
Ketika Liang Jia menghabiskan waktu privat bersama Li San, di luar kamar itu berdiri orang-orang yang sebelumnya diminta menyingkir sejenak. Li An mulai menguap dan mendapat sorotan dari suaminya, Wen Ting lalu menyentuk pundaknya dengan lembut sehingga wanita itu menoleh ke arahnya.
“Istirahat dulu ya, kamu jangan kecapekan. Sejak kemarin kurang istirahat juga kan.” Ujar Wen Ting penuh perhatian.
Xin Er yang mendengar itupun segera membantu menantunya untuk membujuk Li An, ia tahu bahwa Li An cukup keras kepala ingin tetap berada di manapun kedua orangtuanya berada. “Suamimu benar, jangan paksakan dirimu. Kamu sebentar lagi jadi ibu, belajarlah untuk tidak egois lagi demi anakmu ya.” Ujar Xin Er pelan.
Sepelan apapun suara Xin Er, nyatanya bisa terdengar oleh Yue Xin dan Yue Xiao. Sesekali mereka berdua memang mencuri pandang ke arah pasangan serasi itu. Teringat pula saat Yue Xin dan Yue Xiao sempat menyukai pria tampan itu, tapi sayang yang beruntung ternyata Li An. Yue Xin mendekat ke arah Li An hingga ia menyorot
perhatian yang lainnya, mereka cemas apa yang akan Yue Xin lakukan pada Li An.
“Li An... aku belum sempat mengucapkan selamat atas pernikahanmu, tapi ternyata sudah ada kabar bahagia lain. Selamat atas pernikahan dan kehamilanmu.” Ujar Yue Xin menyunggingkan senyuman pada Li An.
Cukup mengejutkan bagi Li An dan yang lainnya, begitu pula Yue Xiao yang akhirnya mengikuti jejak kakaknya untuk mengucapkan selamat, padahal mereka cukup banyak berbuat salah pada Li An di masa lalu, namun tak sekalipun kata maaf itu terucap.
Li An tersenyum lalu mengangguk, ia menghargai simpati dari dua nona Li itu. “Terima kasih, nona Yue Xin, nona Yue Xiao. Selamat atas pernikahan nona Yue Xin, semoga segera diberi momongan juga.” Balas Li An, ia merasa plong karena bisa tulus memaafkan kedua nona itu dan mendapatkan ucapan selamat dari mereka yang entah tulus atau hanya pencitraan saja.
Weini hanya menyimak apa yang terjadi, sejak pulang kemarin ia belum sempat bicara dengan saudara-saudaranya, semua fokusnya tertuju pada Li San yang amat ia cemaskan. Weini pun merasa sedikit bersalah, ia meminta ijin pada Xiao Jun lewat isyarat mata agar pria itu melepaskan genggaman tangannya dan ia bisa menghampiri saudaranya.
Xiao Jun jelas tidak keberatan, dengan senyuman lapang ia melepaskan Weini untuk menghampiri saudaranya. Yue Yan dan Yue Fang pun paham bahwa Weini sedang menuju tempat mereka berdiri, mereka berdua tersenyum dan tak sabar menyambut Weini.
“Hwa....” Lirih Liang Jia yang baru saja membuka pintu kemudian memanggil nama Weini.
Sontak Weini berhenti melangkah lalu menoleh pada ibunya, begitupun dengan yang lainnya yang ikut penasaran
mengapa Liang Jia mencari Weini.
Liang Jia melihat Weini di kanan seberang ruangan itu, putri bungsunya itu pun segera menghampirinya. Sulit bagi Liang Jia untuk mengukir senyuman, sekalipun hanya untuk membalas senyum Weini. “Ayahmu memanggilmu, masuklah.” Lirih Liang Jia, dari air mukanya saja bisa tertebak bahwa suasana di dalam tidak dalam kondisi baik.
Weini mengangguk pelan kemudian segera masuk ke dalam kamar. Setelah ia masuk sepenuhnya, air mata Liang Jia pun kembali menetes. Ia langsung dikerumuni ke empat putrinya dan juga Xin Er yang tak henti mencemaskannya.
“Ibu kenapa?” Tanya Yue Yan yang mewakili isi hati yang lainnya untuk bertanya.
Liang Jia menggeleng lemah, ia masih tak sanggup bersuara. Sementara itu, Haris berdiri diam membaca situasi yang ada. Tak bisa ia pungkiri bahwa kondisi sekarang sangat tidak menguntungkan bagi Weini, di saat mereka berharap diberi kesempatan memperbaiki keadaan, tapi keadaan justru terkesan menghindar untuk diperbaiki.
***
Weini berjalan cepat menghampiri ayahnya, saat menutup rapat pintu, ia melihat pria tua itu duduk bersandar dengan napas kasar dan agak cepat. Ketika ia menatap wajah Li San, kekhawatiran Weini semakin membuncah.
