OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 400 MUSUH JATUH CINTA?



Tubuh Weini terbaring di atas ranjang besar, dalam kamar berukuran besar pula yang sengaja Chen Kho berikan untuknya. Semula pria itu ingin menempati kamar utama di rumah bawah laut itu, tetapi ia mengurungkan niat dan memberikannya kepada Weini.


Seorang pelayan wanita yang baru saja dipekerjakan khusus melayani Weini, langsung membungkuk hormat begitu melihat Chen Kho masuk ke dalam kamar itu. Chen Kho tak melirik sama sekali pelayan mida muda itu, ia malah mengangkat satu tangan sebagai isyarat agar pelayan itu keluar dari kamar, meninggalkan ia berdua dengan Weini.


Chen Kho mengambil posisi duduk di tepi ranjang, persis di samping pinggang Weini. Matanya menatap lekat wajah gadis yang kini tubuhnya sudah dibersihkan dan berganti pakaian oleh pelayan. Chen Kho memilihkan gaun berwarna pastel untuk Weini, ia tampak tersenyum puas melihat hasilnya. Gaun simpel itu tampak bagus dikenakan Weini, sesuai dengan warna kulitnya yang cerah.


"Apa kamu suka dengan pilihanku? Pakaian ini jauh lebih bagus daripada kamu masih memakai pakaian kotormu." Ujar Chen Kho, ia memperlakukan Weini seolah gadis itu mendengar apa yang ia katakan.


Bibir Weini yang terkatup dengan manis, mengundang daya tarik Chen Kho hingga tatapannya terus melekat di sana. Harus dia akui bahwa Weini memiliki kecantikan yang nyaris sempurna nilainya. Andai sejak dulu, ketika ayahnya menceritakan tentang rencana perjodohan sedarah dengan sepupunya ini, andai saat itu Chen Kho tahu Weini secantik bidadari, ia tentu tak keberatan menerimanya.


Penyesalan itu terasa menyiksa, segalanya terlanjur jauh dan rumit terjadi. Chen Kho pun tak yakin masih ada kesempatan untuk masuk ke dalam hati gadis di hadapannya. Pendosa seperti dirinya, apa masih layak mendapatkan cinta gadis polos itu? Chen Kho agaknya bermimpi terlalu indah untuk memiliki yang bukan miliknya.


Ia menatap sebuah cincin yang tersemat di jari manis Weini, alisnya terangkat sebelah, disusul seringai dari bibirnya yang tak suka melihat benda itu berada di jari Weini. "Ternyata sudah sedalam itu hubungan kalian, apa dia melamarmu dengan cincin kuno ini? Hah... Aku bahkan bisa memberikan yang jauh lebih mahal dan bagus daripada ini." Kesal Chen Kho, hatinya panas seketika dan spontan ia meraih cincin di jemari itu.


Susah payah Chen Kho melepaskan cincin yang ia sebut kuno itu, alhasil ia justru terpelanting hingga jatuh tersungkur di lantai. "Siaal! Benda itupun mengandung magis? Klan Wei memang picik! Dia pasti mengikatmu dengan paksa kan? Aku yakin kamu juga pernah berusaha melepas cincin ini saat kamu tahu dia dijodohkan dengan adikku." Gumam Chen Kho kesal.


Chen Kho berdiri lalu kembali duduk di samping Weini, pikirannya masih seputar mengagumi Weini, ia merasa semakin lama melihatnya, semakin besar ketertarikannya pada gadis itu. "Ada baiknya juga kalau si brengsek itu menikahi Grace, dulu aku kasihan pada adikku itu, ia mati-matian mengejar cinta kekasihmu. Tapi sekarang, bukankah kita sudah bersama, mereka pun tak bisa menemukan kita. Aku bersedia tinggal di sini selamanya asal bersamamu. Kau juga harus rela, biarkan kekasihmu menikahi adikku saja." Ujar Chen Kho yang mulai dikuasai kelicikan di pikirannya.


Ada rasa egois, rasa ingin memiliki yang begitu besar ia rasakan kini. Ia pun belum bisa mempercayai bahwa ia telah jatuh cinta, secepat itu pada Weini. Chen Kho menatap cincin di jari Weini dengan sinis, ia belum bisa menyingkirkan itu sekalipun sangat ingin ia lakukan.


