
Suara derap langkah dari sepatu terdengar nyaring di tengah lorong gelap nan sunyi. Dua pasang kaki jenjang berjalan cepat mendatangi sebuah sel di antara sekian banyak sel kosong di ruang bawah tanah.
Kao Jing duduk bersila dan bersandar pada dinding yang lembab. Makanan yang diberikan penjaga penjara sejak kemarin tidak juga disentuhnya. Pikirannya terlalu kotor dan penuh prasangka kalau Li San menyuruh anak buahnya untuk meracuninya. Pendengarannya menangkap suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah selnya. Kao Jin tetap bergeming, ia mengira yang datang hanya penjaga yang seringkali mengecek
kondisinya.
Sepasang tangan meraih gembok selnya, bukan dengan kunci tapi dengan alat yang merusaknya. Kao Jing memandangi orang yang berusaha melepaskan gembok itu, terlihat bukan mengenakan seragam para penjaga yang biasa lalu lalang.
“Tuan besar, bergegaslah keluar!” Seru pria yang lainnya dengan terburu-buru.
Kao Jing terkesiap, ia segera beranjak dari posisi duduk bersilanya namun kembali terjatuh karena kaki yang kesemutan. Kao Jing reflek berteriak kesakitan saat kakinya yang masih belu bertenaga itu terjatuh hingga terkilir, ia jelas kesulitan untuk menuruti perintah orang yang datang menolongnya.
Dua pria di luar ikut gugup saat tahu Kao Jing terjatuh, mereka tak punya banyak waktu lagi dan berspekulasi dengan keadaan di luar. “Tuan, bangunlah... kia tidak punya banyak waktu.” Seru seorang pria yang menatapnya cemas.
Kao Jing terpaksa tertatih menyeret tubuhnya agar mendekat ke pintu sel, tetapi sebelum gembok itu berhasil terbuka paksa, suara pistol yang mengudara pun terdengar. Kedua pria yang berusaha membobol tahanan itu tergagap, mereka mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan ke arah penyerang.
Doorrr... peluru melesat cepat dan mengenai lengan pria yang berdiri di depan sel Kao Jing. Pistol yang ada di tangannya jatuh, ia tak sanggup lagi mengambil senjata untuk menyerang balik. Sementara satu orang lainnya berusaha kabur dan berakhir dengan tembakan yang menembus kakinya.
Kao Jing terdiam tak berdaya, di saat pertolongan datang padanya tetapi kesempatan meloloskan diri pun tidak tersampaikan. Pria tua itu tertunduk pesimis, rasanya kematian sudah mendekatinya. Bantuan dari Chen Kho yang ia harapkan pun tidak sesuai kenyataan, habislah sudah upayanya untuk lolos. Dalam posisi terdiam itu, Kao
Jing mendengar suara sepatu yang melangkah mendekatinya, lalu suara pistol yang diisi pelurunya.
***
Sorot mata Xiao Jun tajam menatap tangan Weini yang menggandeng pria lain. Meskipun tahu bahwa Weini mungkin sering berinteraksi dengan lawan jenis ketika sedang beradu peran, namun rasanya tidak sepanas saat menyaksikan gadis itu memperhatikan pria lain di depan matanya. Ingin rasanya Xiao Jun merebut kembali perhatian Weini yang mungkin tersita pada Chen Kho yang beberapa hari bersamanya, namun niatnya dihalangi Haris yang pastinya tahu apa yang Xiao Jun rasakan.
“Kita keluar dari sini sama-sama.” Gumam Weini didukung sorot matanya yang sangat meyakinkan.
Chen Kho tak berkata-kata lagi, ia mengangguk pelan dengan tatapan kosong. Ia pun tidak tahu mengapa hatinya begitu nyaman dan percaya pada Weini, yang pasti ia yakin Weini tak seperti yang lainnya, gadis itu bisa mengerti dan menerima kekurangannya. Chen Kho membalas genggaman tangan Weini, mereka bersamaan berjalan mendekati Xiao Jun.
Weini tersenyum lega, kini pandangannya beralih pada Xiao Jun seolah mengharap pengertian dari kekasihnya. Biar bagaimanapun ia dan Chen Kho masih satu darah, mustahil pula Weini berpaling hati kepadanya. Melihat senyuman itu, Xiao Jun langsung melupakan gejolak hatinya yang sempat disesaki rasa cemburu. Pesona Weini
terlalu menyilaukan mata, Xiao Jun bahkan tak bisa mengedipkan mata saat ditatap lekat oleh wanitanya. Weini yang dulu saja sudah sangat memukau,ditambah dengan wajah aslinya yang ternyata lebih cantik dari perkiraan Xiao Jun.
