OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 193 INTIMIDASI DARI SANG MANTAN



Li San menyeringai sadis, ia tahu kebenaran dan sedang mendengar bualan dari keponakannya. “Aku kasih tahu pengalamanku sebagai penguasa dan pengusaha tersohor di negeri ini sudah separuh dari usiaku. Asam garam kehidupan kudapat dari menjumpai banyak orang sepertimu. Kau sedang bersandiwara, mencari pembenaran demi menutupi kebenaran. Dan aku tidak akan bermurah hati kepada orang seperti itu. Chen Kho, kesempatanmu sudah habis. Kau akan ku ...” Li San berhenti berkata-kata, mulutnya menganga dalam keadaan mematung. Ia seperti robot yang kehabisan baterai.


Chen Kho tahu kelanjutan kalimat pamannya, kedoknya sudah terbuka dan ia sebentar lagi divonis hukuman penjara. Namun sebelum hukuman itu dijatuhkan, ia bergegas ambil alih keadaan dengan pengaruh sihirnya. “Ya ... Ya ... aku tahu kau akan bilang kau akan ku kirim ke penjara. Ha ha ha, selama sihirku bekerja aku tak akan biarkan


kau menyentuhku.”


Ia mengerlipkan mata untuk membuka sihirnya, setelah itu Li San kembali sadar walau sedikit kebingungan dengan apa yang hendak ia katakan tadi. Li San menatap Chen Kho yang masih memasang wajah ketakutan, ia perlu waktu sejenak mengembalikan memori ingatannya.


“Atas kesalahanmu, aku cabut posisimu sebagai direktur di perusahaan. Kalau kau masih ingin bekerja di sana, kau harus memulai kariermu dari nol sebagai staf biasa.” Li San menyuarakan keputusannya dengan lantang. Walau terasa ada yang janggal dengan keputusan itu, ia merasa bahwa hal yang ingin ia katakan adalah hukuman


yang lebih berat dari itu.


Chen Kho menghela napas kecewa, membatalkan hukuman penjara namun tidak sempat meloloskannya dari


hukuman lain yang tak kalah menyakitkan. Ia dipecat tanpa terhormat sekarang, lalu bisa apa dia sekarang? Terlambat sudah mengubah keadaan, sihirnya tidak bekerja untuk sesuatu yang terlanjur terjadi.


“Terima kasih, paman.” Hanya itu yang bisa ia ucapkan, ucapan terima kasih yang sekedar basa basi dan


tidak berasal dari hati.


Flash back selesai


...


“Siaaaal!” Chen Kho menendangi kerikil lagi yang kali ini mendarat sempurna di kolam teratai di halaman paviliun Liang Jia.


Ia memang harus melewati halaman itu saat keluar masuk dari kediamannya. Kejadian tak menyenangkan yang bertubi-tubi ia dapatkan sejak kemarin membuatnya parno dan hendak mandi kembang untuk tolak bala sepulang dari sini. Pikiran kusut itu lenyap sedetik kemudian ketika ia mendapati mangsa yang tak disangka-sangka hadir di depan mata. Senyum Chen Kho merekah, tak ia sangka bisa bertemu dengan mantan kekasihnya yang baru 24 jam diputuskan. Berdiri seorang diri mengagumi keindahan kolam teratai yang bermekaran.


“Kau datang mengantar nyawa di saat yang tepat. Saatnya melakukan pembalasan untuk kejadian kemarin, Li An.” Nyinyir Chen Kho yang langsung berjalan mantap mendekati Li An yang belum menyadari kehadirannya.


Masa bertemu yang dijanjikan satu jam sudah berlalu, walaupun Liang Jia meyakinkan Li An untuk menunggu di dalam, tetapi ia bersikeras menolak. Ia memutuskan untuk menunggu Xiao Jun kembali di halaman depan untuk cari aman jikalau Li San mengetahui kedatangannya, maka ia punya alasan sedang menunggu Xiao Jun tanpa perlu dicurigai telah bertemu ibunya. Li An berdiri menatap bunga teratai yang bermekaran memenuhi kolam, puluhan ikan koi yang besar dan sedang berenang pun menambah nilai plus pemandangan itu.


“Bunga-bunga yang bermekaran di kolam itu mewakili kecantikanmu. Teratai walau tumbuh di kolam lumpur tidak akan mengurai keindahannya, sama seperti kamu yang tinggal di tempat kumuh lalu berubah secantik malaikat tak bersayap.” Pujian penuh kegombalan itu terdengar berasal dari suara yang tidak asing. Li An menoleh mencari siapa pemilik suara itu meskipun ia yakin bahwa itu adalah milik mantan prianya.


Dan benar saja, Chen Kho berdiri tepat di belakang dengan senyuman manis yang sering ia tunjukkan pada Li An. Dulu saat Li An masih dimabuk asmara, senyuman itu bagaikan berkah tapi kini melihat senyum itu layaknya pertanda datangnya petaka. Li An memilih diam dan tak menghiraukan Chen Kho seakan luput dari penglihatannya.


“Aiya, baru satu hari berpisah kau berlagak seperti orang amnesia. Masa kau lupa pada pria yang pernah memberimu kehangatan?” Chen Kho merangkul Li An dari belakang, tepat di lingkar pinggulnya.


