
Wajah gugup yang tengah dipandangi Xiao Jun itu terlihat sangat manis. Weini yang ia kenal pemberani, agresif dan keras kepala itu ternyata punya rasa takut juga. Entah mengapa ekspresi seperti itu terlihat mengesankan bagi Xiao Jun. Darahnya mendesir kala Weini tampak sangat pasrah hingga ia tergoda untuk meraih dagunya dan menariknya lebih dekat. Wajah Weini menatapnya dengan menengadah, napasnya menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Ia bahkan sudah menutup matanya hingga membuat Xiao Jun semakin tak bisa mengontrol
perasaannya. Ia merasakan cinta yang teramat dalam, ingin melindunginya, membuatnya tertawa bahagia dan tak ingin berbagi Weini kedekatan ini dengan siapapun.
Xiao Jun mendekatkan wajahnya, kini yang ada dalam tatapannya hanyalah bibir Weini yang terlihat sangat menantang. Ia berusaha mendekatkan bibirnya hingga napas mereka terasa bertabrakan.
Deg! Deg! Deg! Xiao Jun merasakan debaran di dadanya seperti genderang. Ini kali pertama ia mencintai seorang gadis, kali pertama ia berduaan sedekat ini dan sebentar lagi mereka akan berciuman. Weini bahkan sudah menyerahkan diri menantikan bertautnya diri mereka dalam sebuah kecupan. Semakin melihatnya, Xiao Jun kian gugup.
Eh… Weini terkejut lalu membuka mata. Ia tak bisa melihat wajah Xiao Jun lantaran masih menempel dengannya. Ciuman yang Weini kira akan mencetak sejarah ciuman pertama, nyatanya mendarat sempurna di pipi kirinya. Xiao Jun memilih mendekapnya sangat erat tanpa bersedia menunjukkan wajahnya. Ia bisa merasakan detak kencang dari dada Xiao Jun, mereka seakan bersaing kegugupan. Weini mulai tersenyum, dibalasnya pelukan Xiao Jun dengan melingkarkan kedua tangan di pundaknya.
Kedua insan yang sedang dipanah asmara itu seakan bisa bertelepati, hanya dengan pelukan tanpa sepatah katapun terasa sangat menyenangkan. Weini memberanikan diri mengusap punggung Xiao jun beberapa kali.
Ia tengah berpikir, andai tidak ada kejadian ini, andai ia tidak masuk rumah sakit, mungkin mereka berdua masih saling menyembunyikan perasaan. Atau mungkin Xiao Jun masih berada di Hongkong dan entah kapan bertemu lagi.
“Setelah kamu pulih dan kasus ini selesai, aku akan mengajakmu kencan di luar. Kencan di rumah sakit terasa aneh.” Ujar Xiao Jun. Ia merenggangkan pelukan dan perlahan Weini melepaskan diri dari dekapannya.
“Ini tidak seperti kencan, tapi menjenguk pasien.” Sergah Weini mulai kembali jadi dirinya yang biasa. Keduanya tertawa bersama, Xiao Jun mengelus dan mencium rambut Weini. Setelah sekian lama tidak memahami maksud
hati, nyatanya tak bisa memungkiri kata hati bahwa dirinya ingin selalu dekat dan memperlakukannya penuh kasih.
***
Haris baru saja tiba di depan kamar, ia menjinjing sebuah ransel berisi peralatan pribadi yang cukup untuk bekal beberapa hari. Ketika hendak masuk, kedua pria sangar itu mencegatnya. Haris mengernyit, ini tidak seperti biasanya.
“Maaf Tuan, anda belum boleh masuk sebelum tuan kami keluar.” Ujar salah satu pria yang masih menghadap Haris dengan tangannya.
“Oh jadi si anak muda itu lagi di dalam. Dia yang kasih perintah gitu?” tanya Haris sembari menggeleng kepala. Baru saja jadian beberapa hari tapi sudah sok mengutamakan privasi hingga ayah kekasihnya saja dilarang mengganggu.
Kedua body guard itu saling berpandangan bingung lalu salah satunya menjawab, “Bukan. Ini perintah Nona Dina, katanya bahkan om Haris pun dilarang masuk sebelum tuan muda keluar.” Ujar pria itu sangat jujur.
