mereka.


“Tapi ayah meminta ibu menunggu di sini. Setelah ayah menyelesaikan masalah itu, ayah pasti akan menemui ibu di sini. Kita percaya pada ayah saja dan patuh padanya, ibu.” Seru Li Mei. Sejak tadi ia dan Li An secara bergantian membujuk Xin Er agar tidak terlampau nekad bertindak. Meskipun mereka sebenarnya juga ingin melakukan hal


yang sama dengan Xin Er, tetapi kepatuhan pada ayah membuat mereka berpikir ulang.


“Kita tidak tahu kapan masalah ini selesai, lagipula ibu tidak akan mengacaukan hati ayahmu. Ibu hanya ingin memastikan keadaannya secara langsung, ibu mau segera menemuinya. Ujar Xin Er penuh tekad.


“Li An mengerti perasaan ibu, Li An juga kangen ayah dan juga... Wen Ting.” Ujar Li An tersipu malu.


Li Mei dan Xin Er tersenyum kecil melihat Li An yang begitu terus terang pada perasaannya. “Itu juga yang membuat ibu mantap mengambil keputusan, kita harus sampai di Jakarta besok pagi.” Seru Xin Er.


Li An mengernyit, “Tapi setidaknya biarkan aku mengabari Wen Ting dulu, apa boleh kita muncul dadakan? Bagaimana kalau mereka tidak ada di sana?”


Xin Er tersenyum simpul, “Justru karena itu, kita tidak boleh menunda waktu lagi. Ibu percaya firasat ibu, jika kita bisa sampai di sana besok pagi, kita tidak akan terlambat. Li An, kamu pernah ke sana, kamu tahu di mana tempat tinggal adikmu kan?”


Li An mengangguk penuh keyakinan. “Iya, Bu. Li An masih ingat apartemen Jun. Di sana juga bisa mendarat jet langsung.”


“Kalau begitu, ibu mengandalkanmu nak. Ayo, persiapkan diri kalian, jangan buang waktu lagi.” Kilah Xin Er lalu segera berdiri dan mulai berkemas, kedua putrinya pun mengikuti arahannya.


***


Hidup namun terasa mati, hidup namun terasa tak berarti 


Aku tak tahu kau di mana, pun tak tahu apa kau berusaha menemukanku


Atau hanya berpangku pada nasib, nasib yang telah aku pertaruhkan untukmu


Aku tunggu kamu di keabadian, jika memang dalam kenyataan terlalu sulit kau takhlukkan


_Quote of Weini aka Yue Hwa_


***


Gadis pelayan berdiri ketakutan dan ragu di depan pintu kamar Weini, tangannya membawa nampan berisi


makanan yang baru saja ia masak khusus untuk satu-satunya nona di rumah itu.


“No... Nona... Makanan anda sudah siap. Ma... Makanlah selagi hangat.” Ucap pelayan itu terbata-bata.


Pasca gagal melarikan diri lantaran bingung dengan situasi dan tempat yang tak masuk akal ini, Weini kembali dengan lunglai ke dalam kamarnya. Tentu saja ia sudah berusaha mencari jawaban dari pria yang mengurungnya, yang bahkan ia belum tanyakan siapa namanya. Tetapi pria itu justru menghilang seolah diam-diam keluar dari penjara air ini. Weini berbaring dan membiarkan wajahnya tertutup selimut, ia perlu menjernihkan pikiran yang buntu dan penuh kebingungan.


“Tunggu.” Pekik Weini setelah menyingkap selimutnya. Satu-satunya yang masih berinteraksi dengannya hanya gadis pelayan itu, Weini tidak akan membiarkan manusia yang tersisa di sini kabur begitu saja.


Gadis pelayan itu terkesiap, padahal ia sudah sampai di depan pintu namun begitu mendengar pekikan Weini yang menghentakkan, ia pun berhenti melangkah. “I... Iya nona?” Tanyanya ragu-ragu.