“Ayah, mana yang sakit?” Tanya Weini cemas.
Li San bergeming, ingin rasanya ia menarik senyuman tetapi bibirnya terasa lekat. Ia mengangkat tangannya agar Weini mendekat dan meraih uluran tangannya. “Hwa, kemarilah... Biarkan ayah dekat denganmu sebentar.” Pinta Li San lembut.
“Dulu tanganmu sangat kecil, imut sekali digenggam. Sekarang telapak tanganmu sebesar ini... sayang sekali aku tidak banyak waktu menggenggam telapak tangan kecilmu dulu. Aku tak habis pikir, mengapa sangat mudah terhasut hingga nyaris mengorbankanmu. Dulu aku sangat membenci pengawal Wei, menganggapnya pengkhianat dan berniat menghabisi kalian tanpa ampun. Kini aku bersyukur karena ambisiku gagal, syukurlah kalian selamat dan hidup dengan baik setelah kejadian itu.” Lirih Li San, matanya mulai tergenang air bening yang sesaat lagi akan luruh.
Weini makin merasa tegang, ia menggeleng pelan sebagai respon dari pengakuan ayahnya. “Ayah, sudahlah... Hwa sungguh sudah memaafkan semua itu. Tolong jangan ingat masa lalu itu lagi ya.”
“Hwa, dengarkan ayah dan tolong patuhi wasiat ayah.” Lirih Li San.
Weini menggeleng kuat, rasanya tak ingin ia mendengar apapun. Ia tidak mau menurut, tidak bersedia jadi anak yang patuh untuk kali ini.
“Berjanjilah kamu akan tetap kuat, jadi putriku yang paling tangguh apapun yang terjadi. Ada yang datang, ada yang pergi, itulah kehidupan. Setelah ini, ayah mohon kamu kuat dan jadi pemimpin keluarga yang bijak, ayah percaya kamu sanggup. Jaga kedua kakakmu hingga mereka menikah, ayah harap mereka bisa jadi gadis tangguh seperti kamu. Akurlah dengan Jun, bangun rumah tangga yang bahagia dengannya. Ayah akan sangat senang melihat kalian walau dari sana.” Lirih Li San, napasnya semakin sesak.
Weini terisak, ia mulai gugup melihat kondisi Li San. Dengan segala upaya ia mengerahkan kemampuannya untuk menolong, semua yang ia kuasai, sihir yang bahkan pernah ia gunakan untuk menggemparkan dunia, semuanya terasa tak berguna saat ini.
“Ayah, ku mohon hiduplah lebih lama lagi. Aku masih ingin bersama ayah, aku belum puas mendapatkan kasih sayangmu.” Rengek Weini dalam isakannya. Ia mengguncang tangan Li San yang ada dalam genggamannya, layaknya anak kecil yang meronta ketika keinginannya tidak dituruti.
Li San tak menanggapinya, senyumnya getir walau sudah ia paksakan. “Hwa, kemarilah... ayah ingin memelukmu.”
Weini bergeming, ia pun mendekap ayahnya dalam pelukan. Terasa dingin hawa dari tubuh ayahnya, membuat Weini menangis takut.
“Begini ternyata lebih nyaman, dulu ayah bisa menggendongmu, sekarang kau sudah besar, kau sudah be....” Li San tak sempat menyelesaikan kata-katanya, lidahnya kelu, bibirnya terhenti dengan senyuman lebar yang akhirnya bisa ia sunggingkan, dan nadinya tidak terasa lagi.
Weini menutup kedua matanya, rintik air mata itu deras mengalir. Ia masih erat memeluk tubuh ayahnya sambil sesenggukan. “Aku sudah besar ayah, anakmu sudah besar. Aku selalu berharap bisa membahagiakan ayah dan ibu, membuat kalian bangga. Ayah harus melihatku sukses dengan usahaku, aku bisa kerja ayah... aku punya penghasilan dari hasil keringatku. Ayah... ayah bangga kan? A... yahhh....” Lirih Weini, ia tak mampu lagi berpura-pura kuat di saat ia tahu telah kehilangan. Benar-benar telah kehilangan Li San dalam pelukannya.
“A... yaaahhh....” Jerit Weini dalam tangisan yang pecah, tangisan yang mengundang pilu hati siapapun yang mendengar jeritannya.
***
Dia pergi ketika aku kembali
Jika memang harus begitu caranya, ada yang datang menggantikan yang akan pergi
Lebih baik aku tidak pernah kembali, dari pada melihatmu pergi dengan cara seperti ini....
_Quotes of Weini aka Yue Hwa_
***
Selamat jalan Li San Jing, terima kasih sudah hadir dalam cerita ini. Para pembaca sudah memaafkanmu....