
Satu tim make up artis tampak hectic memperbaiki riasan wajah Lisa dan memakan waktu lama hingga Lisa mulai ngantuk dan bosan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia menjulurkan tangan untuk menunggu ponsel dari asistennya. Dahinya mengerut saat membaca nama Metta di layar ponsel. Seketika ia merasa tubuhnya dingin, untuk apa orang yang tak ia harapkan itu menghubunginya?
“Lagi apa kamu? Syuting?” Metta memulai percakapan sebelum Lisa menyapa dulu.
Lisa melambaikan tangan pada orang-orang di sekitarnya agar meninggalkannya sendiri. Ia mulai geram dengan nada arogan putri selingkuhannya itu.
“Gue sibuk. Ngapain telpon? To the poin aja!” gertak Lisa tak kalah jutek.
“Hahahaha… iya gue percaya artis kayak lu pasti nggak ada nganggurnya. Lu udah lihat berita hari ini? Hahaha… gue cuman mau ingetin, giliran lu pasti sampai ntar. Sabar nungguin aja waktu nganggur lu bentar lagi hahaha.” Metta terkikih di seberang lalu telpon terputus.
Lisa menyadari komunikasi sudah berakhir, “Dasar stress!” pekik Lisa sakit hati. Ia kemudian penasaran berita apa yang Metta maksud dan segera mencari berita terviral hari ini. Lututnya gemetaran seketika saat membaca nyaris di semua portal berita memuat kasus Metta dan Weini. ia mengernyit saat membaca satu tagline tentang video pengakuan Metta serta video penganiayaan.
Semua pengakuan dan video jelas Lisa tahu kebenarannya, ini hasil rekayasa Metta. Ia tidak menyangka gadis yang ia peralat menjadi asistennya ternyata punya otak yang tak kalah licik darinya. Sekarang Metta mengancamnya, bukan tidak mungkin gadis itu sudah menyiapkan scenario untuk menjatuhkannya seperti yang ia lakukan pada Weini sekarang.
“B*tch lu Mettaaaa…” Lisa menggebrak meja riasnya hingga bergoyang dan beberapa alat make up berjatuhan.
***
Dina dan Haris baru saja kembali masuk ke kamar Weini dan menyadari gadis itu tengah terjaga. Weini meraih ponsel yang ada di lagi meja dengan susah payah. Dina yang melihat dengan mata kepala langsung histeris, mustahil bisa menjangkau jarak antara pintu dan bangsal Weini serta menghentikannya membuka ponsel dalam hitungan detik. Teriakan melengking Dina pun mengejutkan Weini.
Haris melihat celah lengahnya perhatian Weini untuk menjatuhkan ponselnya ke lantai dengan bantuan sihir. Ponsel pintar itu pecah layar berkeping-keping halus setelah menghantam lantai keramik.
“Non Weini… nggak apa-apa?” Dina berlari menghambur ke Weini yang terbengong melihat retaknya ponsel itu.
“Kakak ngapain teriak? Hapeku ampe hancur saking kagetnya aku.” Weini kecewa, alat komunikasi satu-satunya pun tak bisa diandalkan lagi. Kali ini ia bakal mati bosan di ruangan serba putih itu.
“Ng… aku cuman kaget non udah bangun dan kirain tadi mau jatuh. Maaf…” desis Dina pura-pura merasa bersalah, padahal dalam hatinya ia sangat bersyukur masuk tepat waktu.
“TV nggak bisa nyala, hape rusak. OMG! Ayah, kapan aku boleh pulang?” rengek Weini.
Awalnya Haris berharap Weini lekas sembuh dan pulang ke rumah, tetapi situasi di luar sekarang lebih menyeramkan dibandingkan suasana rumah sakit. Meskipun sudah diperbolehkan pulang, Haris tetap akan
mencari cara menahan Weini di sini lebih lama lagi sampai masalah di luar bisa dikendalikan.
“Aku bukan dokter.” Haris menghela napas panjang.
Melihat wajah pesimis Haris, Weini enggan merengek lagi. Mungkin kondisinya parah, walaupun ia merasa sangat baik bahkan kuat untuk berjalan sekarang. “Maaf, bikin kalian pusing. Aku akan nurut dengan dokter.”
Weini memandang ke pintu, tatapannya penuh pengharapan walaupun tidak diungkapkan tetapi Dina dan Haris bisa mengerti apa yang tengah ia pikirkan.
“Dia datang tadi, tapi kamu masih tidur. Dia nungguin lama dan takut ganggu kamu.” Ujar Haris tanpa ditanya.
“Eh… di mana dia sekarang?”
