
Derap langkah lima pasang langkah seakan bisa merobohkan lantai yang mereka pijak saking terburu-burunya. Weini membiarkan Grace berlari duluan dan memerintahkan pengawalnya terus mengawal di belakang. Sementara Weini dan yang lainnya terus berlari hingga Stevan mendahului agar bisa sejajar dengannya.
“Sorry... aku nggak ngerti sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba tiba kalian jadi sepanik ini? Terutama Grace....” Ujar Stevan tersengal, ia bahkan lupa bahwa dirinya baru keluar dari rumah sakit dan fisiknya belum sepenuhnya kuat, namun tidak mungkin juga ia mau tertinggal sedangkan yang lainnya berlari.
“Ya ampun kak Stevan, kamu belum pulih. Berhentilah berlari, jangan sampai luka dalammu parah lagi.”
Weini menarik tangan Stevan agar berhenti berlari, saat mereka berhenti sepenuhnya, Dina dan Fang Fang di belakang pun ikut mengerem langkah.
Stevan ngos-ngosan, wajahnya memucat dan Weini tahu ini tidak baik bagi pria itu. “Lihat dirimu, kau harusnya lebih memikirkan keselamatanmu juga kak.” Gumam Weini yang saat itu juga memberikan transferan energi untuk Stevan, setidaknya agar stamina pria itu bisa bertahan.
“Ada apa nona? Apa yang terjadi?” Tanya Stevan ngos-ngosan.
“Ini tentang ayah Grace, biarkan dia memperhatikan ayahnya dulu. Fang Fang, tuntun kak Dina dan kak Stevan ke paviliun utara, jangan sampai dia berlari lagi. Aku harus segera ke sana, ku tunggu kalian di sana.” Perintah Weini, ia segera membalikkan badan dan berlari kencang tanpa peduli jawaban apa yang dilontarkan Stevan.
“Heran... Tadi kita diantar naik mobil, kenapa sekarang kita disuruh jalan kaki ke rumah yang lain? Kan jauh banget ya jaraknya?” Dina melongo heran, yang lain sedang cemas namun ia justru memikirkan kecemasan lain. Ia sudah tak sanggup berlari lalu terpikirnya nyamannya berpindah tempat di kawasan ini dengan bantuan mobil.
Fang Fang menatap datar pada Dina, tetapi Stevan lebih jujur, ia justru mendelik pada sahabatnya itu. Dina merasa tersindir, ia pun segera bungkam dengan manyun. “Maap.” Ujar Dina dengan separuh ikhlas.
“Paviliun itu cukup dekat dari sini, kita tidak perlu mobil untuk ke sana. Mari ikuti saya, kita harus segera menyusul nona.” Ujar Fang Fang tetap ramah pada Dina, bagaimanapun ia tetap menjalankan tugasnya sebagai pengawal dan kadang kala sebagai pelayan.
***
Grace merasa separuh hatinya hancur lebur, kemarin ia baru saja kehilangan kakaknya dan sekarang kabar tak menyenangkan pun datang dari ayahnya. Ia tak habis pikir, mengapa semua kondisi tak menguntungkan itu justru datang di saat ia dan Weini berusaha memohon pengampunan pada Kao Jing?
Dua pengawal yang datang kepada Weini tadi menyampaikan berita buruk bagi Grace, bagaimana tidak? Jika ayahnya tak diduga ternyata memiliki keberanian serta kenekatan yang tidak terpikir sebelumnya. Andai sesuatu yang buruk terjadi pada Kao Jing, rasanya Grace tak mampu lagi bertahan di kediaman Li ini. Ia benar benar akan sebatang kara dan tidak punya muka untuk terus bergantung pada Weini, sekalipun Weini memperlakukannya dengan baik. Apa yang dilakukan Kao Jing dan Chen Kho sudah cukup mencoreng citra Grace sebagai satu satunya keluarga mereka.
Langkah kaki Grace yang terasa pegal itu akhirnya telah sampai di tempat tujuan, ia melupakan segala rasa letihnya, belum pernah ia berlari sekencang itu bahkan ia pun heran darimana ia memperoleh kekuatan seperti ini.
“Di mana ayahku?” tanya Grace pada pengawal di paviliun yang kabarkan Kao Jing dibawa kemari.
Seorang pengawal memberi hormat pada Grace kemudian menunjukkan ruangan tempat Kao Jing dirawat.
Tanpa buang waktu, Grace berlari kencang lagi mendatangi kamar itu. Ayah, aku mohon jangan pergi! Jangan mati! Grace terus berdoa dalam hatinya, ketakutan luar biasa menghantuinya.
***
Haris baru saja memeriksa keadaan Kao Jing lalu menutupi selimut di atas tubuhnya yang disudah diobati. Xiao Jun berdiri di sebelah ayahnya, ia menyimpan pertanyaan yang perlu jawaban hingga ayahnya tampak tenang dan siap menerima pertanyaan.
