
Weini tertawa seraya menggelengkan kepalanya, “Kakak ada ada saja, ya... kalau hanya kita berdua lupakan saja formalitas. Tapi kalau lagi rame, jaga sikap ya kak. Kita bukan lagi di Jakarta, tapi nggak sampai hukuman mati juga kali....” Tawa Weini.
Dina ikut tertawa meskipun tawanya terdengar canggung. “Non... aku senang lihat non udah punya kehidupan
yang lebih baik. Rasanya kayak baru kemarin aja kita kenal, trus aku dampingin non kerja. Makasih ya non, selama ini udah baik banget sama aku. Udah anggap aku kayak saudara.” Lirih Dina, melihat tawa Weini yang lepas saat ini membuat Dina kepikiran seperti itu.
Weini terdiam, ia menatap lekat pada Dina. “Kak, aku kemari justru ingin berterima kasih padamu. Apa yang kakak lakukan pada selama ini sangat baik dan sangat berarti buat aku. Tanpa kak Dina, mungkin hari ini sudah tidak ada aku. Makasih banget untuk malam itu, kakak berani bertaruh nyawa untuk membantuku. Makasih kak....” Ujar Weini tak kalah lirih. Weini memang mencari kesempatan agar dapat bicara empat mata dengan Dina, banyak yang ingin ia bagikan dan ada rasa rindu yang ingin diekspresikan dengan pertemuan.
Dina mengangguk, “Apapun demi nona, aku siap berkorban.” Ungkap Dina sok pahlawan.
“Tapi... setelah ini aku akan pulang sama Stevan... dan entah kapan baru bisa ketemu nona lagi.” Sedih Dina, rasa bangganya beberapa detik lalu berganti rasa sedih membayangkan perpisahan lagi.
Weini pun terdiam sejenak, berat rasanya namun inilah yang harus ia jalani. Selalu ada hal yang harus dikorbankan untuk mendapatkan hal lain. Sulit rasanya untuk mendapatkan semua yang ia inginkan, sekalipun Weini memiliki kekuasaan.
“Kak, aku tahu kamu sudah kerja keras untuk mengendalikan masalah di Jakarta. Tenanglah, aku tidak akan membiarkanmu kesulitan, setelah urusan di sini selesai, aku akan ke sana sebentar untuk meluruskan masalah. Apa yang sudah aku mulai, harus aku selesaikan baik baik.” Ujar Weini serius dengan tekadnya.
Dina berbinar dan tampak tak percaya, “Nona mau hadir langsung buat preskon? Serius? Ini akan sulit diterima loh, apalagi wajah nona... lagian karier nona juga otomatis mandek, kalau aku bilang sih biarkan saja non. Nggak perlu repot repot klarifikasi lagi, orang sehebat nona nggak bakal ada yang berani gosipin macam macam lagi kok.” Tukas Dina.
Weini tampak serius memikirkan saran Dina yang terdengar masuk akal, selama ia menjadi artis pun ia jarang mengklarifikasi rumor tentangnya. Bahkan rumor hubungannya dengan Xiao Jun, sekalipun benar tetapi Weini belum pernah buka omongan langsung pada media.
“Kalau menurut kakak itu lebih baik, ya sudahlah biarkan tertutup waktu saja. Lagi pula aku memang tidak bisa lagi meneruskan karierku di sana.” Gumam Weini.
Dina mengangguk namun sedih mendengar keputusan Weini yang sudah bulat itu. Raut wajahnya berubah menunjukkan isi hatinya. “Non, hiks... boleh curhat nggak sih?”
Weini terdiam, ia bisa membaca isi hati Dina namun tetap mengijinkannya menyampaikan langsung. “Boleh kak.”
Dina mulai melow matanya pun berkaca-kaca, “Non, aku tuh berat kalau harus jauh sama non. Aku nggak bisa digituin hiks... Nggak ketemu non beberapa hari aja udah menggalau, apalagi nanti kalau terpisah jauh begini.” Dan Dina beneran terisak, terbawa perasaannya.
Weini tertegun, ia paham perasaan Dina dan sebenarnya pun ia merasakan hal yang sama. “Kak... yang namanya hidup ya begitulah, siap tidak siap kita harus menyesuaikan perubahan itu. Aku sebenarnya juga berat jauh dari kakak.”
