
Satu jam lebih perjalanan dengan tertatih, akhirnya Weini berhasil sampai ke rumah. Tak hanya itu perjuangannya, ia sekuat hati meyakinkan Dina agar tidak mengikutinya dan menginap bersama. Weini perlu waktu sendiri, ia tahu caranya memulihkan diri. Seumur-umur ia dilarikan ke rumah sakit hanya saat kecelakaan di lokasi syuting, dan itupun atas kemauan orang lain. Haris tak terlalu menyetujui jika mereka sakit harus mengandalkan tenaga medis, alasannya karena kemampuan sihir yang mereka miliki bisa membentuk imunitas tubuh dan menyembuhkan diri lebih cepat ketimbang manusia normal. Namun bukan berarti mereka akan hidup kekal abadi, kematian pasti akan mengakhiri jatah hidup mereka tetapi mungkin secara alamiah.
Weini bergegas keluar dari mobil dan tergesa-gesa masuk ke dalam. Kontraksi perut antara mules, perih dan mulai merambat mual itu membuatnya harus segera melakukan tindakan. Tas jinjingnya dilempar begitu saja di atas ranjang, tanpa mengganti gaunnya pun Weini segera duduk bersila dan bersiap masuk ke dimensi sihir. Peluh sebesar bulir jagung menetes dari kening hingga mengucur pada wajahnya, Weini memusatkan seluruh perhatian untuk menyembuhkan diri. Dalam kesempatan itu pula, ia mencoba mengingat lagi apa yang sudah dikonsuminya selama di pesta.
Perasaan aku hanya makan beberapa potong kue dan minum wine. Apa mungkin …. Gumam Weini dalam hati, ia menggelengkan kepala dengan cepat untuk menepis pikiran buruknya terhadap Grace. Weini tetap tidak percaya bahwa Grace bermaksud mencelakakannya.
Ponsel Weini dalam tas berdering, konsentrasinya seketika pecah dan matanya terbuka lebar. Ia beringsut meraih tas dan mengeluarkan isinya. Harapan Weini saat ini adalah panggilan masuk dari Haris ataupun Xiao Jun, sayangnya tatapan berbinar itu meredup ketika membaca nama Dina di layar ponsel.
“Ya, kak … Aku udah di rumah, udah mendingan. Aku istirahat dulu ya ….” Weini menyingkat pembicaraan di telpon. Hatinya gusar setelah melihat ponsel, ia menggerakkan jemarinya menuju aplikasi pesan untuk mengecek status pesannya pada Haris dan Xiao Jun. Gadis itu kembali kecewa lantaran melihat status centang dua pada pesannya yang belum juga dibaca.
“Sesibuk itukah kalian di sana?” Desis Weini, sedih. Ia memang dijadwalkan menyusul mereka keesokan hari, namun entah mengapa perasaan Weini terasa sedih. Ia tak rela jauh dari orang-orang yang dicintainya itu lebih dari sehari. Terlebih saat ini, ia mengalami kondisi yang tidak mengenakkan. Weini hanya bisa menahan keinginannya untuk berbagi cerita pada Haris dan kekasihnya. Ponsel itu digeletakkan kembali di atas ranjang, Weini pun melanjutkan meditasinya dengan perhatian penuh.
“Ini bukan racun, setidaknya aku boleh lega karena itu.” Ungkap Weini dengan mata terpejam dan kaki bersila, ia sudah mengetahui penyebab perut mulas dan diare dadakan yang menyerangnya.
***
“Sudah ya, kamu cepat pulang. Ini sudah sangat malam.” Pinta Grace pada Stevan yang mengantarnya pulang dengan mobil Grace lalu dijemput oleh managernya. Grace berdiri di depan mobilnya yang sudah terparkir rapi di basement apartemen, senyumnya merekah dan dengan semangat mengusir Stevan segera pulang.
Hati Stevan yang tengah bahagia itu semakin membumbung ketika mendengar perhatian Grace. Pria itu benar-benar bahagia, malam ini cintanya kesampaian pada orang yang menurutnya paling tepat menjadi pemilik hatinya. Stevan mengangguk dan tersenyum pada Grace sembari berjalan mendekati mobilnya.
“Iya … Iya … Ini sudah malam, kamu pasti udah capek keluar kota PP hanya buat lihatin suasana malam di kota.” Ujar Stevan. Padahal yang ingin ia ungkapkan sebenarnya adalah rasa terimakasihnya pada Grace yang bersedia memberikannya inisiatif pertama untuk sebuah kecupan.
Grace bergeming, ia pun terpaksa menorehkan senyuman tipis untuk mengimbangi senyum lebar Stevan. Ketika
Stevan hendak masuk ke mobil, gadis itu melambaikan tangan untuk mengantar kepergiannya. Namun saat pintu mobil terbuka, Stevan malah berbalik lalu berlari menghambur memeluk Grace. Begitu erat dekapan itu hingga membuat Grace sedikit mendongak untuk menyeimbangkan tinggi mereka.