Tangan Chen Kho kini beralih pada wajah mulus Weini, wajah yang tampak cerah dan halus meskipun tanpa make up. Chen Kho menyentuh pipi Weini, senyumnya mengembang penuh. "Awalnya aku ingin membunuhmu, tapi kau memiliki wajah malaikat seperti ini, bagaimana sanggup aku menghabisimu. Ha ha ha... Betapa kejam ayahmu setega itu mau membunuhmu, ternyata aku jauh lebih punya hati." Tawa Chen Kho melengking, ia tak bisa bayangkan bagaimana perasaan Li San, andai tahu putrinya yang dulu hendak ia habiskan ternyata sudah sebesar ini, dan cantik luar biasa. Apa tidak hancur perasaannya, andai tahu gadis yang dibuang ini justru berlian paling mahal di antara anak gadisnya yang lain.


Reaksi Weini yang hanya terpejam saja membuat Chen Kho merasa bodoh berbicara sendiri. Ia pun mulai kesal lalu menyentuh wajah Weini agak kasar, "Kamu mau tidur sampai kapan? Apa kamu putri tidur? Mau dibangunkan dengan ciuman?" Ketus Chen Kho.


Pria bengis itu tampak serius dengan niatnya, perlahan ia mulai mendekatkan wajah ke wajah Weini, hingga hidung bangir mereka nyaris bersentuhan saking dekatnya. Namun saat jarak dan kesempatan sudah di depan mata, Chen Kho justru tersentak kaget. Sensasi hangat cenderung panas dari energi tubuhnya tersedot keluar menuju tubuh Weini. Reflek Chen Kho menjauhkan diri dari jangkauan daya hisap Weini, sungguh hal baru yang baru ia sadari dari kemampuan gadis itu.


"Ternyata kau juga menguasai sihir penyerap raga, hmmm... Tampaknya aku keliru meremehkanmu." Ujar Chen Kho sambil melirik Weini.


Agak lama ia menatap hingga hatinya sedikit trenyuh dan berubah pikiran, ia mendekatkan tangannya ke wajah Weini, selagi energi hisap Weini masih aktif. "Ambillah semampumu! Lebih baik melihatmu bangun dan menyodorkan pedang padaku daripada aku harus terus bicara pada orang tidur." Seru Chen Kho, ia membiarkan energi Weini menyerap hawa Yang dalam tubuhnya.


***


"Makanlah sedikit lagi, kau harus punya tenaga untuk pulihkan fisikmu." Pinta Liang Jia halus, seperti membujuk anak kecil.


Li San menggeleng lemah, tatapannya sendu menatap istrinya. "Di luar masih ramai, aku harus turun tangan menenangkannya. Putri kita juga belum ketahuan di mana keberadaannya, aku tidak bisa tinggal diam." Ujar Li San tertatih, napasnya agak berat.


Liang Jia sedih melihat kondisi suaminya yang turun drastis sejak terperangkap dalam ruang bawah tanah, penyesalan yang Li San rasakan tampaknya jadi hukuman berat yang dipikulnya di masa usia senja ini. "Setidaknya kamu harus makan agar punya tenaga menghadapi masalah di luar. Ayolah, kau harus segera sehat dan kendalikan semuanya tapi sekarang makan dulu." Bujuk Liang Jia.


Li San tak menolak lagi, ia pasrah disuapi istinya hingga suapan terakhir. "Apa aku masih punya kesempatan bertobat? Apa aku masih punya waktu untuk minta maaf pada Yue Hwa dan Wei?" Lirih Li San. Penguasa berhati batu itu rupanya masih punya sisi lembut, ia sungguh-sungguh dengan tekadnya. Air mata penyesalan merembes keluar dari kedua kelopak matanya, penyesalan ini akankah datang terlambat?


Liang Jia terpaku diam melihat kesedihan suaminya, Li San telah berubah, ia tersadarkan sepenuhnya. Namun mengapa di saat ia sudah menyadari dan ingin memperbaiki, justru keadaan yang belum mengijinkannya? Masalah yang bertubi-tubi ini kapan baru berakhir?


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Hai... Congratulation πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽŠπŸŽŠπŸŽ†πŸŽ†πŸŽ‡


Selamat ya kamu baru saja membaca episode 400 cerita ini. Gimana? Ada yang mau ucapin selamat nggak nih buat author? Ini edisi spesial loh, xixixi


Author secara pribadi mengucapkan terimakasih banyak atas kesetiaan kalian, atas support kalian, meskipun cerita ini nggak tenar-tenar amat sih, tapi kalian tetap semangat membaca.


Makasih ya πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Dan edisi spesial kali ini, Author keluarkan lagi satu visual tokoh dalam cerita ini.


Nah yang beruntung dikenalkan sekarang adalah si kakak ipar Xiao Jun yang humoris, ganteng, super duper kaya dan berkuasa, romantis, unyu-unyu, dan inilah dia...


LO WEN TING