Dina menyeka air matanya, terbersit pikirannya yang ia pendam sejak perjalanan kemari. “Non, apa bisa nerima aku jadi asistenmu? Atau kerjaan apa gitu yang penting bisa kayak dulu lagi, aku masih belum bisa move on dari non.” Pinta Dina sungguh-sungguh.
Weini menatapnya serius, sambil memikirkan pekerjaan apa yang cocok untuk Dina. Dari tampang Dina memang sangat serius keinginannya, namun banyak hal juga yang harus Weini pertimbangkan, terutama masalah komunikasi. “Hmmm... kak, kerjaanku di sini bukan jadi artis lagi loh.” Gumam Weini.
Dina mengangguk cepat, “Iya non, tahu... non kan jadi bos di sini, mana level lagi syuting syuting.” Jawab Dina polos dan nyemplak.
“Bukan gitu sih masalahnya, untuk mengangkat seorang asisten, aku harus punya alasan kuat atau setidaknya posisi itu memang aku perlukan. Kalau tidak, aku bisa dianggap menyalah gunakan kedudukan.” Jelas Weini.
Weini berpikir keras, ia pun tidak ingin mengecewakan Dina begitu saja. Setidaknya ada sesuatu yang harus ia upayakan untuknya. “Kak... apa kakak tidak kepikiran untuk menikah?”
Wajah Dina berubah, memerah padam saat mendengar pertanyaan itu. “Eh... itu....” ia kehabisan kata-katanya.
Weini tersenyum, “Bukankah kakak sudah menemukan jodoh yang tepat? Aku rasa sebentar lagi kakak akan
melepas masa lajang. Apa tidak sebaiknya mengejar masa depan yang lebih pasti kak?” tanya Weini penuh perhatian.
Dina menunduk malu, “Itu kan tergantung cowoknya, kapan dia siap lamar aku. Lagian aku kok pesimis ya sama
hubunganku. Iya sih, dia bisa bahasa Indonesia, komunikasi kita nggak ada masalah. Tapi gimana dengan keluarganya, belum lagi budaya yang berbeda, nggak tahu juga keluarganya bisa nerima aku atau nggak, non.” Ujar Dina mulai pesimis, efek kegalauan karena sampai saat ini Ming Ming belum memberi kabar padanya.
“Jangan putus asa kak, namanya cinta sejati pasti perlu diperjuangkan. Kalau dasarnya udah kuat, pasti awet kok ke depannya. Yang penting kalian sreg dulu.” Nasehat Weini.
Dina melirik Weini sekilas lalu berkata, “Iya sih, kayak tuan sama nona ya, cintanya udah diuji, ditimpa masalah ini itu dan tetap saja bersatu lagi. Jadi kapan non nikah? Kayaknya lebih tepat non yang lepas lajang dulu deh daripada aku. Kan non pacaran duluan, lagian mau nunggu apalagi sih non?” Dina membalikkan senjata, kini giliran ia yang menodong Weini.
Weini bingung hendak menjawab apa, “Eh... itu... ya tergantung kapan dilamar kak.” Lirihnya pelan.
Dina tertawa ngakak, keceplosan saking akrabnya pembicaraan mereka. “Ups maaf non. Nah, makanya kerasa kan posisi aku juga gitu non. Kapan nikahnya ya tergantung kapan dilamarnya ya. Tapi aku yakin tuan Xiao Jun nggak bakal nunggu lama lagi. Hmm... pokoknya kalau non sama tuan nikah, aku harus hadir, kalau bisa jadi pengiring
pengantinnya titik.” Ujar Dina serius dengan tekadnya.
Weini bungkam saja, memikirkan ada benarnya ucapan Dina. Setelah semua hal yang ia lalui dengan Xiao Jun, apa lagi yang harus ia ragukan? Tetapi tabu rasanya membicarakan pernikahan padahal pemakaman ayahnya saja belum selesai diurus.
“Ah, udah malam kita tidur saja yuk kak.” Ajak Weini mengalihkan pembicaraan agar tidak disinggung soal menikah lagi.
Dina berdiri hendak mengantar Weini meninggalkan kamarnya, “Iya non, non istirahat saja kan besok masih banyak kesibukan. Selamat malam non.”
Weini terkekeh, “Malam kak, tapi aku nggak ke mana kok. Malam ini aku nginap di sini.”
Dina terkejut, “Hah? Yang benar saja non mau tidur sekamar bareng aku lagi?”
Weini tak menjawab lagi, ia berjalan menuju ranjang membiarkan Dina yang masih shock berdiri di sana.
***