
Dina tersenyum puas pada dirinya yang telah berhasil memenangkan keinginannya. Setelah Xiao Jun memberinya ijin untuk kembali dan berita bahagia tentang kabar Weini, rasanya Dina bisa melangkah lebih ringan sekarang. Ia sudah bersiap pulang, tinggal menunggu kesiapan dari bodyguard tampannya yang minta ijin untuk mengurus
pesawat untuk kepulangan mereka. Senyum Dina makin merekah saat melihat pria yang ditunggunya berjalan menghampirinya.
“Ming Ming... udah beres nih? Ayo kita jalan!” Seru Dina penuh semangat.
“Apa ku bilang, kau sih tidak percaya pada feelingku. Aku yakin betul kalau nona Weini sudah kembali dan bos Xiao Jun pasti mengijinkanku pulang.” Timpal Dina lagi terlalu bersemangat, padahal Ming Ming baru saja ingin menjawab pertanyaannya tadi.
Ming Ming masih berdiri diam sementara Dina sudah melaju beberapa langkah, sampai gadis itu menyadari bahwa ia hanya berjalan sendiri, barulah ia berhenti dan menoleh ke belakang. Alisnya mengkerut melihat ekspresi Ming Ming yang tidak biasanya.
“Dina, maaf... Kata tuan Wen Ting, mereka akan berangkat ke Hongkong sekarang. Jadi jet yang harusnya menjemput kita tidak akan datang. Aku sudah memesankan tiket pesawat untuk mengantarmu pulang.” Ucap Ming Ming yang akhirnya mendapat kesempatan bicara.
Mulut Dina ternganga, ia tak menyangka orang kaya begitu mudahnya membolak balikkan jadwal. “Heh? Baru
saja mereka sampai di Jakarta, trus sekarang udah mau terbang ke Hongkong? Non Weini juga?”
Ming Ming mengangguk pelan, tatapannya terlihat sendu dan tidak bersemangat.
Dina melengos, ia benar-benar kecewa. “Huft, padahal aku ingin segera ketemu non Weini tapi malah ditinggal lagi. Apa kami benar-benar tidak berjodoh?” Gumam Dina sedih. Ia larut dalam pikirannya yang tak bisa diterka Ming Ming. Saking seriusnya memikirkan kekecewaannya tak bisa bertemu Weini, Dina sampai tak menyadari bahwa pria yang didekatnya pun memendam rasa kecewa yang berat.
“Hmmm... Ya sudahlah, mau gimana lagi. Urusan non Weini lebih penting daripada ketemu aku dulu. Aku bakal
nunggu dia kembali sambil urus masalah dia di Jakarta, gimanapun juga aku ini managernya.” Seru Dina yang lebih tepatnya bicara sendiri.
Ming Ming masih terdiam, ia kehilangan semangat untuk membalas kebawelan Dina. Perasaan gundahnya saat ini jauh lebih menyita perhatiannya ketimbang harus meladeni gadis itu.
“Jam berapa pesawatnya? Kita berangkat ke bandara sekarang atau nanti?” Tanya Dina lagi, senyum lebarnya mengembang namun hanya bertahan beberapa detik. Dina mulai menyadari ada yang aneh dengan Ming Ming setelah melihat raut wajah pria itu yang tampak sedih.
“Kamu kenapa?” Dina mengerutkan dahinya, Ming Ming tampak berat mengatakan sesuatu namun tertahan.
Pria pengawal itu masih mengenakan pakaian yang dibelikan Dina, sepanjang bersama gadis itu walaupun hanya waktu yang terbilang singkat, namun mereka nyaris tak terpisahkan selama dua puluh empat jam. Kebersamaan itulah yang menciptakan keterikatan antara Ming Ming dan Dina, pria itu berharap bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama si gadis bawel itu. Tetapi sayangnya, segala yang indah tetap akan ada akhirnya.
“Dina, sesampainya di Jakarta nanti, tugasku mengawal kamu juga sudah selesai. Aku... akan kembali ke Beijing lagi.” Lirih Ming Ming terdengar tak ikhlas menyampaikan kabar itu.