“Udah pulang non. Dia dapat telpon penting trus pamit pulang. Ntar datang lagi kalau urusan kerjaan beres katanya.” Timpal Dina melanjutkan kebohongan Haris.
“Oh…” weini tertunduk kecewa, puing pecahan ponselnya masih tersisa di bawah. Ia tidak bisa menghubungi Xiao Jun sekarang, hanya bis menunggu pria itu datang kembali entah kapan.
Ketukan pintu yang terdengar nyaring memecah perhatian Weini, Dina dan Haris disertai dengan suara berisik.
“Mbak Weini, kami datang menjenguk. Mbak, minta waktunya bentar ya…” teriakan di luar terdengar jelas, namun Dina dan Haris enggan mengijinkan masuk. Dina malahan mengunci pintu dan berdiri di depan seperti satpam.
“Nggak usah non, berisik mereka. Mending cuekin aja!” Dina tetap siaga satu di depan pintu.
“Mbak Weini, benarkah mbak sengaja menganiaya Metta karena dendam? Mbaak… klarifikasinya dong! Apa tanggapan mbak dengan video pengakuan korban?” wartawan di luar pantang menyerah, teriakan mereka sengaja
memancing narasumber agar bersedia menjawab.
“Hah? Dendam? Video pengakuan korban?” Weini menatap Haris, dalam tatapan diam itu ia meminta penjelasan.
Haris mendehem, mimiknya dengan tenang tampak meyakinkan. “Jangan digubris. Ada waktunya untuk bersembunyi, bukan berarti salah. Nanti ada saatnya keluar dan membeberkan kebenaran, tapi bukan sekarang.”
Weini tidak berani membantah saran Haris, di dunia yang kejam terhadapnya hanya Haris yang kata-katanya bisa dipercaya dan Weini sudah membuktikannya.
Dina mengetik pesan singkat pada Lau. Situasi di sini kacau om, tolong kirimkan bantuan untuk menjaga keamanan Weini.
***
Stevan meneguk sebotol air mineral dingin, sejak kemarin ia menahan keinginan untuk menjenguk Weini. Kenyataan bahwa gadis yang ia cintai itu sudah menjadi kekasih orang lain masih sangat sulit ia terima. Hatinya
belum siap terluka melihat kenyataan itu, dan ia tidak mau menyakiti diri lebih dalam lagi.
“Okay all talent, siap buat take!” Bams memberi aba-aba dengan toa. Sederet artis dan ekstras (figuran) langsung menempati posisi. Namun tiba-tiba seorang kru masuk ke studio mencari Bams.
“Sorry pak, ada tamu lagi nunggu di ruangan anda sekarang. Katanya penting.” Bisik kru itu ke telinga Bams.
“Sepenting apa sih? Siapa dia sampe harus aku temuin. Lu nggak bilang gue lagi kerja!” bentak Bams pakai toa. Ia reflek menjawab tanpa sadar masih memegang toa di dekat mulut. Seluruh penghuni studio auto memperhatikannya. Kru yang menyampaikan info ketakutan, ia sudah berusaha menyampaikan secara rahasia tapi Bams malah mengumumkannya.
“Dia bilang ini menyangkut masa depanmu dan kantor ini.” Bisik kru itu dengan hati-hati.
Bams meremas telapak tangannya, emosinya mulai terpancing. “Siapa dia! Beraninya nantangin gue!”
Kru itu menggeleng kepala, ia sendiri tidak tahu siapa dan darimana tamu itu berasal. Hanya satu penilaian pribadinya yang bisa ia sampaikan, “Hati-hati pak, orang ini sepertinya punya pengaruh besar.”
Bams makin penasaran, jika ia tidak menemuinya sekarang, ia tidak akan tenang melanjutkan kerjaan. “Sorry guys, kita break bentar. Matiin dulu peralatan, tunggu gue balik baru lanjut.”
Stevan menaruh curiga, siapa orang yang bisa menggugah kedisiplinan Bams? Mungkinkah orang ini ada kaitannya dengan Metta yang kabarnya bukan anak orang sembarangan?
***
Bams mengikat rambut gondrongnya sebelum masuk ke ruangan. Kelelahan fisik yang diforsir berhari-hari semakin memacu emosinya. Ia tak sabar lagi melihat siapa tamu penting yang punya nyali besar mengancamnya.
Pemandangan yang pertama Bams lihat saat masuk adalah sesosok punggung yang terlihat atletis dan macho dalam balutan jas hitam dari koleksi brand ternama. Si pemilik punggung itu berbalik ketika menyadari
kehadiran Bams dan langsung menyunggingkan senyum ramah.
Sekilas pandang, Bams terkesima oleh kharisma tamu tak dikenalnya namun ia segera fokus dan melontarkan sebuah pertanyaan, “Anda siapa?”
***