“Thanks buat malam ini.” Bisik Stevan lembut, tak ketinggalan ia mengecup lembut helaian rambut Grace yang menjuntai pada bahu.
Grace tersentuh dengan perhatian kecil itu, setiap kali di dekat Stevan, ia rentan merasakan debaran kencang dan entah sejak kapan perasaan itu muncul. Grace memilih diam, membiarkan Stevan berasumsi dengan perasaan bahagianya. Ia kembali melambaikan tangan untuk pria itu hingga mobilnya pergi dari parkiran.
Raut wajahnya seketika berubah, kepalsuan yang ia lakoni beberapa jam bersama Stevan menjadi peran yang sangat berat. Lebih berat ketimbang beracting di depan layar, ia tengah membohongi dirinya dan itulah yang paling berat. Langkah Grace terhenti, ia merasakan pandangannya berputar.
“Aku mohon sebentar lagi, biarkan aku sampai kamar.” Desis Grace seolah berdoa agar alarm tubuhnya
mendengarkan perintahnya.
“Arrgghh ….” Pekik Grace menahan sakit sambil memegang dadanya, nyeri hebat bagaikan tertusuk ribuan jarum kecil yang tajam. Yang lebih menyakitkan ketika berpapasan dengan orang yang juga masuk ke apartemen, Grace harus memasang wajah manis seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Perih, berpura-pura sehat ketika sekarat itu bukan acting yang menyenangkan. Begitupun saat ia berhasil sampai ke apartemennya, dengan tertatih dan napas ngos-ngosan, namun saat pintu terbuka, ia menarik napas dalam-dalam kemudian memasang wajah palsu untuk menghadapi pelayannya.
“Nona baru pulang semalam ini?” Fang Fang menghampirinya lalu mengambil alih membawakan tas majikannya.
“Ng, kami keluar kota. Aku capek banget, jangan ganggu aku mau tidur ya.” Grace melontarkan kata-kata itu dengan susah payah, senyum getirnya sebisa mungkin ditampakkan dengan manis. Tetapi sepertinya tak bisa
mengelabui Fang Fang, suara Grace saat berbicara terdengar sedikit bergetar, seakan tengah menahan diri.
“Iya, nona.” Jawab Fang Fang pelan. Matanya terus mengekori langkah Grace menuju kamar. Sekilas terlihat normal, namun cara berjalan Grace agak lemah dari kebiasaannya. Fang Fang berfisarat buruk, ada sesuatu
yang tidak beres dan ditutupi oleh nona muda itu.
***
Jangan pernah salahkan siapapun, atas apa yang sudah kau putuskan. Aku sudah memikirkannya, dan sudah melangkah sejauh ini. Lalu untuk apa kini air mataku mengalir? Gumam Grace yang sedari tadi bertikai dengan
perasaannya. Kini ia sudah berbaring cantik di atas ranjang empuknya, mengenakan dress kesayangannya yang membuatnya menjadi pusat perhatian sepanjang hari, tidak melepaskan heels yang membuat kaki jenjangnya terlihat seksi. Ia sungguh ingin dijemput kematian dalam kondisi cantik paripurna.
Mimik wajah Grace mengkerut, menahan setiap jengkal sakit yang makin intens menusuk. Air matanya tak kunjung berhenti, membuat dirinya merasa seperti seorang pengecut. Apa lagi yang harus ditangisi? Cinta Xiao Jun yang tak pernah ia miliki, pun sudah ia ikhlaskan. Yang membuatnya berat dan sedih saat ini hanyalah keterlambatan menyadari perasaan dari hati yang memang sepenuhnya untuk dirinya. Grace menangisi ketidak-berdayaannya, mengapa ciuman pertama dengan Stevan itu harus menjadi kenangan terakhir? Mengapa ia tidak punya kesempatan untuk merasakan kehangatan kasih dan sayang pria itu?
“Aarrgghhh ….” Suara pekikan Grace pecah, ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit. Tubuhnya yang sudah berbaring cantik pun berubah posisi, kini ia meringkuk kesakitan.
Fang Fang mendengar teriakan dari kamar Grace, hatinya memang tak tenang dan bersigap di depan pintu. Ketika suara Grace yang melengking itu terdengar, Fang Fang bergegas menerobos masuk ke kamar Grace yang terkunci. Gadis pelayan itu memang polos, bukan berarti ia tidak punya akal. Ia punya kunci cadangan yang memang dipersiapkan untuk hal darurat seperti ini.
“Nona ….” Pekikan Fang Fang membuncah saat melihat percikan darah di lantai dan Grace yang tersungkur di sana.
***
Apa kalian rela Grace meninggal? Hiks …. Atau biarkan dia tetap hidup dan bersama Stevan? Tapi sudah separah ini, bagaimana cara menyelamatkannya?
***