“Ayah, yakinkah kita tidak perlu membawanya ke rumah sakit?” Tanya Xiao Jun cemas, kondisi Kao Jing menurutnya sangat rentan terkena infeksi.
Haris tersenyum santai, “Dia akan membaik setelah siuman.” Jawab Haris singkat.
Haris mengangguk paham, “Syukurlah kalau begitu, aku hanya merasa prihatin kalau sesuatu terjadi pada tuan Kao Jing... Grace pasti sangat sedih.” Lirih Xiao Jun yang tidak tega membiarkan Grace menanggung beban atas tindakan yang dilakukan ayah dan kakaknya.
“Semua yang terjadi pasti atas seijin Yang Kuasa, tidak ada yang perlu disalahkan dan tidak ada yang perlu merasa bersalah. Mereka melakukan dan tahu betul konsekuensi atas perbuatan mereka.” Gumam Haris yang cukup bijak menyikapi persoalan dalam keluarga majikannya ini.
Pintu tiba tiba dibuka dengan kasar sehingga Haris dan Xiao Jun menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Grace berlari masuk dengan mata merah dan basah oleh air mata, fokus matanya bukan lagi pada Xiao Jun ataupun Haris yang berdiri di sana, namun langsung tertuju pada Kao Jing yangterbaring tak sadarkan diri.
Lutut Grace lemas begitu melihat kondisi fisik Kao Jing yang memprihatinkan, wajah dan bibir yang putih pucat, rambut urakan serta raut wajah yang sangat menyedihkan. Tangisannya pecah sembari memeluk tangan ayahnya dari sisi ranjang, Grace terduduk lemas di sana.
“Ayah... kenapa ayah senekad itu? Apa ayah tidak mempertimbangkan aku? Masih ada aku di sini, aku perlu ayah.... aku mau ayah....” Tangis Grace. Setelah tahu apa yang terjadi dari cerita pengawal Weini, bahwa Kao Jing melakukan percobaan bunuh diri dengan menusukkan garpu ke perutnya. Untung saja pengawal tepat waktu menemukan tubuh Kao Jing yang tergeletak dengan garpu yang tertancap di bagin perut samping. Namun tetap saja, Kao Jing kehilangan darah dan tidak sadarkan diri.
Setelah agak puas menangis, Grace menatap ke arah Xiao Jun dan Haris berdiri, tatapan yang sungguh membuat hati Xiao Jun tak tega melihatnya langsung.
“Grace, tenanglah... ayahku sudah memeriksa kondisi paman. Dia sudah diobati, lukanya juga sudah dijahit. Setelah siuman, paman pasti akan membaik.” Jelas Xiao Jun pelan dan berusaha menenangkan Grace.
Grace malah menggeleng tak percaya, ia menyibak selimut ayahnya dan melihat perban yang melilit di pinggang ayahnya terdapat banyak bercak darah. “Kenapa hanya diobati luarnya saja? Bagaimana kalau lukanya menembus bagian dalam? Apa karena ayahku seorang tahanan sehingga ia tidak pantas ditolong? Apa ini adil buat kami? Jun... aku mohon Jun, tukar saja dengan nyawaku asalkan ayahku bisa dibawa ke rumah sakit, aku bersedia menggantikan posisinya di tahanan.” Rengek Grace, ia bahkan berlutut di depan Xiao Jun dan Haris.
Xiao Jun serba salah, ia berusaha membangunkan Grace namun gadis itu tetap ngotot berlutut. “Grace, percayalah tidak ada yang beranggapan seperti itu. Tidak ada yang mau membiarkan ayahmu celaka. Apa kamu menilai aku punya akhlak serendah itu?”
Xiao Jun kesulitan meyakinkan Grace, di saat yang tepat, Weini pun sampai dan terkejut melihat Grace sedang berlutut di hadapan Xiao Jun yang sedang menarik tangan gadis itu. Begitu melihat Weini berdiri di depan pintu, Grace langsung mendekati Weini dengan posisi berlutut. Ia tak peduli lututnya lecet karena diseret seperti itu.
“Grace, apa yang kau lakukan?” Weini berlari kecil menghampiri Grace lalu berjongkong agar posisinya sama dengannya.
“Nona... Aku mohon tukar saja nyawaku dengan ayahku. Aku mohon ijinkan ayahku dirawat ke rumah sakit, biarkan aku yang menggantikan posisinya di penjara.” Isak Grace, ia bersujud berulang kali namun berhasil digagalkan Weini.