Weini menatap serius pada pelayan itu, sorot matanya yang tegas serta wajah tanpa lekukan senyum, kian menimbulkan kesan galak dan menakutkan. Weini memanggil pelayan itu mendekat dengan isyarat anggukan, dengan takut-takut serta wajah yang menunduk, pelayan itu berjalan mendekati Weini.


Sorot mata Weini tajam menilai gadis di hadapannya, menajamkan intuisi agar bisa membaca pikiran gadis itu. Namun yang Weini dapatkan hanyalah suara hati yang penuh ekspresi takut kematian. Weini menyeringai, ia sudah memberi kesan horor pada gadis itu sejak awal, jadi percuma saja membuang waktu untuk sebuah pembuktian.


“Kau sudah berapa lama kerja di sini? Apa hanya kita yang tinggal di tempat ini?” Weini bertanya dengan lembut, berusaha meraih hati gadis itu agar terbuka padanya.


Gadis itu masih tertunduk diam, namun dari suara hatinya saja Weini sudah bisa mendapatkan jawaban yang ia mau.


Dia baru bekerja dua hari di sini, dan pria yang menyekapku itu bilang aku tertidur dua hari, berarti dia datang ketika aku sudah di sini. Hmmm... Batin Weini menyimpulkan dari apa yang ada dalam pikiran gadis itu.


“Lalu bagaimana caranya kau mendapatkan bahan makanan? Bukankah mustahil bisa membeli beras dan sayur di dalam air?” Tanya Weini lagi, ia bertindak cuek seolah melupakan begitu saja pertanyaan yang belum terjawab itu.


Gadis pelayan itu masih bungkam, hanya terdengar suara berbisik yang tidak jelas seperti orang kebingungan. “Ng... Ng....”


Weini tersenyum tipis lalu berdiri dan berjalan mendekati gadis itu. Sayangnya begitu jarak mereka cukup dekat, gadis pelayan itu malah berjalan mundur menghindarinya. “Aku heran mengapa kau begitu takut padaku, kita sama-sama tahanan di sini, bukankah seharusnya kita lebih mengakrabkan diri? Bagaimanapun kita tinggal di tempat


aneh dan terkucilkan, apa kamu berniat tinggal di sini seterusnya?”


Gadis pelayan itu segera menggelengkan kepalanya, “Tidak... Tidak... Aku mau pulang, aku tidak mau di sini terus.” Celotehnya spontan, begitu menyelesaikan kata-katanya, ia segera membungkam mulutnya.


“Kalau begitu, kita punya kepentingan yang sama. Aku juga tidak mau membusuk di sini, dunia luar lebih indah daripada hidup dikelilingi air. Aku bisa saja pergi sendiri, tapi jika kau ingin mengikuti jejakku, setidaknya kau harus akrab denganku.” Ujar Weini memulai siasatnya.


Gadis pelayan itu mendongak, memberanikan diri menatap Weini kemudian tanpa segan meraih kedua tangan Weini. “Aku ikut denganmu nona, jangan tinggalkan aku. Aku bersedia melakukan apapun untukmu.” Ujar gadis pelayan itu kemudia berlutut memohon pada Weini.


“Bangunlah! Bagus jika kau sudah mengambil keputusanmu. Kau bisa pegang omonganku, kita akan keluar


dari sini hidup-hidup.” Ujar Weini mantap.


Gadis pelayan itu kembali bersujud, “Terima kasih nona, terima kasih nona....”


Weini membalikkan badannya, membelakangi gadis itu. Senyum seringainya tampak mengerikan, ia telah memikirkan sesuatu. “Bagus, sekarang aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”


***


Guys, author ingin mendengar pendapat kalian. Kira-kira menurut kalian siapa yang cocok menjadi visual Xiao Jun dan Weini ya? Dari kalangan Aktor dan artis ya biar lebih menjiwai, ha ha ha... Makasih.