Bunuh*...*
Bisikan berulang-ulang terdengar oleh Chen Kho, hasutan dari suara itu membuat kepala pria itu terasa sakit. Chen Kho reflek memegangi kepalanya, ia berusaha keras untuk menyingkirkan suara provokator itu.
“Tidak! Tidak!” Pekik Chen Kho memegangi kepalanya seperti sangat kesakitan. Tangan Weini ditepisnya kencang hingga Weini goyah dan ditangkap oleh Xiao Jun. mereka terheran melihat Chen Kho yang gelisah dan berjalan sempoyongan sambil memegangi kepalanya. Teriakan pria itu makin menggila, hingga akhirnya mereda dan kembali menatap ke arah Weini dengan tatapan tajam.
Weini tahu persis apa yang terjadi pada Chen Kho, sosok gaib itu pasti telah merasukinya. Chen Kho melayang terbang ke arah Weini dan tangannya sudah terangkat untuk melemparkan serangan.
Xiao Jun ikut geram dan mengangkat tangannya untuk menyerang balik, namun tak disangka Weini justru
pasang badan di hadapan Xiao Jun dan mencegahnya menyerang. “Jangan! Jangan lukai dia!” Pekik Weini.
Xiao Jun dan Haris menurunkan tangannya, mereka tak habis pikir dengan sikap Weini yang malah melindungi musuh. “Weini, kamu tahu apa yang kamu lakukan? Dia mau membunuhmu tapi kamu malah melindunginya?” Geram Xiao Jun.
Weini menatap Xiao Jun dan Haris, memohon belas kasihan mereka dengan mata yang berkaca-kaca. “Itu
bukan dia, dia sedang dikuasai.”
Penjelasan Weini tak banyak membantu, Chen Kho mulai melemparkan serangan persis mengenai punggung
Weini hingga tubuh gadis itu terpental. Xiao Jun tersentak namun tetap sigap menangkap tubuh Weini hingga tidak menabrak dinding. Haris tak lagi mengindahkan perintah Weini, ia melihat kondisi sudah tidak memungkinkan untuk
tinggal diam. Haris merapalkan sebuah mantera lalu menyerang dengan api sihirnya.
“Jangan ayaaah!” Pekik Weini histeris dalam pelukan Xiao Jun.
“Jun, bawa nona keluar dan tunggu aku di atas.” Perintah Haris yang sedang menangkis serangan bertubi Chen Kho yang menerbangkan seluruh benda dalam ruangan itu. Aura jahat dan kekuatan besar itu terasa betul, bahkan Xiao Jun pun peka merasakannya.
“Tidak ayah, aku akan menghadapi bersamamu. Biar Su Rong yang membawa Weini pergi dari sini.” Teriak Xiao
Jun yang kemudian menyuruh Su Rong mengambil alih Weini.
Weini menepis tangan Su Rong yang hendak meraih lengannya, ia geram dengan Xiao Jun yang tidak menanggapi permintaannya. Weini mengerahkan seluruh tenaganya yang belum pulih itu untuk menangkis Chen Kho. Sihir yang dimiliki Chen Kho kurang lebih juga dimiliki Weini, dan kini Weini sudah tahu jawabannya, darimana kekuatan
sihirnya yang aneh berasal padahal tidak diajarkan oleh Haris. Itu karena Chen Kho dan ia berasal dari keturunan yang sama dan klan Li ternyata mempunyai seseorang yang ahli dalam sihir barat.
“Hadapi aku! Bukankah yang kau incar adalah aku? Tapi keluar dari tubuh dia!” Pekik Weini lantang setelah ia menangkis serangan Chen Kho.
Semua mata tertuju pada Weini, ia berdiri di samping Xiao Jun dengan mata nanar menatap Chen Kho. Ia menunggu sesuatu yang menguasai Chen Kho itu keluar dari dalam tubuhnya. Chen Kho menyeringai, tawanya meledak dan terdengar memekakkan telinga. Ia bukan lagi dirinya, ia benar-benar jahat sekarang. Dengan sorot mata merahnya yang tajam, Chen Kho menyerang Weini yang berdiri menantangnya. Sorotan itu menghasilkan percikan setrum bak petir yang menyambar ke arah Weini.
Haris sigap melihat nonanya diserang, ia langsung mengeluarkan sihir perisainya.
Duaaarrrr....
***