Rangkulan itu terasa menjijikkan bagi Li An, ia baru saja berjanji pada Xin Er bahwa ia akan menjadi gadis yang bisa menjaga kehormatannya. Dan sekarang cobaan baru datang menggoda niatnya, Li An menepis kencang tangan nakal Chen Kho.


Chen Kho tertawa kecil, “Sikap jual mahalmu mengingatkanku waktu pertama aku mengejarmu. Pertahananmu


boleh juga, di awal... tapi lempem di pertengahan seperti kerupuk. Hahaha, kalau kutahu akan berakhir seperti ini, aku menyesal membiarkanmu pergi dengan utuh. Harusnya ku makan kamu, ku ***** habis kesucianmu dan akan kulihat apa kau masih punya kesombongan sekarang.”


Ocehan Chen Kho sangat mengoyak perasaan Li An, ia berusaha melupakan kenaifannya, kebodohannya menikmati kecupan, sentuhan mesra dari tangan kotor pria itu. “Cukup! Jangan melewati batasmu tuan. Kau juga sedang mempermalukan dirimu pernah berhubungan dengan gadis sepertiku.” Jawab Li An mulai habis kesabaran. Ia tidak tahu harus kemana sekarang, keadaan di sekitar juga sepi. Hanya ada dia dan ******** itu, kemana perginya para pengawal atau pelayan yang tadi sempat berpapasan dengannya? Kehadiran orang lain sangat diharapkan Li An agar ia terselamatkan dari kondisi menakutkan ini.


Chen Kho bisa merasakan ketidak nyamanan dan rasa takut Li An yang terbaca jelas dari raut wajah serta gerak tubuhnya, ia makin senang dan terpancing melakukan lebih dari itu. Li An memang tidak mempan dengan pengaruh sihirnya, tetapi orang lain bisa. Ia sudah memblok area ini dan dipastikan tidak ada yang akan datang menolong


Li An.


“Oya? Aku terlanjur nyebur ke kolammu, sekalian saja kita basahkan. Kau bilang apa tadi? Malu berhubungan


denganmu? Tapi aku merasa kita belum melakukan hubungan itu, bagaimana kalau kita lakukan sekarang. Aku siap malu asal bisa mempermalukanmu.” Tawa Chen Kho melengking, ia mengusap bibirnya untuk menggoda Li An. Tatapannya yang nakal melirik ke sepasang dada indah Li An yang membusung menantang.


Li An bergerak mundur, firasat buruknya makin terasa. Lirikan mata Chen Kho yang menghunus ke bagian sensitifnya serta gerakan yang kian mendekatinya, jika tidak segera kabur Li An yakin akan kesuciannya akan direnggut paksa di tangan pria nakal itu. Li An berbalik dan lari sekencangnya, halaman yang begitu luas dengan


rimbunnya bonsai di dua tepian jalannya sangat membatasi langkah.


“Toloooooong!” pekik Li An berkali kali seiring derap langkah yang ia pacu cepat.


Chen Kho masih terdiam menikmati ketakutan Li An, seperti keledai yang dibiarkan meloloskan diri sebelum diterkam. Semakin kuat niat Li An melarikan diri, semakin membangkitkan gairahnya untuk segera menggagahinya.


“Sudah pemanasannya? Apa kau masih punya tenaga memberontak?” Chen Kho mengejek Li An yang ngos-ngosan dan berhasil ia tangkap tanpa susah payah.


Li An shock, ia berlari dan berteriak kencang namun tidak seorangpun yang muncul menolongnya. Tiba-tiba


Chen Kho melompat dan mendarat di depannya. Tangan kekar itu dengan kasar membekapnya, Li An terus memberontak, menggeliat dalam pelukan paksa itu.


“Hahaha, nyalimu besar juga, tenaga cadanganmu juga belum habis. Apa kau masih mau bermain-main? Aku masih sabar melayanimu sayang, sampai kau kehabisan tenaga dan tergeletak pasrah menunggu belaianku. Aku janji, pengalaman pertamamu pasti puas.” Chen Kho menjilati daun telinga Li An, menggodanya dengan sentuhan yang ia yakini sanggup meluluhkan pertahanan seorang gadis.


Li An justru merasa jijik, ia berontak sekuat tenaga dengan kepala yang terus digelengkan agar lepas dari permainan lidah Chen Kho. Semakin ditolak, Chen Kho makin buas dan menjatuhkan tubuh mereka hingga Li An kini tertindih dan kesulitan bergerak. Ia dengan paksa menjamah bibir Li An, memberi ******* kasar yang menyakitkan. Tangan liarnya terus bergeriliya, menjelajahi leher dan tengkuk gadis itu.


Air mata Li An berlinang deras, tenaganya kian melemah hingga ia layaknya mayat hidup membiarkan pria itu melecehkan tubuhnya. Aku menginginkan cinta yang tulus dari seseorang, yang bersedia melindungiku, mencintaiku apa adanya. Bukan harta, tahta yang kuharapkan tapi ketulusan dan kesetiaan untuk menjadikanku satu satunya wanita berharga di hatimu. Apa aku harus berakhir seburuk ini? Seseorang tolong aku!!!


***


Dear reader, seseorang ... siapapun itu tolonglah Li An ^^