
Sepasang mata Weini nyaris tak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Seorang gadis polos nan cantik yang ia temui beberapa waktu lalu kini sangat berbeda. Kurus, lesu, wajah kusam yang nampak tidak terurus. Mata sayu itu kini bertatapan dengan Weini, sesaat itu pula ia tampak ketakutan dan berusaha menghindar Weini.
"Siu Fong, ini aku... jangan takut." Gumam Weini yang mencoba mendekat namun gadis itu malah menyembunyikan wajahnya.
Siu Fong menggeleng kencang, tangannya menepis tangan Weini yang mencoba menjamahnya. "Jangan sentuh aku!" Pekiknya.
"Maaf Gong Zhu, kadang dia seperti itu namun akan membaik lagi nantinya." Ujar Su Rong seraya membungkuk hormat.
Weini merasa iba, ditatapnya lekat gadis malang itu. Xiao Jun mencoba mendekati Weini dan menenangkannya. Weini hanya tersenyum tipis sebagai balasannya.
"Siu Fong, ini aku Yue Hwa. Jangan takut kamu aman sekarang. Coba lihat aku sebentar." pinta Weini meyakinkan dan suaranya sangat lembut.
Nama yang cukup membekas dalam ingatan gadis pelayan itu, perlahan ia pun mendongak menatap Weini walau masih sedikit takut.
Weini tersenyum lembut padanya, namun air mata gadis pelayan itu malah menetes.
"Nona... maafkan aku, aku bohong padamu. Aku... aku tidak membantumu saat itu. Aku malah menggunakan kesempatan untuk kabur, tapi... tapi...." Siu Fong menunduk takut, ia mungkin akan dihukum berat sekarang.
"Siu Fong tenanglah, aku tak masalahkan itu lagi sekarang. Kita lupakan saja ya, yang penting aku sekarang sudah selamat. Kamu juga tidak perlu merasa bersalah, aku tidak akan menghukummu." Gumam Weini.
Senyuman lebar seketika terbit dari wajah Siu Fong, mendengar ia lolos dari hukuman membuat ia bersemangat. "Ah, terima kasih nona. Terima kasih." Pekik Siu Fong sembari membungkuk hormat.
Weini hanya tersenyum membiarkan gadis itu berekspresi sesuka hatinya, dan ia bisa yakinkan bahwa kondisi Siu Fong akan kembali normal tak lama lagi.
"Setelah ini aku akan mengutus orang untuk mengantar mu kembali pada keluargamu, tapi kau harus sembuh dulu." Ujar Weini memberi semangat pada gadis itu.
Bukan main girangnya Siu Fong, ia berkali kali bersujud pada Weini sebagai ungkapan rasa terima kasih. Weini hanya tersenyum tipis, ia lega setidaknya semua mendapatkan akhir yang indah. Saat Weini masih fokus melihat gadis pelayan itu, ia dikejutkan dengan rangkulan Xiao Jun di pundaknya.
"Kamu hebat." Bisik Xiao Jun jujur di dekat telinga Weini. Ia sungguh bangga menjadi pria yang dicintai oleh gadis sehebat Weini.
Weini menggeleng pelan, menepis pujian dari kekasihnya. "Kamu lebih hebat." Bisik Weini membalas pujian itu.
❤️❤️❤️
Xin Er rela menahan kantuk demi bisa bertemu putranya. Meski Haris meminta agar ia lekas tidur tetapi tidak juga ia indahkan.
"Kamu tidak kuat begadang, jangan paksakan dirimu." Pinta Haris lembut.
Xin Er hanya tersenyum, dibalasnya tatapan penuh perhatian itu dengan tenang. "Sebentar lagi, aku yakin dia pasti datang." Ucap Xin Er.
Haris terdiam, padahal ia tahu Xiao Jun masih asyik dengan Weini, namun rupanya ada wanita lain yang juga ingin mendapat perhatiannya. Dengan terpaksa Haris harus mengandalkan kemampuan sihirnya lagi.
Jun, pulang dulu bentar, ibumu tidak mau tidur sebelum melihatmu.
Gumam Haris dalam hatinya.
Tidak perlu menunggu lama, Haris tersenyum karena sudah mendapat balasan.
"Hemm... tunggulah, dia sebentar lagi sampai." Ujar Haris mantap, padahal tadi Xin Er juga mengatakannya.