Haris geram, dalam hati ia merutuki keusilan Dina. Namun saat ia lihat sekeliling pun tidak ada Dina, ia mengurungkan niat untuk masuk. Dina ada benarnya, biarlah Weini mendapat suntikan semangat dari kekasihnya. Masalah yang ia hadapi belum juga berujung dan Xiao Jun tengah membuktikan keseriusannya menyelesaikan itu. Ditatapnya pintu kaca yang ditutupi gorden putih itu, ia menerawang ke dalam lalu tersenyum. Sebaiknya ia menepi dulu daripada mengganggu yang tengah bermesraan.
Xiao Jun menoleh keluar, kepekaannya tak bisa terelakkan. Ia tahu siapa yang berada di luar sekarang. “Sebentar ya.” Ujarnya sebelum beranjak dari sisi Weini. Gadis itu memberi anggukan dengan cepat.
Xiao Jun bergegas meraih gagang pintu sebelum targetnya semakin menjauh. “Paman! Masuklah!”
Haris menoleh kaget, ia tak menyangka anak muda itu sangat peka dengan kehadirannya bahkan mendekatinya dan meraih tas ransel itu.
“Aku bawakan, paman.” Ujar Xiao Jun sembari menuntun Haris masuk bergabung dengan Weini.
“Paman, mulai besok Weini tidak perlu sembunyi lagi. Aku sudah menyewa tim kuasa hukum yang paling terkenal untuk menghandel kasus ini. Semua bukti yang aku kumpulkan juga sudah diserahkan. Besok pasti ada
kejutan menarik untuk pihak lawan.” Ujar Xiao Jun to the point ketika ia melihat Haris sudah dalam posisi siap berdiskusi.
“Baguslah. Semoga semuanya sesuai harapan. Apa Weini masih perlu lebih lama di rumah sakit atau gimana?” Haris mencoba mendengarkan saran dari Xiao Jun. baginya rumah sakit adalah tempat yang paling amat dari
kejaran media, tapi jika Xiao Jun punya pendapat atau solusi lain, ia mungkin mempertimbangkannya.
“Menurut informanku, Metta sudah keluar rumah sakit satu jam lalu. Sebaiknya Weini tetap di sini dan kita menggelar konferensi pers besok di rumah sakit. Setelah target masuk perangkap, baru kita amankan Weini
di tempat lain.” Ujar Xiao Jun mantap.
“Wartawan mulai mengincarku, tadi aku harus mengelabui mereka supaya lolos dari kejaran. Mereka mulai mengepung sekitar rumah.” Haris menghela napas, inilah yang paling tidak ia senangi dari profesi public
figure, terkadang orang terdekat si artis pun tak luput dari sorotan.
Weini terkejut, ia tak menyangka ayahnya akan menerima imbas dari resiko pekerjaannya. “Ayah, maafkan aku. Ayah jadi terlibat masalahku.” Weini menunduk penuh sesal.
Xiao Jun menyaksikan tontonan yang mengharukan, ayah dan anak di hadapannya saling melindungi. Ia merasa iri dengan kedekatan yang tidak bisa ia dapatkan dari ayahnya. Bergegas Xiao Jun menepis rasa melownya
dan kembali menata fokus pada permasalahan.
“Kalian jangan cemas, aku akan siapkan satu unit apartemen di dekatku. Keamanan di sana sangat ketat, para pencari berita tidak bisa menerobos masuk begitu saja.”
Mendengar solusi itu tiba-tiba merubah mood Haris, ia berdiri dan langsung menepuk pundak Xiao Jun beberapa kali dengan kencang. Xiao Jun mengedipkan mata setiap kali tepukan itu mendarat di pundaknya.
“Kau memang bisa diandalkan anak muda. Jika kau berhasil menyelesaikan masalah Weini, aku akan mempertimbangkanmu sebagai calon menantu.” Haris tertawa senang dan masih belum menghentikan tepukannya.
Weini nyaris tersedak mendengar Haris dengan entengnya berkata begitu pada Xiao Jun. Calon menantu? Terdengar sangat memalukan baginya.
“Ayaah! Berhenti menepuk, kau menyakiti Xiao Jun!”
Xiao Jun merasa mendapat angin segar, ia tak menyangka mendapat sambutan baik dari ayah Weini. Jika saja Weini mengijinkannya bertemu Haris lebih cepat, ia rasa hubungan mereka pasti sudah sangat dekat. Xiao Jun begitu ingin memiliki ayah seperti Haris, diiming-imingi menjadi menantunya saja terdengar sangat membahagiakan. Ia akan berjuang mewujudkannya!
***