Dina terkesiap, rasanya ada belati yang sedang mengiris hatinya. Nyeri yang cenat cenut itu membuat Dina sesak. “Oh....” Jawab Dina singkat. Suasana yang tadinya didominasi oleh suara cerewetnya, seketika menghening lagi.
Dua orang lawan jenis itu saling diam, seolah tengah berjuang menyembuhkan rasa kecewa masing-masing.
“Kita masih bisa ketemu lagi? Apa kamu akan ke Jakarta lagi lain kali?” Tanya Dina penuh harap, ia menundukkan wajahnya setelah bertanya. Tepatnya ia takut mendengar kenyataan yang tak seindah harapannya.
Ming Ming tampak menghela napas, berat mengatakan namun harus diutarakan. “Aku tidak bisa memastikan, semua tergantung tuan Wen Ting.” Jawabnya dengan nada pasrah.
“Hmm....” Dina kehabisan kata-kata, ia kecewa berat.
Ming Ming meihat kesedihan di wajah Dina, mereka belum sepenuhnya berpisah namun saat menyampaikan perpisahan ini terasa sangat menyiksa. “Terima kasih ya sepanjang kita bersama, kamu sudah memberiku banyak perhatian. Aku akan menyimpan barang-barang yang kamu berikan padaku, dan akan ku pakai di waktu bebasku.” Ucap Ming Ming kaku.
Dina mendongak, ditatapnya Ming Ming tanpa berkedip. Ekspresi wajah Dina datar, ia enggan menunjukkan rasa sedih tapi sayangnya tidak bisa ditutupi. “Kamu harus memakainya, atau aku akan menghantuimu dalam mimpi buruk!” Kecam Dina sok galak, keduanya saling bertatapan lalu entah siapa yang memulai namun akhirnya
suara tawa terdengar pecah.
Tak lama setelah puas tertawa, Dina kembali menatap serius pada pria itu. Waktu yang sempit mendesaknya untuk mengambil keputusan segera. Lakukan sekarang atau tidak sama sekali lalu menyesal sendiri dan merana seumur hidup. Dina berjalan perlahan menghampiri Ming Ming yang berjarak dua meter darinya. Pria itu bergeming,
menatap dengan mata yang membulat pada langkah Dina yang semakin dekat. Kini nyaris tiada jarak yang menyekat mereka berdua, dan Dina dengan mantap meletakkan satu tangannya di wajah Ming Ming. Ia tak pernah senekad ini, namun desakan hatinya yang bergejolak telah berhasil memprovokatorinya untuk bertindak lebih berani.
“Kamu harus tahu, aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Kamu sudah keterlaluan, aku akan memberimu pelajaran!” Lirih Dina dengan mata yang berbinar menatap Ming Ming.
Jantung Ming Ming berdetak dua kali lebih kencang, aroma parfum Dina yang biasanya tercium dari jarak jauh itu kini memenuhi seluruh indera penciumannya. Harus Ming Ming akui, aroma itu menantang adrenalinnya dan membius khayalnya tentang wanita di hadapannya itu.
“Apa salahku?” TanyA Ming Ming polos.
Dina menyeringai, senyumnya terlihat begitu sensual. “Salahmu? Hah... salahmu sangat besar, karena kau lancang masuk dalam hatiku!”
Ming Ming terkejut, ia tak menyangka Dina akan mengatakan itu. Kata-kata yang terdengar seperti pengakuan cinta, ia terkesan dengan keberanian Dina. Senyum Ming Ming pun merekah, ia sudah mendapatkan lampu hijau, dan selanjutnya tergantung bagaimana kemampuannya.
“Oh... Lalu aku harus bagaimana?” Tanya Ming Ming dengan senyum menggoda.
Kali ini Dina lebih berani mengekspresikan gerak tubuhnya setelah mendapatkan respon positif dari pria itu. Kedua tangannya berpindah dari wajah Ming Ming lalu merangkul di belakang tengkuk pria itu. Dina mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan dan napas mereka terasa menderu.
“Kamu harus tanggung jawab!” Jawab Dina singkat dan tegas, kemudian gerakan selanjutnya tak bisa lagi mereka redam. Seolah ada magnet yang saling menarik dan enggan dilepaskan, begitulah akhirnya bibir mereka dipertemukan.
***
Ciyeee Dina ❤️❤️❤️