❤️❤️❤️
"Selamat istirahat Hwa, besok pagi aku akan mendatangi mu di aula utama." Ujar Xiao Jun yang telah mengantarkan Weini sampai ke depan paviliun Liang Jia.
Xiao Jun terkejut, tak menyangka Weini pun tahu percakapannya dengan Haris.
"Kau mendengarnya?"
Weini hanya tersenyum lebar tanpa perlu berkata apa-apa. Xiao Jun tertular senyuman itu, ia menggelengkan kepalanya tak habis pikir mengapa ia bisa sepolos itu memikirkan Weini.
"Ah, maafkan aku yang lupa siapa kamu. Tentu saja hal sekecil itu tidak akan luput darimu."
Weini berhenti tertawa dan menatap lekat Xiao Jun, "Belum tentu juga, nyatanya aku tidak bisa membaca pikiranmu, perasaanmu."
Xiao Jun terkejut dan tampak tak percaya, "Serius? Wah aku harus sebut ini keberuntungan atau tidak ya? ha ha ha...."
Weini meninju pelan dada Xiao Jun agar ia bungkam saja daripada terus tertawa.
"Sudah sudah, sana pulang ibumu sudah menunggu dari tadi."
Dan Weini hendak berbalik masuk, hanya saja gerakan Xiao Jun lebih gesit menariknya hingga tubuh Weini berbalik spontan dan posisi itu pas membuat bibir mereka saling bertemu. Weini terkesiap, tak menyangka dengan serangan mendadak itu.
"Kecupan biar bisa tidur nyenyak." Gumam Xiao Jun tertawa kecil lalu berjalan mundur sambil melambaikan tangannya pada Weini yang masih terdiam dan tersenyum senang.
Weini bisa menjamin bahwa malam ini ia akan tidur dengan nyenyak saking bahagianya hari ini. Ia berlari masuk sembari memegangi bibirnya yang masih berjejak bibir Xiao Jun.
"Pelan pelan Hwa, nanti kamu kesandung gimana?" Liang Jia menyambutnya di koridor, wanita tua itu sudah tahu kabar kepulangan Xiao Jun dan yakin putrinya pasti sangat bahagia.
Weini mengehentikan larinya saat melihat Liang Jia, "Ibu belum tidur?"
Liang Jia tersenyum lalu menggeleng,
"Sebelum melihat putriku pulang, ibu belum bisa tidur."
Weini tersenyum kecil, "Ah, ibu sama seperti ibu Xin Er saja." Gumam Weini sambil menggandeng tangan Liang Jia dan berjalan menuju kamar mereka.
"Loh tentu saja sama, kami kan para ibu yang terlalu sayang pada anaknya ha ha...." Tawa Liang Jia.
Weini hanya bisa mengiyakan ibunya biar senang. "Bu, lusa aku akan ikut Li Jun ke Jakarta. Apa ibu tidak keberatan aku tinggal sebentar?" Tanya Weini meminta ijin pada ibunya.
"Tentu saja, jangan cemaskan ibu. Pergilah selagi bersama Jun, ibu akan tenang. Jangan cemaskan ibu ya, masih ada Yue Fang dan Yue Xiao yang bisa menemani ibu di sini." Jawaban Liang Jia yang melegakan hati Weini.
"Syukurlah, aku tidak akan lama. Setelah urusan di sana selesai, kami akan pulang." Ujar Weini.
"Jangan terburu-buru juga tak apa, lagian Grace juga akan segera menikah. Kalian para gadis pasti ingin berkumpul dulu, ibu paham kok." Ujar Liang Jia sangat pengertian.
Weini mengangguk mantap dan tersenyum puas, "Ng... nanti ketika Grace menikah, kita hadir di Jakarta ya, bu." Pinta Weini.
Liang Jia tampak bersemangat, "Wah tentu saja, ajak juga kakakmu, kami belum pernah ke sana. Ibu ingin tahu di mana tempatmu besar dulunya."
Weini hanya tersenyum, tak bisa membayangkan apa reaksi Liang Jia kalau tahu ia dibesarkan di rumah yang ukurannya tidak bisa dibandingkan dengan istana megah ini, saking kecil dan sederhananya rumah masa lalunya bersama Haris.
❤️❤️❤️