Adegan mengharukan sekaligus menegangkan itu tak luput dari perhatian Stevan, Dina yang baru saja tiba. Mereka berdua ternganga melihat keadaan yang tidak mereka mengerti, namun Fang Fang justru segera berlari dan berlutut di depan Weini, mengikuti apa yang dilakukan majikannya. Stevan yang tak paham apa apa namun tak tega melihat Grace menangis meraung seperti itupun langsung mengikuti apa yang dua gadis itu lakukan, saat ia bergegas mendekati posisi Grace, ia pun tak sengaja menyenggol bahu Dina yang ada di depannya hingga gadis itu latah menjerit.
Perhatian tertuju pada Dina yang kehadirannya baru di sadari, namun kembali tersita kepada Grace dan yang lainnya yang bersikukuh memohon.
“Bangunlah, untuk apa kalian memohon seperti itu? Biarkan aku melihat kondisi paman dulu, baru aku bisa putuskan apa yang sebaiknya dilakukan.” Uajr Weini dengan nada lembut namun tegas. Mau tak mau, Grace pun berdiri, begitupula dengan Fang Fang dan Stevan yang mengikuti apapun yang Grace lakukan.
Weini melangkah mendekati Kao Jing, ia belum punya pendapat sebelum ia memeriksanya langsung. Dipegangnya
nadi paman tuanya itu, kemudian melihat ke arah luka yang sudah diperban. Tatapannya beralih pada Haris yang sejak tadi berdiri tenang dan diam, bahasa tubuh ayah angkatnya itu sudah sangat dihapal Weini, dalam penilaian Weini dari raut tenang Haris, kondisi Kao Jing bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
“Grace, aku sudah memeriksa paman. Dari detak nadi dan pengamatanku, kondisinya baik-baik saja. Tapi kamu sangat cemas dan ingin paman mendapatkan perawatan intensif?” Tanya Weini lembut pada sepupunya.
Grace mengangguk kemudian mengeluarkan alibinya. “Nona, aku hanya punya ayah yang tersisa, aku sangat takut dia kesakitan atau kenapa-napa. Itulah mengapa aku ingin ayahku dirawat di rumah sakit agar lebih tepat diperiksa secara medis.”
Weini paham apa yang dikhawatirkan Grace, ia pun menatap Haris dan Xiao Jun. “Aku mengerti perasaanmu, Grace. Aku juga pasti melakukan hal yang sama jika di posisimu, tapi mengapa ayah dan Xiao Jun tampaknya keberatan? Apa kalian punya alasan yang bisa ku pertimbangkan?”
Haris mengangguk pelan, senyumnya tipis mengembang setelah dari tadi ia hanya diam tak berekspresi. “Maaf nona, saya terkesan lancang dan mengambil keputusan tanpa pertimbangan anda. Seperti yang telah anda periksa, kondisi tuan Kao Jing tidak lagi mengkhawatirkan, saya sudah membersihkan dan menjahit lukanya. Obat ramuan
klan Wei sangat manjur secara turun temurun, setelah tuan Kao Jing siuman, maka kondisinya akan kembali stabil. Selain itu... pertimbangan saya lebih memikirkan posisi tuan Kao Jing sendiri. Kondisi kita sedang berduka, sebisa
mungkin kita harus membungkam masalah ini agar tidak diketahui publik. Ini akan menyulitkan tuan Kao Jing ketika anda mengupayakan pengampunan baginya, nona. Bunuh diri dianggap tindakan pengecut yang takut pada hukuman, persepsi publik di sini seperti itu. Saya tidak bisa bayangkan jika kita nekad membawanya ke rumah
sakit, kita tidak bisa membungkam mulut orang banyak. Mohon nona pertimbangkan lagi.”
Grace tertegun, kepanikan dan emosi membutakan nalarnya. Ia tak mampu berpikir jernih saat itu dan malah nyaris menyeret ayahnya pada posisi yang jauh lebih sulit. Weini sependapat dengan pandangan Haris, memang tidak mudah menyikapi masalah dengan bijak yang terkadang terkesan tidak adil pada satu sisi.
“Baiklah, aku mengerti kekhawatiran ayah, dan mengerti kecemasanmu, Grace. Kita di sini berupaya untuk meminta pengampunan sesuai yang aku rencanakan, untuk itu aku perintahkan pada semua penghuni rumah ini untuk tutup mulut pada kasus ini.” Perintah Weini tegas.
Semua yang mendengar pun langsung membungkuk hormat, termasuk Dina dan Stevan yang awalnya kaku namun sigap menyesuaikan diri.
“Dan supaya kamu tenang, aku akan mengutus dokter pribadi keluarga kita untuk merawat paman sampai sembuh. Mereka bisa dipercaya jadi kamu jangan cemas lagi ya.” Ujar Weini seraya menatap lembut pada Grace.
Grace tak bisa menahan haru, ia menangis lagi kemudian berlutut di hadapan Weini. “Ijinkan aku berterima kasih atas kebaikanmu, nona.”
***
Hai, author pengen
tahu seberapa cinta sih kalian sama cerita ini?